
Crazy up ah 😊
Udah lama gak pernah crazy up lagi.
Adi mengingat kembali kejadian semalam. Benarkah yang Maya laporkan pada ibunya. Bahwa ia menyebutkan nama Dinda, saat Maya mencoba memancing nafsunya.
"Abang pernah makek Dinda?" pertanyaan ibu Meutia yang membuyarkan pemikiran Adi, yang coba mengingat kembali kejadian semalam.
Adi menoleh, dan memperhatikan wajah ibunya. Sebenarnya ia sangat ingin bercerita tentang Adinda pada ibunya. Namun ia bingung harus memulai dari mana. Karena ia paham, dengan kondisi Maya yang tengah hamil. Dan berstatus menjadi istrinya. Umi pasti menuduh Adinda adalah perusak rumah tangganya.
"Kenapa diam aja? Masih berhubungan sama Dinda?" lanjut ibu Meutia, karena Adi masih enggan membuka mulutnya.
"Tak begitu juga, Umi. Abang… Hmm, belum bisa lupain Dinda." ungkap Adi, membuat ibu Meutia menutup mulutnya tak percaya. Dan membuat seseorang yang berada di ambang pintu, menjatuhkan makanan yang ia bawa.
Klontang.....
Bunyi rantang stainless itu jatuh menghantam lantai.
Adi dan ibu Meutia terkejut, karena mendengar suara yang terdengar sangat nyaring itu.
Mereka langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat Maya mematung, dengan pandangan lurus pada suaminya.
"Abang gak cinta sama aku? Dulu pas Abang lakuin itu pun, Abang gak ada rasa cinta ke aku?" pertanyaan Maya dengan menatap suaminya intens.
"Tak begitu juga. Sini duduk dulu." bukannya Adi yang mengucapkan hal itu. Namun ibunda dari Adi, yang berusaha menenangkan Maya.
Lalu ibu Meutia bangkit, dan menarik tangan Maya. Untuk duduk di sofa yang Adi duduki juga.
Mereka terdiam beberapa saat, lalu ucapan Adi selanjutnya. Membuat suasana di ruang tamu itu semakin runyam.
"Herannya Abang. Kau apa-apa lapor ke orang tua Abang. Kau kekanak-kanakan, May! Tak bisa kah, kau tutup rapat-rapat masalah rumah tangga kita? Stop meminta orang tua mencampuri urusan kita. Kau bikin suami kau malu. Kau tak mencerminkan istri yang menutupi aib suaminya." ungkap Adi berapi-api. Lalu ia masuk ke dalam kamarnya.
Dan tak lama ia keluar, dengan pakaian yang sudah berganti.
"Abang pulang ke A***, Umi. Assalamualaikum." ucap Adi sambil berjalan keluar dari rumah.
Lalu ia menjalankan mobilnya cepat. Menjauh dari pekarangan rumah itu.
'Apa-apa lapor. Dinda mana pernah lapor ke orang tuanya, kalau ada masalah sama aku. Dasar tukang ngadu!' gerutu Adi di dalam mobilnya.
Ia sesungguhnya amat kesal pada Maya. Terlebih lagi ia membahas kejadian dulu, saat Adi melakukan dengan dirinya di depan ibunya. Maya sudah membuatnya amat merasa malu di depan ibunya sendiri.
~
__ADS_1
Empat jam kemudian. Adi sudah berada di kediaman orang tuanya, yang berada di kota J.
Ia datang untuk menaruh mobil ayahnya, yang ia gunakan.
'Sepi betul ini rumah.' gumam Adi memasuki rumah itu.
Ia berniat berisitirahat sejenak di rumah ini. Karena penerbangannya terjadwal pukul 13.00 WIB. Sedangkan sekarang, waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Adi mengetahui bahwa Edi tinggal bersama Bena, di rumah orang tua Bena. Sedangkan Edo masih berada di provinsi KB. Zulfa jelas berada di kota C, dengan ibunya dan ayahnya yang masih berkunjung di sana. Namun saat sampai di sana, ayahnya tengah sibuk mengurusi kedai kopi yang dikelola oleh Zulfa.
Jadi, hanya Zuhra yang tinggal di rumah ini. Adik bungsunya, beberapa bulan lagi akan melaksanakan ujian Nasional tingkat SMA. Tentu ia tinggal dengan dua asisten rumah tangga. Seorang supir, dan satu orang security yang menjaga rumahnya.
"Dek, Zuhra…." seru Adi memanggil adiknya.
