Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP66. Keseruan bersama


__ADS_3

"Pulanglah kau sana. Aku udah beristri." putusku cepat.


"Aku pengen tetap jadi teman kau, aku juga pengen berteman sama istri kau juga." sahutnya kemudian, lalu ia turun dari mobilnya.


"Emak aku galak. Siap-siap nanti Tante ditebas lehernya pas sampek sana." seru anakku yang sedari tadi menggandengku. Aku terkekeh kecil mendengar ucapan anakku.


Ia pun sekarang sampai berucap bahwa ibunya galak. Semoga nanti lepas ia melahirkan, Dinda tetap menjadi sosok Dinda seperti sedia kala.


Dinda yang tak mudah marah. Dinda yang selalu mencairkan suasana, dan Dinda yang selalu bisa membuat orang-orang merasa nyaman berada di sekitarnya. Bukan galak macam ini.


Karena aku masih mengingat bagaimana galaknya Dinda, saat Seila bertamu ke rumah. Namun Seila cukup pandai mengambil posisi dirinya. Ia memaklumi kondisi Dinda, dan ia sering bertukar chat dengan Dinda. Dengan alasan untuk menawarkan dagangannya.


Memang benar apa yang ia katakan. Jika ada model berlian terbaru, dirinya pasti langsung menawari Dinda. Dan setelah kejadian itu, Dinda sudah sekali memesan perhiasan pada Seila. Yaitu anting berlian yang nampak sederhana, namun harganya cukup fantastis. Dengan kurir khusus, Seila mengantarkan paketan perhiasannya tersebut.


Dan yang paling terpenting, Seila tak mengincarku lagi. Dia paham bahwa aku sekarang sudah berubah, dan dia paham bahwa aku sangat mencintai istriku. Dia tak ingin jadi perusak dalam rumah tanggaku.


"Wow, ngeri that emak kau ya Nak." balas Nurul dengan membelai lembut rambut anakku. Namun langsung ditepis kasar oleh Givan. That dalam bahasa daerah sini, bisa diartikan untuk menyebutkan sesuatu yang lebih atau sesuatu yang banyak.


"Aku tak suka kepalaku dipegang orang. Tante tak sopan!" respon marah dari anakku.


"Balik lah kau, Nurul! Kau perempuan lajang, tak baik nemuin laki-laki yang sudah beristri. Bertemanlah sewajarnya, aku pun tak ada waktu untuk kau. Aku sibuk nih." ujarku dengan halus. Agar ia mengerti.


"Aku udah akrab sama istri kau, Di. Tak usah berlebihan lah." sahutnya kemudian.


"Ya udah bagus lah kalau macam itu. Balik lah kau! Aku pun mau balik." balasku, lalu aku berjalan meninggalkannya.


"Janji kau balas chat aku ya? Ada reuni sekolah juga, nanti kau datang ya?" ujarnya berseru. Aku tak menyahutinya, aku tengah pusing sendiri. Kenapa ada saja yang datang silih berganti di kehidupanku?


Sesampainya aku di rumah. Aku langsung mengajak Givan ke kamar mandi, dan setelahnya aku membawanya untuk tidur.


Dinda ternyata belum selesai dengan pekerjaannya. Sekarang ia tengah menyetrika pakaian, memang tak semua pakaian yang ia setrika. Hanya pakaian yang berbahan kusut, dan pakaian khusus berpergian saja. Lebih-lebih aku pun di rumah lebih sering memakai sarung, dan kaos saja.

__ADS_1


Aku pun tak pernah menuntut Dinda mengerjakan semuanya. Mungkin itu inisiatif dia sendiri atau bagaimana. Hamil pun bukan alasan untuknya, untuk tidak melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Bang, nanti besok aku mau ke dokter gigi ya?" ucapnya sebelum aku menghilang di balik pintu. Aku hanya mengiyakan saja. Mataku sudah berat, Givan pun terlihat sudah amat mengantuk.


~


~


Esok harinya, aku mendapat tamu tak diundang. Nurul datang dengan Sukma. Dan saat aku tanyakan, mereka berkata akan pergi bersama Dinda.


