Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP86. Diintrogasi mertua 2


__ADS_3

"Bukan cuma Dinda yang kelak tau akan merasa sakit hati. Adi pun sama tersiksanya sekarang. Adi lagi seneng rumah tangga, Adi udah bahagia sama Dinda sama Givan. Terus tiba-tiba dapat ujian macam ini." lanjut Adi mencoba mengutarakan perasaannya.


"Jangan bikin drama di sini! Jangan kamu buat kita jadi kasian sama kamu! Dan jangan mengada-ada juga, Dinda tak mungkin nyosor aja sama kamu. Dulu Mahendra aja gak pernah punya merah-merah gitu. Itu kan tandanya Dinda memang gak bisa bikin tanda itu." sahut ibu Risa. Sepertinya ibu dari istri pertama Adi itu, sangat merasa geram pada menantunya.


"Kalau kek gitu kan tandanya berarti Dinda cinta sama Adi, Bu." balas Adi dengan percaya dirinya.


"Dia yang cinta? Apa sengaja membelenggunya? Biar dia gak bisa lepas dari kamu. Dari awal Bapak udah gak terima, pas kamu sirikan anak Bapak. Itu cuma ikatan, yang bikin dia tak bisa lepas dari kamu. Itu cuma alasan biar dia nurut terus sama kamu. Kalau nikah resmi, dia pengen cerai. Tinggal dia gugat kamu ke pengadilan. Nah ini, digugat pun percuma. Dia gak bisa gugat kamu ke mana-mana. Cuma ucapan kamu yang bisa nyelesaiin pernikahan itu. Dan sayangnya, sepertinya kamu enggan buat ngucapin hal itu. Segala kamu sengaja hamilin dia. Itu bikin dia tambah sulit pergi dari kamu, karena kondisinya yang lagi berbadan dua. Belum lagi karena dia kasian sama anak kamu." ungkap pak Sodikin, dengan wajah yang marah bercampur kecewa.


"Bapak, Ibu, Arif, Afan sengaja gak bilang ke Dinda itu ngasih kesempatan buat kamu. Biar kamu bisa ambil keputusan sendiri. Biar kamu yang cerita sendiri. Bapak sadar, anak Bapak udah sebegitu cintanya sama kamu. Gak pengen dicap sebagai pemisah orang yang lagi cinta. Gak pengen bikin anak gila, karena cintanya terhalang orang tua. Gak pengen terlalu jauh ikut campur urusan anak mantu, Bapak pikir kamu bisa nyelesaiin masalah ini sendiri. Tapi makin lama, kayanya kamu malah keenakkan. Memang kamu kayanya sengaja pengen punya dua istri." lanjut pak Sodikin.


"Tak, Pak. Adi cuma pengen punya Dinda aja. Adi pun tak pernah maen perempuan lain, setelah nikah sama Dinda. Kejadian yang kedua bisa sampai hamil itu, demi Allah bukan kehendak Adi. Dan kejadiannya jauh sebelum Adi sama Dinda nikah. Adi pun pengen cepet selesaiin ini. Ini kan yang kedua mau lahiran. Nah terus rencananya Adi mau lepas dia, nanti begitu dia selesai nifas. Anaknya, biar Adi besarin sama Dinda." ungkap Adi mengambil keputusan cepat.


"Terus Dinda?" tanya pak Sodikin. Ia begitu miris, dengan nasib anak bungsunya. Kenapa suaminya selalu menorehkan luka, dengan cerita yang sama.


"Dinda…. Ya, Dinda harus terima bahwa itu anak Adi." jawab Adi berhati-hati.


"Kalau sebaliknya?" tanya pak Sodikin kembali.


"Adi tak mau lepasin Dinda." jawab Adi terdengar begitu lirih.


"Sudah diduga. Inilah kenapa Bapak ngelarang Dinda sama orang sebrang. Udah hidup jauh dari orang tua, laki-lakinya hidup semaunya sendiri. Di sana punya istri, di sini punya istri." balas pak Sodikin dengan berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Ceraikan aja Dinda, jangan nambah-nambah luka. Kamu belum tau gimana marahnya Dinda. Lebih baik, ceraikan dia lebih awal. Sebelum dia tau, bahwa kamu duain dia. Setidaknya, itu cukup bikin kamu selamat darinya." ungkap Arif, sebelum berlalu pergi ke luar rumah. Ia pamit pada ibunya, untuk mengecek toko yang dikelola istrinya.


"Adi harus gimana, Bu?" tanya Adi begitu lirih. Ia begitu frustasi dengan keadaan ini.


"Neneknya Dinda pun jadi istri pertama dari kakeknya Dinda. Ibu cukup ngerti gimana perasaan Dinda, kalau tau dirinya dimadu." jawab ibu Risa. Adi menoleh ke arah ibu mertuanya. Ia baru mengetahui fakta tentang keluarga besar istrinya, ia sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut.


"Jangan rusak karakter Dinda, setelah dia tau ini semua." lanjut ibu Risa. Membuat Adi tidak mengerti dengan maksud ibu mertuanya.


"Maksudnya?" sahut Adi kemudian.


