Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP47. Larinya keuangan Adi


__ADS_3

"Tambak, macam usaha Pak cek." jawab pak Akbar singkat. Memang pak Akbar memiliki usaha lain, selain berladang.


Pak Akbar memiliki bagian warisan dari orang tuanya. Adi pun mendapat bagian dari kakek dan neneknya. Karena ayah kandungnya sudah meninggal dunia.


Ladangnya yang berjumlah empat belas hektar dulu, bersumber dari warisan kakek dan neneknya yang berjumlah lima hektar. Peninggalan dari ayah kandungnya berjumlah lima hektar. Dan Adi sendiri, menambahkan empat hektar. Dari hasil ia memutar usaha warisan tersebut.


"Takut dibilang terlalu serakah. Adi mau fokus di ladang aja, Pak cek. Lagi pulak, Adi cuma nguasain bidang ini. Ternak puyuh, dek Dinda yang lebih atur semuanya. Adi cuma arahin orang-orangnya aja." sahut Adi.


"Jadi uang kau udah habis semua?" balas pak Akbar. Ia hanya ingin tahu aja. Karena bagaimanapun, Adi harus tetap terkontrol olehnya. Selain Adi masih muda dan memiliki ego tinggi. Ia juga mengetahui, bahwa istri Adi begitu royal.


"Tak." ucap Adi dengan menoleh pada pamannya tersebut, "50% Adi masukin deposit lagi. Sisanya Adi pakek buat bangun rumah. Beli ladang tiga hektar, sama tambahin jumlah puyuh di peternakan. Terus udah Adi simpan buat biaya produksi ladang baru. Sama sisanya buat pegangan sehari-hari, sampai akhir tahun ini. Oh iya, beli furniture dan perabotan juga kemarin." jelas Adi detail.


Pak Akbar mengangguk, "Mahar dek Dinda udah di pisah?" ujar pak Akbar.


"Udah Pak cek. Dek Dinda punya dua rekening. Yang pertama khusus hasil dari ladang yang buat mahar. Yang kedua hasil empat hektar dari yang Adi kasih." tutur Adi memberitahu pamannya tanpa rahasia.


"Yang satu hektar?" tukas pak Akbar, dengan menaikkan satu alisnya.


"Masuk ke tabungan pendidikan Givan, Pak cek." jujur Adi kemudian.


Pak Akbar menganggukkan kepalanya, "Yang masuk ke rekening mereka udah bersih kan?" tanyanya lagi.


"Udah bersih Pak cek. Udah dipotong biaya produksi, dan bayar buruh, bayar pihak yang ada sangkut-pautnya juga." jawab Adi lugas.


"Aman kah untuk satu tahun ke depan?" sahut pak Akbar memastikan.


"Aman sayang aman." suara anak laki-laki, yang sedari tadi berkeliaran di sekitar mereka.


Adi dan pamannya tertawa geli, melihat tingkah laku anak laki-laki itu.


Lalu pak Akbar membawa Givan dalam gendongannya, "Jagain mamahnya, jangan ngikutin papah kau aja. Di ladang tak ada perempuan yang ngalahin mamah kau. Kau tenang aja." ucap pak Akbar, pada anak keponakannya itu.


Adi memperhatikan mereka dengan tersenyum samar. Namun saat ia mendengar pamannya mengucapkan kata itu. Membuat Adi mengingatkan kembali pada Maya. Ia sadar seharusnya ia tak sampai memblokir nomor kontak Maya. Tapi ia merasa begitu was-was, ia terlalu khawatir Maya menghubunginya di saat yang tidak tepat.


Ia terdiam dengan pikiran yang berkelana, 'Harusnya aku bisa adil. Kalau Maya tau, pasti ia merasa lebih tersakiti. Tapi aku takut Dinda dijemput paksa orang tuanya. Jika sering-sering aku tinggal. Macam mana ini?' gumam Adi dalam hatinya.


"Papah ayo pulang. Aku lapar." seru anaknya yang menarik-narik ujung bajunya. Adi melirik pada jam tangan yang ia kenakan.

__ADS_1


"Pantas aja lapar. Udah jam dua belas ini, Bang." ungkap Adi. Lalu ia mengangkat tubuh anaknya, dan mendudukkannya di atas motor.


"Balik dulu, Pak cek." ucap Adi pamit, pada pamannya yang tengah mengobrol dengan seseorang.


Pak Akbar mengangguk, dengan menoleh sekilas pada Adi. Lalu ia melanjutkan kembali obrolannya dengan orang tersebut.


Lalu Adi menjalankan motornya, menjauh dari ladangnya. Ia dan Givan ingin mengisi perutnya yang berbunyi sedari tadi.


"Mamah aku masak apa ya, Pah?" tanya Givan, dengan memegangi tangki bensin motor yang ia tunggangi.


