Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP222. Berbelanja


__ADS_3

Kami bertujuh, sudah berada di dalam swalayan terkemuka di kota C ini. Dinda membeli beberapa kebutuhan rumah tangga, juga membeli kebutuhan dapur yang ia butuhkan.


"Mah… pomade aku." ucap Givan, saat kami melewati jajaran rak yang berisikan produk anak-anak.


"Ok." sahut istriku, dengan mengambilkan beberapa pomade untuk anakku. Rambut Givan lurus, tetapi susah diatur. Ia memerlukan pomade, untuk mengatur gaya rambutnya.


Jika tak mengenakan pomade, rambut basah Givan akan sesuai dengan cara ia menyisir rambutnya. Namun, jika rambutnya sudah mengering. Rambutnya akan cenderung lurus ke depan, sehingga ia tak bisa mengatur rambutnya seperti yang ia inginkan.


"Hei, Kak Dinda. Sehat Kak?" sapa seorang wanita, yang berada di belakangku.


Aku langsung memutar tubuhku, untuk melihat siapa yang menyapa istriku. Terlihat Dinda tersenyum lebar padanya, dengan menyambut uluran tangannya.


Ya ampun, ternyata Devi. Seseorang yang membuatku sakit tak jelas, ia sekarang ada di hadapanku.


"Sehat, Bang?" tanyanya dengan mengulurkan tangan padaku. Aku menyambut uluran tangannya, dengan ia yang sedikit menundukkan kepalanya padaku.


"Alhamdulillah, sehat." jawabku kemudian.


"Ini anak siapa semua, Bang?"


"Kalau yang ini anak Kak Dinda kan? Aku tau ini, namanya Ananda Givan kan?" dengan telunjuknya menunjuk ke arah Givan yang berdiri di dekat Dinda.


"Ini Ghifar kan?" lanjutnya dengan menunjuk anak hitam yang berada di gendongan kangguru, yang tengah aku kenakan.


"Bukan, aku Teuku Givan. Udah ganti nama." sahut Givan yang membuat aku melongo sesaat. Kapan anak sulungku ganti nama?


"Masih Ananda lah." timpal Dinda yang membuatku terkekeh pelan.


"Ini yang di troli bayi siapa, Bang?"


"Yang pipinya bakpao ini siapa nih? Cantik betul, Nok." ujar Devi, dengan mencubit pelan pipi Naya yang berada dalam troli belanja.

__ADS_1


"Anak-anak aku sama Bang Adi semua." ujar Dinda dengan tersenyum lebar.


Terlihat Devi melongo dengan memperhatikan anak-anak kami satu persatu, "Ya Allah, untung dulu gak jadi sama Bang Adi. Awas ketinggalan ya anak-anaknya, Kak." tutur Devi yang membuat aku dan Dinda tertawa geli.


"Pantes di medsos Akak lama tak posting apapun, rupanya lagi kerepotan ya Kak? Aku baru tau nih, ternyata anak Akak ada lima. Udah kaya balonku ada lima… wah iya, rupa-rupa warnanya juga. Ada yang putih, ada yang hitam."


"Ehh… maaf."


Ungkapnya dengan langsung menutup mulutnya, aku tau ia takut aku dan Dinda tersinggung.


"Gimana kabarnya, Dev? Lama kita tak jumpa." tanya Dinda dengan memperhatikan Devi.


Devi terlihat begitu kurus, tapi pakaiannya cukup menyamarkan kekurusan tubuhnya. Seperti biasa, Devi terlihat anggun dengan pakaian syar'i. Dengan dipadukan sepatu sport, yang menampilkan pakaian syar'i yang ia kenakan cukup modis.


"Alhamdulillah, lagi rutin ruqyah Kak. Aku udah tiga kali nikah, tapi tiba-tiba jatuh surat talak tanpa jelas. Yang pertama, tiga bulan setelah nikah suami aku pulang ke orang tuanya. Terus bulan berikutnya, datang surat talak. Yang kedua, alhamdulilah bertahan lima bulan. Yang ketiga ini, kandas dalam waktu satu minggu setelah nikah. Ngeri ya, Kak?" ungkap Devi bercerita. Kok bisa seperti itu? Tapi jelas, pertanyaanku tak berani aku katakan. Karena terdengar kurang sopan.


