Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP154. Hari H


__ADS_3

Hari ini, adalah hari di mana pernikahan Haris dan Alvi dilangsungkan. Selama dua hari terakhir pun, Adi masih mencoba membujuk Adinda yang memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya. Setiap hari, Adi bolak-balik ke rumah mertuanya, berharap ada kemajuan akan hubungannya dengan istrinya.


Adi terpaksa datang ke pernikahan Haris, bersama Maya dan anaknya. Tentu dengan keluarga besar Adi, minus Zuhra dan Edo yang tak bisa untuk menghadiri pernikahan Haris tersebut.


"Gendong sendiri coba, May. Heran aku, Naya enteng aja macam berat kali kau gendong pakek tangan kau sendiri. Tak ke Abang, kau kasihkan dia ke umi, ke ayah, ke Zulfa. Ini kan anak kau, kau pegang lah sendiri!" ucap Adi dengan menyerahkan Naya kembali pada ibunya.


Bukan karena hal tersebut, melainkan karena Adi melihat Adinda beserta anak-anaknya dan Jefri. Yang baru keluar dari mobil milik Adinda.


Adi tak mau membuat Adinda bertambah sakit hati, karena pemandangan yang sungguh menyayat perasaannya.


Terlihat Givan menunjuk ke arah Adi, Adi pun tersenyum lebar karena anaknya ternyata melihatnya. Namun, Adinda langsung menarik Givan. Lalu menarik Jefri yang berjalan di depannya, agar mau menggendong Givan. Supaya Givan tak berlari ke arah Adi, itu maksud Adinda.


Kemudian mereka berkumpul pada aula gedung, tempat digelarnya akad nikah dan resepsi pernikahan Haris dan Alvi tersebut. Adi selalu mengawasi gerak-gerik Adinda dari kejauhan, matanya selalu mengintai pergerakan istrinya tersebut.


Dengan senyum ramahnya, Adinda beberapa kali terlihat tengah bertegur sapa dengan para undangan yang ia kenal. Adinda berpenampilan menarik dengan balutan gaun berwarna dusty pink, yang terlihat begitu sederhana namun begitu elegan.


Hanya pita kecil berwarna putih yang mengitari pinggang ramping Adinda, yang menghiasi gaun pesta tersebut. Dengan warna senada untuk kemeja milik Givan dan juga bayi yang berada di dekapan Adinda, jangan lupakan juga Jefri yang berseragam dengan kemeja milik Givan. Memperlihatkan, seolah mereka adalah sebuah keluarga.


~


Beberapa waktu kemudian, akad nikah telah selesai dan berlanjut dengan acara untuk keluarga inti.


Adi mendekati Jefri yang tengah menggendong bayi Ghifar, lalu ia menyenggol lengan Jefri.


"Apa?" tanya Jefri saat menyadari kehadiran Adi.


"Itu, kemeja aku kan?" tanya Adi dengan memicingkan matanya dan memperhatikan kemeja yang Jefri pakai.


"He'em. Ini kau punya, aku punya warna kunyit. Aku juga beli samaan sama Zulfa, tapi istri kau minta aku suruh pakek baju kau. Katanya sayang betul, ini kemejanya aja 1,5 juta loh Di." jawab Jefri kemudian.


"Sini Ghifarnya, hari ini aku belum gendong dia." ujar Adi dengan mengambil alih Ghifar dalam dekapan Jefri.


Bayi itu sudah bisa merespon seseorang yang ia kenali tersebut, ia menarik sudut bibirnya ke atas. Dengan kaki yang terus menendang dan tangan yang seolah ingin menggapai itu.


"Baju Papah dipakek Ayah cabul, Dek. Hmm… Ayah ini macam mana sih? Kan tante Zulfa jadi sedih, Papah juga jadi sedih." ucap Adi dengan memegangi tengkuk anaknya, lalu kepala anaknya ia sandarkan pada bahunya.


"Memang Zulfa ada bilang apa?" tanya Jefri dengan matanya mencari-cari keberadaan Zulfa.

__ADS_1


"Katanya kok aku pakek baju warna kunyit sendirian, kenapa bang Jef pakek warna pink." tutur Adi dengan suara yang sedikit ia tekan, agar suaranya terdengar seperti nada bicara Zulfa.


Jefri terkekeh kecil, "Pusing aku sama adik kau itu, harus macam mana lagi ke depannya." tukas Jefri dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku tak mau tau-tau lah, aku udah pusing karena Dinda dan Maya." ucap Adi dengan mengganti posisi anaknya. Karena Ghifar menggosokkan wajahnya pada kemeja ayahnya.


Kemudian Haris muncul dari arah belakang mereka, lalu menepuk bahu keduanya secara bersamaan.


Membuat Adi dan Jefri terhenyak dari posisinya, untung Ghifar tak terjatuh dari dekapan Adi.


Adi dan Jefri menoleh ke arah Haris, mereka memperhatikan penampilan Haris dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Haris terlihat sudah berganti pakaian, ia sekarang menggunakan baju adat daerah Alvi. Dengan beberapa hiasan pendukungnya, membuatnya tampil begitu berkharisma dan berwibawa.


"DEK SINI, DEK!" seru Haris dengan mengangkat satu tangannya.


Bukan hanya orang yang bersangkutan saja, beberapa orang pun menoleh ke arah mereka semua. Tak luput keluarga Adi yang akhirnya menemukan keberadaan Adi, yang sedari tadi dicari-cari oleh keluarganya.


