
Adi menyambungkan panggilan video pada Jefri terlebih dahulu.
"Ya, Di. Apa hal? Aku mau tidur ni." ucap Jefri, dengan gambar yang belum jelas.
"Ayah…" panggil Givan terdengar begitu manja.
"Hai, Nak. Sehat Bang? Macam mana papah Adi sama Abang? Suka pukul-pukul Abang tak?" tanya Jefri beruntun. Pasalnya ia jarang sekali mengobrol langsung dengan Givan. Saat Jefri sengaja menelpon Adinda, pasti Givan tengah sibuk bermain dan tak mau diganggu.
"Aku jatuh di atas piring." jawab Givan mulai mengadu, pada seseorang yang ia sebut dengan panggilan ayah tersebut.
"Kok bisa? Piringnya besar sekali kah? Terus Abang dikasih bumbu apa di atasnya?" sahut Jefri bingung. Karena jelas yang dibayangkannya adalah Givan yang terhidang sedap di atas piring.
"Kau masih waras kan, Jef? Kau tak sangka anak aku sejenis nying-nying kan, Jef?" ujar Adi yang menyimak. Nying-nying adalah kata-kata yang biasa mereka gunakan, untuk menyebutkan anak tikus yang masih merah.
"Memang kau doyan makan nying-nying dikasih bumbu spicy?" tanya Jefri random.
"Kau tak jelas betul! Ini anak aku yang lagi dibahas. Segala nying-nying kau bawa-bawa!" seru Adi dalam panggilan videonya.
"Perasaan tadi kau dulu yang nyebut nying-nying duluan. Kok aku pulak yang kau salahkan." sahut Jefri dengan terkekeh kecil.
"Ya segala kau bilang nying-nying bumbu spicy. Mual kali aku bayangin." balas Adi sewot. Jefri semakin tertawa mendengar ucapan Adi.
"Hoek…."
Suara tenggorokan Adi, yang merasa mual. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi. Berniat untuk meludah.
"Kenapa tuh papah kau, Bang?" tanya Jefri, saat ponsel Adi diambil alih oleh Givan.
"Lagi ngidam." jawab Givan yang membuat Jefri tertawa geli.
"Jantan mana bisa ngidam. Betina Bang yang bisa beranak." sahut Jefri kemudian.
"Ohh, jadi ini manusianya yang ajarin anak aku nyebut perempuan dengan sebutan betina. Benar-benar ya kau, Jef." balas Adi yang ternyata sudah kembali.
"Bukannya kita sering nyebutin macam itu, Di?" tutur Jefri merasa dirinya tak bersalah.
"Ya ini kan anak-anak, Jef. Kasar betul didengar telinga." tukas Adi jelas.
"Ok, terserah kau. Aku mengalah padamu." ungkap Jefri sedikit drama. Membuat Adi geli sendiri.
"Telepon abi aku juga, Pah." ucap Givan langsung, dengan menoleh pada Adi.
"Bentar Jef. Mau nyambungin ke Haris dulu." ucap Adi memberitahu. Jefri langsung mengiyakan.
Tut, tut, tut.
Tiga panggilan terlewatkan begitu saja. Haris masih belum mengangkat panggilan video dari Adi.
__ADS_1
"Udah tidur kali, Di." ujar Jefri menebak.
"Ayo telepon lagi abinya." rengek Givan dengan menggoyangkan lengan Adi. Adi mengangguk, dan menuruti permintaan anaknya.
Tut, tut.
Kemudian langsung tersambung pada Haris. Namun gambarnya nampak tak begitu jelas.
"Ganggu aja sialan! Aku lagi di atas Alvi. Tak bisa kah kau pengertian sedikit? Apa mau tengok aksi live aku?" ungkap Haris dengan suara memburu.
"Papah… aku disial-sial." suara Givan mengadu pada Adi.
Berbeda dengan Adi dan Jefri yang berseru bersamaan, "ASTAGFIRULLAH." suara mereka terdengar begitu kompak.
"Bentar, Dek." suara Haris yang berbicara pada Alvi.
"Ada apa?" tanya Haris, dengan gambar yang mulai terlihat jelas. Haris nampak bercucuran keringat. Dengan nafas yang belum stabil. Ia seperti habis berlari mengitari lapangan bola.
"Abi…" panggil Givan pada Haris.
"Hai Bang." sahut Haris seperlunya.
"Aku jatuh di atas piring." balas Givan mengadu pada Haris.
"Hah? Jatuh di atas piring macam mana?" tanya Haris bingung bercampur kaget. Karena ia tahu tentang anak itu. Jika ia sudah mengadu, pasti ia merasakan sakit pada tubuhnya. Itulah Givan saat tubuhnya sakit. Ia pasti akan mengadu, pada orang terdekatnya.
"APA???" pekik Haris dan Jefri bersamaan. Pasalnya Jefri pun sedari tadi belum mengetahui kebenaran dari ucapan Givan. Yang mengatakan dirinya jatuh di atas piring.
"Kau ngapain aja, Di? Teledor betul!" maki Haris cepat.
"Bisa fatal loh, Di!" tambah Jefri menimpali.
"Kenapa kau tak kasih dia wadah dari bahan plastik aja, Di?" tanya Haris pada Adi.
