Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP226. Adi merajuk


__ADS_3

"Pah… Papah…." suara tangis Naya yang diselingi dengan menyebutku. Tentu saja Naya menangis. Karena tanpa salah dan dosa, Ghifar menarik rambut Naya yang terikat seperti tanduk tersebut.


"Dek… berantem ini. Bawa dulu salah satunya!" seruku pada Dinda. Aku sengaja ingin mengganggu mereka, hanya saja aku tak enak hati jika aku yang langsung mengganggunya. Jika beralasan dengan anak-anak kan, aku merasa bukan pengganggu.


Dinda muncul dengan wajah seriusnya, ia mengangkat tubuh Naya lalu langsung membawanya keluar. Apa yang mereka bicarakan? Aku penasaran, tapi aku malu untuk menimbrung.


Aku membawa kembar satu persatu ke ruang televisi, dengan tontonan kartun yang baru saja dimulai tersebut. Givan terlihat beberapa kali bolak-balik ke dalam dapur, ia kembali dengan membawa barang yang ia dapatkan dari dapur.


Sungguh aku jenuh, Ghifar anteng dengan mainannya. Ghava dan Ghavi tengah berolahraga, sembari menonton film kartun.


"Pah… Papah disuruh mamah, bantu om Rozi nyalain mobilnya." ucap Givan dengan langsung duduk di sebelahku.


"Terus…" ucapanku yang tak tuntas, karena Givan langsung menyuarakan ucapannya kembali.


"Biar aku yang nemenin adek-adek sebentar." sahutnya yang langsung kuangguki.


Heran aku pada mobil mewah itu. Terlihat dari luar, bahwa mobil itu masih baru dan terlihat berkelas. Namun, kenapa sampai mobil ini tak bisa menyala sama sekali?


"Kena longsor yang sebelah sini ini, Bang. Terus tiba-tiba suka ngadat, padahal udah beberapa kali servis." ucap Rozi yang mengikutiku dalam mengecek keadaan mobilnya.


"Sayang ya mau dibuang? Mobil mahal." timpal istriku dengan suara yang semakin mendekat.


"Yaaa… begitulah. Diservis, malah makan biaya berlipat ganda. Dimuseumkan, ya sayang. Karena masih layak pakai." balas Rozi yang berada di depan kap mobil.


Aku langsung berjalan menuju bagian depan mobil, kemudian berdiri di sebelah Rozi yang tengah berhadap dengan mesin mobilnya.


"Bang Adi punya di sana T****a C*rolla DX tahun 86, aman sampek sekarang." sahut Dinda yang ternyata sembari menggendong Naya.


"Sekarang kalau udah modif, bisa 140 jutaan." ujar Rozi dengan memperhatikan istriku. Aku tahu, karena Dinda berjalan ke arahku. Dengan ia berhenti tepat di sebelah kaca spion pintu kemudi.


"Udah upgrade, Bang? Modifikasi terakhir, perbarui apa?" tanya Rozi padaku, dengan aku yang tengah mengecek keadaan mesin mobil mewah ini.


"Udah upgrade mesin. Modifikasi terakhir ya… sebelum nikah sama Dinda. Sebelum kenal Dinda. Setelah itu, fokus modifikasi Dinda aja." jawabku yang membuat kami semua tertawa geli.

__ADS_1


Lalu aku membantu Rozi, sampai mobilnya bisa melaju kembali. Dengan ia yang memberikan sebuah bingkisan pada Dinda, yang aku tebak isinya sebuah jam tangan dalam box.


Setelah kami masuk ke dalam rumah, Dinda langsung membuka hadiah dari Rozi tersebut.


Matanya berbinar seketika, mulutnya sedikit terbuka. Terlihat kilatan bahagia, di balik senyum tipisnya.


"700 juta, buat jam tangan aja?" ucapnya dengan memakai jam yang Rozi berikan. Pabrikan R*lex, tolak ukur kemewahan kalangan atas. Begitukah selera istriku?


"Tabungan kita triliunan loh, Dek. Kau malu-maluin Abang betul, dikasih jam sama laki-laki lain. Kau mau, tinggal kau beli aja! Semua uang, kau bisa akses." ucapku dengan menahan rasa kesalku.


"Tersinggung Abang, kau bahagia betul dapat hadiah dari laki-laki lain aja! Ladang, dengan atas nama kau. Surat kuasa, untuk semua rekening bank. Hak milik, untuk rumah mewah kita. Tapi seolah tak bisa bikin kau bahagia, malah bahagia kau hanya dengan harga 700 juta aja!"


"Bukan Abang tak mau kasih kau barang mewah. Tapi itu barang yang bisa rusak, Dek. Sekalipun bisa dijual balik, pasti turun harganya. Mobil mewah, jam tangan mewah, itu barang yang harga jualnya malah turun setiap tahunnya. Mending beli apartemen, perbanyak rumah, perbanyak ladang. Karena setiap tahunnya naik, belum lagi bisa diturunkan untuk anak."


"Udahlah… Abang capek. Suka-suka kau, Dek. Nyatanya, kau lebih bahagia pemberian dari orang. Dari pada, segala sesuatu yang bisa kau dapatkan dari suami sendiri."


Aku berlalu pergi masuk ke dalam kamar, dengan aku yang langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku tak suka ekspresi bahagia Dinda, yang ditimbulkan dari pemberian orang lain. Semua yang aku berikan, tak sampai membuatnya tersenyum bahagia sampai berbinar-binar seperti itu.


