Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP183. Fokus untuk Adinda


__ADS_3

"Ihh, Mak cek kira kalian lagi mesum. Ngerjain orang tua aja kalian!" sahut mak cekku, setelah aku membuka pintu kamar dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Tak, Mak cek. Aku lagi cobain nyusuin dua anak sekaligus, jadinya kaget aku karena hisapan kembar kuat kali." jelas Dinda dengan memperhatikan Mak cek yang melangkah masuk ke kamar.


"Ghifar diurus Mak cek aja kah? Biar kalian tak begitu kesusahan ngurus anak-anak." saran mak cek yang langsung mendapat gelengan kepala dari Dinda.


"Aku cuma butuh waktu aja, Mak cek. Aku sama Bang Adi belum terbiasa dengan situasi baru." balas Dinda dengan memandangku dan mak cek secara bergantian.


"Ya udah kalau macam itu. Kau makan belum, Din? Kau harus banyak makan, jangan sampek kau kurus karena nyusuin dua bayi sekaligus." ujar mak cek dengan duduk di hadapan Dinda, kemudian ia memperhatikan kedua bayiku yang tengah menghisap ujung dada ibunya.


Mak cek tertawa tertahan, "Bisanya anaknya mirip kau semua, Di? Hitam-hitam betul mereka. Betul kata kau, Din. Yang tampan cuma Givan sendiri. Anak kau sama Adi, malah hitam-hitam macam itu." tutur mak cek dengan melirikku sekilas.


"Sembarangan! Segini manis-manis macam buah beri liarnya." tukasku yang membuat tawa mereka berdua terdengar memenuhi ruangan. Ghifar langsung memukul wajahku kembali, karena ia merasa tak ikut serta dalam tawanya.


Aku menatap wajahnya dengan seksama, kemudian menciuminya dengan gemas. Akhirnya, benih sensitifku ini bisa menyuarakan tawanya juga.


"Bang, dek Ning udah lulus kan sekolahnya? Macam mana kalau minta dia untuk ikut kita, suruh bantu-bantu di sini. Keknya aku ngerasa tak yakin, bisa handle empat anak dengan tugas rumah juga." ungkap Dinda yang menghentikan aksiku pada Ghifar.


"Adek fokus ke anak-anak aja, masalah kerjaan rumah biar Abang yang pikirin." sahutku sambil membawa Ghifar duduk di sofa yang berada di depan jendela.


"Kasian loh, Di. Takutnya Mak cek, Dinda keteteran ngurus anak-anaknya. Bayar dek Ning tak seberapa, tapi nanti yang dienakin kau juga. Dinda tak kecapekan ngurus anak-anak, jadi kau juga malamnya masih bisa keurus sama Dinda. Kau paham sendiri, perempuan kalau udah capek kadang tidur ngeduluin anak tidur. Kadang lagi nonton TV, malah orangnya yang ditonton TV karena ketiduran." ungkap mak cek dengan memperhatikan aku yang tengah menatap Dinda.

__ADS_1


Ucapan mak cek mengingatkanku pada perpisahan aku dan Dinda. Setelah Dinda siap untuk memberikan jatah terakhirnya untukku, tiga hari setelahnya aku harus menurunkan talakku untuknya.


Dengan kembar lahir prematur, waktuku dengan Dinda terpangkas lebih cepat. Dari perjanjian yang telah disepakati oleh aku dan Adindaku.


"Aku sama Abang mau pisah lepas aku selesai nifas nanti, Mak cek." ucap Dinda yang menarik atensiku dan mak cek.


Mak cek menghela nafasnya, "Mak cek pun udah dengar masalah itu dari pak cek. Kau betul mau pisah dari suami kau? Setelah tiga anak keturunan Adi, kau lahirkan ke dunia? Ayolah, Din. Dipikiran ulang, kasian anak-anak. Bertahanlah demi anak-anak. Kau tak ingat kah susahnya hubungan kalian berdua? Kau tak ingat kah perjuangan kau dengan suami kau, sampek di titik ini? Dengan Adi nungguin kau, nemenin kau dan lebih banyak waktu sama kau. Itu udah cukup buktiin, bagaimana beratnya Adi sama kau. Mak cek tak maksa buat kau bertahan, tapi coba dipikiran ulang. Atau coba ikuti langkah suami kau setelah ini. Kau bertahan, dengan Maya yang biar suami kau lepaskan. Toh, Adi juga udah nurunin talaknya untuk Maya itu. Tinggal proses sidang aja, karena mereka resmi." nasehat dari mak cekku, yang membuat Dinda terisak pelan dengan memandangi kedua anak yang tengah ia s*sui tersebut.


"Dari awal, pernikahan aku sama Bang Adi itu udah salah. Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda, tapi menyatukan dua keluarga juga. Aku udah capek diumpetin, Mak cek. Pengen punya mertua yang sayang cucu, pengen mertuaku ikut hadir di setiap syukuran bayi aku." ujar Dinda, setelah menghapus air matanya.


"Nih, setelah Maya sama Adi selesai. Adi pasti urus peresmian kau, dia juga pasti cerita ke keluarganya juga. Iya kan, Di?" tutur mak cek, lalu ia menoleh ke arahku.


