
"Bang…" Adinda dengan menoleh ke arah suaminya, yang fokus pada jalanan di depannya.
"Apa, Dek?" sahut Adi dengan menggenggam tangan istrinya, sesekali ia menoleh ke arah istrinya tersebut.
"Aku tak mau anak kita meninggal di dalam" ucap Adinda dengan wajah murungnya.
"Abang juga tak mau, kalau anak kita sampek meninggal di luar." sahut Adi membuat Adinda menahan tawanya.
Lalu ia memukul paha suaminya, "Serius loh aku, Bang." balas Adinda dengan mengerucutkan bibirnya.
"He'em, Abang pengen anak kita baik-baik aja sampek masanya dilahirkan nanti. Adek juga baik-baik aja, sehat-sehat aja sampek jadi nenek-nenek nanti." terang Adi kemudian.
Mereka terdiam sejenak, tak ada suara lagi yang terdengar. Hanya suara klakson, juga deru mesin kendaraan yang saling mendahului.
"Heran aku, kenapa aku bisa hamil? Padahal Abang buang di luar." ucap Adinda saat suaminya memberhentikan kendaraannya di lampu merah.
"Masa itu, Abang betul kelupaan buat buang luar. Abis kita berantem, siangnya kan Abang minta jatah. Perasaan enak betul, mana pas keluar rasanya lega kali. Pas Adek tepuk-tepuk punggung Abang, sambil tanya keluar belum itu. Abang baru ingat, kalau Abang mesti keluarin di luar." jelas Adi dengan rasa bersalahnya.
"Jadi anak ini anak lupa cabut? Semoga nanti Abang tak lupa jumlah anak kita berapa." tutur Adinda yang terdengar seperti menggerutu.
Adi terkekeh kecil, "Anak sih tetep anak kita, tetep benih Abang. Namanya orang lupa cabut, ya macam mana? Adek juga hari itu keenakan betul, dua ronde nyambung. Mulutnya minta udah, tapi dibawahnya masih ngeremas-remas aja." tukas Adi membuat Adinda merasa malu sendiri.
"Jadi cek in dulu aja kah?" tanya Adinda saat Adi melajukan kendaraannya kembali.
Adi melirik cepat pada istrinya, lalu tangannya menarik pipi kanan istrinya.
"Resiko loh, Dek. Abang tak mau, takut Adek sama calon bungsu kenapa-kenapa." jawab Adi yang masih bisa mengalahkan Adi's birdnya yang berdiri dalam celananya tersebut.
"Aku gatal." aku Adinda dengan tawa renyahnya.
"Is, tak patut mamak macam kau!" sahut Adi dengan tersenyum lebar.
"Rasa-rasanya, aku tak yakin ini yang bungsu Bang." balas Adinda yang membuat Adi terbahak seketika.
"Adek tau suaminya gampang lupaan, kenapa tak pakek KB aja biar aman? Segala malah milih cabut singkong. Asal Adek tau aja, Abang tersiksa setengah enak gara-gara cabut singkong itu. Adek aja kalau mau keluar, minta yang dalam yang cepat. Ini Abang pas lagi dipuncak, disuruh dicabut terus dikocokin tangan. Adek macam psikopat kau, Dek. Tak tau kah kenikmatan buang dalam, hah? Plong, lega rasanya." ungkap Adi dengan wajah yang dibuat kesal.
"Udah deh jangan iklan!" ujar Adinda yang membuat tawa mereka menggema dalam mobil tersebut.
__ADS_1
~
~
~
Satu bulan kemudian
"Bisa tak kau bawa anak-anak sebanyak ini, Din?" tanya ibu Meutia yang tengah mengantarkan mereka ke bandara.
"Iya, Tuh! Udah lah di sini aja, kita masih kangen sama cucu balonku ini." timpal pak Dodi yang masih menggendong Ghifar dalam dekapannya.
"Opah sama Omah main lah ke sana, aku mesti sekolah lagi ini. Aku harus pandai, harus jadi sarjana yang banyak S-nya." sahut Givan dengan wajah seriusnya.
Beberapa bulan ia harus berganti sekolah, memberinya pengalaman tersendiri di sekolah baru tersebut. Tapi ia tetap, ingin bersekolah di kampung halaman ayah sambungnya tersebut.
"Dingin nanti sarjana banyak esnya. Jadi dokter aja ya, macam abi Haris kau itu. Dapat pahala, dapat gaji juga." balas ibu Meutia dengan memberikan cucu tertuanya beberapa lembar uang berwarna biru.
"Aku mau jual kopi di banyak kota, pulang-pulang nanti bikin Mamah sama Papah pangling." tutur Givan dengan tersenyum, karena jumlah uang yang diberikannya berjumlah lima lembar.
"Kirain pulang-pulang bawa istri cantik." timpal Adi yang mendapat delikan tajam dari orang terdekatnya tersebut.