"Sabar, pasti bertemu pendamping yang tepat. Dibarengi shodaqoh aja, Dev. Coba aja, karena biasanya shodaqoh itu obat yang paling mujarab." saran Dinda dengan mengusap lengan Devi.


"Kendalanya apa?" pertanyaan dari sulungku. Kenapa dengan anak enam tahun ini?


"Tante pernah jahat, A. Jadi semua kejahatan yang Tante perbuat dulu, sekarang berbalik pada nyerang Tante." jawab Devi kemudian.


"Jin ya? Kemenangan jin itu, bukan sukses bikin hamba Allah tak sholat, bukan karena mereka yang datang ke dukun. Tapi karena mereka sukses bikin suami istri bercerai, mereka langsung naik pangkat karena usaha yang satu itu." jelas Givan yang membuat kami semua melongo tak percaya, atas ucapannya barusan. Benarkah putraku ini masih ind*home? Eh, ind*mie. Maksudku indigo. Padahal ustad yang mengobatinya dulu, pernah mengatakan kelebihan putraku akan hilang sendiri. Kalau Givan sudah mengerti akan arti ikhlas, juga ia bisa mengikhlaskan dirinya yang harus melepaskan kelebihannya itu.


"Ikhlas, Cuy. Tak suka loh Mamah, Bang." ucap Dinda dengan mencolek dagu sulungku. Dengan Givan yang mendongakan kepalanya, dengan memberikan senyum manisnya.


"Anak pandai, pasti jadi orang hebat kaya mamahnya." tutur Devi dengan mengusap kepala anakku.


Namun, Givan langsung mencekal tangan Devi yang berada di atas kepalanya.


"Maaf, Tante. Tante tak sopan, pegang kepala aku macam itu. Aku bukan anak yatim, yang lagi Tante santuni. Aku cuma izinkan orang tua aku aja, yang boleh pegang kepala aku. Jangan lagi-lagi ya, Tante." tukas Givan dengan tersenyum ke arah Devi.

__ADS_1


Mulut Dinda, turun ke anaknya. Bukan hal yang tak mungkin, jika mulut istriku turun ke anak-anakku yang lain.


"Ya ampun, maaf ya A. Tante gak tau, kalau Aa gak suka digituin. Anak pandai, maafin Tante ya?" ujar Devi dengan wajah menyesalinya.


Givan hanya mengangguk, lalu ia beralih memperhatikan produk-produk yang berjejer di rak ini.


"Kalau begitu, aku duluan ya? Permisi, assalamualaikum." ucap Devi dengan menyalamiku dan Dinda secara bergantian. Lalu ia berlalu pergi, dengan gamis panjangnya yang sedikit terbang karena gerakan cepatnya.


"Mantan pacarnya Papah itu, Bang." ucap Dinda dengan mengusap bahu sulungku.


Givan menoleh ke arahku, "Padahal Papah jelek, kok banyak kali mantan pacarnya? Tante Shasha, tante Nurul, terus yang tadi. Heran aku, peletnya nyari di mana Pah?" tanya Givan yang membuat Dinda terkekeh dengan menutup mulutnya.


"Pelet jepang, makanya Emak kau nemplokin Papah terus." jawabku yang membuat Dinda terhenti dari tawanya.


"Apa itu, Pah?" sahut Givan kemudian.


Aku mengeluarkan uang merah dari dalam dompetku, lalu menempelkannya di dahi istriku.


"Ini peletnya. Tokcer, manjur, dijamin mabok tak ada obat." jelasku kemudian.


Hingga aku, Dinda dan Givan larut dalam tawa. Kemudian, kami melanjutkan acara belanja kami sampai langit sudah terlihat gelap.


~


~


Esok harinya, aku dan keluarga kecilku tengah berkunjung ke rumah Haris. Anak-anak Dinda lepas dalam ruang bermain anak-anak Haris, yang terlapisi karpet bermotir angka dasar dan huruf abjad. Ghifar dengan asiknya, berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya. Dengan Naya yang terdiam, dengan memeluk boneka beruang berwarna pink.


Yang membuatku tak nyaman berada di sini, karena kehadiran Shila. Ashila kawan sekolahku, dari masa SLTA sampai aku mengemban status sebagai sarjana.


Ia selalu membahas masa laluku, hingga membahas keburukanku di mata kawan-kawanku. Bukannya aku takut Dinda ilfeel padaku, hanya saja aku takut Dinda…..

__ADS_1


TBC.


__ADS_2