Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP176. Prosedur


__ADS_3

"Lagi di mana? Cepat pulang, aku berdarah." ucap Dinda yang membuat lututku lemas seketika.


Apa ia terjatuh? Atau terluka karena benda tajam? Dengan segera, aku membawa Kin berlari sekuatnya. Biarlah dia terhentak karena gerakan cepatku, karena aku ingin segera melihat keadaan istriku.


Bukannya ketakutan, aku malah mendengar tawa Kin yang begitu lepas. Ia merasa senang, karena aku membawanya lari. Dasar anak-anak! Tak tau situasi sekarang.


Brakkk…


Suara pintu kamarku yang terbuka karena doronganku, terlihat Dinda tengah berdiri dengan membawa keranjang baju kotor?


"Kenapa, Dek?" tanyaku dengan melangkah cepat ke arahnya, lalu aku menurunkan Kin begitu saja.


Terlihat ia memunguti makanannya yang berjatuhan, lalu ia menuju ke tempat tidurku dan Dinda.


Dinda menunjukkan c*l*na d*l*m miliknya, "Aku barusan pipis lagi, terus pas tengok ini ternyata ada darahnya sedikit. Aku takut lah, Bang." ucapnya dengan terisak. Ia menyentuh tanganku, tangannya terasa begitu dingin.


Aku langsung mendekapnya, dengan mengusap-usap punggungnya.


"Yuk, ke dokter. Adek jangan panik, ok? Soalnya anak Adek tak bisa dibawa panik, Adek paham kan kondisi Adek dan anak-anak kita sekarang? Yang pandai atur pikiran Adek ya?" ungkapku, terasa tubuhnya bergetar hebat. Ia tengah menangis sesenggukan dalam pelukanku.


"Ayolah, Sayang. Jangan nangis, ok? Kasian anak-anak kita, kalau Adek sedih, kacau, nangis macam ini mereka sulit dapat oksigen dari Adek. Adek yang tenang, biar mereka juga rileks." lanjutku kemudian.


Dinda menganggukkan kepalanya, "Kita ke rumah sakit aja. Dokter kandungan belum buka jam segini." sahut Adinda dengan melepaskan pelukanku.


Lalu ia berbalik badan, dengan membenahi ikat rambutnya. Lalu ia menggapai hijabnya, yang memiliki tali di dagunya.


"Kin, ayo." ajak Dinda pada Kin. Apa Kin mau ia ajak?


"Ke mana, Mamah? Aku lagi makan kue." sahut anak usia dua tahun setengah itu, gemas aku setiap kali mendengar ucapan dari mulut Kin.


"Sama abi dulu, Mamah sama Papah mau ada perlu sebentar." jawab Dinda dengan menggandeng tangan Kin.


Anak itu langsung menurut, tanpa bantahan sedikitpun. Ia melangkah perlahan, dengan sesekali mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Dinda.


Tok, tok, tok…


Suara ketukan pada pintu kamar yang Haris tempati. Tentu Dinda dan Kin yang mengetuk pintu tersebut, karena aku berada di belakang Dinda. Aku takut ia tiba-tiba ambruk dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Ceklek…


"Hmm, Kin. Masuk, Nak." ucap Haris dengan mengucek matanya.


"Bang, aku mau ke rumah sakit dulu. Nitip anak-anak sama Zuhra juga ya, nanti aku kabarin lagi." ujar Dinda yang membuat Haris langsung menatapku dengan menatap Dinda secara bergantian.


"Ada masalah? Ya udah cepet-cepet! Ati-ati ya, Dek, Di. Jangan tegang, jangan panik Dek. Berpikir positif." tutur Haris kemudian, dari raut wajahnya ia terlihat begitu khawatir.


Lalu aku langsung merangkul Dinda, kemudian langsung bergegas menuju mobil.


Dalam perjalanan, aku sesekali menggenggam dan mencium tangannya. Aku ingin ia tetap memiliki semangat, aku ingin ia tetap sehat dan panjang umur.


"Abang selalu temani Adek, Adek tenang aja ya." ucapku dengan memberinya senyum lebarku.


Dinda menoleh ke arahku, kemudian menganggukkan kepalanya saja.


Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di parkiran rumah sakit. Aku keluar dari mobilku, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk istriku.


"Bang… aku tak bisa jalan, rasanya macam jebol dari belakang." ucapnya, setelah aku membuka pintu mobil.


Apa jangan-jangan, ia akan melahirkan sekarang? Tapi, kandungannya masih berusia tujuh bulan. Tentu belum waktunya anak-anakku untuk lahir.


"Gendong aja." jawabnya dengan mengulurkan tangannya.


Lalu dengan segera aku mengalungkan tangannya di leherku, dengan tubuhnya yang perlahan aku angkat.


