
Adi berjalan ke arah Adinda, sebelum Adinda menoleh padanya. Ia lebih dulu menunduk dan langsung menciumi seluruh wajah istrinya.
Membuat Adinda langsung berontak kaget, dengan menepis bibir Adi yang masih mendaratkan bibirnya di seluruh wajahnya terus menerus.
Setelah Adi merasa puas menciumi istrinya, ia lalu menegakkan tubuhnya kembali dengan tersenyum manis pada istrinya.
Adinda langsung mencoba bangkit, kemudian langsung menoleh pada Adi.
Ia begitu terkejut melihat seseorang yang berada di pikirannya, kini berada di hadapannya.
"ABANG… TAK BILANG-BILANG, KANGEN KALI AKU!" teriak Adinda begitu kuat. Sampai Givan dan Zuhra berlarian ke sumber suara.
Adinda langsung berhamburan memeluk suaminya. Adi tersenyum bahagia, mendapat respon yang luar biasa dari istrinya.
"Sukma…" ucap seseorang yang menarik atensi Adi dan Adinda. Semua orang yang berada di sini pun, langsung menoleh pada sumber suara. Yang berasal dari ambang pintu.
"Pue?" ketus Sukma terlihat tak suka.
Lalu Safar berjalan menghampiri Sukma, lalu menarik tangan Sukma untuk mengikuti langkah kakinya. Sukma pun menyeimbangi langkah kaki Safar, yang membawanya ke luar dari rumah itu.
Givan memeluk kaki Adi, sedangkan tubuhnya masih dipeluk erat oleh Adinda.
"Ah, anak kita nendang-nendang Dek. Berasa kali." ucap Adi dengan memandang wajah istrinya.
"Papah gendong." rengek Givan yang ingin diperhatikan oleh mereka.
Adi dan Adinda terkekeh kecil, mendengar ucapan anaknya.
Adinda melepaskan tubuh Adi, lalu Adi langsung membawa Givan dalam gendongannya.
Adi dan Adinda saling memandang dengan bertukar senyum bahagianya.
"Jadi… kita maen catur aja kah Rul?" seru Seila yang sedari tadi menonton romansa mereka berdua.
"Boleh-boleh." jawab Nurul langsung. Kemudian mereka semua malah tertawa bersama.
~
Karena merasa tak enak pada Adi yang baru datang. Nurul dan Seila undur diri, lalu pamit pulang.
Dengan Sukma yang dibawa pergi oleh Safar. Mungkin mereka akan membicarakan tentang masa depan mereka, karena Safar terlihat sangat menginginkan Sukma. Pemuda yang sangat penurut itu, baru merasakan jatuh cinta pada seorang janda yang ia cap begitu bahenol tersebut.
__ADS_1
~
Adi tengah duduk dengan diapit oleh Adinda di samping kanannya dan Zuhra di samping kirinya. Dengan Givan yang berada di pangkuan Adi.
Adi diminta bercerita tentang pembebasannya. Apa lagi tak ada yang mengabari pada Adinda sebelumnya.
"Supriyatna udah cabut tuntutannya. Pagi-pagi kali, dia datang ke kantor. Terus langsung proses. Tapi… Abang curiga sama Adek." jawab Adi dengan memandang lurus ke depan.
"Curiga aja teros. Istri kok dicurigai, ya Kak? Aku tau sendiri, Kak Dinda di rumah tak macam-macam." timpal Zuhra dengan logat bicara yang sudah terbawa daerah Adi.
"Bukan masalah itu, Dek." sahut Adi dengan menoleh pada adiknya.
"Laki-laki itu kata… kenapa kau tak pasung aja betina gila itu." lanjut Adi dengan menoleh pada Adinda, lalu memperhatikan wajahnya dengan saksama.
Adinda hanya tersenyum samar, saat suaminya terus menerus menatapnya.
"Pak cek susah hati ngusahain Abang di sana. Segala uang, sampai pengacara dibawa maju. Pas rencana udah siap, laki-laki itu malah datang sendiri dan cabut tuntutannya. Abang tak habis pikir, dengan cara yang Adek rencanakan. Padahal sebelumnya, pak cek bilang. Bahwa Adek dihasut habis-habisan sama itu laki-laki." jelas Adi, lalu menghela nafasnya sesaat.
Tentu pak Akbar menceritakan pada Adi, tentang apa yang ia dengar dari sambungan teleponnya. Saat Adinda menemui Supriyatna hari itu.
"Jangan ngelak Adek tak ngapa-ngapain, tak ngusahain Abang. Rasanya tak mungkin, Adek tak ngapa-ngapain. Tapi laki-laki itu nyuruh Abang buat pasung Adek." lanjut Adi dengan mengamati perubahan di wajah istrinya.
