Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP139. Saran untuk Jefri 2


__ADS_3

"Menurutku Zulfa sedikit berlebihan, Di. Janda aja masih laku keras, kenapa dia sampek tak pikir panjang langsung nyayat tangannya? Itu bukan jalan terbaik menuju kematian, banyak gagalnya." ucap Jefri dengan memandang lurus ke depan.


Aku menghela nafas panjangku, aku tak habis pikir dengan ucapan Jefri.


"Kalau janda kan jelas, Jef. Maksudnya, dengan status janda. Orang udah paham, bahwa dia itu bekas orang. Nah kalau dia perawan, tapi ternyata rasa janda. Dia malu Jef, untuk jujur ke pasangannya. Belum lagi kalau dapatnya laki-laki tak betul lagi, dia bakal dipakeknya terus ditinggalin begitu aja. Kalau dia dapatnya laki-laki baik, khawatirnya laki-laki itu tak bisa menerima keadaannya si Zulfa dan ninggalin Zulfa gitu aja juga. Semua sifat laki-laki tak sama. Macamnya aku, kau sama Haris aja. Aku ngusahain untuk dapat perawan, kau tak pilih-pilih yang penting bisa ngisi tengah, terus si Haris dia lebih milih halalain dulu waktu sama Sukma. Sama Alvi pun kasusnya pelarian dari Sukma, tapi dia tak lepas tanggung jawab. Bentar lagi undangan pernikahan mereka pasti kesebar. Terus aku nih Jef, sebangsat-bangsatnya aku. Aku tak pernah ninggalin perempuan yang udah aku perawanin, semua mantan-mantan aku kasusnya ninggalin aku semua. Entah itu karena ulahnya sendiri, atau karena memang mereka udah bosan sama aku, atau karena ada yang lain." sahutku dengan jelas.


"Salma ninggalin kau, karena kau ada maen sama anak kelas dua itu Di." balas Jefri menyudutkanku. Dengan telunjuk tangannya yang ia arahkan padaku.


"Memang begitu, tapi aku tak mutusin Salma. Terus anak kelas dua itu tak aku statusin, pacar aku cuma Salma satu waktu itu." jelasku menjelaskan kejadian sebenarnya waktu masa aku SMA.


"Apa bedanya aku sama kau, tuyul!" sewotnya dengan membuang mukanya ke arah lain.


Aku terkekeh sesaat, "Bedanya aku tak pernah ngamer dengan sembarang betina, aku tak pernah minum-minum terus bungkus betina yang udah ngefly. Aku juga tak pernah ngeduain perempuan dengan status yang sama. Cuma sekarang aja lagi sial, malah punya dua istri." ujarku berakhir dengan tawa renyah dari Jefri.


"Mana dua-duanya punya anak dari kau lagi. Mumet kau, Di." timpalnya dengan masih tertawa.


"Nah itulah, tapi aku coba ngerti sama keadaan aja. Aku bohongin Dinda pun, untuk kebaikannya. Aku bohongin Maya pun, untuk kebaikannya juga. Aku ngumpet-ngumpetin uang untuk Maya, karena aku punya tanggung jawab padanya. Aku ngasih semua yang aku punya sama Dinda, biar dia paham bahwa dirinya adalah aset aku yang paling berharga." tukasku jelas, lalu aku merogoh ponselku yang mengeluarkan bunyi notifikasi pesan masuk.


"Jadi aku harus bertahan untuk Zulfa begitu? Aku juga mesti cabut gaji begitu?" tanyanya saat aku fokus pada ponselku.

__ADS_1


"Ya… itu sih terserah kaunya aja. Kalau kau sama Zulfa masih sama-sama cinta, ya pertahankan. Tapi kalau kau mau putus dari sekarang, mending dipikir lagi. Dari pada nanti dia mati sia-sia kan? Nah, terus masalah gaji itu ya terserah kau lagi. Kalau kau mau, ya nanti bulan depan kau cuma terima lima jutaan aja. Biar nanti hutang-hutang kau bisa kau lunasi." jawabku dengan mengalihkan perhatianku sejenak, dengan kembali fokus pada chat dari Dinda yang tengah kubaca.


