Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP111. Diperiksa polisi


__ADS_3

"Assalamualaikum…" ucap seseorang yang berada di seberang telepon.


Adinda langsung terburu-buru menyahut salam tersebut, lalu ia meminta Supriyatna untuk datang menemuinya. Ia ingin berbicara baik-baik dengan laki-laki tersebut. Apa lagi menurut Adinda, pukulan suaminya tak menyebabkan cedera apapun pada laki-laki tersebut. Adinda yakin, Supriyatna hanya mendapatkan luka ringan. Tapi ia membalas tindakan suaminya sampai tak memiliki rasa kasihan. Karena jelas Adinda begitu merasa terguncang, atas tindakan Supriyatna tersebut. Bagaimana pun juga, Adi adalah suaminya. Ia tak terima seseorang membuat suaminya mendekam di penjara.


"Temui aja aku di lantai atas apotek. Kau tinggal bilang sama staf, kau mau ketemu sama aku. Aku tungguin kedatangan kau. Tapi kau datang sendiri, ya." ungkap Supriyatna dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Adinda meremas-remas tangannya sendiri, ia ragu untuk datang. Tapi ia ingin kasus suaminya cepat selesai.


"Pak cek, aku diminta ketemu langsung sama penuntutnya. Tapi aku diminta untuk datang sendiri. Aku takut lah, Pak cek. Aku tak yakin, tapi aku mau bang Adi cepat keluar." ungkap Adinda ragu-ragu.


"Sebelumnya apa masalahnya? Pengeroyokan betul atau macam mana?" tanya pak Akbar dengan memperhatikan wajah Adinda yang begitu frustasi.


Lalu Adinda mulai menjelaskan siapa itu Supriyatna sebenarnya dan kenapa ia hari itu bisa berada di kediaman mereka. Adinda menjelaskan dengan jujur, bahwa itu hanya salah paham saja. Adi cemburu buta melihat laki-laki tersebut keluar dari rumahnya. Adinda juga memberitahu bahwa Adi mengatakan, bahwa laki-laki tersebut berniat mengambil posisinya sebagai suami Adinda.


"Semua pemuda daerah sini tau, bahwa kau yang punya ladang Adi. Jelaslah mereka berlomba-lomba pengen gantiin Adi, karena mereka ingin kaya tanpa kerja keras. Cukup dengan nikahin kau aja, mereka bisa jadi kaya." ucap pak Akbar mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


"Astaghfirullah… gila-gila hidup! Aku tak mungkin lah Pak cek ganti suami seenak nya aja. Aku anti cari masalah, kalau tak diusik. Tak mungkin aku yang malah cari masalah sendiri sama suami aku, apa lagi cuma gara-gara dolog lain. Sungkan kali aku, Pak cek." ungkap Adinda menyanggah pendapat paman Adi tersebut.


Pak Akbar tersenyum samar, ia yakin dengan ucapan istri keponakannya tersebut. Tapi yang jadi beban di pikirannya, adalah Adi yang mencari masalah dengan perempuan yang pandai mengelola usaha ini. Jelas Adinda adalah wanita yang pintar, tentu dia akan membuat Adi jatuh telak atas ulah Adi sendiri.


"Nanti Pak cek yang antar kau buat ketemu dia. Pakek headset bluetooth aja, atau apa tuh namanya yang tak ada kabelnya. Terus sambungin sama telepon dari Pak cek. Pak cek bisa rekam itu, atau kalau memang ada apa-apa dengan kau. Pak cek bisa tau dari telepon itu." jelas pak Akbar memberikan usulan.


"Intel ya, Pak cek?" gurau Adinda dengan tersenyum meyakinkan.


"Pak cek sekolah polisi, tapi memang tak lolos. Jadi ikut almarhum ayah mertua kau aja, untuk nyangkul-nyangkul di ladang." sahut pak Akbar yang malah menceritakan tentangnya dulu. Adinda tertawa ringan, lalu mulai mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Supriyatna.

__ADS_1


~


Tanpa persiapan, Adi terpaksa diamankan di jeruji besi. Hal itu malah membuat Adi frustasi setengah mati. Ia pun meminta saudaranya untuk menyimpan ponselnya, karena ia khawatir Maya menghubunginya. Lali malah diangkat oleh istrinya, Adinda.


Ia tak menyangka, hanya karena beberapa pukulan ringan saja. Membuatnya menjadi mendekam di penjara.


Di tempat lain…


Adinda tengah menaiki tangga, yang berada di dalam apotek tersebut. Dengan pak Akbar yang menunggunya di dalam mobil, yang terparkir di depan apotek tersebut.