"Jadi, gimana keadaan Dinda dan kandungannya? Udah berapa bulan?" tanya ibu Risa, mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Udah mau tujuh bulan. Yang kedua mungkin satu minggu lagi mau lahiran." jawab Adi tepat.


"Kenapa baru ngabarin sekarang? Coba telepon Dindanya." sahut ibu Risa.


Lalu Adi langsung mengutak-atik ponselnya, menyambungkan panggilan video pada Adinda.


Dan, hari itu ibu Risa mengintrogasi anaknya. Tentang kehamilannya, dan alasan kenapa Adinda tak memberitahunya.


Adi sesekali menyahuti ucapan Adinda, dan menyelinginya dengan tawa ringan. Adi begitu merindukan istrinya, dan ekspresi yang berubah-ubah dari istrinya tersebut.


~


~


Sudah dua hari Adi tinggal di rumah orang tua Adinda. Ia sibuk terjun langsung ke peternakannya. Mengikuti sendiri proses pengambilan telur, dan memasarkannya.


Ia mencoba menekuni usaha yang istrinya inginkan. Meski menurutnya, usaha kopi lebih menjanjikan dari pada peternakan telor puyuh itu.


Arif sedikit banyaknya, sudah mengetahui tentang diri Adi. Ditambah beberapa hari ini, Adi bekerja bersamanya.


"DI…." panggil Arif dengan menepuk kedua tangannya berulang, agar Adi yang berada jauh dari jangkauannya bisa mendengar seruan suara Arif.


Adi menolehkan kepalanya, "YA." sahut Adi dengan mengangkat satu tangannya. Menandakan bahwa dirinya mendengar panggilan kakak iparnya.


"MAKAN.." ujar Arif, dengan mengisyaratkan tangannya seperti mengambil makanan dari piring dan memasukkan ke mulutnya.


Adi mengangguk mengerti. Ia meninggalkan pekerjaannya, dan berjalan menuju Arif.


Adinda pun mengetahui, bahwa suaminya berada di rumah orang tuanya. Sembari mengerjakan pekerjaan di peternakannya.


Lalu Arif dan Adi pulang ke rumah ibu Risa, untuk mengisi perut mereka di tengah hari ini. Karena ibu Risa selalu menyuruh Adi dan anaknya untuk makan di rumah.


"Nanti, kalau ke kota. Rumah Dinda di sana dibersihin, Di. Gas, listriknya dicek. Kasurnya di senderin ke tembok aja, biar gak rusak." ucap ibu Risa, dengan menuangkan air minum untuk Adi dan Arif.

__ADS_1


Adi mengangguk mengerti, ia tak terganggu dengan aktifitas ngobrol ditengah sesi makan. Berbeda dengan Adinda, pasti ia langsung tak berselera lagi untuk makan.


"Rumah kamu siapa yang nempatin, Di?" tanya Arif, setelah menelan makanannya.


"Zulfa, adek nomor tiga." jawab Adi seperlunya.


"Memang berapa bersaudara?" tanya ibu Risa, dengan duduk di kursi yang berada di hadapan Adi.


"Lima bersaudara. Adi anak dari suami pertama umi. Ayah kandung Adi udah meninggal sejak Adi umur empat tahunan." jelas Adi, saat ibu Risa mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Membuat gerakan ibu Risa terhenti sejenak, saat mendengarkan hal itu.


"Berarti adik-adik kamu lain ayah?" tanya Arif kemudian.


Adi mengangguk, "Lain ayah, tapi satu ibu. Adi dari kecil ikut sama nenek kakek dari almarhum ayah kandung." jawab Adi menjelaskan.


"Kenapa gak ikut sama umi sama ayah baru?" sahut ibu Risa.


"Dulu ayah sama umi tinggal di pedalaman provinsi KB. Pas lagi mayoran ular, Adi ikut makan. Terus dikasih tau, katanya daging yang Adi makan itu dari hasil tangkap ular di sawit. Jadi Adi kapok lah, langsung minta balik ke A*** aja." ungkap Adi bercerita. Ibu Risa dan Arif tertawa pelan mendengarnya.


"Tapi ayah barunya gak pilih kasih kan? Kamu jangan gitu ke Givan, apa lagi dia anaknya perasa banget. Gampang tersinggungan anaknya, cengeng juga." sahut ibu Risa.


"Iya, nakal tapi cengeng. Persis kaya ibunya." timpal Arif kemudian, lalu mereka tertawa ringan. Sampai dering ponsel Adi terdengar begitu mengusik.


Adi menatap heran nomor yang tertera di layar ponselnya.


"Siapa, Di?" tanya Arif yang ikut merasa heran melihat ekspresi Adi.


"Tak tau, kek nomor telepon rumah." jawab Adi masih memperhatikan layar ponselnya.


"Angkat aja." sahut Arif kemudian. Dan Adi langsung menyentuh ikon hijau tersebut.


"Selamat siang, dengan suami dari Ibu Maya?" ucap seorang perempuan dari dalam panggilan teleponnya.


Adi langsung berdiri dari duduknya, "Ya, saya sendiri." tanya Adi kemudian. Pikiran Adi langsung berkecamuk hebat.

__ADS_1


TBC.


Ana apa jeh? 😅


__ADS_2