
"Terserah Adek aja udah. Resiko tanggung sendiri!" putus Adi setelah menghela nafas panjangnya.
"Ok, aku pump ASI dulu ya. Jagain ya Givan sama Ghifarnya." ucap Adinda dengan bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju ke kamarnya.
'Dek… Dek… fix dosa besar, Dek.' gumam Adi dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali.
~
Dua jam kemudian, Adinda sudah melajukan mobil milik suaminya dengan senyum lebar yang terpatri. Sedangkan Adi dan Zuhra berada di rumah, untuk mengurus anak-anak Adinda.
"Artis-artis aja banyak kok Bang yang udah perawatan lagi setelah melahirkan, meski belum siap nifas." ujar Zuhra dengan membereskan mainan Givan yang berserakan di ruang tamu. Sedangkan Adi tengah menggendong Ghifar, dengan mengajak Givan mengobrol.
Adi menoleh pada Zuhra, "Bukan masalah perawatannya. Keramas boleh, yang penting kan tak diniatkan untuk mandi besar. Dandan juga boleh, tapi masalahnya di Abangnya." tutur Adi yang membuat Zuhra bingung.
Zuhra menatap heran pada kakaknya, "Memang Abang kenapa?" tanyanya dengan menggaruk kepalanya.
Adi hanya melirik sekilas pada Zuhra, tetapi tak menjawab pertanyaan adiknya barusan. Ia lebih memilih untuk mengajak anak-anaknya bercengkrama.
~
Pukul sembilan malam, Adinda baru tiba di rumah. Tentu saja hal itu membuat Adi marah besar.
"Ingat pulang juga kau, Dek!" seru Adi, saat Adinda baru memasuki rumahnya.
Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Adinda langsung mengambil alih Ghifar yang tengah menangis kejar.
Namun, Adi menangkap sesuatu. Harumnya aroma tubuh istrinya, membuatnya lupa akan kesalahan Adinda.
Adinda langsung membuka kancing kemejanya, untuk bisa mengASIhi anaknya. Saat itu juga, Adi merasakan aliran darah terpusat di tengah-tengah tubuhnya.
"Mandi gih, Abang pusing bau wangi Adek." tutur Adi dengan menyandarkan tubuhnya pada sofa dan mata yang terpejam. Ia berusaha untuk tidak meladeni, akan rasa yang ia rasakan sekarang.
"Pusing apanya? Biasanya Abang suka bau madu kek gini, pas aku balik perawatan." tukas Adinda tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Udah makan belum?" lanjut Adinda memberikan perhatian pada suaminya.
"Udah semua. Gih tidur, Abang mau keluar dulu ya. Mau cari angin." jawab Adi dengan bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu rumahnya.
__ADS_1
"Mau kelayapan?" sahut Adinda, saat Adi memegang gagang pintu.
Adi menghela nafasnya, "Tak, Dek. Ya udah Abang tak jadi. Gih sana masuk kamar, tidur udah malam." balas Adi dengan memutar tubuhnya menghadap istrinya.
Adinda mengangguk, kemudian berlalu memasuki kamarnya. Dengan Adi yang memijat pangkal hidungnya, ia merasa kekhawatirannya akan terjadi.
Lalu ia berinisiatif memeriksa kembali pintu rumah dan jendelanya, agar pikirannya teralihkan.
'Keknya Dinda udah tidur. Udah sejam dia di kamar, pasti bareng ngeces sama anaknya.' gumam Adi saat melintasi pintu kamarnya.
Namun, saat ia masuk ke dalam kamarnya. Adi malah menemukan istrinya masih menyusui anaknya, dengan posisi miring ke kanan. Membuatnya bisa melihat jelas tubuh istrinya, karena pakaian Adinda yang tersingkap.
"Kuat kali dia nyon-nyon, padahal tadi aku pump juga banyak." ungkap Adinda dengan wajah lelahnya, terlihat sekali ia begitu kelelahan dengan posisinya sekarang.
Adi hanya mengangguk, kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur sisi kiri. Sedangkan anaknya berada di tengah tempat tidur, dengan Adinda berada di paling kanan.
"Bang, kok diam aja? Ajak ngobrol kek." ucap Adinda, saat Adi memejamkan matanya.
"Udah jam 10, Dek. Cucian Abang besok banyak, belum nanti bantuin Adek masak dan Abang harus ke ladang juga." sahut Adi beralasan, meski sebenarnya bukan hal demikian alasannya.
