Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP39. Teman lama


__ADS_3

"Mau ke mana, Dek?" tanyaku dengan melangkah ke arahnya.


"Mau ke klinik kecantikan. Udah ada kawan yang nunggu di sana." jawab Dinda.


"Siapa? Kawan dari mana?" sahutku dengan memperhatikan dirinya. Ditambah lagi wangi parfumnya cukup menyengat di hidungku.


"Husna. Kawan aku dari kota L. Dia lagi ada projek di sini." balasnya sedikit menjelaskan.


"Abang anter aja, ya?" ujarku cepat.


"Tapi Bang…" sanggahnya, sepertinya ia ingin menolakku.


"Bang… Bang Givan… Ayo ikut Papah." seruku memanggil anakku. Lalu Givan berlari ke arahku. Dan aku langsung membawanya masuk ke dalam rumah untuk bersiap.


Terlihat Dinda memperhatikanku dan Givan. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Namun ia ragu untuk mengungkapkannya.


Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di dalam mobil. Aku melajukan mobil dengan sangat berhati-hati sekali.


Dinda diam saja, dengan mengutak-atik ponselnya.


Aku pun tak membuka suaraku. Aku hanya fokus pada jalanan. Dan sesekali menanggapi pertanyaan dari anakku.


Sampai saat kami sampai di tempat tujuan. Dan Dinda langsung keluar dari mobil, begitu mobilku berhenti.


Kenapa dengannya? Perasaan ada yang berbeda dengannya. Sebetulnya kawan mana yang ingin dia temui itu?


Aku turun dari mobil, dengan menggendong Givan. Lalu mengikuti langkah kaki Dinda, yang jauh mendahuluiku.


Di depan pintu klinik, keluarlah seseorang yang aku kenal. Dengan seorang wanita yang tak aku kenal.


"Sukma?" suaraku yang keluar begitu saja. Setelah menyetarakan posisiku dengan Dinda yang berhadapan dengannya.


"Hai, Di…" sapanya terdengar santai.


"Kenalin Bang, ini Husna." ucap istriku, dengan menunjuk Husna dengan jempol tangannya.


Lalu, aku dan Husna saling berjabat tangan.


"Adi, suaminya Dinda." ujarku dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Miftahul Husna. Panggil aja Husna." sahutnya dengan menyebutkan nama panjangnya. Husna berperawakan tinggi semampai, dengan kulit putih kekuninganan. Macam warna kulit istriku. Tentu saja glowing merata juga. Nampak dari warna kulit wajah dan tangannya yang sama. Dengan memiliki tekstur halus dan licin. Mungkin seperti ini definisi wanita terpelihara dengan baik. Bukan wanita peliharaan ya.


Dengan Sukma yang tingginya kurang lebih setinggi istriku. Berbadan sintal dan padat, dada yang sepertinya lebih besar dari milik Dinda. Aku mengetahui sekilas, karena jilbabnya yang sengaja tak menutupi dadanya. Dengan warna kulit hitam manis. Mata yang sedikit belo, dan bibirnya yang cukup tebal juga. Tapi ia terlihat begitu pas, dan manis.


"Ini yang resmi atau siri, Di?" tanya Sukma. Membuat nafasku berhenti mendadak. Apa Sukma tahu bahwa aku menikahi dua wanita? Tapi ia tahu dari siapa? Oh, jangan-jangan Haris.


"Siri! Segera diresmikan!" seru Dinda dengan wajah yang ia buat geram. Lalu mereka tertawa lepas setelahnya.


"Abang balik aja. Nanti biar aku diantar sama mereka." tutur Dinda setelah selesai dengan gurauan kecil, bersama kawan-kawannya.


"Janji langsung pulang?" tukasku dengan menatapnya intens. Sebetulnya aku tak mengizinkan istriku berkumpul bersama mereka. Aku takut Dinda mengetahui pernikahan resmiku dengan Maya, dari salah satu di antara mereka.


"Hmm, setelahnya… Aku mau cari guru senam yang mau datang ke rumah." jawabnya lirih. Memang Dinda sampai sekarang pun sering melakukan gerakan senam. Namun senam yang kalem, dan tak terlalu berenergik juga. Karena menurutnya gerakan itu aman untuknya dan janinnya.


"Cari bareng mereka?" tanyaku kemudian.


"Iya, Adi. Tenang aja, istri kau yang paling berharga ini akan kami jaga dengan baik." sahut Sukma yang mendengar pertanyaanku tadi.


"Ya udah. Jangan lupa ngemil. Perut jangan sampai kosong, Dek. Jangan malam-malam. Hati-hati juga. Jangan ceroboh." ungkapku berpesan pada Dinda.


Dinda mengangguk mengerti, dengan menyunggingkan senyum lebar.


Hadeh! Setelah Seila, sekarang Sukma. Nanti siapa lagi?


Kemudian aku menarik kepala belakang istriku. Dan mencium keningnya sekilas. Karena ia tak kunjung mengulurkan tangannya, untuk mencium tanganku.


"Heh!" seru Dinda padaku. Mungkin ia merasa tak enak dengan kawan-kawannya.


"Abang balik ya? Nanti telepon aja kalau mau dijemput." ucapku, lalu berlalu pergi setelah mendapat anggukan kepala dari Dinda.