Apa Dinda akan pergi ke dokter gigi dengan mereka kah? Aduh, ada-ada saja. Aku merasakan bahwa Nurul begitu ingin menghasut Dinda, ia sepertinya ingin rumah tangga aku dan Dinda bercerai berai.


Aku menemani mereka di ruang tamu, "Kalian kan single, masa ngajak istri orang untuk keluyuran di luar? Tak pantas betul! Macam tak ada kawan lain aja." ucapku ketus. Saat Dinda pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Bawel betul kau, Di!" sahut Sukma. Nurul, Sukma, Jefri, dan Haris adalah teman satu kelasku dulu.


"Aku bagi tau Haris juga kau, kalau kau ternyata belum punya suami." ancamku pada Sukma. Aku tak suka istriku berpergian tanpaku, apa lagi keadaannya tengah mengandung.


"Dia udah tak mau sama kau. Lawan kau sekarang gadis kaya." ujarku padanya.


"Buktinya dia pernah nyamperin aku ke rumah orang tua aku, pas kau masuk rumah sakit itu." tuturnya kemudian.


Aku berpikir sejenak, saat kapan memang? Perasaan Haris stay di kota C terus.


"Pas kau masuk rumah sakit karena masalah saluran pernapasan itu loh." lanjutnya, mungkin karena ia memperhatikan aku yang tengah berpikir. Oh jadi waktu itu Haris tengah repot dengan Sukma. Pantas saja saat aku pertama kali masuk ke rumah sakit, ia tak pernah nampak.


"Mau ke mana sih tujuan kalian?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


"Ke dokter gigi, paling setelahnya jalan-jalan belanja aja." jawab Nurul. Lebih baik aku ikut sajalah. Agar istriku aman dari dunia luar, dan aman dari hasutan Nurul.


"Ikutlah aku. Bentar eh, aku ganti baju dulu." ucapku dengan berlalu pergi dari ruang tamu. Aku mengajak Givan untuk mengganti pakaian, dan setelahnya aku yang berganti pakaian.

__ADS_1


Setelah siap, aku keluar dan menuju ke ruang tamu kembali.


"Abang betul ikut kah?" ucap Dinda dengan wajah tak bersahabat.


"Ya lah, jagain Adek." sahutku kemudian.


"Satu mobil aja, Di. Mobil aku biar aku taruh di sini, kita pergi pakek mobil kau aja." ujar Nurul.


"Heh, mobil Adi mobil odong-odong loh. Mana enak dipakek." sahut Sukma tak setuju.


"Sembarangan! Dari luar boleh nampak tua, tengok dong dalamnya." sahut Dinda menimpali. Sepertinya ia tak suka barang milikku direndahkan kawannya.


Mereka berdua terkekeh geli, mendengar ucapan Dinda.


"Adi juga macam itu kah, Dek? Dari luar boleh nampak tua, tapi dalamnya…" tanya Sukma diakhiri dengan mata yang berbinar dan gelengan kepala.


Dinda tertawa malu, ia nampak menggemaskan. Apa lagi dengan perut cembungnya itu.


"Ayo jalan." seruku menarik atensi mereka semua.


Lalu kami berlima pergi menjauhi halaman rumahku. Di dalam mobil, kami bersenda gurau dan mengobrol ringan. Meski sesekali Nurul menyelingi dengan masa lalu aku dan dia. Dinda terlihat biasa saja. Entah itu pura-pura, atau memang ia sudah biasa saja dengan hal itu.


Rasanya aku sedikit heran padanya. Bisa-bisanya dia akrab dengan masa laluku. Entah itu Shasha, Seila, dan sekarang Nurul.


Setelah Dinda selesai dengan perawatan giginya. Lalu kami pergi mencari tempat makan instagramable, dan kami pun mengambil beberapa foto di spot yang cukup menarik. Aku dan Givan terlihat paling ganteng, dibandingkan dengan tiga wanita cantik ini.


Lalu setelahnya, kami makan bersama dengan keceriaan yang mengelilingi kami.


TBC.


Kok bisa eh Dinda tak cemburuan? 🤔

__ADS_1


Aku kok dengar nama mantan pacar suami aja udah manyun di pojokan aja.. 😆


__ADS_2