
Malam ini, setelah menidurkan Givan. Aku berjalan mencari keberadaan istriku. Ternyata ia tengah di dapur, dengan kertas kecil dan bolpoin di tangannya. Mungkin ia akan menyuruhku atau Zuhra berbelanja lagi.
Zuhra memang jarang memakan nasi, mungkin ia makan hanya sarapan pagi saja. Tapi memang dia kuat sekali mengemil, apa lagi jika malam hari tiba.
Memang aku paham, nafsu makannya berkurang. Saat ia tengah dalam proses pelepasan dari candu tersebut. Tapi herannya, ngemil pun aktivitas makan tapi dia doyan. Stok untuk satu bulan, sudah habis dalam waktu seminggu lebih saja. Karena Zuhra tidur dini hari, ia baru bisa tidur sekitar jam dua atau jam tiga malam.
Bukan aku keberatan, hanya saja tentu makanan ringan tak sehat. Jika dijadikan sebagai makanan pokok.
"Dek…." panggilku dengan mengayunkan kaki ke arahnya. Dinda menoleh, lalu menaikkan dagunya. Tanda sebagai ia bertanya.
"Ng W dong." ucapku dengan cengengesan.
Dinda menoleh padaku dengan delikan tajamnya, "Dodol!!" serunya sewot.
Aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak, lalu memeluk tubuhnya dari belakang. Dengan menyesapi bau rambutnya.
"Bang, beli sayuran agak banyak. Sama bumbu dapur juga. Keknya aku tak lama lagi lahiran, m*ki aku udah kek ganjal betul. Seingat aku, waktu Givan dulu. M*ki aku serasa kek dijejek dari dalam, terus beberapa hari kemudian langsung lahiran." ungkapnya dengan wajah yang cukup pucat.
"Apa hubungannya sama sayuran dan bumbu dapur? Kenapa tak beli perlengkapan bayi aja. Kalau diajak beli, Adek selalu bilang pantang beli terlalu dini. Mitos dari daerah Adek katanya kalau terlalu cepat beli perlengkapan bayi, malah bayinya tak baik-baik aja dalam kandungan." tanyaku heran. Ia sudah hampir sembilan bulan, mungkin sekitar tiga minggu lagi dia pas sembilan bulan. Tapi ia selalu menolak jika diajak beli perlengkapan bayi, dengan selalu mengatakan alasan seperti yang aku katakan tadi.
"Biar Abang sama Zuhra bisa bikin makanan sendiri. Soalnya aku sadar, dulu waktu lepas melahirkan. Aku lemah betul. Memang cepat pulih, tapi pastinya aku malas. Lebih baik nemenin bayi aku, dari pada masak-masak." jelasnya membuatku geleng-geleng kepala tak percaya.
Ini sih memang sudah direncanakan olehnya, malas yang disengajakan.
"Ya udah sebelum Adek nifas, Abang dapat nih Dek. Udah kebelet kali Abang." ujarku meminta hakku kembali. Aku sudah teramat ingin menyatukan Adi's bird dengan miliknya.
"Iya nanti… bantuin ngecek barang dulu, Bang." tuturnya dengan kembali mengecek kembali catatannya. Lalu aku menyebutkan barang-barang yang mungkin habis tak tersisa.
Dengan Dinda yang memintaku untuk mengecek barang yang tersimpan di kulkas. Lalu aku menyebutkannya satu persatu.
Setelahnya, ia menghitung jumlah rupiah yang kira-kira akan diperlukan. Kemudian memberikan catatannya padaku.
Saat aku sudah menyimpan catatan dan uang darinya. Dinda malah asik merebahkan tubuhnya dengan bermain ponsel.
Apa ia lupa kah, akan ajakanku di dapur tadi?
"Dek, ayolah." ajakku dengan merengek, aku ingin ia menuruti keinginanku yang satu ini.
__ADS_1
Dinda menepuk tempat di sebelahnya, dengan cepat aku membuka seluruh pakaianku dan meloncat ke atas tempat tidur.
Dinda tertawa geli, namun tak berlangsung lama. Karena aku langsung menerkamnya.
"Santai mantong. Takut kali aku." ungkapnya dengan meringis ngeri. Mantong bisa diartikan dengan beberapa makna, bisa berarti saja atau masih. Tergantung bagaimana kalimatnya.
"Ok, Sayang." sahutku dengan memulainya lebih lembut.
Saat aku meraba bagian perutnya, terasa begitu kencang dan keras. Aku khawatir Dinda tak nyaman saat kumasuki.
Semua foreplay favoritnya, sudah aku tuntaskan. Tapi Dinda masih belum memohon untuk menikmati Adi's bird, membuatku ragu untuk melakukan penetrasi ke dalam intinya.
