Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP132. Serangan fajar (lagi)


__ADS_3

AUTHOR POV


"Lagi diperiksa sama ibu Nur, soalnya tadi jam delapan kak Dinda sakit perut. Pengen BAB katanya, Bang. Terus pas BAB, katanya sakit kali sampek berdarah. Terus kak Dinda minta panggilkan ibu Nur, takut jahitannya rusak katanya." jelas Zuhra, membuat Adi panik seketika.


"Di mana kak Dinda?" tanya Adi dengan memperhatikan orang-orang di sekitar.


"Di kamar aku, lagi diperiksa sama ibu Nur. Ibu Nurnya baru bisa datang soalnya." jawab Zuhra kemudian, Adi langsung memberikan Givan pada Zuhra kembali.


Lalu ia bergegas menuju ke kamar Zuhra, dengan langsung membuka pintunya.


"Oh, maaf ganggu." ucap Adi, saat melihat istrinya tengah diperiksa bagian intinya.


"Tutup lagi aja pintunya, Bang." sahut Adinda dengan menoleh ke arah suaminya.


Adi menganggukkan kepalanya, lalu ia berjalan ke arah ranjang. Kemudian ia duduk di tepian tempat tidur, persis di sebelah kepala istrinya.


Adi menyentuh pipi istrinya dengan punggung tangannya, "Kenapa tak minta tolong Abang? Tak apa Dek, Abang dibangunin juga. Kan nanti Abang bisa nyambung tidur lagi, lepas dzuhur." ungkapnya kemudian.


"Tak apa kok. BAB macam biasa aja, yang rileks. Jangan khawatir jahitan lepas atau macam mana. Memang rasa sakitnya luar biasa, tapi kalau ditahan malah bikin bahaya." ujar ibu Nur. Membuat Dinda yang akan menyahuti ucapan Adi, malah mengurungkan niatnya.


"Kalau lahiran normal, ibunya bisa pipis. Terus tak ada keluhan, tensi lekas normal kembali. Insyaa Allah tak ada masalah apa-apa. Apa lagi dek Dinda, kelihatannya udah seger dan sehat lagi." lanjut ibu Nur dengan menyibakkan baju Dinda.


"Diperiksa dulu ya perutnya." ungkapnya dengan mulai menekan pelan, bagian perut bawah Dinda.


"Bagus, Dek. Udah kecil lagi rahimnya. Pakek korset juga tak apa, tapi jangan yang terlalu kencang. Untuk Dek Dindanya ya, bayinya tak perlu dipakekan korset atau gurita semacamnya." ujar ibu Nur dengan menutup kembali baju Dinda yang ia sibakkan.


Adinda mengangguk, kemudian berusaha untuk duduk. Adi menyadari istrinya akan bangun, ia langsung membantunya untuk bangkit dari posisinya.


"Obat masih ada kan? Obatnya jangan lupa dihabiskan ya. Terus macam mana ASI-nya? Udah lancar belum?" tanya ibu Nur, dengan membereskan alat untuk tensi darah dan timbangan bayi portable.


Karena sebelum Dinda diperiksa, Ghifar lebih dulu dicek keadaannya. Ditimbang kembali berat badan, dan juga dilihat kondisi tali pusarnya.

__ADS_1


"Udah lancar, Alhamdulillah. Sampek bocor-bocor ke baju." jawab Adinda kemudian.


Lalu ibu Nur pamit pulang kembali, karena sebelumnya ia tengah bertugas. Ia sampai meminta izin kepada pihak puskesmas tempatnya bertugas, karena mendapat panggilan telepon dari seseorang yang cukup berpengaruh di tempat tinggalnya. Bukan lain adalah istri dari Adi, Adinda. Seseorang yang memberi lapangan pekerjaan bagi para warga di sekitar tempatnya.


Sebelumnya, Adi dikenal dengan sifat kikir dan sombong. Belum lagi upah yang ia berikan, terkadang tak sesuai. Bertambah buruk citranya, saat ia mendekam di dalam penjara dengan kasus narkotika.


Sampai hadir pengelola baru, yaitu seorang wanita asal pulau Jawa yang bernama Adinda. Yang merubah total, sistem dan pembayaran upah para pekerja ladang. Ternyata bukan usaha Adi saja yang berhasil ia kelola dengan baik, sampai pemilik usahanya pun ia bisa kelola dengan baik juga.


Bahkan ada sebagian orang yang berpendapat, kehancuran Adi berada pada wanitanya. Karena perubahan yang bukan didasari karena diri sendiri, bukanlah sebuah benteng pertahanan yang kuat untuk menahan seseorang untuk tidak kembali ke kebiasaan buruknya.


Tidak sedikit orang, yang menatap iri pada Adi. Dengan lahan yang semakin bertambah banyak, belum lagi hasil panennya yang terbilang cukup stabil. Ditambah dengan seorang istri yang cantik dan dermawan, membuat beberapa orang ingin meruntuhkan rumah tangga Adi. Karena mereka pun mengetahui siapa pemilik aset itu sekarang. Namun, hanya Supriyatna saja yang kehadirannya cukup berani. Ia malah sengaja menjadi kerikil, untuk rumah tangga Adi dan Adinda.


"Makan belum, Bang?" tanya Adinda dengan menggandeng lengan suaminya. Ia merasa perih di bagian intinya, saat dirinya berjalan.


