
"Zuhra… tolong ajak Ghifar dulu, Akak kau kasian udah capek." seruku dari dalam kamar.
Karena anak-anak, aku dan Dinda selalu berseru. Rumah menjadi ramai, karena suara kami dan suara anak-anak kami.
"Ya, Bang." sahut Zuhra kemudian. Tak lama ia muncul dengan pakaian yang begitu anggun, terlihat pas dan pantas di tubuhnya.
Zuhra sudah terlepas dari rasa candunya, ia sudah terlihat lebih gemuk sekarang. Karena ia makan tepat waktu, juga diselingi dengan olahraga. Gemuk bukan gemuk gempal, tapi seperti Dinda. Dia gemuk berisi, bisa dibilang montok.
Meskipun ia sudah sembuh, ia tetap tak mau pulang ke umi. Ia memaksa ingin tinggal bersamaku dan Dinda, padahal jelas ia selalu disuruh-suruh saja olehku dan Dinda.
Beberapa saat kemudian, kami semua sudah berada di dalam mobil. Dinda tengah mengelus-elus perut besarnya, dengan menikmati pemandangan sekitar. Zuhra berada di bangku belakang, dengan memangku Ghifar dan meladeni pertanyaan Givan.
"Sayang, lepas ini liburan lagi yuk. Biar Adek tak suntuk." ucapku dengan menyentuh paha Dinda, yang berlapis dress panjang yang sederhana.
"Ke mana lagi? Tempat rekreasi yang ada di provinsi A, kita udah datangi semua." sahut Dinda dengan menoleh ke arahku.
Sejauh ini, hubunganku dengan Dinda baik-baik saja. Se*s yang sudah berlangsung rutin, tapi memang hanya sebulan dua sampai tiga kali saja. Itu pun aku harus memakai pengaman, karena Dinda tak mau terkontaminasi langsung dengan milikku. Bahkan sampai sekarang, ia menolak untuk berciuman denganku dan juga menolak untuk aku o*al. Hanya kecupan kecil tanpa l*m*tan yang selalu ia berikan, ia mengunci mulutnya saat lidahku mencoba masuk ke dalam mulutnya.
"Ke T*pak T*an yuk, Kak." timpal Zuhra memberikan saran.
__ADS_1
"Kan udah pernah." balas Dinda dengan menoleh ke arah belakang.
"Ya udahlah, di rumah aja. Kalau liburan itu capeknya dua kali lipat. Udah capek di jalan, eh pas nyampe rumah lebih-lebih capek. Karena cucian menggunung, belum anak-anak pasti pilek. Tak yang hitamnya, tak yang putihnya ngerengek terus setiap hari." ungkap Zuhra yang membuatku geleng-geleng kepala.
Sebetulnya aku kasian padanya, ia sudah seperti asisten rumah tangga untuk kami.
"Kau tak mau balik? Minggu depan Edo nikah, kau tak mau hadir?" tanyaku dengan memperhatikannya dari kaca spion tengah.
"Nanti kak Dinda sama siapa? Anak-anak siapa yang bantu ngurus? Siapa yang antar Givan sekolah nanti? Terus, siapa yang bantuin giling baju? Makanan Ghifar nanti macam mana? Siapa nanti yang disuruh untuk ngukus sayuran buat makan Ghifar? Givan tak mungkin, dia masih kecil. Terus juga, siapa nanti yang kak Dinda suruh untuk beli sayur?" ujarnya begitu cepat.
Makanan untuk Ghifar adalah, sayuran yang dikukus dengan waktu yang sebentar. Disertai potongan daging ayam, terkadang ikan, atau daging sapi. Kemudian diblender halus, dengan dicampur sedikit nasi. Kadang buah-buahan yang diblender halus, untuk cemilannya di jam tanggung.
"Kak Dinda keberatan ya ngasih makan aku? Apa karena akhir-akhir ini masak nasinya sampek dua kali sehari, jadi Akak ngerasa pengeluarannya jebol?" balas Zuhra yang membuat Dinda menoleh dengan menyentuh lenganku.
"Tak macam itu juga. Kau masih single, tapi kau udah macam mamak-mamak. Kau tiap hari ketemu dapur, tempat cuci, anak-anak lagi. Apa kau tak pengen bergaul sama kawan kau? Terus pacaran macam itu, dinner romantis sama laki-laki kau." ujarku jelas, dengan menjaga fokusku pada jalanan yang cukup ramai ini.
"Kau masih tak sih, sama orang P*riamannya? Atau sama Nahar?" timpal Dinda bertanya.