"Dibagi sama adiknya loh itu, Bang." ucap Adinda dengan menunjuk pada uang yang masih dihitung oleh anaknya tersebut.
"Is, tak patut! Omah bagilah sendiri ke adik-adik aku, ini aku punya." ujar Givan dengan berbalik menatap nenek dari pihak ayahnya tersebut.
"Iya, iya! Itu kau punya, yang lain biar dapat susu formula aja nanti. Nanti kalau ketemu papah Hendra kau itu, mintalah uang yang banyak!" tutur ibu Meutia yang membuat Adi dan Adinda saling memandang satu sama lain.
"Udah ada tabungan pendidikan yang tiap bulannya bertambah, sama tanah lahan dua puluh bata dari papahnya." jawab Adinda dengan rasa tak enaknya.
"Berapa ukuran perbata, Bang?" tanya ibu Meutia dengan memperhatikan Adi yang tengah menggendong kedua anak kembarnya.
"1 x 14, yang satu bata." jawab Adi kemudian.
"Hmmm…. Lebih besaran kau dapat dari Papah Adi, Bang. Dari Papah Adi kau ada empat hektaran, tentram kau sampek dewasa nanti. Doain ya, semoga Papah Adi lancar terus usahanya. Biar adik-adik kau juga kebagian hasilnya juga, biar masa depannya aman juga. Kan tau sendiri, kau pasti tak mau bagi ladang kau itu untuk adik-adik kau itu. Bang Givan kan pelit." ungkap ibu Meutia yang tengah masih ingin berbincang dengan cucunya tersebut, sebelum pesawat yang mereka naiki take off.
"Ok, nanti aku bantu Papah di ladang. Biar ladang aku tak diminta adik-adik aku." sahut Givan yang membuat mereka tertawa bersamaan.
__ADS_1
"Tuh denger tak? Yuk berangkat." ajak Adi, setelah mendengar seruan suara dari pihak penerbangan tersebut.
Adi dan Adinda mencium tangan ibu Meutia dan pak Dodi, diikuti dengan Givan juga adik-adiknya. Lalu ibu Meutia mencium cucu-cucunya kembali, dengan begitu gemas.
"Awas kelupaan, Di. Ini anak kau ada lima, dua kau gendong, dua nih dimasukin lagi ke kereta dorong bayi, satu kau gandeng. Awas, bek tuwoe!" pak Dodi mengingatkan anaknya kembali, ia khawatir film Natal yang ditontonnya kemarin terjadi pada cucunya.
"Iya, Yah. Tenang aja." balas Adi dengan tersenyum lebar.
"Kita pamit dulu ya, Yah, Mi. Assalamualaikum…" ujar Adi dan Adinda hampir bersamaan.
"Ya, hati-hati. Wa'alaikum salam." sahut ibu Meutia dan pak Dodi.
Lalu Adi dan Adinda langsung berjalan menuju pintu yang telah ditunjukkan, dengan Givan yang senantiasa menggandeng tangan ayahnya tersebut. Sedangkan Adinda, fokus menyeimbangkan kereta dorong bayi, yang berisikan Ghifar dan Icut tersebut.
...T A M A T...
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Serasa tak punya hutang, plong lega rasanya. 😝
Jadi gimana nasib janin 6 minggu, yang dikandung Dinda itu?
Gimana juga akhir pelarian Maya menggondol 4.8 M tersebut?
Kira-kira gimana ya keseruan anak-anak Adi dan Dinda kelak? Apa masih suka baku hantam juga?
Givan yang tak mau berbagi, Ghifar yang suka naik pitam, Icut yang cengeng, kembar yang apa ini? Belum keliatan ya, karena masih sifat bayi. Belum jelas mereka bakal kek gimana nantinya.
Maaf ya sebelumnya, pernah ada masalah up dobel itu. Terus beberapa hari gak up juga, lagi repot, plus gak ada kuota juga sebenernya. 🤭
Insyaallah, bakal disambung lagi di kisah selanjutnya. Untuk sekarang, masih dipersiapkan naskahnya. Semoga penggemar Adi's bird masih setia, eh Adi Riyana maksudnya 🤦♀️
Semoga kalian tetap diberikan nikmat sehat, semoga keuangannya lancar terus, usahanya meningkat, makin berbakti pada suaminya dan orang tua, juga jangan lupa jumlah anaknya yah 😆
Terima kasih, telah sudi mendukung Author sejauh ini. Terima kasih, untuk masukkan dan kritikannya juga. Bye, bye… sampai ketemu di kisah selanjutnya.
...Wassalamu'alaikum wr.wb...
Nyambung PENGUMUMAN di sini, biar kalian gak susah lagi cari informasinya. Lanjutan cerita ini udah ada, bahkan udah tamat. Ayo langsung saja ketikan judul, Belenggu Delapan Saudara, untuk season 3nya. Dengan cover dan deskripsi yang seperti ini ya 😁
__ADS_1