"Belum siang sih. Makan roti tawar sama minum teh aja, pas sebelum tidur itu." jawab Adi dengan mengayunkan langkah kakinya dengan pelan, agar bisa mengimbangi langkah kaki istrinya.


"Aku siapin, ya. Tapi masakan ibu, aku tak sempat masak. Aku baru sempat giling baju aja, eh udah keburu mau BAB dan malah sakit macam ini." ungkap Adinda kemudian. Lalu ia dibantu untuk duduk oleh Adi, di sofa ruang tamu.


Givan menangis karena meminta gendong pada neneknya, sedangkan neneknya tengah sibuk mengurusi cucu barunya. Karena Adinda belum bisa memandikan sendiri anaknya. Waktu bayi Givan pun, Adinda baru berani mengurus Givan sendiri. Saat Givan berusia satu bulan.


"Nanti aja, biar bareng sama Adek." sahut Adi, lalu ia beralih untuk melihat anaknya dalam gendongan ibu Risa tersebut.


"Ya ampun, Nak. Hitam, merah kau. Udah macam biji saga." ucap Adi, karena saat itu anaknya tengah menggeliatkan tubuhnya.


"Heran aku… Zuhra ngatain Ghifar, sihitam dari gua hantu. Papahnya sendiri ngatain macam biji saga. Padahal jelas loh Bang, dia macam Abang. Berarti secara tidak langsung, Abang ngejek diri Abang sendiri." sahut Adinda, mau bagaimana pun juga. Ghifar adalah anak Adinda sendiri, ia tidak terima jika seseorang meledek anaknya.


Adi terkekeh geli, kemudian langsung mencium pipi Adinda gemas. Sontak ibu Risa memalingkan wajahnya, ia merasa malu melihat anak dan menantunya bersenda gurau mesra seperti itu.


"Nih, pegang Ghifarnya. Ibu mau lanjutin nyuci. Itu tinggal jemur aja kan?" tanya ibu Risa dengan memberikan Ghifar ke pangkuan Adinda.


"Biar Adi aja, Bu. Ibu di sini aja sama Dinda." balas Adi dengan langsung berdiri dan berjalan ke arah belakang. Ia tak mau menyusahkan orang tua. Adi pun paham, harusnya ia bangun lebih pagi. Agar ia bisa menyelesaikan pekerjaan Adinda. Supaya ibu Risa tak perlu mengerjakan tugas Adinda, itu malah membuat Adi tak enak hati pada mertuanya sendiri.

__ADS_1


Lalu Adi langsung mengerjakan tugas istrinya yang terbengkalai. Kenapa setelahnya, ia menyiapkan makanan untuk Givan. Ia ingat, sebentar lagi sudah saatnya Givan untuk makan siang.


~


~


~


Satu bulan kemudian


Adi tengah merasakan sakit kepala, karena menghadapi serangan fajar kembali. Bukan hal yang mudah, untuk Adi meredam rasa itu. Sudah dua kali dirinya bermain dengan sabun, saat Adi sudah tak bisa menahan kebutuhan biologisnya. Tentu dengan memutar video pribadi, yang pernah ia buat dengan Adinda. Agar ia bisa membayangkan, bahwa dirinya tengah bermain bersama istrinya.


Adi berjalan menghampiri Adinda yang tengah mengASIhi anaknya. Adi mencium pipi tembem anaknya, lalu ia mencium pipi Adinda.


"Ya ampun, Dek." ucap Adi dengan menundurkan kembali wajahnya.


"Apa sih, Bang? Udah selesai kah olahraganya? Sana cepet cuciin beras dulu! Katanya tak enak, kalau ibu yang ngerjain tugas-tugas aku. Ini tanggung, Ghifar lagi minta nyonnyon dulu." ketus Adinda dengan melirik tajam pada Adi.


"Keramas sih tak apa kali, Dek. Adek kuat betul, udah sebulan tak keramas." ucap Adi dengan duduk di sebelah istrinya.


"Waktu Givan aku sampek 40 hari. Memang katanya aturannya macam itu, Bang." sahut Adinda dengan cengengesan. Ia sendiri pun sebetulnya tak tahan dengan bau rambutnya sendiri. Tapi apa boleh buat, ada ibunya di sini. Ia paham ibunya pasti akan memarahinya.


"Ya udah, Abang ikut aja. Dek, boleh kali e*ut sih. Pusing kali Abang, tak semangat nih dalam menjalani hidup." ungkap Adi dengan mengelus Adi's bird, yang masih terbungkus dengan celana trainingnya.


Adinda memukul pelan tangan Adi, "Enak di Abang aja, aku tak dapat apa-apa nanti." jawabnya kemudian, lalu Adinda memanyunkan bibirnya. Membuat Adi terkekeh geli melihatnya.


"Ya udah lah, Abang nyabun dulu aja. Masa ia Abang disuruh colok Adek, mana bisa Abang tahan kalau cuma colok sama jari." balas Adi dengan berjalan ke dalam kamar mandi yang berada di kamarnya. Adinda menggelengkan kepalanya, dengan tersenyum samar. Ia tak menyangka, bahwa suaminya terang-terangan berkata akan bermain dengan sabun pada dirinya.


TBC.


Kasian ya bang Adi 😆

__ADS_1


__ADS_2