Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP19. Hampir ketahuan


__ADS_3

Aku langsung menolak panggilan yang berulang kali terdengar itu. Dan langsung mengubah pengaturan notifikasi menjadi diam.


"Siapa, Bang?" tanya Dinda kemudian.


"Bukan siapa-siapa, Dek." jawabku gugup. Dan langsung menaruh ponselku, dengan posisi layar menghadap ke bawah.


Sungguh, hanya karena Maya menelponku cukup membuatku ketakutan. Dan membuat Adi's bird yang siap tempur, menjadi tidur kembali. Rasa takutku akan ketahuan lebih besar, dari rasa nafsuku.


Aku mengatur nafasku, dan bersandar pada sandaran sofa. Aku memejamkan mataku, menghalau rasa takut yang menyelubungiku.


"Kenapa, Bang? Ngantuk kah?" tanya Dinda dengan membelai pelipisku.


Aku menoleh padanya, "Tak, Sayang. Lanjut yuk." ajakku kemudian.


Dinda mulai naik lagi ke pangkuanku. Beberapa saat kami bercumbu, tak bisa membuat Adi's bird bangun kembali. Karena jujur, rasa takutku masih begitu besar. Aku tak bisa fokus pada permainkanku.


Dinda menyudahi kegiatannya, "Ada masalah apa?" tanya Dinda dengan memperhatikan wajahku.


Aku menggeleng lemah, "Tak ada masalah, Dek." jawabku bohong.


"Terus kenapa? Abang capek? Apa bosan?" ucap Dinda, dengan turun dari pangkuanku. Mungkin ia menyadari sesuatu yang tak mengganjal di antara selang*angannya.


"Tak juga, Sayang." sahutku merengkuh tubuhnya kembali.


"Besok kita liburan. Nginep di penginapan. Mana tau gairah Abang bisa bangkit lagi. Karena suasana tempatnya baru." balasnya menyahutiku.


Andai saja aku bisa membagi rasa takutku. Namun, jika aku bercerita. Itu malah akan menjadi bumerang untukku sendiri. Aku tak mau Dinda meninggalkanku. Aku takut itu terjadi, jika ia mengetahui yang sebenarnya.


Aku memperhatikan wajahnya. Sudah aku duga, moodnya memburuk sekarang.


"Mungkin Abang lagi capek aja. Maaf ya?" ungkapku dengan mengelus lengannya.


"Subuh nanti kita coba. Biasanya dingin-dingin di pagi hari, bikin kita pengen nyatu terus." lanjutku dengan tersenyum padanya.


Dinda melepaskan dekapanku, dan ia mengambil kemejaku yang ia kenakan tadi. Lalu ia memakinya kembali dalam diam.


Setelahnya ia berlalu sambil berkata, "Aku tidur duluan. Selesaikan tuh urusan Abang dengan yang nelepon tadi." cetusnya datar.


Ucapannya membuat jantungku berdegup kencang. Apa tadi hanya feeling Dinda saja? Atau memang ia mengetahui sesuatu?


Aku melihat kembali ponselku. Tujuh kali Maya menelponku. Dan ada beberapa pesan chat juga, yang masuk dalam aplikasiku.

__ADS_1


"Betul kan memang Abang mikirin hpnya dari tadi? Sampai-sampai tak selera sama aku!" seru Dinda yang membuat ponselku loncat dari tanganku. Alhamdulillah, untungnya jatuhnya ke karpet yang tebal.


Aku langsung mengambil ponselku dan mengamankannya. Lalu aku mengahampiri Dinda yang berada di ambang pintu kamar.


"Abang tak mikirin hp. Abang, Abang…" ucapku tersendat, dan langsung disela olehnya.


"Ada perempuan lain kan? Jujur sama aku!" tegas Dinda membuatku bungkam.


"Tak ada, Dek. Cuma Dinda perempuan Abang." sangkalku yang entah bertahan sampai kapan.


Sudah kuduga, ia meneteskan air matanya. Aku langsung merengkuhnya, dan membawanya duduk di sofa terdekat.


"Dinda dengar Abang, sampai kapan pun. Cuma Dinda yang ada di hati Abang. Tak ada perempuan lain, dan tak ada yang gantiin posisi Dinda." ungkapku dengan memeluknya.


"Harusnya, kalau Abang paham aku marah tadi. Aturannya, Abang langsung kejar aku. Rayu aku, bujuk aku. Bukannya malah main hp!" ungkapnya dalam dekapanku. Dengan air mata yang membasahi dadaku, yang tak menggunakan baju.


Betul juga ucapannya, kalau aku mengikutinya masuk ke dalam kamar tadi. Dinda tak akan mungkin mencurigaiku. Tapi aku malah memainkan ponselku, mengkhawatirkan Maya yang terus menerus menelponku tadi. Karena aku ingat pesanku sebelum meninggalkannya. Agar ia menghubungiku dikala waktu darurat saja.


