Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP231. Permintaan Zuhra


__ADS_3

Setelah mencoba baju pengantin, aku dan keluarga besar kembali ke rumah. Hanya perjalanan tiga puluh menit, tapi Dinda sudah payah betul. Hamilnya kali ini, dia mabuk kendaraan. Baju pengantin kami belum siap untuk dibawa pulang, karena pengerjaannya masih 95 persen. Semoga saja, bisa digunakan pas di hari H.


"Tinggal besok aja ya berarti, Bang? Lusa nanti Abang jadi raja sehari." ucap Zuhra yang tengah duduk sembari bergelayut pada lenganku.


Aku mencium bau-bau ada maunya, dari adik bungsuku ini. Ya kurang lebihnya, ia seperti Dinda jika tengah menginginkan sesuatu.


"Hmmmm." aku menyahutinya hanya dengan dekheman saja.


Tak lama Dinda muncul, dengan Ghifar di dekapannya. Anak itu tengah batuk-batuk terus, sejak malam tadi. Saat tubuhnya merasa tak enak badan, putraku ini pasti langsung bermanja pada ibunya.


"Beli jajanan tuh, Bang. Beli kue juga." pinta Dinda, dengan duduk di sebelah Zuhra.


"Ya, Dek. Bentar lagi." sahutku kemudian.


"Mahhhhh……." seru suara gadis kecil. Seingatku, dia tadi bermain bersama Novi di ruang keluarga. Sedangkan kami, tengah duduk-duduk di ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang keluarga ini.


"Sini, Nak. Pelan-pelan ngerangkaknya." sahut Dinda yang sedikit berseru juga. Anak tergantung diajarkannya, buktinya Icut kecil sudah bisa memanggil mamah pada ibu sambungnya.


"Mau ke mana, Cut?" tanya ayahku, yang baru masuk ke dalam rumah.


"Mah…." sahutan kecil dari anak gadisku, yang bisa kudengar.


"Jangan diangkat, Yah. Biar suruh ngerangkak sendiri." ujar Dinda yang langsung diiyakan oleh ayah.


Tak lama kemudian, Icut muncul dengan menyunggingkan senyumnya. Matanya sampai tak terlihat, karena tarikan bibirnya itu.


Aku menggapai tangan Icut, yang meminta bantuan untuk bangkit dari lantai. Lalu, ia aku mendudukannya di sofa di sebelahku. Dengan aku amankan posisinya, agar ia tak terjatuh.


Zuhra kembali memeluk lenganku, ia sedikit menggosokkan wajahnya di lengan bajuku.


"Bang…" panggilnya lirih.


"Apa sih, Dek? Dari tadi bang-bangan terus." sahutku dengan memperhatikan Ghifar yang bermanja pada ibunya.

__ADS_1


"Bang, aku mau nikah juga dong." balas Zuhra yang membuatku menoleh cepat ke arahnya.


"Nikah sama siapa kau?" tanya Dinda yang sepertinya dia mendengar ucapan Zuhra barusan.


"Sama bang Nahar."


"Ayolah, Bang. Nikahin aku sama bang Nahar." Zuhra beralih memperhatikan wajahku kembali.


"Utang kau banyak! Kau bilang mau fokus usaha, baru cicil satu bulan kau minta nikah. Nanti macam mana sama usaha kau itu? Siapa yang mau urus? Siapa yang mau bayarin utangnya?" ucapku dengan beberapa kali menepuk jidatnya.


"Bisanya mikirin utang?" timpal Dinda dengan memperhatikanku. Meskipun saudara, adikku sekali pun. Kalau dia mengucapkannya hutang, maka akan aku tagih.


"Dia bilang utang, bukan minta." jelasku pada Dinda.


"Ya kan, nanti aku tetep buka warnet Bang. Tetep bayar perbulannya, tapi aku jadi istri bang Nahar juga." ungkapnya dengan pandangan penuh harap.


Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba ia ingin menikah? Padahal dia masih sangat muda, usianya baru akan beranjak dua puluh tahun.


"AAAPPPPAAA????" terdengar sahutan yang bukan dari satu orang saja.


Aku pun mendapat cubitan pedas di perutku, setelah menyerukan suaraku barusan.


Umi dan ayah muncul, dengan menatap tajam pada Zuhra.


"Jangan bilang kau dihamili orang sana?" tanya umi penuh selidik. Aku melihat Dinda menutup mulutnya, dengan menahan tawanya. Aku yakin istriku mengetahui masalah asmara adikku ini.


