Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP32. Aksi Maya


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian, Adi telah sampai di rumah seseorang yang ia hubungi tadi.


"Lancar kah puyuhnya?" tanya Adi pada adik dari Munawir. Seseorang yang pak Dodi percayakan untuk mengelola kedai kopinya.


"Lancar, Bang. Kenapa gak cek sendiri aja? A Afan sama Arif juga nanyain Abang terus? Mereka bilang Abang susah dihubungi." jawab Yayan.


"Ada masalah keluarga. Aku belum bisa nyelesaiin masalahnya. Tolong dikelola baik-baik ya? Tetap lapor, dan jaga rahasia dengan baik." sahut Adi kemudian.


"Pasti Bang." balas Yayan mantap.


Lalu Adi langsung pamit pulang.


'Ya ampun, udah bukan buronan mertua lagi. Udah jadi buronan ipar pulak. Serasa nyulik istri sendiri.' gerutu Adi di dalam mobilnya.


Tiga puluh menit kemudian, Adi sudah sampai di rumah mertuanya. Ia sengaja berlama-lama dalam perjalanan. Agar sampai kamar, ia bisa langsung tidur.


"Belum tidur juga, May?" tanya Adi, saat melihat Maya masih berkutat dengan kapas di depan meja riasnya.


"Tak baik lagi hamil pakek skincare macam itu." lanjut Adi, dengan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Adi melepaskan bajunya, ia hanya memakai celana training panjangnya. Lalu ia mencuci wajahnya, dan membasuh tangan dan kedua kakinya.


Setelah selesai dari kamar mandi. Adi langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sebatas pinggangnya. Dan mencoba memejamkan matanya.


Maya berjalan menghampiri Adi. Ia duduk di tepian tempat tidur, dengan tangan yang ia ulurkan untuk menyentuh dada lebar Adi.


"Heh, ngapain kau?" tanya Adi kaget.


Tanpa menjawab, Maya langsung mencium bibir tebal Adi.


Adi mendorong tubuh Maya, yang berada tepat di atasnya. Dan Adi beringsut duduk dengan menarik selimutnya.


"Tak sopan kali kau! Sana jauh-jauh!" seru Adi dengan mata membulat. Ia seperti gadis yang ciuman pertamanya terenggut.


Bukan tanpa alasan, Adi bersikap demikian. Karena memang dari awal ia paham tentang perempuan, ia selalu memilih pasangan untuk diajak berciuman. Ia enggan melakukan kontak fisik, yang langsung dengan mulut atau kelam*nnya. Saat dulu bersetu*uh dengan pacar-pacarnya pun, ia selalu menggunakan pengaman.


"Abang kenapa sih gitu banget sama aku? Seolah-olah Abang jijik sama aku." ungkap Maya, dengan raut wajah sedih. Bagaimana ia tak merasa sedih, saat suaminya sendiri enggan menyentuhnya.


"Bukan jijik. Abang tak sebersih yang kau kira." dalih Adi. Jelas itu hanya agar Maya tak mengulanginya kembali.


"Abang HIV? AIDS?" tanya Maya kaget. Dengan tangan menutup mulutnya yang terbuka.


"Sembarangan!!!" jawab Adi ketus.


"Terus kenapa?" sahut Maya bingung.

__ADS_1


"Setelah berhubungan sama kau dulu. Abang pernah berhubungan dengan wanita lain." ungkap Adi jujur. Ia melakukan hal demikian, agar Maya tak meminta hal itu lagi.


"Ya memang kenapa? Yang penting perempuannya bersih kan. Lagi pula kejadian itu pun pasti udah lama. Aku yakin setelah nikah sama aku, Abang gak pernah berhubungan dengan perempuan manapun." ujar Maya dengan sangat yakin. Pasalnya ia mengetahui sifat setia Adi.


"Terserah kau lah, May! Sana kau, Abang mau tidur." ucap Adi kesal. Ia tak tahu harus bagaimana lagi, agar Maya tak meminta untuk berhubungan badan. Jika Maya terus mendesak, bukan tak mungkin. Kejadian yang Adi hindari, akan terjadi juga.


Namun Maya semakin mendekati Adi. Dan memeluk erat suaminya.


"HAAAAHHHH" pekik Adi, karena ia begitu terkejut dengan tindakan Maya.


Adi seperti perjaka, yang hendak direnggut kesuciannya oleh tante-tante. Ia demikian, karena ia sadar. Ia tak akan bisa menolak Maya lebih jauh. Bukan tanpa alasan, ia laki-laki normal. Yang pasti akan bereaksi, jika dirangsang oleh lawan jenisnya.


"May, kau tak boleh macam ini. Abang, Abang…" tutur Adi gugup. Karena sejujurnya miliknya sudah bereaksi. Kerena Maya yang memakai baju tidur transparan.


"Abang kenapa? Kita udah suami istri. Besok Abang udah berangkat lagi ke provinsi A, terus kapan kita bisa merasakannya?" ujar Maya bertanya.


"Milik Abang juga udah bangun." lanjut Maya, dengan menyentuh milik Adi.


Adi langsung menepis tangan Maya, yang berada tepat di miliknya.


"Kau yang sopan ya, May!" seru Adi dengan tatapan mematikan.