"Lebay!" sahut Adinda ringkas, dengan meraup manja wajah suaminya.
Namun, Adi langsung mendapat pukulan pada lengan kirinya. Bukan lain adalah Zuhra yang melakukannya, "Nyosor terus! Ada adiknya, ada anaknya tak dianggap betul. Bikin malu aku aja." ujar Zuhra pelan. Namun, terdengar jelas di telinga Adi.
Adi terkekeh geli, "Iri bilang, Bos." balas Adi dengan menoleh pada Zuhra.
"Tante juga pengen dicium Papah." ucap Givan dengan menciumi pipi ayah sambungnya.
"Abang yang pengen tuh. Ini buktinya, nyiumin Papah terus." sahut Adi kemudian. Lalu mereka tertawa bersama.
~
Malam harinya, Adi terus-terusan memberi istrinya kode. Ia amat menginginkannya, ia sudah membayangkan Adinda yang begitu dominan atas dirinya. Tentu itu jarang sekali diinginkannya, karena ia sangat menyukai jika dirinya yang memegang kendali. Namun, kali ini Adi menginginkan hal tersebut.
"Tidur kah, Bang?" ucap Adinda setelah keluar dari kamar mandi. Karena ia melihat suaminya sudah terpejam di atas tempat tidur.
"Belum, Sayang." sahut Adi dengan bangkit dari posisinya, kemudian bersandar pada kepala ranjang.
Lalu Adi langsung menarik kaosnya, hingga terlihat dada bidangnya.
__ADS_1
Adinda malah mengambil kaos yang Adi geletakan, lalu menggantungnya pada kastok yang tak jauh dari jangkauannya.
"Sini, Sayang." ucap Adi kemudian, dengan menepuk pahanya. Berharap Adinda memahami maksudnya.
Adinda tersenyum ke arah Adi, dan langsung menarik tengkuk suaminya. Dengan bibir yang langsung beradu panas.
"Dari tadi dikode, tak paham-paham. Sampai udah jam sebelas, baru mau siap tempur." ujar Adi, saat bibir mereka terlepas.
"Pengen tengok gregetnya Abang, pengen tau mau ngapain." sahut Adinda dengan tersenyum menggoda.
"Rupanya pengen yang hard, ya?" tuduh Adi dengan tangan yang mulai menjelajahi tubuh istrinya.
Adinda perlahan berpindah ke pangkuan Adi, ia meraba dada berotot suaminya. Matanya begitu sangat mengagumi sosok laki-laki yang kini menjadi pasangan hidupnya tersebut.
Adi meraba perut besar istrinya, "Perasaan perutnya kencang betul, Dek. Mana keras lagi." ucap Adi dengan bergantian melihat wajah istrinya dan perut istrinya.
"Lagi pengen ditengok Papahnya soalnya." jawab Adinda dengan mengunci kepala suaminya, kemudian menyesapi bibir tebal suaminya. Ia terlihat sangat menginginkan suaminya.
Adi perlahan melepaskan kancing kemeja yang kebesaran ditubuh Adinda. Adi tak menyukai, jika Adinda selalu memakai daster. Maka dari itu, Adinda lebih memilih memakai kemeja kebesaran saja untuk malam ini. Selain nyaman untuknya, tentu nyaman juga untuk pandangan suaminya. Beberapa bulan ia hidup bersama Adi, ia sudah paham akan sifat Adi yang tak diketahuinya dulu.
"**** Dek." ujar Adi kemudian. Lalu Adinda mengangguk, lalu turun dari posisinya.
Ia mempertahankan kemejanya yang merosot, lalu langsung menuruti apa yang suaminya inginkan.
Adi meloloskan celananya dan menurunkan kakinya menapak di lantai kamar. Dengan dirinya yang duduk di tepian tempat tidur.
Adinda langsung bersiap, ia menjadikan lututnya untuk menjadi tumpuan berat tubuhnya.
Dengan Adi yang mulai mengumpulkan rambut istrinya, dan ia satukan menjadi satu genggaman. Lalu ia mulai menikmati sapuan lidah istrinya, yang istrinya jejakan di bagian kantung kelemahannya.
Tok, tok, tok…..
Brughhh…. Tok, tok, tok….
Terdengar ketukan dan gedoran yang cukup kuat pada pintu kamar mereka. Mungkin sepertinya, seseorang tengah menendangnya berulang kali
"Ughhhh….. siapa itu, Dek? Ganggu aja." geram Adi tertahan. Lalu Adinda mulai menyudahi kegiatannya, kemudian bangkit dari posisinya dengan dibantu oleh Adi.
Dug, dug, dug….
"Siapa lagi kalau bukan anak kita." jawab Adinda dengan membenahi kembali pakaiannya.
__ADS_1
......................