"Nikah sama siapa? Orang mana? Kau yakin kah ngelangkahin akak kau? Zulfa belum nikah, kau udah minta nikah aja." runtutatan pertanyaan dari ayah, dengan memperhatikan Zuhra dengan seksama.


"Abang yang di sana tak mau pacaran. Katanya kalau kau tak mau ya udah, dia mau nikah sama yang lain. Aku tak ridho lah, Yah. Aku mau sama dia." aku Zuhra yang membuatku melongo.


Siapa itu nama pacarnya kemarin? Hmm, Awan. Oh iya, ke mana Awan itu? Bisa-bisanya ia malah ingin menikah dengan Nahar?


"Awan itu mau kau ke manakan?" tanyaku dengan melepaskan pelukannya di lenganku.

__ADS_1


"Tuh tanya Kak Dinda. Awan kata udahan aja, dia udah punya anak. Udah nikah dia Bang, sama orang satu kampung pilihan orang tuanya. Dia tak ada kata sama aku, tak berani dia Bang ngakuinnya." jelasnya yang membuat melongo. Dinda tahu, tapi dia diam saja? Dia tak bercerita padaku? Bisa-bisanya Zuhra ditinggal menikah tanpa pemberitahuan? Kalau aku tahu dari awal, aku kugeprek itu laki-laki. Menyepelekan perempuan betul, harusnya dia memberitahu Zuhra dari awal.


"Ya udah cepet nikah. Bilang Nahar kata Abang minimal 15 mayam gitu." putusku langsung, yang mendapat lemparan kulit kacang dari ayahku.


"Zulfa dilangkahi, Di. Tak boleh macam itulah, Zulfa akak perempuan. Kau aja waktu dilangkahi Edi, Ayah takut kau tak laku. Nah ini, Zulfa pulak yang mau dilangkahi adiknya. Macam mana lah ini?" sahutan ayah terdengar frustasi. Sudah pasti ini mengacu ke mitos jaman dulu.


"Kak Zulfa kan udah ada bang Jeff, tenang ajalah Yah. Bang Jeff pun di sana kerjanya betul, nabung dia Yah buat halalin kak Zulfa." balas Zuhra, yang mungkin tahu sedikit tentang Jefri dan Zulfa.


"Nabung kan dia buat bayar utang. Baru itu lunas yang seratus juta, tinggal utang yang kecil-kecilnya aja." ujarku dengan meladeni Icut, yang minta pindah ke pangkuanku.


"Tahun depan paling lah, Dek. Tahun ini, biar Umi minta Jefri buat lamar Zulfa. Kalau dia tak mau ya, biar laki-laki lain aja." tutur umi dengan wajah yang terlihat bingung.


"Bang… bilang ke bang Naharnya dulu. Nih, teleponin." tukas Zuhra dengan menyodorkan ponselnya.


"Bentar, bentar…"


"Zulfa… sini dulu, Nak."


Suara ayah yang mengurungkan niatku untuk menerima ponsel Zuhra. Bisa-bisanya Zuhra minta nikah mendadak seperti ini? Aku harus mengusut Nahar. Apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua? Sampai-sampai Zuhra berani mengatakan hal ini?


"Iya, Yah." sahut Zuhra, setelah dirinya muncul dengan kondisi wajah yang cukup pucat. Zulfa bukan sakit fisik, tapi menurutku batinnya amat tersakiti.


"Jangan di kamar aja coba, Nak. Pucet betul kau! Jalan-jalan, ngumpul bareng teman apa saudara. Zuhra baru datang semalam, udah berapa kali dia pamit pergi keluar sama Ghifar. Kau ikutlah sana, Zuhra pun tak akan nolak kalau kau ikut." ucap ayah, dengan mengusap kepala Zulfa yang terlapisi hijabnya.


"Aku kan lagi posting jualan, Yah. Banyak yang kosong juga, mana belum ada model baru." sahut Zulfa yang memandang ke arah lain, saat aku perhatikan dirinya.


"Uang jajan kan udah ayah jatah, tak cukup kah? Sampek kerja keras nekuni jualan aja." tanya ayah kemudian.


"Utang aku aja sampek ratusan juta sama Abang, hang out ya tetap lancar Kak. Jangan terlalu repot sama kerjaan, takutnya waktunya kita jadi istri orang malah jadi kangen masa-masa hang out sama kawan-kawan." timpal Zuhra yang seperti orang tua.


......................


Mau tamat ini 😟

__ADS_1


__ADS_2