Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP42. Pelukan penenang


__ADS_3

"Dek, jangan bikin Abang kesal terus. Tadi ngundur-ngundur waktu. Padahal Adek paham kan, bahwa dari awal Adek cuci tangan. Abang udah ngajak ke kamar. Segala ngajak ngobrol, sampai bawa-bawa Mahendra. Giliran udah dikungkung, malah ngelarang terus. Tak boleh macam ini, tak boleh macam itu. Bikin tak selera aja!" seruku sewot. Dan melepaskannya begitu saja. Apa dia tak paham, bahwa menahan yang sudah mengeras itu sulit?


Aku sudah bersabar mendapat penolakannya satu minggu lebih. Terus aku masih harus diminta bersabar menghadapi tingkahnya macam itu? Terkadang Dinda betul-betul keterlaluan.


"Mau ke mana?" tanyanya, saat aku memakai kembali celana dalam dan sarungku.


"Tidur." jawabku sambil melangkah keluar kamar ini.


"Yakin mau tidur?" sahutnya memastikan. Apa lagi ini? Aku harus bersujud meminta hakku begitu? Apa sekarang dia yang butuh?


"Mau kau apa, Dek? Bilang aja kalau memang tak mau ngelayanin suami! Udah bosan kah kau sama Abang?" seruku emosi. Aku sudah tak bisa menahan amarahku lagi. Aku nafsu, aku menginginkan itu, tapi ia tak mau memberikannya, ia tak mau menurutiku.


Dinda membenarkan posisi bajunya. Dan berjalan ke arahku. Ia memelukku erat, tanpa menjawab ucapanku.


Kami terdiam tanpa suara. Hanya terdengar suara nafasku yang memburu.


Aku tak tahu perasaan apa ini. Tiba-tiba hatiku menghangat, namun jantungku bergemuruh hebat. Rasa sayang, takut, khawatir, nafsu, cinta, salah, bercampur jadi satu. Aku takut pelukan ini tak bisa ia berikan lagi untuk menenangkanku. Pelukan yang bisa meredam amarahku. Pelukan hangat yang menyalurkan semua perasaan kami.


"Abang minta maaf, Dek." ungkapku yang tiba-tiba merasa bersalah, atas pengkhianatan yang aku lakukan di belakangnya.


"Aku juga minta maaf. Bukan aku bosan sama Abang. Memang aku lagi tak nyaman disentuh." ujarnya kemudian.


"Besok kita ke dokter kandungan lagi, ok?" sahutku yang dianggukinya. Aku mencoba berpikir positif, bahwa mungkin ini pengaruh dari hormon yang berubah. Saat ia tengah hamil macam ini.


"Yuk tidur aja." lanjutku, mencoba mengalah dari keadaan. Karena hanya ini jalan keluarnya. Aku tak mungkin memaksakan kehendakku, terlebih lagi ia tengah hamil muda macam ini.


Lalu aku melepaskan pelukannya, dan membawanya melangkah dalam rengkuhan tanganku.


Kami membaringkan tubuh di tempat tidur, yang Givan tempati juga. Anakku belum berani untuk tidur sendirian. Mungkin perlahan nanti kami ajarkan. Jika rumahku sudah siap dihuni, dan Givan sudah memiliki ranjang impiannya. Ranjang dengan model mobil sport mewah, dan hiasan beberapa lampu berwarna.

__ADS_1


Perlahan kami terlelap dalam mimpi masing-masing. Aku berharap persoalan yang sama, tidak datang lagi di rumah tangga kami. Karena jelas, ini mengurangi keharmonisan hubunganku dengan Dinda.


~


Hari sudah pagi. Dinda mengawali pagi ini dengan rasa mualnya. Aku merasa kasihan padanya. Kenapa ia sesulit ini dalam mengandung anakku. Badannya sampai kurus, aku takut dirinya dan anak kami tak mendapat nutrisi yang cukup.


Padahal segala vitamin yang dokter berikan, selalu diminumnya tuntas. Vitamin penambahan darah bahkan sampai aku menyetoknya di rumah. Karena tekanan darah Dinda yang selalu rendah. Ini cukup berdampak pada kandungannya, jika tekanan darahnya terlampau rendah, dan tak kunjung normal.


"Berapa lama lagi aku lahiran? Aku udah tak tahan betul." ungkapnya, dengan menghapus keringat dingin yang mengalir di pelipisnya.


"Ya masih lama kali, Dek. Baru juga sembilan minggu. Ke empat puluh minggu, masih harus nunggu tiga puluh satu minggu lagi Dek." jawabku kemudian. Aku malah memikirkan, bagaimana nanti Maya melangsungkan acara tujuh bulanan? Aku sudah berjanji pada Dinda, untuk tidak meninggalkannya lagi. Dan jelas, Maya pasti melahirkan lebih dulu. Aku tak mungkin tak hadir dalam kelahiran anakku. Bagaimana nanti, aku tak tega jika harus meninggalkan Dinda dalam keadaan hamil besar. Jika sudah waktunya Maya melahirkan.


