Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP198. Tak betah


__ADS_3

ADI POV


Aku menikahinya hanya dengan lima gram emas saja, itu pun dari umi. Aku tak mengeluarkan sepeser uang untuk menikahinya. Kini giliran bercerai, aku harus mengeluarkan cukup banyak uang. Belum lagi tuntutan materi, yang mencapai angka lebih dari empat miliar uang.


"Nanti deh, kau sekalian ikut balik sama aku aja. Aku minta istri aja, aku mana ada uang segitu banyaknya." ucapku, setelah mendengar bahwa aku harus membayar 200 juta.


"Transfer aja, Di." sahutnya setelah mentertawakanku, yang tersedak minumanku sendiri.


"Kena limit tak?" tanyaku dengan memperhatikan layar ponsel yang tengah Givan mainkan. Aku sedikit khawatir, jika Givan bermain ponselku. Karena aku memiliki video pribadi, untuk bahan c*liku sendiri.


"Tak tau juga, ya udah pakek cek aja." jawabnya yang langsung kuangguki.


Setelah aku membayar pesanan kami, aku langsung bergegas pergi dengan diikuti mobil Ilham yang berada di belakang mobilku.


Begitu aku sampai di rumah, aku langsung mengatakan hal tersebut pada Dinda yang tengah bermain ponsel.


Dinda langsung menyetujui dan menandatangani cek yang aku minta. Tentu karena cek itu miliknya, makanya harus menggunakan tanda tangannya.


"Makasih, Kak. Makasih, Di. Aku pamit dulu." ujar Ilham, setelah ia menerima cek dari Dinda.


Lalu ia berlalu pergi, setelah pamit dengan umi dan Givan yang berada di teras rumah.


"Mah, aku kata Papah sekolah di TK An-Nur. Yang di sana tuh, yang di deket i*domaret." ungkap Givan, yang berjalan menghampiri ibunya yang tengah bersantai ini.


Dinda beralih menatapku, "Memang berapa lama kita di sini? Nikah di provinsi A aja sih, di rumah kita." ucap Dinda seperti merengek.


"Abang sama omah gih, Papah mau ngobrol tentang sekolah Abang dulu." ujarku dengan merapikan rambutnya.

__ADS_1


"Ya, Pah." sahutnya, kemudian ia berlari ke luar rumah kembali.


"Anak-anak mana, Dek?" tanyaku dengan duduk di sebelahnya.


"Naya tidur di kamarnya, Ghifar diajak Zuhra maen ke rumah kawannya. Kembar tidur juga, tapi di kamar Edi. Dipindah sama Bena, katanya dia pengen punya anak kembar." jawabnya dengan bersandar pada lenganku.


Sepertinya Adindaku kelelahan, karena menurutku bukan hal yang mudah untuk menidurkan anak-anak.


"Naya sendirian berarti?" sahutku yang langsung dianggukinya.


"Tidur di tempat tidur yang ada pagarnya macam itu." balasnya kemudian.


"Adek tak betah kah di sini? Macam Givan, Adek minta pulang terus." ujarku dengan menggenggam tangannya. Entah kenapa, aku merasakan bahwa Dinda demikian. Ia tak betah untuk tinggal lama di sini, ia seperti canggung dengan keluargaku.


"He'em, aku tak nyaman aktivitas. Aku bingung mau apa, rasanya kek diperhatikan terus. Pengen rebahan, takut dikira nyantai aja. Pengen masak buat anak-anak sama buat Abang, tapi kata umi udah ada yang masakin. Cucian juga aku diminta tumpuk aja. Padahal kata Abang kan, kalau cuci mesti kita sendiri. Karena pakaian kotor itu aib, orang lain tak boleh tau kotoran kita. Apa lagi buat cuciin." tutur istriku lirih.


Tentu setiap rumah memiliki aturan dan ketentuan yang berbeda. Dinda sudah terbiasa, ikut dengan aturanku di rumah. Ia pun, terbiasa untuk masak dan mencuci pakaian. Saat aku masih bujangan, aku selalu mencuci pakaianku sendiri ketika berkunjung ke rumah umi. Karena aku terbiasa seperti itu, jika berada di rumahku sendiri.


"Kenapa sih, kita tak pulang aja?" ucapnya dengan nada kesal.


"Oma ada bilang, pengen urus cucu. Tinggal di sini beberapa bulan, biar kenal lebih dekat juga sama manantunya." jelasku dengan tersenyum lebar, karena memang sebelumnya umi mengatakan hal itu padaku.


"Ck… ya udah aku pulang aja ke rumah ibu." sahutnya dengan bangkit dari duduknya, lalu berlalu pergi dengan menghentakkan kakinya.


