Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP31. Alasan


__ADS_3

"Mungkin Bena, Dek." ujar Adi sekenanya.


"Bena? Acara syukuran apa? Perasaan kandungan Bena sekarang udah delapan bulan. Satu bulan lagi dia lahiran." ungkap Adinda, yang ternyata lebih mencermati perkembangan keluarga besar Adi.


"Bentar ya, Dek. Abang mules, pengen BAB dulu. Tadi siangnya makan pedes soalnya." ucap Adi beralasan.


"Tuh kan. Aku kan udah bilang. Makanannya dijaga." sahut Adinda memperingati Adi kembali.


"Ya Dek. Tadi diajak makan di luar sama Haris. Udah dulu ya." balas Adi cepat.


"Ya udah. Nanti telepon lagi loh. Aku tungguin." ujar Adinda yang langsung diiyakan oleh Adi.


'Haduh, perasaan aku udah pernah peringatin Zulfa.' gumam Adi dengan terburu-buru keluar dari kamarnya.


"Zulfa…. Zulfa…" seru Adi memanggil adiknya.


"Ya Bang." sahut Zulfa. Ia cepat-cepat keluar dari kamarnya.


"Ada apa, Bang?" tanya Zulfa, saat melihat Adi bersedekap tangan dengan menatapnya tajam.


"Kau posting foto syukuran tadi?" ucap Adi kemudian.


"Ya Bang, memang kenapa?" sahut Zulfa santai. Karena ia tak merasa melakukan kesalahan.


"Hapus cepat. Abang kan udah pernah bilang, jangan posting-posting apa pun tentang Maya dan Abang. Kenapa kau masih mosting aja?" balas Adi terlihat begitu tidak suka.


"Oh, ya Bang. Maaf, aku lupa. Ya udah aku hapus sekarang." ujar Zulfa mengerti.


"Ada masalah apa sih? Kok berisik kali." tanya ibu Meutia yang baru keluar dari kamar.


Adi melupakan sesuatu. Yaitu kehadiran orang tuanya di rumah ini. Ia tengah berpikir, apa percakapannya dengan Adinda lewat video call tadi, sampai didengar oleh ibunya?


"Abang suruh hapus foto yang aku post, Umi." jawab Zulfa, dengan melirik ibunya sekilas.


"Kenapa memang?" lanjut ibunya bertanya.


"Abang tak…" Adi menjawab, namun Zulfa langsung menyelanya.


"Soalnya Abang tak suka pernikahannya, sama apa pun tentang kehidupan barunya diketahui kawan-kawannya." jelas Zulfa, membuat mata Adi membulat. Kenapa Zulfa tak bisa sedikit berbohong untuk kakaknya. Itulah yang ada dipikiran Adi.


"Kenapa lagi sih, Bang?" tanya ibu Meutia, yang langsung mendelik tajam pada anak sulungnya.


"Hmm… Abang malu, Umi. Apa lagi kalau sampai kawan-kawan Abang pada tau. Bahwa Abang menikah, karena perempuannya udah hamil." jelas Adi setelah berpikir sejenak.


"Apa lagi kan, mereka taunya Abang dari daerah yang agamanya kental. Abang tak mau kawan-kawan Abang pada tau itu." lanjut Adi beralasan.

__ADS_1


"Hm, macam itu. Ya udah kau hapus aja Zulfa. Itu aib abang kau. Lebih baik kita tutup-tutupin. Biar orang luar taunya anak abang kau udah besar aja nanti." ungkap Adi kemudian. Adi menghela nafas leganya. Lalu ia memasang senyum lebar.


"Ya, Umi." sahut Zulfa ringkas.


Umi mengajak Adi duduk di sofa ruang tamu. Dengan Zulfa yang masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Abang tidur di sini?" tanya ibu Meutia, setelah mereka duduk bersebelahan.


"Tak, di Maya. Tapi besok pagi Abang balik. Udah ambil penerbangan siang." jawab Adi sambil membuka tutup toples, yang berisi cemilan.


"Katanya Abang ada usaha baru, ya?" sahut ibu Meutia, dengan memperhatikan anaknya yang terlihat gagah terurus itu.


"Kata siapa?" balas Adi, ingin mengetahui sumber informasi tentang hal itu.


"Kata Zulfa. Usaha Abang banyak. Ladang juga pas nanti musim kemarau, keknya stabil kan? Karena pengairannya yang udah ikut macam orang luar." ujar ibu Meutia, membuat Adi langsung menoleh pada ibunya.


"Insyaa Allah stabil. Abang juga udah ada ladang baru. Tapi masih harus sabar. Umi kan tau sendiri, pohon kopi kurang lebih empat tahun baru siap panen." jelas Adi serius.


"Nambah berapa hektar? Terus usaha barunya, usaha apa?" lanjut ibu Meutia bertanya lebih.


