
Aku sekarang sudah berada di rumah sakit, tempat Zuhra dirawat. Jelas seperti yang Haris bicarakan. Pihak rumah sakit meminta Zuhra untuk direhabilitasi, dengan polisi yang menyelidiki kasus tersebut.
"Terus gimana lagi, Yah?" tanyaku pada ayahku, setelah menyimak cerita dari ayah. Dengan memperhatikan wajahnya yang terlihat begitu kacau.
"Ayah habis-habisan keluarin uang, buat bikin mereka bungkam." jawab ayahku begitu pelan, dengan menundukkan kepalanya.
"Haris nyaranin, biar Zuhra dibawa ke psikiater aja." sahutku sambil memperhatikan kondisi Zuhra yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Kami tengah berada di sofa yang terdapat di dalam kamar inap Zuhra.
"Ayah tak semampu itu. Masalahnya memang akhir-akhir ini, keuangan Ayah bermasalah. ladang ayah yang di sana lagi diributin sama adik Ayah. Kau kan tau, Ayah sering ada di provinsi KB. Nah itu, buat ngurus masalah ladang yang tak kunjung usai. Ditambah lagi, sekarang malah masuk ke pengadilan. Ayah dituduh ngelola ladang warisan seorang diri. Belum lagi kebutuhan Bena yang ternyata selangit. Tambah pusing Ayah." ungkap ayahku bercerita. Pantas saja ia terlihat begitu kacau.
"Jadi Ayah dituntut?" tanyaku memastikan. Dan ayah langsung mengangguk lemas.
"Mereka minta ladang? Atau uang?" tanyaku lagi.
"Uang, 25M. Ayah mana ada segitu. Abis sertifikatin tanah yang sengketa itu, ngusahain kedai kopi tetap jalan, yang sempat Bena bikin bangkrut itu." jawab ayah dengan mengaduk kopi yang umi barusan buatkan.
"Kenapa tak bilang sama Abang? Sampai-sampai udah ke pengadilan macam itu. Kalau cuma 25 sih Abang juga ada. Nanti masalah pengadilan biar Abang yang bantu, nanti biar ayahnya kawan Abang yang selesaikan itu kasus. Tapi kalau adik Ayah itu udah dapat 25, mereka tak rebutin ladang ayah lagi kan?" sahutku dengan serius. Mungkin sekarang giliranku untuk membantu orang tuaku.
"25M, Di. Bukan 25juta." jelas umi dengan duduk di samping ayah.
"Iya 25M. Risih betul sampai harus disebutin terus embel-embel M-nya, macam apa aja." balasku yang membuat umi dan ayahku terkekeh kecil.
"Sebetulnya kau kaya, ya? Tapi pakaian udah luntur kau masih pakek aja, kaos putih udah berubah warna jadi kuning kau masih pakek aja. Ternyata…." ujar ayah dengan menggelengkan kepalanya. Aku yang mendengar ucapan ayah malah terkekeh geli. Benarkah aku memakai kaos putih yang sudah berubah warna menjadi kuning?
"Kalau pakaian yang di sini kan memang pakaian lama semua. Ayah aja yang tak pernah belikan Abang pakaian baru di sini." balasku sengaja bergurau. Lalu kami larut dalam gurauan jenaka yang mengocok perut.
Aku jadi penasaran, kenapa Bena sampai hati membuat kedai ayah sampai bangkrut? Benarkah Edi tak bisa mencukupi Bena? Sampai kebutuhan Bena, ayah yang penuhi. Kalau sudah begini, kan orang tua lagi yang repot.
~
Beberapa saat kemudian, Zuhra sudah terbangun. Ia tengah duduk bersandar, dengan menatap kosong dinding yang berada di seberang ranjangnya. Aku berjalan mendekatinya, kemudian duduk di tepian tempat tidurnya. Membuatnya langsung menoleh padaku, dan langsung memelukku erat.
"Bang…." ucapnya lirih, dan masih berada di dekapanku.
Aku mengusap punggungnya pelan dan berkata, "Kapok tak? Hmm? Kasian tuh ayah kau mau masuk penjara gara-gara sengketa ladang, ditambah pusing karena masalah kau. Dikira tak banyak uang yang terbuang kah? Harus tutup mulut pihak ini, harus tutup mulut pihak itu. Biar kau tak direhabilitasi."
"Maaf, Bang." sahutnya dengan melepaskan pelukanku.
__ADS_1
"Lepas balik dari rumah sakit. Kau susulin Abang ke provinsi A, ya? Ayah tak mampu buat lanjut ngurus kau, kau mau tak mau harus ikut Abang." balasku dengan menatap matanya, Zuhra terlihat begitu pucat dan tubuhnya begitu dingin.
Ia mengangguk mengerti, "Tapi aku gak mau di pesantrenkan, Bang." ujarnya kemudian.
"Tenang aja, kau bakal diobati di sana. Tapi kau harus nurut sama Abang. Kau kerja juga, kalau kau tak mau kuliah. Abang tak mau dibebani kau, pasti makan kau banyak, jajan kau kuat." tuturku membuat senyum samarnya terlihat sekilas. Jelas aku hanya bercanda, tak mungkin juga Zuhra menghabiskan satu kilogram beras perhari.
"Iya, Bang." tukasnya dengan mengangguk mengerti.
"Kabarin Abang kalau kau udah baikan, nanti Abang jemput di bandara sana." ucapku sebelum pergi. Lalu ia mengangguk dan aku pergi berlalu.
Aku akan ke Seila terlebih dahulu, dan setelahnya meminta Edi untuk mengantarku ke bandara.