"Sejauh ini… Bang Adi tak pernah ada bilang macam itu, Mak cek. Bang Adi cuma ada bilang, untuk ceraikan Maya. Tapi selama ini, cuma talak aja yang ia turunkan. Aku tak paham, apa yang Bang Adi pikirkan dan rencanakan. Tapi aku cuma bisa membaca, segala yang dia ucapkan sejauh ini." tukas Dinda yang membuatku tersudut.


"Dinda, Sayang. Dengar Abang baik-baik! Abang tak ada pergerakan selama Adek hamil kembar, karena Abang mau fokus ke Adek aja. Dengan Abang urus perceraian Maya, Abang pasti harus ninggalin Adek untuk beberapa waktu. Sedangkan, ada Abang di sini pun. Keadaan Adek tak stabil, Adek bolak-balik rumah sakit dan Adek lemah juga. Apa lagi Abang harus ninggalin Adek berhari-hari, Adek pasti lebih drop karena mikirin bagaimana Abang di sana. Menurut Abang, dengan Abang talak Maya saat itu. Itu udah bikin hubungan Abang sama Maya selesai, Dek. Abang berpikir untuk lanjut urus persidangan Maya, saat Adek udah sehat dan hubungan kita juga baik-baik aja. Jangan salah kira dulu, lain kali coba ungkapin langsung ke Abang. Jangan ambil persepsi sendiri aja, kan Adek jadi salah sangka." jelasku dengan lemah lembut, agar Dinda mau mengerti akan hal ini.


"Udah, udah… Dinda jangan terlalu banyak pikiran dulu, Di. ASI-nya belum lancar, nanti malah terganggu lagi karena dia banyak pikiran." ucap mak cekku yang menengahi argumen kami berdua.


Aku mendekati Dinda, lalu memberikan kecupan manis di pelipisnya. Dengan Ghifar yang mengikuti tindakanku barusan. Anak ini, betul-betul fotocopyan diriku.


"Abang beli bakso dulu ya. Mak cek di sini dulu ya, temenin Dinda." ucapku bergantian pada Dinda dan mak cekku.

__ADS_1


"Aku tak mau bakso, aku mau mie ayam bakso ceker. Minta pentol baksonya yang gede, karena kalau dicampurin ke mie ayam dapat pentolannya yang kecil." sahut Dinda membuat mak cekku terkekeh.


"Pantes anak kau bulat-bulat betul, emaknya makanannya tak pakek takaran. Untung tak gemuk ke kaunya, tapi ke anak-anak kaunya." timpal mak cekku dengan menoleh pada Dinda yang tengah menyusui tersebut.


"Hamil, tak hamil. Menyusui, tak menyusui. Memang Dinda makannya macam itu, Mak cek. Kemarin pas bulan puasa aja dia abis teraweh tuh makan lagi. Katanya biar kuat puasa besoknya, padahal kan dia sahur juga." ujarku yang membuat Dinda tersenyum malu.


"Dinda kan lagi ngidam waktu bulan puasa, ternyata puasa juga dia?" tanya mak cek dengan mata membulat.


"Aku puasa sehari, besoknya setengah hari, besoknya sampek jam sembilan, besok laginya jam enam pagi udah kenyang." aku Dinda membuat mak cek geleng-geleng kepala.


Itulah Adindaku, aku tak menyangka ia nol dalam masalah puasa. Padahal dokter mengatakan, bahwa Dinda boleh berpuasa. Tapi, malah dirinya yang tak kuat berpuasa. Saat ia berpuasa, seperti makhluk hidup yang tak ada sumsumnya. Dia lemas dan tak berdaya, hingga akhirnya ia menyerah dengan kewajiban puasanya. Meskipun sudah membayar fidyah untuk puasanya, tapi Dinda juga masih memiliki kewajiban untuk membayar puasanya.


Saat aku tanya pun, ia baru belajar puasa saat masa SMP. Lalu ia pun mengakui juga, bahwa seumur hidupnya ia tak pernah full berpuasa. Dikarenakan Dinda kecil sudah memiliki penyakit lambung, karena pola makannya yang tidak teratur. Juga dirinya yang begitu pemilih dalam hal makanan, mengakibatkan ia tak disarankan untuk berpuasa. Karena lambungnya wajib terisi dua jam sekali, membuatnya terganggu dalam hal berpuasa.


Saat ia berpuasa kemarin pun, setelah ia berpuasa satu hari full. Ia langsung jatuh sakit, saat baru berbuka puasa. Tentu membuatku kalap, karena ia begitu merasa kesakitan dengan perutnya. Saat diperiksakan ke dokter, ternyata lambungnya luka. Dokter pun menjelaskan panjang kali lebar, ditambah tinggi dan diameternya juga. Akhirnya, aku mengizinkannya tak berpuasa esok harinya. Tapi ia malah berpuasa setengah hari, meski akhirnya ia tak berpuasa sampai habis masa ramadhan.


Ceklek…


Pintu kamarku terbuka lebar, "Assalamualaikum…" ucapnya dengan tersenyum ke arah kami semua.


......................

__ADS_1


__ADS_2