"Lagi ada acara empat bulanan Dinda. Aku tak tau dia bawa-bawa piring. Mana sambil lari-lari lagi." jawab Adi memberitahu mereka.
"Memang tak becus kau jadi orang tua. Biar aku aja yang jadi papahnya." ujar Jefri pada Adi.
"Adik aku mau kau kemanakan, Sialan?" sewot Adi berseru.
"Aku kapan ngomongnya? Dari tadi Papah, Ayah, sama Abi terus yang ngomong." ungkap Givan dengan wajah merengut.
"Nih, nih." ujar Adi dengan menghadapkan ponselnya persis di depan Givan.
"Mana yang sakit, Bang?" tanya Jefri pada Givan.
"Ini, mana om dokternya kasar betul Yah. Terus ngomong terus, katanya tak boleh nangis." jawab Givan.
__ADS_1
"Terus sekarang macam mana?" sahut Haris.
"Sakit sekali, Bi. Aku tak bisa bobo." balas Givan.
Lalu mereka melanjutkan obrolan mereka, seputaran membahas tentang luka Givan. Dengan beberapa saran yang Jefri dan Haris berikan.
~
Beberapa hari berlalu, disertai dengan rengekan dari Givan yang tiada hentinya. Adi pun melupakan ucapannya pada Adinda, yang mengatakan akan menghubungi ibunya. Begitupun Adinda, ia sampai sekarang belum mengabari orang tuanya. Perihal tentang kehamilannya, yang semakin membesar.
Hari ini, obat yang Givan minum telah habis. Dan waktunya ia kembali ke rumah sakit, untuk mengecek kembali keadaan lukanya. Hari ini pun dokter kandungan Adinda telah menjadwalkan vaksinasi tetanus toksoid. Atau dokter biasa menyebutnya (huruf T dobel, terus kasih angka 1 ya. soalnya kena sensor 🤣). Yang diberikan saat kehamilan empat bulan, dan diulangi kembali saat kehamilan delapan bulan atau **2.
"Bang, sebetulnya aku takut divaksin. Gimana kalau aku tak perlu vaksin? Dulu hamil Givan, aku udah divaksin dua kali kok." ungkap Adinda dalam perjalanan mereka menuju rumah sakit.
"Tak sakit kok, Dek. Dokter juga udah jelaskan kan fungsinya vaksin itu? Dan Adek juga lebih paham kan tentang masalah itu?" ucap Adi mencoba menenangkan.
Adinda mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Lalu ia pun menyahutinya, "Aku waktu **1 sampai mandi keringat, pusing, mual, terus demam tiga hari, tangannya sakit satu minggu. Aku sampai nangis terus, Bang. Abang tak mau kan, kalau aku sampai tersiksa macam itu?"
Adi tersenyum samar, sifat istrinya yang dulu tak pernah terbayangkan olehnya. Malah menjadi hiburan tersendiri untuk Adi. Ia tak menyangka setelah mengetahui istrinya tak hanya cengeng, tapi juga penakut dengan jarum suntik dan alat-alat medis. Seperti jarum infus dan lain sebagainya.
"Itu kan memang karena Adek cengeng." balas Adi yang mendapat tinjuan ringan di lengannya.
"Aduh…." seru Adi, lalu ia tertawa pecah. Saat melihat wajah istrinya yang cemberut, dengan bibir mengerucut ke depan.
"Nanti aku tak mau nyuci, nanti tangan aku tambah sakit." ujar Adinda mengancam Adi.
"Iya tak perlu nyuci, tak perlu beres-beres. Adek ngangkang aja." sahut Adi berbisik pada Adinda, saat mobilnya tengah berhenti di lampu merah. Karena Givan berada di pangkuan ibunya, dan ucapan Adi cukup fulgar. Jadi ia membisikannya pada istrinya.
Adinda langsung menoleh dengan tatapan tajamnya. Dan mencubiti tubuh suaminya, telinga Adi pun tak luput dari sasaran kekesalan Adinda.
"Aduh, aduh… Ampun, Sayang." tutur Adi memohon, dengan kekehan kecil yang menyertainya.
"Heran aku sama Abang. Pikirannya ke situ terus. Nanti aku nifas empat puluh hari, baru tau rasa." tukas Adinda ketus.
Adi langsung menoleh cepat pada istrinya. Jelas ia membayangkan dinginnya malam-malamnya, tanpa bisa bersarang di dalam istrinya.
"Bisa dikorting tak?" tanya Adi dengan ekspresi nelangsanya.
Adinda melirik ke arah suaminya sekilas, lalu ia menutup mulutnya dengan tertawa geli. Ia merasa sangat geli, melihat ekspresi yang Adi pasang sekarang.
TBC.
Janji laki-laki yang sering dilanggarnya sendiri, "Aku janji gak akan nyentuh kamu sampai empat puluh hari." 😆
Nyatanya, satu bulan udah ngelobi terus 🤣
Eh apa ini, Adi keknya sengaja ya mau jadiin Adinda selingkuhan. Apa bagaimana?
__ADS_1
Udah dia gak cerita ke umi, padahal ia udah janji sebelum nikah juga. Dasar jantan! Janji-janji aja 😏