"Terus aku harus macam mana? Aku udah tak tahan kali." sahutnya, disusul dengan tangisan pilunya. Ia sehat, tapi seperti orang sakit. Padahal ini hanya mengidam. Sedangkan Maya biasa saja, bahkan cenderung tak merasa kehamilannya. Badan pun makin terlihat bengkak. Sampai kehamilannya, tersamarkan dengan lemak-lemaknya.


"Sabar, Sayang." balasku dengan memberinya pelukan.


"Yuk rebahan, Abang balurin minyak angin." lanjutku, mengajaknya untuk kembali ke kamar.


Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu menarik tanganku, untuk mengikuti dirinya.


Aku menghela nafas panjang, dan menurutinya langsung. Dinda memelukku dari samping, dengan berbantal lenganku. Wajahnya tepat menghadap ketiakku. Ia bisa mencium bau badanku langsung, karena aku tak memakai baju.


"Sedap kah bau Abang?" tanyaku heran. Karena ia nampak begitu nyaman, dengan memejamkan matanya. Memang aku tak bau badan, sampai aku tak pernah memakai deodorant atau semacamnya. Setelah Dinda sering menggosok badanku, dengan produk yang ia beli dari tempat perawatan kecantikannya. Tapi pasti setiap orang memiliki bau yang khas.


"Mual aku ilang, kalau ngebauin Abang." jawabnya tanpa membuka matanya. Hadeh, ada pulak orang hamil macam ini. Apa hanya istriku saja yang macam ini?


"Abang mau olahraga. Terus mau bikin sarapan." sahutku memberitahunya. Karena memang itu kegiatan rutinku sekarang. Karena Dinda yang selalu seperti ini, bila pagi tiba. Boro-boro mau mengurus aku dan Givan, untuk membuat sarapan. Mengurus dirinya sendiri pun, ia tak bisa. Ia begitu lemah, jika sudah muntah-muntah macam ini. Aku pun tak bisa menuntutnya lebih. Aku tak tega padanya.


"Nanti aja. Biar aja macam ini bentar, aku masih pengen ngebauin Abang." balasnya dengan mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Tak terasa, kami tertidur kembali. Karena aku dan Dinda merasa begitu nyaman.


~


Kami terbangun, saat Givan merengek minta sarapannya. Dan kami menjalani pagi ini, dengan begitu terburu-buru. Karena waktu sarapan pagi yang terlewat. Dan aku yang memiliki janji dengan beberapa orang, yang berada di ladang baru.


"Dek, baju yang tadi dicuci. Udah Abang bilas, udah Abang taruh di luar embernya. Tinggal di jemur aja." seruku dari luar kamar mandi. Karena Dinda tengah menunaikan hajatnya, di dalam kamar mandi sana.


"Ya, Bang." sahutnya berseru juga.


"Givan, Abang bawa." balasku dengan mencari topi yang biasa Givan gunakan, saat ke ladang.


"Ya, Bang." teriak Dinda dari dalam kamar mandi.


Bisa dibilang kehidupanku di sini sangat sederhana. Apa-apa kami lakukan sendiri. Namun aku begitu merasa bahagia dengan kesederhanaan ini.


Hanya saja, kelakuan cerobohku dulu pada Maya. Menimbulkan masalah pada kehidupanku sekarang. Dan tentu berimbas pada pernikahanku dengan Dinda.


Aku rasa masalah ini tak akan pernah berakhir. Karena jelas, aku memiliki anak dengan Maya. Hubunganku dengan Maya, tak mungkin lepas begitu saja. Karena aku memiliki tanggung jawab pada anak Maya, yang tentunya juga anakku.


Rasanya, aku pun tak mungkin menceraikan Maya nanti. Aku tak mungkin mengorbankan anakku dengan Maya, hanya karena keegoisanku. Kecuali ada hal lain, yang memang tak bisa kuterima.


Tapi bagaimana dengan nasib Dinda? Bagaimana dengan nasib anakku dengan Dinda?


Kalau aku, jelas aku tak mungkin meninggalkan Dinda dan juga anak-anak kami. Tapi jika Dinda tak rela bagaimana? Dan bagaimana jika orang tuanya ikut campur dalam masalah ini? Apa lagi kakak-kakaknya jelas akan menjemput adik perempuannya. Ini jelas bencana besar untukku.


TBC.


Adi terlalu rakus, dan plin-plan juga.

__ADS_1


Kok aku kesal betul sama Adi ini.


__ADS_2