Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP228. Bertolak kembali


__ADS_3

"Tak… Abang tak salah! Aku terus yang salah, Abang benar terus karena Abang laki-laki. Dah tuh, abis ini pasti ungkit-ungkit segala sesuatu yang udah Abang kasih. Ingat, Bang! Abang itu wajib nafakahin aku, meski tak tiap hari dan tiap bulan. Segala sesuatu yang masuk ke rekening itu, semua hasil panen itu adalah bentuk nafkah lahir dari Abang untuk aku. Aku pengen sesuatu, aku beli pakek uang sendiri. Aku kadang pergi sendiri, untuk beli yang aku pengeni." meledak sudah istriku. Suaranya menggelegar, mata kecilnya dipaksa untuk terbuka lebar.


"Lah… kan semua uang ada di Adek, Adek bisa akses juga. Memang Adek mau beli sama siapa lagi? Uang Abang kan, semuanya udah milik Adek. Adek kata, itu nafkah lahir dari Abang untuk Adek. Itu semua milik Adek, ya silahkan belanjakan apa yang dimau." sahutku memperjelas, agar istriku ini punya pikiran sendiri.


"Oh.. jadi Abang ungkit-ungkit?! Gini nih suami aku, tak peka betul. Aku apa-apa serba sendiri, beli sendiri, dipakek sendiri. Kadang pasang gas sendiri, beli gas juga sendiri." balasnya yang merambat ke arah lain.


"Memang Adek mau ke mana lagi? Mau macam mana lagi? Mau ini dan itu, ya tinggal beli. Uang dipegang sendiri juga, malau cari ribut. Abang macam ini salah, Abang macam itu salah." ujarku yang terbawa suasana.


"Abang tak pernah ada inisiatif, untuk kasih aku hadiah. Giliran aku dikasih hadiah sama laki-laki lain, Abang marah. Tapi aku tak pernah dihadiahi apapun! Tau kok aku mampu beli sendiri, uangku cukup buat beli yang aku mau. Tapi beda rasanya, kalau Abang sengaja hadiahkan buat aku. Tak hari biasa, tak hari spesial. Aku tak pernah dihadiahi apapun! Tak ada anniversary, tak ada ultah, bukan berarti tak ada hadiah!" tuturnya dengan nafas yang memburu. Ia benar-benar marah sekarang, hanya karena hadiah saja. Jika ia mampu beli sendiri, kenapa aku harus membelikannya? Benarkah begitu? Hadiah berbeda rasanya, dengan sesuatu yang ia beli sendiri?


Aku langsung memeluknya erat, "Iya, iya maaf. Nanti Abang belikan hadiah, jangan ngamuk lagi asal?" ucapku dengan mendongakan wajahnya, menghadap ke arahku.


Telingaku ditariknya, "Tinggal hadiahin aja! Tak usah bagi tau dulu! Tak surprise! Tak bikin seneng nanti!" sahutnya yang membuatku terkekeh geli.


Aku menciumi seluruh wajahnya, "Iya, deh. Nanti Abang tak bagi tau Adek. Tapi betul kan Abang dimaafkan?" balasku kemudian.


"Ya asal urus anak bareng-bareng. Itu kan anak Abang juga, benih Abang. Masa aku sendiri yang ngurus mereka? Nanti dia tak kenal sosok ayahnya sendiri." syarat darinya yang harus dipenuhi.


"Ya Allah, Dek. Baru juga berapa jam Abang tak urus mereka aja, udah dibilangnya macam itu." tuturku yang membuatnya terkekeh geli.


"Asal beli lipstik." tukasnya kemudian.


Aku menahan tawaku, dengan melirik padanya. Terlihat Dinda pun demikian juga. Dengan cepat aku mencuri kecupan di bibirnya, yang membuatku mendapat cubitan di punggungku. Karena posisi kami masih dalam berpelukan.


"Mah… mahhhh…" suara Naya, eh Icut. Yang tengah menatap kami dengan tatapan bingung.


Aku dan Dinda saling melempar pandangan, kemudian kami menyuarakan tawa kami setelahnya.


~

__ADS_1


~


~


Satu bulan kemudian


Hari yang sudah ditetapkan sudah disepakati dengan pihak WO. Hari ini aku, keluarga kecilku, dengan bapak dan ibu istriku tengah bertolak menuju kota J. Karena tinggal tiga hari lagi, kami akan melaksanakan isbat pernikahan kami dan juga resepsi.