Saat aku sudah berada di dalam mobilku. Aku melihat ke arah Dinda sekilas. Mereka bertiga sudah masuk ke dalam klinik kecantikan itu. Rasanya aku begitu was-was. Saat Dinda keluar bersama kawan-kawannya. Aku takut rahasiaku di luar sana, didengar oleh Dinda. Semoga saja rahasia itu masih tersimpan baik. Hanya itu yang aku harapkan kali ini.


~


Setelah lewat shalat maghrib. Terdengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah yang aku tempati.


Aku segera mengintip dari balik gorden. Dinda datang, dengan kantong belanjaan yang penuh di tangannya. Dan dua orang wanita yang tadi. Mungkin mereka akan mampir sejenak di sini.


Aku kembali ke ruangan, di mana anakku sedang menghafal bacaan surat pendek. Itulah rutinitasku setelah selesai shalat maghrib. Karena Dinda yang meminta anaknya agar mengaji juga denganku dan dengannya. Tapi setelah ba'da ashar, ia juga mengaji di guru ngaji di sini. Bersama-sama kawan sebayanya. Agar Givan bisa bersosialisasi, dan mengembangkan potensi hafalan suratnya.

__ADS_1


Terdengar suara pintu rumah terbuka, dengan suara Dinda yang mengucapkan salam. Entah ada orang atau tidak, kebiasaan Dinda pasti mengucapkan salam jika memasuki rumah.


"Masuk aja, duduk-duduk aja dulu. Aku mau pipis dulu." ucap Dinda yang bisa kudengar. Lalu fokusku beralih ke Givan kembali, karena ia sudah selesai membaca hafalan.


"Shodaqollahul'adzim." suara anakku yang menuntaskan bacaannya.


"Aku udah selesai, Pah. Aku pindah tak?" lanjut anakku bertanya.


Aku membuka kitab suci yang dari tadi sengaja tertutup. Aku merasakan bacaan anakku ada yang salah. Sedikit banyaknya, aku juga mengerti dengan ilmu tajwid. Aku bisa mengaji dan khatam Al-Qur'an juga. Tapi entahlah, kenapa dulu aku macam manusia tak berakhlak.


"Hmm, besok diulang lagi ya. Masih ada bacaan yang belum lancar. Di sini juga ada apa hayo? Kenapa tak dibaca jelas?" tanyaku pada Givan. Dengan menunjukkan huruf arab di kitab suci ini.


"Izhar halqi. Ya Papah." jawab anakku, lalu ia mencium kitab suci miliknya. Dan segera menutupnya.


Aku mendapat ciuman sekilas di pipi kananku. Lalu pelaku yang menciumku tadi, langsung menuju anaknya yang berusaha tengah melepaskan sarungnya.


"Mamah bawa kue. Dan banyak makanan lainnya." ujarnya dengan suara hangatnya. Ini menandakan moodnya sedang baik. Akan kucoba merayunya nanti malam. Mana tau aku bisa bersarang.


Aku mendekatinya yang tengah menarik pentul dari hijabnya. Ia terbiasa berhijab tak bepentul, bila berada di dalam rumah.


Aku langsung memeluknya, tercium bau madu dari tubuhnya. Berarti benar dia habis perawatan. Karena bau ini sering kucium saat ia pulang dari klinik kecantikan.


"Kenapa harus nunggu gelap baru pulang?" tanyaku dengan mendekapnya.


"Aku sekalian belanja bulanan. Dan beli beberapa pakaian buat kita bertiga." jawabnya dengan melepaskan tanganku dari pinggangnya. Lalu ia berlalu pergi menuju kamar mandi. Mungkin ia ingin menuntaskan rasa ingin buang air kecilnya.


"Adek biasanya beli pakaian online aja." sahutku sedikit berseru.


Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar mandi.


"Aku tadi ke butik khusus pakaian bangkok. Butik langganannya Husna. Yang punyanya artis sini loh Bang. Aku juga tadi sempat foto sama dia. Nanti aku tunjukkan." jelasnya. Lalu ia pergi ke arah dapur. Mungkin ia ingin membuatkan minum untuk kawan-kawannya.


"Si Nurul mantan Abang, yang pernah Abang sebutin itu Nurul Hikmah bukan? Yang Abang kata, des*hannya tak bisa Abang lupain itu." tanyanya berhenti sejenak di hadapanku. Dengan membawa nampan berisi air putih dingin. Ingatannya begitu tajam. Seingatku aku membahas mantan, saat aku berada di rumah sakit. Kenapa sampai sekarang ia masih mengingatnya dengan jelas?


Hadeh, malas kali aku harus menjawabnya. Inilah yang aku tak suka dari kawan-kawan lama. Kalau tidak masa sekolah yang dibahas. Pasti mereka membuka masa laluku dengan wanita lain, di depan istriku-Adinda.


TBC.


Kalau seseorang punya rahasia macam Adi, hawanya takut ketahuan aja 🤭

__ADS_1


Kaya yang ia posesif, tak taunya cuma tak mau orang lain ngomong apa pun tentangnya. Lebih-lebih, ia takut ada orang yang ngasih tau Dinda tentang kebenarannya.


__ADS_2