"Tiga hektar. Ternak puyuh. Tapi udah ada yang ngelola sendiri." ucap Adi, dengan sesekali msngunyah cemilannya.


"Banyak juga. Tambah maju ya Abang? Tapi kenapa, ngasih istri cuma cuma empat juta sebulan?" tutur ibu Meutia santai.


Adi langsung berhenti mengunyah, dan menutup kembali tutup toplesnya.


"Memang Abang punya berapa istri? Bisa-bisanya nanya istri yang mana?" tukas ibu Meutia heran. Adi langsung menutup mulutnya. Lalu menoleh pada ibunya, dengan memasang senyum kaku.


"Abang lupa udah beristri Maya." tutur Adi seperti tak berdosa.


"Jadi Maya juga cerita tentang uang bulanan itu?" lanjut Adi kemudian.


"Dia cuma pengen curhat mungkin. Pastilah Maya kaku betul, punya suami macam kau, Bang!" ujar ibu Meutia. Adi hanya terkekeh menanggapinya.


"Kasihlah lebih sikit. Bila perlu boyong juga dia ke sana. Biar Abang tak perlu bolak-balik nyebrangin pulau terus. Keknya kandungannya udah aman, untuk dibawa perjalanan jauh." ungkap ibu Meutia.


"Ya nanti Abang lebihin. Nanti aja, kalau udah lahir anaknya…." sahut Adi tak melanjutkan kalimatnya. Karena ponselnya berdering kembali.


Ia mengambil ponselnya, lalu melihat nama sang pemanggil sambungan telepon itu.


"Hmm, Abang mau keluar dulu ya, Umi. Kunci aja pintunya, Abang tidur di Maya." ucap Adi dengan berjalan keluar dari rumah.


Bukannya mengangkat telepon. Adi langsung berjalan cepat menuju rumah mertuanya. Sebelumnya ia sudah mengganti mode senyap, dalam pengaturan notifikasi ponselnya.


"May, jangan dikunci ya pintu rumahnya. Abang mau keluar sebentar." ucap Adi, setelah menemukan Maya tengah menyantap makanan.

__ADS_1


"Memang mau ke mana, Bang?" tanya Maya ingin mengetahui tujuan suaminya.


"Ke… Jefri, tunangannya Zulfa itu. Tau kan?" jawab Adi. Sudah pasti ia berbohong, karena ia sempat menjeda ucapannya tadi.


"Iya tau." sahut Maya. Lalu Adi berbalik badan. Dan melangkah keluar dari rumah.


Adi masuk ke dalam mobilnya, dan mulai menjalankan kendaraannya.


Ditengah perjalanan, Adi menghubungi kembali orang yang menghubunginya tadi.


"Ya, Bang." ucap orang dalam sambungan teleponnya.


"Ya, Dek. Adek lagi apa?" sahut Adi dengan menepikan mobilnya, di depan minimarket.


"Aku nungguin Abang. Anang udah belum BABnya? Kok lama kali?" balas perempuan yang sangat Adi kenal. Yaitu istrinya sendiri, Adinda.


"Udah, Dek. Gih Adek tidur. Jaga kesehatannya, jangan begadang aja. Tak baik buat anak kita." ungkap Adi lembut. Ya sehalus itu, jika Adi bercakap dengan Adinda. Entah karena rasa cintanya, atau memang ia terbiasa berbicara dengan nada lembut dengan istrinya.


Namun saat awal mengenal Adinda, Adi selalu ketus. Dan sengaja menghindari istrinya itu. Keadaan sangat terbalik, saat Adi memiliki gelar sebagai suami dan papah sambung dari anak Adinda.


"Abang juga tidur. Jangan kelayapan." ujar Adinda.


"Iya, Sayang. Mmmmmuach." ucap Adi, lalu ia memutuskan sambungan teleponnya.


Adi menaruh ponselnya kembali, dan ia melanjutkan perjalanannya.


Secara tidak sengaja, ia telah membohongi banyak orang. Bukan cuma Maya dan ibunya. Adindanya pun ia bohongi sekarang.


Bukan satu dua kali. Mungkin selanjutnya, Adinda akan lebih sering Adi bohongi kembali.


Adi terpaksa berbohong, agar hubungannya dan Adinda tetap baik-baik saja. Seperti yang ia kehendaki.


"Hallo, aku lagi di jalan ke rumah kau." ucap Adi dengan ponsel yang menempel di telinganya kembali. Saat ia berhenti di lampu merah.


TBC.


Ya Allah, Adi.....


Kaku betul rasanya punya tokoh utama macam kau 😭


Kenapa kau pandai bersilat lidah 😭


Kenapa lidah kau sekarang bercabang dua 😭


Kenapa kau membuatku dihujat sana-sini 😭

__ADS_1


Terus mau mau ke mana lagi itu, Di?


Istrikau si Adinda udah kata, kau jangan kelayapan.. Eh malah mau maen ke rumah orang lagi 😫


__ADS_2