Namun Maya langsung menyumbui leher suaminya. Ia menuruti apa yang ibu mertuanya sarankan, saat ia bercerita bahwa Adi tak mau menyentuhnya.


Penolakan Adi tak berarti. Karena sejujurnya, ia tengah merindukan sentuhan dari seseorang. Seseorang yang selalu ada dihidupkannya, Adinda.


"Ughhh... Dinda. Pakon buru-buru kali?" sebut Adi, dengan mengelus kepala Maya. Pakon, berarti kenapa. Karena Adi terkadang sering menggunakan bahasa daerah tempatnya tinggal, dengan bercampur bahasa Indonesia.


Sontak membuat Maya berhenti dari kegiatannya, yang tengah mengulum pucuk dada Adi.


Maya mengangkat kepalanya, air matanya jatuh tak terbendung. Mendengar suaminya, menyebutkan nama wanita lain. Ini kah alasan Adi tak mau menyentuhnya? Pertanyaan yang ada di benak Maya.


Adi membuka matanya, merasakan tak ada rangsangan yang ia dapatkan lagi. Ia sungguh terkejut, melihat Maya tengah menangis tanpa suara. Dengan memandangi wajahnya.


Adi tak sadar, ia telah menyakiti hati Maya. Ia tak tahu, bahwa yang ia salah menyebutkan nama. Karena memang sebenarnya, ia tengah membayangkan Adinda.


"Kenapa May?" tanya Adi terdengar sangat konyol di telinga Maya. Seharusnya, Adi menyadari kesalahannya tadi. Namun anehnya, Adi malah bertanya. Otak Maya penuh dengan pertanyaan, tentang kewarasan suaminya.


Maya menggelengkan kepalanya. Ia bangun, dan berpindah ke sisi tempat tidur yang lain. Maya merebahkan tubuhnya, dan menarik selimutnya.


Adi bingung dengan sikap Maya. Bukannya tadi Maya terlihat begitu menggebu-gebu padanya. Tapi setelah Adi mulai terbuai, ia malah meninggalkan Adi begitu saja.


Adi menghela nafas gusar, lalu ia menyugar rambutnya ke belakang. Ia meraih ponselnya, dan berjalan menuju kamar mandi. Ia tak akan bisa tidur, jika miliknya sudah siap berperang seperti ini.

__ADS_1


'Untungnya tak dilanjut. Bisa-bisa aku ngerasa bersalah setengah mati sama Dinda.' gumam Adi. Lalu ia menutup penutup koslet, dan mendudukinya. Dengan langsung memainkan ponselnya, mencari situs dewasa. Sembari menonton adegan dewasa di dalam video tersebut. Tangan Adi mulai beraksi mengurut miliknya.


~


Setelah selesai dengan kegiatannya, Adi langsung membersihkan muntahan miliknya. Dan ia kembali menuju ke tempat tidur.


Ia melirik Maya sekilas, Maya tengah asik dengan ponselnya. Adi tak ingin menegur Maya. Ia sudah sangat ingin tidur.


Ia menarik selimutnya, dan mulai menyelami alam mimpinya.


~


Fajar telah tiba. Adi melakukan mandi besar, untuk menyucikan dirinya. Lalu setelahnya, ia melaksanakan shalat subuh seperti biasa.


Rutinitas yang biasa ia lakukan, ia keluar dari rumah itu untuk berolahraga. Namun kali ini, Adi lebih memilih untuk singgah di rumahnya sendiri. Setelah ia menyelesaikan acara olahraganya.


"Umi, bikinin teh manis." ucap Adi dengan memasuki rumahnya.


"Minta dibikinin sama Maya. Heran, masih neriakin Umi aja, buat bikin sarapan." sahut ibu Meutia kemudian.


Adi duduk selonjoran di sofa ruang tamu. Ia menunggu teh manisnya siap dihidangkan.


Tak lama, ibunya datang membawakan apa yang Adi butuhkan tadi.


"Sarapan apa, Umi?" tanya Adi, saat ibu Meutia meletakkan teh manis itu di meja.


"Belum bikin sarapan. Abang dari mana memang? Pakek pakaian macam itu, pakek sepatu juga." sahut ibu Meutia, setelah menyadari sepatu olahraga milik Adi tergeletak di bawah meja.


"Abis olahraga." balas Adi ringkas.


Ibu Meutia berlalu, dan tak lama ia kembali dengan ponsel di tangannya.


"Coba baca ini! Umi baru baca pagi, karena semalam Umi udah tidur." ujar ibu Meutia, dengan menyodorkan ponselnya di tangannya.


Adi mengerutkan keningnya, saat ia mulai membaca pesan chat itu.


"Benar macam itu?" tanya ibu Meutia, dengan perhatian yang ia pusatkan pada anaknya.


TBC.


Oh, untungnya Adi cuma ke rumah orang kepercayaannya. Aku kira tadi Adi ngelayab tak jelas.


Adi salah sebetulnya tak ngasih nafkah batin. Dosa loh, Di. 🤨

__ADS_1


Tapi coba kalau kita tengok dari sudut pandang Maya. Pasti Maya sakit hati betul, saat suaminya nyebutin nama perempuan lain. Pasti pikirannya udah ke mana-mana.


Terus apa lagi ini? Umi ngasih tau apaan ya kira-kira? 🤔


__ADS_2