Aku curiga Dinda ini bodoh. Karena menurut pemikiranku, orang-orang seperti Rozi termasuknya seperti OKB. Mereka tak bisa mengelola keuangannya dengan baik, padahal menurutku Rozi tak seberapa kayanya. Dia terlihat begitu mewah pada penampilannya, karena hasil usahanya ia gunakan untuk membeli barang mewah tersebut. Bukan untuk kemajuan usahanya. Dari caranya berbicara pun, sedikit sombong. Seolah menandakan bahwa dirinya sudah paling berhasil saat ini.


Mana ada orang baik, mengaku bahwa dirinya baik. Mana ada juga, orang kaya mengaku bahwa dirinya kaya. Masih ingin dihargai dan diakui, itu tandanya masih amatiran. Tak beda jauh untuk OKB sejenis Rozi ini. Bahkan, seingatku Salma pun mengatakan Rozi adalah orang yang sukses di usia muda. Menurut yang aku tahu dari Dinda, Rozi lebih tua satu tahun dari pada aku. Kalau Rozi disebut sukses di usia muda, lalu apa sebutan untukku? Meski demikian, aku tak pernah mengakui bahwa aku orang yang sukses dalam usaha. Biar saja mereka yang menyimpulkan, karena aku tak butuh pengakuan dari orang-orang.


Hingga sampai waktunya anak-anak tidur, aku masih berdiam diri di kamar saja. Dinda pun, sepertinya sibuk dengan anak-anaknya. Entah mengapa, perasaan kesal itu masih kian membuatku sesak. Dinda seolah tak pernah bersyukur atas segala yang sudah aku berikan, bukan aku mengungkit atau tak ikhlas. Hanya saja aku kesal melihat istriku begitu bahagianya atas pemberian orang, dari pada pemberian dari suaminya sendiri.


Tak lama Dinda masuk, dengan menggendong salah satu kembar kami. Ia hanya melirikku sekilas, lalu ia merebahkan tubuh sikecil dengan sangat berhati-hati sekali. Ternyata itu Ghava, kakak dari kembar ternyata sudah terlelap.


Kemudian Dinda keluar kembali, tak lama muncul dengan Ghavi yang sudah terlelap juga. Setelah meletakkan Ghavi di sebelah Ghava, ia keluar dari kamar. Ia tak mengatakan sepatah kata pun, ia keluar kembali dengan menutup pintu kamar. Oh… jadi ia berbalik marah padaku begitu? Sepertinya Dinda lebih memilih tidur di luar dengan Givan, Naya dan juga Ghifar di ruang keluarga.


Dasar betina! Tak paham kah dia? Bahwa suaminya tengah merajuk padanya.


Eh… tapi tunggu dulu. Masih terdengar suara Givan dan Ghifar yang tengah bermain. Mungkin Dinda akan menemuiku, saat anak-anak sudah tertidur semua.


Namun, tak lama malah terdengar Ghifar yang meminta susunya. Celotehannya kian mendominasi suara, ia menyuarakan bubu dan nyon-nyon. Ia meminta tidur dan susu untuknya.

__ADS_1


"Mamah bobo, Dek. Biar Abang buatkan ya, Adek tunggu di sini. Jangan rusak mainan Abang, jangan gangguin mainan Abang." suara sulungku yang sampai terdengar ke telingaku.


Aku langsung menyusun bantal, agar anak kembarku tak jatuh dari atas tempat tidur ini. Dengan aku langsung bergegas keluar dari kamar, aku belum yakin dengan Givan yang membuat susu untuk adiknya.


Saat aku keluar, terlihat Dinda sudah tertidur dengan memeluk Naya.


"Bang Givan? Bang Ghifar?" panggilku, karena tak melihat anakku di ruang tamu dan ruang keluarga.


"Dih… nyon-nyon." sahut Ghifar dengan kolotnya.


Cepat-cepat aku menuju dapur, terlihat Givan sudah berada di depan dispenser. Dengan Ghifar yang tengah memperhatikan abangnya, yang tengah berusaha membuatkan adiknya susu.


"Sini-sini, biar Papah aja." ucapku, saat Givan akan menekan tombol untuk air panas.


Aku langsung meraih botol susunya, dengan Givan yang mendongak menatapku.


"Ini berapa sendok tadi susunya?" tanyaku dengan memperhatikan wajah Givan.


"Dua." jawabku yang langsung kuangguki.


Aku diajari oleh Dinda, untuk mengisi airnya terlihat dahulu sesuai anjuran dari bungkus susu tersebut. Baru aku menambahkan susu formulanya, tapi Givan malah menambah susu terlebih dahulu. Ya sudahlah, namanya juga anak-anak.


"Ngapain, Bang?" tanyaku saat melihat Givan berada di depan tempat, untuk menyimpan susu formula mereka.


"Aku mau bikin susu buat aku juga." jawabnya dengan melanjutkan aktivitasnya.


"Biar Papah aja. Gih Abang ke depan lagi, diajak ini Ghifarnya." pintaku pada Givan.


Ia berbalik badan, lalu melangkah keluar dari area dapur. Diikuti dengan Ghifar, yang mengesot mengikutinya.


Saat aku sudah menyiapkan susu untuk mereka berdua, aku langsung menuju ke ruang keluarga. Di rumah ini hanya ada satu kamar, membuat anak-anakku yang besar harus tidur di ruangan ini. Dengan hanya menggunakan kasur angin, yang berjumlah dua buah. Givan menolak untuk berbagi tempat tidur, membuat Ghifar dan Naya tidur dalam satu tempat tidur.


Aku dan Dinda pun tak bisa tidur bersama, karena salah satu dari kami harus menemani anak-anak yang tidur di ruangan ini.

__ADS_1


TBC.


Resiko betul punya banyak anak, jadi tak bisa kelonan 😂


__ADS_2