"Maaf, Dek. Abang kira Adek betul mau istirahat tadi. Makanya Abang tak ikut masuk ke kamar." sahutku beralasan.


"Dengar ya, Bang! Firasat seorang istri itu lebih tajam. Dulu, sebelum Mahendra ketahuan main perempuan. Beberapa kali aku sempat bermimpi barang kesukaanku dipakai orang. Dan mimpi itu terjadi lagi, saat Abang berada di kota C kemarin." ujarnya dengan menatapku.


"Tapi memang Abang tak main perempuan, Dek. Abang tipe laki-laki yang setia. Kalau Adek tak percaya, coba tanya langsung sama temen Adek itu si Shasha." balasku meyakinkannya. Karena memang begitu kebenarannya.


Dinda melepaskan pelukanku, dan ia berlari kecil menuju kamar mandi.


Apa ia kebelet pipis kah?


Tapi tunggu dulu…


Hoek, hoek, hoek.


Dinda muntah?


Aku langsung berlari menuju kamar mandi. Ternyata suara yang kudengar berasal dari Dinda, yang berusaha mengeluarkan sesuatu yang membuatnya mual.


Makanan dan beberapa cemilan yang sempat ia makan, di keluarkannya lagi. Dan berakhir dengan cairan saja yang keluar.


Setelah menyiram muntahannya, aku membasuh mulutnya dan hidungnya. Ia terlihat begitu lemas, dengan hidung yang memerah.


Aku membantunya berjalan menuju ke kamar. Dan setelahnya, aku mengoleskan minyak angin di leher dan bagian perut atasnya.

__ADS_1


Dinda memejamkan matanya, mungkin ia sudah mengantuk. Atau memang dia tengah meredam rasa mualnya.


Aku teringat saat aku berada di rumah sakit kemarin. Jefri mendapat telepon dari Dinda, dan ia bercerita sedikit tentang Dinda. Dengan raut wajah tegang juga bingung.


Jadi ini maksud Jefri yang mengatakan, 'Kondisinya tak memungkinkan dia untuk kuat mendengar ini semua. Aku malah takut kejadian itu terulang lagi.'


Karena Dinda hamil, dan Dinda akan setres jika mendengar bahwa aku menikah lagi. Tentu saja beban pikirannya nanti akan berakibat pada kandungan Dinda. Dan kejadian keguguran bisa jadi akan terulang kembali, jika Dinda mengalami setres. Atau waktu dulu, saat Dinda keguguran anak keduanya. Ia mengalami beban pikiran karena Mahendra bermain dengan perempuan lain.


Aduh, amit-amit. Jangan sampai buah cintaku dengan Dinda gugur dalam kandungan.


Aku merebahkan tubuhku di sebelahnya, dengan tangan mengelus-elus perut bagian bawah Dinda yang masih rata. Tempat anakku tumbuh kembang di dalamnya.


~


Pagi harinya, sejak shalat subuh sampai pukul tujuh pagi. Dinda terus menerus merasa mual, dan memuntahkan cairan perutnya. Karena sedari malam, sejak ia muntah. Ia belum makan apa pun.


"Mau sarapan apa, Dek?" tanyaku padanya.


Dinda menggelengkan kepalanya, "Udah, Abang ke ladang aja sana. Aku belum pengen sarapan." jawabnya kemudian.


"Abang tak tenang kerjanya, kalau Adek masih tak mau makan macam ini." sahutku dengan membelai surai coklat keemasannya.


Dinda malah memelukku erat dan menangisi sesuatu yang tak jelas. Kenapa dengannya? Ada masalah apa lagi? Sampai-sampai membuatnya menangis kejar macam ini.


"Kenapa, Sayang?" tanyaku lembut.


"Aku pengen nangis aja. Aku tak kuat muntah-muntah terus macam ini. Aku lapar, tapi aku tak bisa makan. Rasanya mual betul." keluhnya dalam tangisnya.


"Sabar, hanya trimester pertama aja. Beberapa bulan lagi nanti rasa mualnya pasti hilang." sahutku dengan menghapus air matanya.


"Waktu hamil Givan, hamil yang kedua juga tak macam ini. Muntahnya kadang-kadang. Tak setiap hari macam ini." balasnya menyahutiku. Aku malah bingung ingin menjawab apa.


Dinda mentap ke bawah. Dan aku mengikuti arah pandangnya. Ia tengah memperhatikan ponselku, yang menyala dengan nama Maya tertera di sana. Jadi, Maya masih meneleponi terus?


"Maya siapa?" tanya Dinda dengan mengulurkan tangannya, untuk mengambil ponselku. Yang semalam aku simpan bagian bawah meja, yang menjadi alas namun bisa dijadikan untuk menaruh barang lagi.


Mati aku!


TBC.


Ketahuan tak ya kira-kira?

__ADS_1


Kok aku jadi ikutan deg-degan 😳


__ADS_2