Kami pergi dengan menggunakan mobil keluarga milik Dinda, aku pun baru mengetahui bahwa istriku memiliki mobil untuk keluarganya. D*ahatsu G*andmax, yang cukup bisa menampung banyak penumpang. A Arif beserta istri, a Afan beserta istri, akan hadir di hari H dengan para rombongan keluarga besar. Dengan mobil bus yang sudah aku sewa, untuk rombongan nanti.


"Pah… nanti beli mobil ini, buat jalan-jalan." ucap Givan, yang duduk di sebelah kursi kemudi. Dengan duduk di pangkuan kakeknya.


"Tak, Papah mau beli pick up." jawabku yang membuat Dinda, juga kedua orang tuanya menyuarakan tawanya.


"P*jero dong, Bang." timpal Dinda yang berada di belakangku.


"Katanya mau mobil bus?" sahutku yang membuat tawa dari ibu mertuaku, juga bapak mertuaku terdengar menggema.


Aku langsung menepikan mobil ini, dengan Dinda yang langsung keluar dari dalam mobil. Ia meludah dan berusaha mengeluarkan isi perutnya. Waduh, fatal ini. Apa jangan-jangan Adindaku hamil lagi? Kalau memang demikian, bagaimana pada acara pernikahan kami nanti?


Aku berusaha membantu istriku, dengan beberapa kali memijat tengkuknya.


"Haid belum sih, Din? Perasaan dadanya sekel banget?" tanya ibu mertuaku, setelah Dinda masuk kembali dan meneguk air mineral miliknya.


Sungguh aku tegang setengah mati, apa lagi saat Dinda menoleh ke arahku. Bagaimana aku mengatakannya? Aku benar-benar tak sengaja mengeluarkannya di dalam saat itu. Karena sesaat setelah kami bertengkar pagi itu, kami…


Flashback On


"Dek… sebelum sholat Jum'at, disunnahkan mandi besar Dek." ucapku dengan menghampiri Dinda di depan kompor.

__ADS_1


"Ya udah sana junub. Aku lagi masak ayam krispi asam manis, Givan minta makan siang sama itu." sahutnya dengan mengaduk makanan yang berada di dalam wajan.


"Udah mau mateng juga tuh. Ayolah, Dek. Kita bikin junub dulu, sebelum mandi junub." jelasku dengan langsung memeluk tubuhnya dari belakang.


"Awas ini! Ketelep nanti!" Dinda memberontak pelukanku. Ketelep itu, seperti terkena benda panas. Itu bahasa dari kota C, bukan bahasa daerahku.


"Bentar aja. Ayolah, Sayang. Adidas deh, ok ya?" bujukku kembali.


"Apa lagi itu Adidas?" tanyanya dengan mematikan kompor, lalu mengambil wadah dan memindahkan masakannya yang sudah matang ke dalam wadah tersebut.


"Adek di bawah, Abang di atas." jelasku yang membuatnya terkekeh geli.


"Ke mana tadi Givan? Icut sama Ghifar lagi diajak bang Haris sama Alvi jalan-jalan tuh, Abang sih bukannya fokus ke anak yang lain." ujarnya dengan mencuci tangannya.


Ya memang, beberapa saat yang lalu Icut dan Ghifar diajak oleh Haris. Haris terlihat begitu menginginkan banyak anak, dengan Alvi yang sama halnya seperti Haris.


"Givan main di rumah tetangga, ini yang sebelah rumah." sahutku dengan menarik tangannya, kemudian langsung aku membawanya dalam gendongan manjaku.


"Tunggu, tunggu! Kembar lagi pada ngapain?" tanyanya dengan tangannya berpegangan pada leherku.


"Kembar baru bobo, masih di ayunannya." jawabku dengan merebahkan istriku di atas tempat tidur.


Dinda membelikan ayunan otomatis untuk anak kembarnya, kembar juga terlihat begitu nyaman tidur dalam ayunan tersebut.


"Nanti macam mana kalau Givan tiba-tiba masuk? Nanti kembar nangis macam mana?" tanyanya dengan mendorong dadaku. Aku paham, istriku sebetulnya tengah beralasan saja. Ia pernah mengatakan, jangan membuatnya junub di siang hari. Karena ia merasa lemas pada lututnya, setelah beberapa kali kl*maks. Mana harus menjaga anak-anak, juga beraktivitas setelahnya. Tentu ia enggan melayaniku di siang hari ini.


"Aman, ayolah Dek. Jangan nolak Abang, kewajiban loh ini Dek." paksaku, dengan mengeluarkan Adi's bird dari sarangnya.


TBC.

__ADS_1


Tanggungnya 🙄


__ADS_2