Setelah pamit pada umi dan ayah, aku berjalan menuju bagian luar rumah sakit. Aku memesan ojek online, untuk mengantarku ke rumah Seila.
Ketika mendapat balasan dari ojek online, yang memberitahu bahwa dirinya tengah menuju ke titik penjemputan. Aku langsung menghubungi nomor telepon Seila.
"Hallo, Sel. Aku ke rumah kau, sekalian mau ambil pesanan Dinda." ucapku setelah panggilan berlangsung.
"Ok, mobil kau juga pagi tadi abis aku panasi. Ok kok, masih bisa jalan." terdengar sahutan dari suaranya.
"Memang tak ada masalah kali, aku ninggalin mobil itu bukan karena mogok." balasku bercerita.
"Ok." jawabku, kemudian aku langsung mematikan sambungan teleponnya. Dan mengecek kembali aplikasi ojek onlineku.
~
Aku sudah berada di depan rumah Seila. Saat aku melangkah masuk menuju ke halaman rumahnya, ada seorang laki-laki yang baru keluar dari dalam rumah Seila. Disusul dengan Seila yang berada di belakangnya.
Ia menatapku dengan tajam, apa dia kira aku kekasihnya Seila kah?
Sampai laki-laki tersebut melajukan mobilnya, aku baru bertegur sapa dengan Seila.
"Masuk aja, Di." ucap Seila, dengan membuka pintu rumahnya lebih lebar.
"Di luar aja lah, cepet ambil pesanan Dinda." sahutku, dengan duduk di kursi yang tersedia di teras rumah Seila.
Seila mengangguk, kemudian langsung berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya.
Tak lama ia kembali dengan membawa kotak perhiasan yang selebar buku tulis.
__ADS_1
"Besar betul. Mana bisa aku sakuin." ucapku spontan.
"Masa? Yang besar panjang aja, kau bisa masukin ke celana kau. Masa iya ini tak bisa masuk ke saku kau." sahutnya serius. Aku yang langsung paham maksudnya langsung terkekeh geli.
"Udah gatal rupanya kau, ngomong arahnya ke barang aku aja. Ada Dinda kau mana berani gurau macam itu." balasku dengan mengambil kotak perhiasan tersebut dan membukanya. Ini seperangkat perhiasan, mulai dari anting, kalung, gelang tangan, gelang kaki dan cincin. Dengan model sederhana, juga tersemat berlian indah berukuran kecil di setiap perhiasan tersebut.
"Gatal aku kalau sama kau, mana sekarang tambah gagah lagi. Sayang istrinya galak betul, kalau istrinya kalem sih mungkin udah aku tindas. Sayang sekali, aku kalah dari segala sisi. Aku tak punya karya, aku tak sebahenol dia, belum lagi aku pasti tak bisa bikin kau tak berasa setiap kali lagi dikasih cap merah." ujarnya dengan duduk di bangku depanku. Aku terkekeh kecil menanggapinya, aku tau ia hanya bergurau. Sekalipun ia jujur pun, ia jelas telah mengaku kalah di depanku.
"Udah dibayarin kan ini?" tanyaku dengan beralih menatap wajahnya. Seila hanya mengangguk mengiyakan.
"Udah ya, aku langsung balik. Kejar waktu, penerbangan aku sebentar lagi soalnya." lanjut yang langsung diiyakannya.
"Kau jangan bagi tau Dinda aku udah ambil perhiasannya. Aku sengaja tak kabarin, aku mau kasih dia kejutan kecil." ucapku saat Seila mengantarku sampai ke depan mobilku.
"Ok, Di. Bahagia terus ya, Di. Aku seneng tengok kau cinta betul sama Dinda. Doain aku ya, semoga aku dapat laki-laki yang cinta juga sama aku." ujarnya sesaat aku membuka pintu mobilku.
"Cinta aja tak cukup, Sel. Cari juga yang mampu bimbing kau dalam hal agama, biar kau tak cuma kalau di provinsi A aja berhijabnya. Lepas ada di kota J, hijab kau lepas entah ke mana." balasku, ia hanya mengangguk dengan menyunggingkan senyum lebarnya.
"Ati-ati, Di." ujarnya dengan melambaikan tangannya, saat aku mulai menjalankan mobilku perlahan.
~
Aku tengah berada dalam perjalanan menuju bandara, dengan Edi yang mengantarku.
"Ed, kau tak kerja?" tanyaku dengan memperhatikan dirinya yang tengah mengemudi.
"Sekarang udah malam, aku udah balik kerja." jawabnya dengan fokus pada jalanan di depannya.
"Serius Abang, Ed." sahutku kemudian. Aku lalu menoleh pada koper kecil yang aku simpan di bangku belakang. Ternyata mertuaku membawa beberapa kebutuhan dapur, seperti gula batu dan terasi yang dibungkus rapih. Juga beberapa pakaian bayi dan kain jarik bermotif batik. Memang benar apa yang ibu mertuaku katakan, aku mampu untuk membeli ini semua. Tapi ia ingin memberikan itu semua pada anaknya, dan tentu calon cucunya.
"Kerja di kedai ayah, Bang." sahutnya ringkas.
"Bena aman aja kah? Kau bisa ngendaliin dia kan?" tanyaku langsung. Edi menoleh padaku sekilas, terlihat ia sedikit terkejut tadi.
"Aku pusing, Bang. Pengen cerai….
TBC.
Di novel ini banyak janda, banyak dudanya 😂 ada juga yang gadis tapi bukan perawan, ada perawan segel toko tapi udah tak segel pabrik. Tinggal pilih aja, Bang. Yang berenda juga ada 😆
__ADS_1