Dinda mengirimku pesan, [Ghifar semalam rewel betul, nyon-nyon terus tak lepas-lepas. Dia lapar, atau ASI aku berkurang ya Bang? Atau dia paham bahwa papahnya lagi jauh?] isi pesan chat tersebut.


Dinda tak tahu saja bahwa memang anaknya rewel. Setiap malam Ghifar memang banyak merengek dan berceloteh khas bayi. Aku membangunkannya, saat Ghifar sudah terlihat begitu ngantuk dan menangis terus menerus. Dinda tak pernah terbangun saat anaknya bangun tengah malam, itulah kekurangan istriku. Ternyata ia kalau sudah tertidur seperti orang mati, ia tak mendengar apa pun. Sampai suara tangis anaknya pun, tak terdengar di telinganya. Harus saja aku yang membangunkannya, Adindaku memang unik.


[Bukan rewel, memang dia tiap malam kek gitu Dek. Biasanya Abang yang nemenin dia ngobrol tengah malam. Adek Abang bangunin, kalau Ghifar udah nampak ngantuk berat aja dan udah tak bisa diajak ngobrol lagi.] tulisku untuk dikirimkan padanya.


Padahal aku sering bercerita, bahwa Ghifar seperti itu setiap malam. Namun, sepertinya Dinda tak percaya. Sebelum mendapat buktinya sendiri. Malam tadi ia baru merasakan sendiri, bagaimana aktifnya anaknya di malam hari.


"Jadi, kapan kau kasih tau Dinda?" tanya Jefri dengan menepuk pundakku.


Jefri mengangguk, kemudian pamit pergi ke dalam ruangan lagi. Mungkin ia ingin lanjut tidur, atau ingin melihat keadaan Zulfa kembali.


Sebetulnya aku pun mengantuk, tapi perutku rasanya perlu diisi.


Aku mengantongi ponselku, lalu berjalan mencari penjual makanan yang sudah buka. Karena aku tak bisa tidur, jika tengah lapar.


~

__ADS_1


Sore harinya, aku pamit pada umi untuk pulang ke rumah Maya. Namun, umi malah mengajakku mengobrol sejenak.


"Betul Abang mau cerai sama Maya?" tanya umi dengan menghidangkan aku cemilan, dan air mineral kemasan gelas.


"He'em, tapi Maya tak mau tanda tangan." jawabku jujur dengan mengunyah makanan yang lembut di mulut ini.


"Masalahnya apa? Kenapa tiba-tiba langsung cerai aja? Memang udah tak bisa diperbaiki lagi kah?" ucap umiku, dengan sekilas melihat ke arah pintu. Karena Jefri baru muncul dari sana.


"Maya jalan sama laki-laki lain, Umi. Abang pikir, mending udahan aja. Karena hubungan jarak jauh begini, betul-betul tak sehat. Abang udah coba buat menuhin tanggung jawab Abang ke Maya, tapi Maya kek gitu. Bukannya doain Abang di sana, anteng di rumah. Eh, malah dia keluyuran sama laki-laki lain." jelasku pelan, karena ada Jefri di sini. Aku tak enak, jika Jefri mendengar permasalahan rumah tanggaku.


"Abang yakin Maya kek gitu? Abang udah mastiin sendiri?" ujar umi yang mencoba membuatku mempertimbangkan masalah ini. Umi berkata dengan memperhatikan aku begitu intens, membuatku takut ketahuan bahwa akulah yang memang sengaja ingin melepas Maya demi Adindaku.


"Maya ngelak, dia bilang laki-laki itu pelariannya aja. Tapi tetap aja, Umi. Tak ada yang dibetulkan kalau tempat pelariannya adalah laki-laki lain, Abang tak terima itu." tuturku lirih, karena Jefri kentara sekali tengah menguping pembicaraanku. Tak sopan betul dia ini!


"Betul macam itu? Bukan Abangnya kah, yang memang ada perempuan lain?" tanya umi yang membuatku menoleh cepat, tentu dengan reaksi wajah yang tegang. Entahlah, aku tak pandai sekali menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa? Kok diam? Betul macam itu?" ucap umi berulang, dengan memandangi wajahku sedari tadi.


......................

__ADS_1


__ADS_2