"Papah tadi pagi minta tumis jamur saus tiram. Tak tau dibuatkan apa tak." jawab Adi, dengan fokus menyeimbangkan kendaraannya. Karena jalan yang mereka lalui belum beraspal.


Givan tak menyahuti ucapan papahnya. Ia sudah memikirkan bagaimana nikmatnya makanan di rumah.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah mereka. Adi menurunkan anaknya terlebih dahulu. Setelah ia merasa motornya aman, ia memutar kunci motornya. Lalu mencabutnya, dengan ia yang langsung turun dari motornya.


"Assalamualaikum." ucap Adi dengan memasuki rumah.


Terlihat Adinda duduk di sofa ruang tamu. Ia tengah serius, dengan ponsel yang menempel pada telinganya.


"Wa'alaikum salam." sahut Adinda pelan. Saat mendengar salam dari suaminya.


Adi sudah merasa amat tegang. Ditambah lagi, dengan Adinda yang tiba-tiba memperhatikan dirinya begitu intens.


"Makan, Dek." ujar Adi kemudian. Ia mencoba tenang, dan tak berpikiran macam-macam.


Adinda mengangguk, dan berjalan menuju dapur. Diikuti oleh Adi dan Givan.


Lalu mereka semua makan dalam diam. Givan pun perlahan sudah mau makan sendiri. Meski membutuhkan waktu yang cukup lama.


Sebenarnya Adi memakan makanan yang ia minta, dengan rasa campur aduk. Ia khawatir ibu mertuanya menceritakan semuanya pada Adinda. Ia mencoba tenang, dan tidak ceroboh dalam berbicara nanti. Agar Adinda berpikiran positif tentangnya.


Setelah selesai makan, Adinda langsung membawa piring kotor untuk ia cuci.


Adi memastikan anaknya anteng dengan mainannya. Lalu ia mendekati istrinya. Ia begitu penasaran, dengan apa yang istrinya obrolkan dengan ibu mertuanya. Pasalnya Adinda begitu serius, saat menyimak ucapan ibunya lewat telepon tadi.


"Dek, bikin es teh manis dong." ucap Adi berbasa-basi. Dengan berjalan mendekati istrinya.

__ADS_1


"Ya, Bang." sahut Adinda, dengan membalikkan badannya. Namun malah langsung berhadapan dengan suaminya.


Adi langsung mengunci pergerakan istrinya, dan mencium pipi istrinya sekilas.


"Awas tuh! Katanya mau es teh manis." ucap Adinda tak suka dengan tindakan suaminya.


"Liburan, yuk. Tapi di provinsi A aja." ujar Adi dengan memamerkan senyum lebarnya. Adi ingin Adinda menceritakan sendiri tentang apa yang ia obrolkan, di telepon bersama ibunya tadi. Karena feeling Adi mengatakan, bahwa mertuanya mengatakan sesuatu tentangnya. Apa lagi terlihat dari raut wajah istrinya, yang tidak bersahabat dan berbicara seperlunya.


Dan ia berharap liburannya bisa meluluhkan hati istrinya, yang sepertinya tengah marah padanya.


"Tak usah!" jawab Adinda ketus, "Awas!" lanjutnya mencoba meloloskan diri dari kuncian tangan suaminya.


Adi menghela nafasnya, dan melepaskan istrinya begitu saja.


"Ibu ada ngomong apa?" tanya Adi, dengan duduk di kursi makan. Ia tak bisa menahan rasa penasarannya lebih jauh.


"Itu kursi aku! Jangan Abang duduki!" seru Adinda melirik tajam.


"Ok, maaf Sayang." ucap Adi berpindah posisi.


Adinda masih terdiam, ia fokus membuatkan es teh manis untuk suaminya.


Adi memperhatikan gerakan istrinya. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Apa lagi sikap Adinda yang tidak seperti biasanya.


Meskipun Adinda masih emosional, sensitif dan juga moodnya gampang sekali berubah. Tapi Adinda tetap bersikap mesra dan manja pada Adi. Apa lagi sejak perutnya mulai membesar. Ia begitu bergantung dan manja pada suaminya.


"Sini duduk. Ibu ada ngomong apa?" tanya Adi, saat Adinda melangkah dengan membawakan gelas berisi es teh manis.


TBC.


Rumah 4M, belum lain-lainnya. Eh ternyata, itu hanya sebagian saja. Sebagiannya lagi, masuk deposit bank.


Memang khayalan author ini tiada duanya 😂🤣🤭


Tapi masih aman lah ya, bos ladang macam Adi betul adanya.


Kalau orang nyimpen sesuatu tuh, pasti bawaannya takut ketahuan aja.

__ADS_1


Segala kepo apa yg Dinda sama ibunya omongin 😏


Coba kita tengok besok, apa yang ibu dan anak itu bicarakan. Sampek-sampek, Dinda agak lain nih 🙁


__ADS_2