Kemudian aku langsung membawanya ke ruang UGD, setelah bisa menutup kembali pintu mobilku.


Ada seorang petugas yang membawa ranjang, mendekat ke arah pintu.


"Sini, Pak." ucapnya kemudian.


Aku langsung menurunkan Dinda pada ranjang tersebut, dengan sangat hati-hati sekali. Lalu petugas mendorong ranjang itu, memasuki ruang UGD.


Dinda ditensi segala macam, lalu dipasangkan infus. Dengan rentetan pertanyaan yang harus kujawab. Tak lupa juga, aku mengeluarkan buku KIA milik Dinda yang aku masukan dalam tas milik Dinda.


"Harus sesar ya, Pak? Tapi istri Bapak udah pembukaan enam ini." ucap dokter tersebut, setelah memeriksa inti Dinda dengan menggunakan sarung tangan silikon.

__ADS_1


Sungguh aku melongo seperti orang bodoh. Bagaimana bisa istriku sudah pembukaan enam? Sedangkan kandungannya baru berusia tujuh bulan.


"Kalau diusahakan normal bisa tak, Dok?" tanya Dinda yang membuatku kembali pada fokusku.


"Kita cek dulu ya keadaan bayinya." jawab dokter tersebut, dengan melepaskan sarung tangan yang ia kenakan barusan.


"Silahkan diurus terlebih dahulu, untuk data pasiennya." lanjut dokter tersebut dengan tersenyum padaku.


Aku langsung mengangguk, kemudian berlalu menuju meja administrasi.


Aku langsung mengisi apa yang mereka tunjukkan, aku langsung melakukan prosedur rumah sakit. Berikut dengan mengurus kamar dan lain sebagainya.


Setelah selesai, aku diberitahu oleh perawat. Bahwa Dinda sudah berada di ruang bersalin. Dengan cepat, aku berlari kecil menuju ke ruangan tersebut. Dengan telepon yang menempel di telingaku.


"Ris… Dinda pembukaan enam. Tolong minta Zuhra urus keperluan Dinda, terus anatar ke rumah sakit. Anak-anak kalau bisa jangan diajak, biar sama kau dan Alvi aja. Aku minta tolong ya, Ris. Tolong jagain anak-anak aku dulu, soalnya mak cek masih di pesta keknya." ungkapku setelah Haris mengucap hallo.


"Biar aku yang ke rumah sakit, buat bawa keperluan Dinda. Ya udah kau urus dulu prosedurnya. Sharelok aja, Di." sahut Haris yang langsung kuiyakan.


Setelah selesai dengan ponselku, juga mengirimkan lokasiku sekarang. Aku langsung mengetuk ruangan yang ditujukan oleh perawat yang tengah berlalu lalang.


"Oh iya, Bapak harus tanda tangan dulu di dokumen yang berada di meja sudut. Pihak kami tidak bertanggung jawab, atas segala resiko yang mungkin terjadi. Karena istri Bapak memaksa untuk melahirkan secara normal saja, padahal jelas tertulis di buku bahwa persalinan istri Bapak harus dilakukan secara sesar. Karena ada sedikit kendala pada keadaan istri Bapak, juga anak-anak Bapak." ungkap seorang yang membukakan pintu untukku. Ia sudah memakai pakaian bedah, entah itu apa namanya. Yang jelas sudah memakai pakaian untuk berada di ruang operasi, seperti yang aku lihat dalam film-film.


"Apa bisa jika melahirkan secara normal?" tanyaku kemudian.


"Bisa, bayinya sudah diposisi lahir dan beratnya juga aman. Tapi sepertinya, anak-anak Bapak pasti akan mendapatkan penanganan lebih lanjut. Karena bayi kembar Bapak akan lahir dengan prematur. Doakan saja ya Pak, semoga prosesnya lancar." jawab petugas tersebut.


"Hmm, boleh saya temani istri saya?" sahutku kemudian.


Ia langsung mengangguk mengiyakan, "Boleh, Pak. Tapi sebelumnya tolong dibaca dan ditanda tangani dahulu, juga perlengkapan yang dibutuhkannya sudah disediakan." balasnya kemudian.


"Nanti ada kerabat saya yang membawakan perlengkapan untuk bayi dan ibunya." ujarku dengan melihat petugas yang mendorong meja, dengan perlengkapan medis dan juga kantong infusan.


"Ok, baik. Dengan siapa kerabat Bapaknya? Soalnya tidak boleh sembarang orang masuk ke ruangan ini. Kerabat yang diizinkan untuk menemani pun, hanya satu orang ya Pak." tuturnya kembali.


"Haris, namanya Haris." tukasku cepat.


"Ya, silahkan ya Pak ditanda tangani terlebih dahulu." ucapnya dengan mempersiapkan aku untuk beranjak ke meja yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2