"Sekarang?" tanyaku memastikan.
Dinda mengangguk samar, dan…. Benar saja. Ia seperti menahan sakit, saat Adi's bird mulai membelahnya.
Matanya terpejam, dengan menoleh ke arah lain. Dengan bibir yang seperti menggegat, agar ia bisa menahan suara kesakitannya.
Aku membingkai wajahnya, lalu menciumi seluruh wajahnya.
"Besok kita beli perlengkapan bayi, ya Dek?" ucapku dengan menatap netranya dengan penuh kasih. Dinda hanya mengangguk meresponku.
Sepertinya Adis bird tak akan lebih lama lagi bertahan di intinya. Tapi aku takut menghentakkan pinggulnya lebih kuat, tapu jika begini saja. Tentu menyiksaku dengan perlahan.
"Udah pengen keluar belum?" tanyaku dengan mengatur tempo hentakkanku, yang begitu lembut.
"Aku tak bisa keluar, kalau Abang pelan macam ini." jawabnya kemudian.
"Abang takut, Dek. Nampaknya Adek tak nyaman kali Abang masukin." ungkapku jujur. Aku paham tentangnya, aku paham saat Dinda menikmati atau sebaliknya. Aku paham raut wajah tak nyamannya saat ini. Mungkin karena permintaanku atau karena kewajibannya, ia menuruti keinginanku untuk bers*tubuh.
"Udah cepetan, diselesaikan." sahutnya dengan menghapus keringat di pelipisnya sendiri.
Aku mengangguk, lalu mencoba membuat istriku kl*maks sebelum aku mendapatkannya.
Jempol tanganku, sengaja aku tempatkan di dagingnya yang mengeras itu. Dengan hentakan-hentakan, yang biasanya membuatnya cepat mendapat kl*maks.
Benar saja, tak butuh waktu lama. Otot-ototnya mengencang, mulutnya sedikit terbuka dengan mata terpejam.
__ADS_1
Erangan kenikmatan keluar dari kerongkongannya, terdengar sangat membuatku bangga sekali bisa membuatnya puas.
Namun, aku pun tak tahan menahan rasa yang semakin memuncak ini.
Tapi ada sesuatu yang berbeda, aku menundukkan kepalaku untuk bisa melihat kelamin kami yang tengah beradu. Benar saja, air milik Dinda sampai mengalir keluar.
Pantas saja rasanya seperti berenang di dalam ruang kenikmatan macam ini. Benarkah ia begitu sangat puas, sampai demikian? Rasanya Dinda tak pernah seperti ini.
Biar nanti aku tanyakan, saat aku menuntaskan diriku sendiri.
"Abang mau keluar…" ungkapku lirih. Dinda mengangguk mengerti, ia meremas sprai putih yang sudah acak-acakan karena kegiatan kami.
Aku hentakkan cukup keras, saat aku akan mencapai titik tertinggi nafsuku.
Satu, dua…
"Ughhhh…….."
Akhirnya aku bisa mengeluarkan sesuatu yang membuatku sakit kepala ini.
Aku langsung ambruk di atasnya, dengan tanganku yang menjadi penyangga.
"Bang, aku rasanya kek pipis." ucapnya dengan menepuk punggungku.
Aku menggulingkan tubuhku di sebelahnya, dengan membuat penyatuan kami terlepas.
"Selama ini, Adek tak pernah squirt." balasku dengan menoleh ke arahnya, ia tengah terlihat begitu bingung.
Squirting merupakan gabungan air seni dan cairan lain yang terjadi saat stimulasi di G-s*ot. Menurut informasi yang aku baca, bahwa squirting tak bisa disamakan sebagai ejakulasi pada perempuan. Tapi setahuku, squirt tak datang bersamaan dengan orgasme dan banyak juga wanita yang tidak merasakannya.
Dinda duduk, lalu bersandar pada kepala ranjang. Buah dadanya sampai bisa menyentuh perutnya yang buncit. Karena bentuk perut Dinda yang lancip ke depan, juga payudaranya yang mangkal sempurna saat ia siap menyusui seperti ini. Tentu sesuatu yang besar dan menggantung, pasti akan turun ke bawah. Tapi saat aku memainkannya, tak terasa seperti kendor. Karena memang begitu bentuk anatomi payudara yang besar alami.
"Kek keluar dikit-dikit, tapi memang aku tak kencing. Dia kek darah haid, keluar sendiri." ungkapnya dengan menyentuh bagian intinya.
Lalu ia berdiri, saat itu juga aku melihat air kentalku yang berwarna putih. Meleleh ke kakinya, dengan cairan bening yang mengalir terus menerus.
"Hah!!!" respon Dinda kaget, dengan melihat air bening yang mengalir di kakinya.
__ADS_1
TBC.