"Mulus kok, Dek. Kok bilangnya disetrika? Dasar caper!" ketus Adi membuat Adinda terkekeh geli.
"Bukan disetrika pakek setrikaan baju juga, Bang." balas Adinda dengan tawa tertahannya, karena khawatir anaknya terbangun.
"Kirain pakek setrikaan baju, Dek. Bisa bahaya aset Abang nanti." ucap Adi kemudian. Lalu ia menoleh pada anaknya, terlihat pucuk dada istrinya sudah terlepas dari mulut sikecil.
Yang entah mengapa, malah membuat senyum Adi mengembang.
"Udah berapa lama nifas, Dek?" tanya Adi kemudian, dengan menyelimuti tubuh anaknya dengan kain jarik yang menjadi alas tubuhnya.
"31 hari kan kalau tak salah." jawab Adinda dengan melepaskan bajunya, kemudian membuka pengait penutup dadanya. Membuat Adi tak habis pikir dengan tingkah istrinya.
"Mau ngapain, Dek?" tanya Adi kembali, dengan masih memperhatikan istrinya yang melepaskan pakaiannya satu persatu.
"Salin, aku tak nyaman tidur pakek baju dari pagi. Aku mau sikat gigi dulu, tak mandi lagi. Udah malam, takut masuk angin." ungkap Adinda dengan meloloskan sisa pakaiannya, dan berjalan menuju kamar mandi.
'Pungo betul istriku, ya Allah. Niat betul dia ngegoda. Tau mau masuk ke kamar mandi, kenapa tak sekalian buka baju di kamar mandi? Tak tau kah suaminya lagi nahan-nahan dari tadi? Mana udah sepuluh hari lebih tak dikeluarkan lagi. Tak yakin aku malam ini tak c*li lagi.' gumam Adi dengan mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Adi mengelus Adi's bird dengan tangannya, rasanya ia sudah tak tahan lagi untuk menahan kebutuhan biologisnya.
Adi melangkah menuju kamar mandi, ia ingin tahu sendiri apakah istrinya masih menggunakan bantalan kapas atau tidak dalam segitiga tipisnya.
Ceklek…
"Kaget aku. Mau kencing kah?" tanya Adinda dengan mulut penuh busa pasta gigi. Ia tengah menyikat giginya di depan wastafel kamar mandi.
Adi menelan ludahnya sendiri, saat melihat istrinya hanya mengenakan segitiga tipisnya saja.
Tangannya terulur, meraba persis di bagian inti istrinya yang masih terlapisi kain tersebut.
"Heh, ngapain?" ucap Adinda setelah berkumur.
"Tak pakek pembalut, Dek?" tanya Adi dengan menarik kembali tangannya dari inti istrinya.
"Tak, bersih dari kemarin. Jadi aku malas pakek pembalut." jawab Adinda dengan menghapus busa yang tersisa di mulutnya.
Lalu Adinda meraih sabun cuci muka miliknya, kemudian membasuh mukanya.
"Mau ngapain sih?" tutur Adinda, saat melihat suaminya dari cermin yang berada di hadapannya. Terlihat Adi mengawasi istrinya dari belakang tubuh istrinya.
"Tak, tak mau ngapa-ngapain." tukas Adi dengan melangkah ke luar kamar mandi. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
'Dinda udah bersih, tapi belum 40 hari. Macam mana enaknya? Tapi aku udah tak tahan betul. Dinda dicolek-colek, dihantam sedikit juga keknya oleng deh. Dia tak mungkin bisa nolak aku.' gumamnya dalam rasa bimbangnya.
Adi memiringkan tubuhnya, menghadap ke tempat anaknya yang tengah tertidur pulas.
"Papah tuh sabar loh, Nak. Tapi emak kau yang nampaknya gatal betul, goda iman tak tau kira. Kemarin untung-untungan di masih bau, karena tak keramasan sampek satu bulan full. Nah sekarang, udah wangi mana ternyata nambah mulus lagi aja dia. Kena wanginya aja Papah udah oleng, apa lagi tadi liat live show pakaian terlepas. Udah sampek di batang keknya saudara-saudara kau ini, Nak." ucap Adi lirih, dengan membelai wajah anaknya dengan jempol tangannya.
Terdengar suara langkah kaki, Adi langsung menoleh ke sumber suara kaki itu berasal.
Ia menemukan istrinya yang sudah memakai kemeja berwarna biru dongker, tanpa mengenakan bawahan. Reflek Adi menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Alahay dara, Adindaku sayang……
......................
__ADS_1