"Sama orang P*riaman, aku udah lama tak komunikasi. Dia bilang, dia mau merantau jualan nasi padang di K*pang. Tapi lama tak ada kabar, lepas dia ngabarin usahanya udah jalan itu. Sama Nahar juga tak tau, orang cuma temenan aja. Cuma kawan main, sama kawan ngobrol aja Kak. Aku sama dia tak ada status lebih." jawab Zuhra kemudian. Aku baru tau ternyata seperti itu ceritanya.
__ADS_1
"Iya, jadi kau tak mau balik ke umi?" tanyaku memastikan.
"Tak, aku ikut Kak Dinda aja. Kalau pun Abang sama Akak tak sama-sama lagi, aku tetap ikut Kak Dinda. Aku nanti jagain anak-anak, kalau Kak Dinda lagi kerja. Aku tak apa, tak dibayar juga. Yang penting, aku tetap makan tiga kali sehari." jawab Zuhra, sungguh aku tak percaya mendengar penuturannya.
"Kenapa macam itu?" ucap Dinda dengan menoleh kembali pada Zuhra.
"Aku kasian sama anak-anak, apa lagi kalau mereka harus ikut Abang. Bang Adi tuh Kak, bukan ayah yang baik. Akak ingat kan, waktu kaki Givan digigit lintah. Waktu itu kan diajak ke ladang sama Abang, entah itu lintah dari mana. Dia masih nemplok aja di kaki Givan, sampek Givan sampek di rumah. Tuh udah nampak tuh, Abang tuh teledor jaganya. Tak dipantau betul-betul, tak diperhatikan cermat-cermat. Terus beberapa hari yang lalu, Ghifar sempat kecanduan HP kan kak? Nah itu kerjaan Abang lagi. Ghifar kan rewel Kak, terus kalau Abang capek momongnya tuh Ghifar dikasih HP Kak. Terus abangnya rebahan di samping Ghifar, sampek ketiduran sendiri. Kalau ayah yang baik tuh punya otak, masa iya anak delapan bulan disuguhi HP. Udah pokoknya anak-anak sama aku aja. Biarpun aku bukan orang baik, tapi aku sigap, siaga dan pantang menyerah dalam menjaga anak-anak. Kalau Givan makanannya rewel, Bang Adi sih udahin acara makannya Kak kalau Givan udah tak mau. Kalau sama aku kan, Akak tau sendiri. Pantang pulang, sebelum nasinya habis. Ayo aku ajak muterin kampung lagi, biar dia mau ngunyah makanannya." ungkap Zuhra panjang lebar.
Tentu aku terkekeh geli sendiri, mendengar aduan Zuhra pada Dinda. Memang seperti itulah Zuhra pada anak-anakku. Apa lagi, jika sudah menyangkut tentang makanan. Kalau Dinda, satu jam Givan makan sudah tak habis. Ia akhiri sesi makannya, kemudian dilanjut untuk Givan mengemil makanan. Kalau Zuhra, tentu ia akan memaksa Givan menghabiskan makanan pokoknya terlebih dahulu. Meski membutuhkan waktu cukup lama, juga bujuk rayu yang memaksa Givan agar mau makan.
Dinda tersenyum lebar dengan menggelengkan kepalanya, "Atur ajalah, Dek. Akak udah sama rasa kalau udah tentang anak-anak. Apa lagi ditambah hamil kembar ini, perasaan macam bukan Akak betul. Tambah besar, ke badan tambah lemes. Tulang-tulang kerasa linu, panggul pun nyeri terus." sahut Dinda dengan membenahi bantal kecil yang menyangga pinggangnya.
Sungguh, aku takut Adindaku kenapa-kenapa. Karena ia begitu lemah, saat mengandung bayi kembar kami. Aku takut ia tak memiliki umur panjang. Aku sudah tak apa, jika jalanya kami harus berpisah. Yang penting dia sehat dan bahagia selalu. Dengan adanya anak-anak di antara kita, besar kemungkinan aku dan Dinda bisa kembali. Tapi jika sudah menyangkut umur, sungguh aku takut kehilangannya selamanya.
"Iya, Mamah jangan capek-capek. Main HP aja di kasur, sambil makan ciki. Kalau udah macam itu kan, nikmat mana yang kau dustakan." timpal anak sulungku. Lalu kami tertawa bersama, mendengar saran yang ia berikan untuk ibunya itu.
Aku tahu bagaimana sayangnya Givan pada ibunya. Setiap Dinda masuk rumah sakit, pasti Givan ikut menjaga ibunya. Pulang pergi sekolah pun, ia pasti pulang ke Dinda. Ia yang selalu menyemangati Dinda, ia yang selalu mendoakan Dinda. Anak sholeh dan pandai, yang Allah berikan untuk Dinda. Meski memang, anak itu sedikit nakal pada teman-temannya dan juga amat manja pada kami kedua orang tuanya.
TBC.
__ADS_1