Adinda berjalan ke arah mereka, lalu ia berhenti tepat di sebelah Adi.


Seketika Haris langsung menarik tangan Adinda, lalu sedikit berjalan ke arah meja yang tadi digunakannya untuk akad nikah.


"Pak, ini mau sekalian katanya." ucap Haris pada seorang penghulu yang masih duduk di sana dengan beberapa keluarga Haris.


Adinda menghempaskan tangannya yang masih dicekal oleh Haris, lalu ia tersenyum malu pada orang-orang yang memperhatikannya.


Adi melongo tak percaya dengan gurauan Haris, dengan Jefri yang tertawa puas melihat Adinda yang tengah dikerjai oleh Haris seperti itu.


Para keluarga Haris dan penghulu menyuarakan tawanya, atas gurauan Haris tersebut.


"Boleh, boleh. Mana laki-lakinya Dek, tarik sini Dek." sahut penghulu tersebut, yang membuat Adinda bingung akan posisi dirinya yang tengah dikerjai tersebut.


Adinda mencubit pinggang Haris, "Tak lucu! Bukan mau resmi, yang ada aku mau jadi janda lagi." bisik Adinda ketus, dengan wajah marahnya.


Tawa Haris berhenti seketika, lalu ia menatap tak percaya pada Adinda. Haris bergantian memandangi wajah Adinda dan Adi bergantian.


Lalu, Adinda pergi begitu saja. Dengan Ghifar masih berada di dekapan Adi.

__ADS_1


"Kenapa itu betina?" tanya Jefri pada Haris yang berada di hadapannya sekarang.


"Janda lagi dia, tau begitu aku nikahin dia aja ya. Aduh, nasib aku tak pernah dapat yang bahenol." jawab Haris yang langsung mendapat tendangan pada tulang keringnya, bukan lagi pelakunya adalah Adi.


Haris mengangkat satu kakinya yang terasa nyeri tersebut. Sembari mengaduh, ia melihat ke arah Adi. Lalu tawanya pecah kembali, saat melihat wajah kesal Adi.


Beberapa saat kemudian, acara live music sudah dimulai. Ada beberapa kawan dari Haris yang menyumbangkan lagu, untuk memeriahkan acara pernikahan Haris.


Ghifar sudah merengek sedari tadi, karena rasa kantuk yang menyerang anak itu. Adi yang masih menggendong Ghifar, cukup kewalahan menghadapi Ghifar.


Ia ke sana kemari mencari keberadaan Adinda, Jefri pun diminta untuk ikut mencari Adinda dan Givan.


Adi berpapasan dengan keluarganya yang baru turun, setelah mengucapkan selamat untuk Haris dan Alvi.


Adi terlihat begitu gugup, karena jelas jika mereka sampai melihat wajah Ghifar. Mereka akan mengetahui ayah dari anak itu, hanya dengan melihat wajah Ghifar.


Ghifar masuk ke lekukan ketiak ayahnya, ia menggosokkan wajahnya di sana. Berharap ada pucuk dada seperti ibunya, untuk ia raup dan nikmati.


"Anak Dinda ya, Bang?" tanya pak Dodi dengan menepuk bahu Adi, kemudian mengajaknya berjalan ke arah yang mereka tentukan.


"Iya, emaknya tak tau ke mana ini. Jefri juga lagi nyari Dinda sama Givan." sahut Adi dengan membenarkan posisi wajah Ghifar, tapi anak itu tetap menyembunyikan wajahnya pada ketiak ayahnya. Ia seperti tak menginginkan wajahnya dilihat oleh keluarga dari ayahnya tersebut.


Tentu Adinda merasa tenang, karena ia mengetahui Ghifar tengah bersama dengan ayah kandungnya sendiri. Makanya ia sampai tak mencari keberadaan anaknya, juga ia sibuk dengan urusannya juga.


"Coba sih tengok mukanya, Bang. Betul tak Dinda bilang anaknya jelek tuh. Atau jangan-jangan anaknya cacat lagi, makanya ia nyembunyiin wajah anaknya." ucap ibu Meutia yang sudah berada di hadapan Adi. Adi merasa marah, atas ucapan ibunya tersebut.


"Ati-ati ya Mi, kalau ngomong. Anak Dinda sehat, normal dan tak kurang satu apa pun." balas Adi dengan menjauhkan tangan ibu Meutia yang tengah menyentuh tubuh Ghifar.


Ghifar menyerukan suaranya dengan kencang, kemudian tangisnya seketika langsung pecah. Ia begitu kesal, karena tak kunjung menemukan ujung dada ibunya.


"Sabar, Nak. Mamah lagi dicari ayah Jefri, yuk kita cari angin dulu di luar." ucap Adi pada anaknya, lalu ia membenarkan posisi Ghifar. Dengan menyangga tengkuk Ghifar dan bagian pinggul sampai p*n*a* Ghifar, kemudian wajah anak tersebut yang menghadap pada belakang tubuh Adi melewati bahunya.


Adi berlalu pergi begitu saja, dengan wajah kesalnya karena sang ibu mengatakan hal yang menyakiti hatinya akan kebenaran fisik anaknya.


Pak Dodi melihat sekilas, saat bayi tersebut dibawa pergi oleh Adi. Ia merasa heran, karena ia seperti melihat gambaran seseorang yang pernah ia lihat sebelumnya. Tapi ia tak mengetahui siapa orang yang tersebut.


TBC.

__ADS_1


Memang mulutnya udah kek gitu kali ya 😒


__ADS_2