Tok, tok, tok…


Adinda mengetuk pelan pintu ruangan yang bertuliskan 'Staf only' tersebut.


Ceklek…


Lalu Adinda mengangguk, kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.


Pintu langsung tertutup kembali, lalu Supriyatna mempersilahkan Adinda untuk duduk.


"Mau ngomongin apa nih?" tanya Supriyatna yang seolah tak mengetahui apa-apa.


"Langsung aja ya… Sebelumnya aku minta maaf atas nama suami aku. Saat itu, suami aku baru balik dari kunjungannya ke orang tua. Dia salah paham, terus cemburu buta pas kau keluar dari rumah aku. Aku yakin kau orang baik… maka dari itu, aku mohon untuk masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan aja. Aku lagi hamil besar, aku butuh suami aku di saat-saat seperti ini." ungkap Adinda serius, dengan berharap bisa membuat Supriyatna mengerti.


"Aku paham… tapi suami kau macam tak punya sopan santun. Dia tak bisa bertanya kah? Sampai-sampai tangan yang langsung main?" jelas Supriyatna dengan perlahan.

__ADS_1


"Jadi mau kau macam mana? Aku betul-betul tak habis pikir dengan masalah ini. Kan bisa kau balas dia dengan pukulan juga, kau kan jantan. Tak mungkin kau tak bisa berkelahi. Mending sama-sama bonyok, dari pada buka kasus macam ini. Kau nampak tak punya hati, kau tak kasian sama aku dan anak aku." ucap Adinda dengan air mata marah yang lolos begitu saja.


Supriyatna tak menyangka, Adinda sampai menangis seperti ini. Ia mengambilkan kotak tisu, yang berada di atas meja kerjanya. Kemudian memberikannya pada Adinda.


Adinda langsung mengambil beberapa helai tisu, lalu langsung mengusapkan ke area wajahnya.


Supriyatna duduk di samping Adinda dan mengelus lengan Adinda. Sontak Adinda menepis tangan nakal tersebut, kemudian memberikan delikan tajam pada Supriyatna.


"Jaga ya tangan kau!" ketus Adinda memberikan peringatan.


"Ok… maaf." sahut Supriyatna dengan mengangkat kedua tangannya.


"Bisa kau cabut tuntutan itu?" ujar Adinda setelah terdiam beberapa saat.


"Kenapa harus secepat itu? Baru juga Adi diperiksa, kau udah minta aku cabut tuntutannya." balas Supriyatna dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku ini mempermudah kau biar bisa lepas sama Adi. Untuk masalah adzanin anak, aku juga bisa. Kau tenang aja, aku bisa jadi orang terdekat kau di sini. Aku bantu kau sampai bisa balik ke orang tua kau. Kau yang paham, Adi ini bukan laki-laki baik. Dia nikahin kau, karena dia kepergok tengah memperk*sa kau kan? Tapi pamannya itu bilang, bahwa kau sama Adi memang ingin melakukannya. Karena sama-sama suka. Menurut aku, kalau memang kau ingin melakukannya waktu itu. Kau tak akan nangis dan berontak sama Adi itu." tutur Supriyatna dengan pandangan menerawang ke depan.


Adinda membuka mulutnya, ia ingin mengeluarkan pendapatnya atas ucapan Supriyatna tersebut.


"Sssttttttt… kau tak perlu ngelak dan nyangkal semuanya. Gosip tentang kau dan Adi ini ramai dibahas masyarakat sini. Dari situ udah nampak, Adi nikahin kau biar dia selamat dari hukum yang berlaku di sini. Belum lagi kalau kau mengaku, bahwa kau memang benar mau diperk*sa. Udah pasti kena pasal itu suami kau itu. Dia nikahin kau di bawah tangan, sampai sekarang pun status kau tetap istri sirinya. Kau tau, betapa buruknya cap sebagai istri siri? Belum lagi kau pasti rugi, karena tak dapat hukum yang jelas. Apa kau tak curiga sejauh itu sama suami kau. Aku yakin, Adi tak beres di luar sana. Jangan bilang kau pun cinta sama dia, sampai nurut aja macam kerbau dicongok hidungnya." ujar Supriyatna yang membuat Adinda menangis pilu. Adinda teriris mendengar ucapan laki-laki tersebut, ia merasa begitu miris pada kehidupannya sendiri.


Kenapa ia tak berpikir sejauh itu. Bahkan orang yang hanya dengar dari gosip pun memikirkan nasibnya sejauh ini.


......................

__ADS_1


Apa? Benarkah? Oh tidak 😱


__ADS_2