Memang apa salahnya tinggal di rumah mertua? Anggap saja ini adalah kunjungan, setelah sekian lama tak bertemu. Tapi Adindaku rupanya begitu bermasalah, dengan tempat tinggal saja. Padahal sepengamatanku ia dienakan di sini, anak-anak ada yang bantu mengurus dan menjaga. Oh iya, mungkin karena ia belum perawatan tubuh.


Aku berjalan untuk menemui umi, yang tengah berada di teras rumah dengan Givan. Terlihat mereka tengah mengobrol, dengan memakan buah yang sudah dipotongkan.

__ADS_1


"Umi… keberatan tak? Kalau Abang nitip anak-anak, nanti Zuhra biar ditelepon aja suruh pulang. Abang sama Dinda mau keluar, itung-itung refreshing." ungkapku dengan tersenyum penuh harap.


"Ya udah sana, banyak orang juga di rumah. Abang tenang aja, tinggal jalan-jalan aja gih. Tapi coba jelaskan dulu, macam mana itu caranya untuk susu kembar. Soalnya tadi Umi tengok, satu anak disusuin susu dari kulkas. Satu lagi disusuin Dinda." sahut umi dengan melirikku sekilas.


"Itu ASI-nya Dinda. Produksi ASI-nya berlimpah, jadi sering di-pump kalau terlalu penuh. Karena Dinda ngerasa dadanya sakit, kalau dibiarkan ASI-nya penuh." jelasku dengan umi yang memperhatikan aku dengan seksama.


"Ya udah, sana jalan-jalan. Dari pada Dinda ngamuk lagi, perasaan dia banyak cemberutnya sih. Tak macam pas awal kenal." balas umi yang membuatku tak bisa menjawab. Karena masalah yang Dinda alami adalah, ia tak betah tinggal di sini.


"Papah keluar dulu ya, Bang. Jagain kembar ya, jagain adek Naya juga." ucapku dengan mendekati Givan, yang tengah duduk di lantai dengan bermain rubik. Sembari sesekali melahap buah yang sudah dipotongkan.


"Naya itu siapa sebetulnya? Kenapa tante gemoy itu disebut istri Papah juga?" tanya anakku, yang membuatku melempar pandangan pada umi. Apa yang harus aku jelaskan padanya? Aku takut ia benci padaku, karena aku menyakiti ibunya.


"Naya itu… anaknya tante gemoy itu. Dia dititipkan ke Papah, soalnya tante gemoy itu sibuk." jawabku setelah berpikir sejenak.


Givan mengangguk samar, "Tante gemoy kenapa sih selalu marah sama mamah? Kan mamah jadi kasar terus sama dia. Kenapa juga, dia disebut istri dari Papah juga? Papah tak jawab itu tadi." ujarnya dengan mata yang fokus padaku.


"Nanti besar juga Abang paham. Yang jelas kan, Papah sama Mamah masih sama-sama sekarang. Udah tak berantem lagi, udah baik-baik aja." tuturku dengan tersenyum lebar.


"Mamah aku juga udah tak nangis-nangis lagi. Pokoknya kalau Mamah nangis lagi, Papah harus bisa bikin mamah seneng lagi. Aku tak mau nanti Mamah ke rumah sakit lagi, hanya gara-gara suka nangis sama murung aja. Kan kasian adek-adek aku jadi kecil betul, tapi udah keluar dari perut." tukas Givan dengan mulai mengunyah buah kembali.


"Papah minta maaf ya. Papah usahakan, tak bikin Mamah nangis-nangis lagi." ungkapku dengan menyisir rambutnya, dengan jari tanganku.


"Hmm, baliknya bawa makanan. Ngitung kepala ya, aku tak mau rebutan sama Ghifar. Gigi baru empat juga, Ghifar sih udah heboh betul kalau nampak aku lagi makan." sahutnya yang langsung kuangguki.


Itulah Ghifar, putraku itu seperti kekurangan makanan. Ia selalu merecoki Givan, jika abangnya itu tengah makan. Ia harus mendapat jatah yang sama banyaknya seperti Givan, padahal ia tak memakannya. Tentu Ghifar hanya suka meremahkan makanan, juga mengacak-acaknya saja.


Aku berjalan untuk memanggil Dinda, aku ingin membuatnya senang dengan berbelanja dan mampir ke klinik kecantikan.

__ADS_1


TBC.


Ada yang tak betah di mertua kek Dinda tak? Kenapa juga laki-laki itu tak paham, apa yang kita rasakan jika di rumah mertua? 🤔


__ADS_2