Seorang asisten rumah tangga berlari kecil menghampiri Adi.
"Dek Zuhra belum pulang sekolah, Bang. Apa perlu sesuatu?" tanya asisten tersebut.
"Bikinin mie rebus aja. Telornya dua, kasih sawi putih tiga lembar, cabe rawitnya tiga juga. Tapi cabenya utuh aja, jangan dipotong." pinta Adi, yang langsung mendapat anggukan kepala dari asisten rumah tangga tersebut.
Adi merasa lapar, karena ia belum sarapan pagi.
Sambil menunggu mie instannya siap. Adi memainkan ponselnya. Ia melihat satu persatu story dalam aplikasi chatnya.
"Hallo Seila, kau jualan berlian kah?" tanya Adi, saat sambungan teleponnya telah terhubung.
"Ya, Di. Kau minat kah?" jawab Seila.
"Asli kah palsu?" sahut Adi jelas.
"Asli lah, kau kan tau bapak aku punya bisnis perhiasan." balas Seila sewot.
Adi terkekeh sejenak, "Mahal kah kalau berlian?" ujar Adi bertanya.
"Ya jelas mahal, Di. Kau ni kenapa? Kau tanya-tanya macam mau beli aja! Kau kepo apa betul minat?" ketus Seila yang kesal dengan teman satu arenanya dulu itu.
Adi menahan tawanya kembali, "Nanti misal aku beli di sini, di persulit tak di penerbangannya?" ucap Adi yang bertanya kembali.
"Tak, Di. Kan kau beli di Indonesia juga. Lagi pula kan berlian ini ada sertifikatnya. Bukan barang ilegal." jelas Seila.
"Barangnya ready di rumah kau tak?" tutur Adi bertanya lagi.
"Ready yang aku foto aja. Aku kirim alamat rumah aku, nanti kau pilih sendiri aja." tukas Seila, yang mencium bau bahwa ada pembeli yang akan meminang dagangannya.
__ADS_1
"Ok. Tapi aku tak ada uang cash." ungkap Adi, dengan mengingat kembali jumlah uang yang ia miliki.
"Tak apa, kau kirim uangnya juga tak masalah. Barangnya mau kau dikirim juga bisa. Asal kau bayar, tak hutang, tak pakek uang gaib." jelas Seila yang sebetulnya tengah menahan kesal.
"Ok, kirim aja alamat rumah kau." sahut Adi. Lalu ia mematikan sambungan teleponnya, setelah Seila mengiyakannya.
Lalu tak lama, asisten rumah tangga telah menghidangkan mie instan yang Adi inginkan.
Adi langsung berterima kasih, dan perlahan menyantap makanannya.
~
Setengah jam kemudian, Adi telah sampai di rumah megah bercat putih itu. Adi menghubungi Seila, memberitahu bahwa dirinya sudah berada di depan rumahnya.
"Ada lakik kau di dalam, Sel?" tanya Adi, setelah Seila muncul di hadapannya.
"Udah tak ada suami sekarang, makanya aku usaha cari duit." jawab Seila, mempersilahkan Adi masuk.
"Kau cepat betul jadi janda, percuma kau kawin." sahut Adi berkomentar.
"Balik lah kau sana! Tak payah kau beli barang dari aku!" ketus Seila dengan delikan tajam.
Adi cekikikan sendiri melihat reaksi Seila.
"Mending aku udah pernah menikah. Dari pada kau, ngerasain kawin hampir tiap malam. Suruh nikah ogah. Ingat dosa kau, Di." lanjut Seila, menyindir Adi. Adi langsung berhenti dari tawa ringannya.
"Aku udah meuhkawen." ungkap Adi, yang membuat Seila terkejut. Dan menatap Adi tak percaya.
Seila langsung menarik tangan Adi, dan membawanya masuk ke dalam ruang tamunya.
"Ish, tak sopan kau tarik-tarik tangan yang bukan muhrim kau." ucap Adi setelah ia menduduki sofa bak singgasana itu.
"Cuma tarik tangan aja, kau bawa-bawa muhrim. Dulu, kau sering nyomot dada aku. Jangan pura-pura lupa ya kau!" seru Seila membuat Adi tertawa renyah.
TBC.
Eh itu dada ayam kah yang dicomot? 🤣
Jangan bilang keseruan lama bersemi kembali. Sebenarnya siapa sih Seila ini? 🤔
Menurut kalian kek mana tuh?
Ayo berikan komentar terbaiknya 😊
__ADS_1