
"Ya, Bang. Bentar." seru Adi dengan memakai c*l*na d*lamnya kembali, kemudian langsung mengenakan sarung yang berada di jangkauannya. Karena ia merasa begitu tersiksa, jika memakai celana jeans kembali.
Ceklek…
Adi membukakan pintu kamarnya, lalu seseorang langsung memeluknya erat dengan tubuh dingin dan menggigil.
"Abang…. Tolongin aku…" ucap Zuhra begitu lirih. Ia merasa begitu sangat tersiksa dengan ketergantungan ini.
"Habis kah obat dari psikiaternya?" tanya Adi dengan mendekap erat tubuh adiknya. Ia pun pernah merasakannya sendiri, saat obat dari penawarannya sudah tak ia konsumsi kembali.
"Dua minggu sekali kan memang habis, terus aku wajib datang lagi. Tapi udah lewat empat hari, dari waktu yang udah dijadwalkan. Aku belum ke sana lagi." sahut Zuhra dengan masih memeluk kakaknya begitu erat.
"Maafin aku, Bang. Aku pasti ganggu." lanjutnya yang menyadari akan sesuatu yang mengeras di balik sarung kakaknya, yang ia rasakan.
"Hmm… kan Abang udah kata, minta Safar antar. Kalau Safar genit sedikit, ya wajar Dek. Namanya juga laki-laki. Tapi Abang yakin, Safar tak mungkin seberani itu sama kau. Kaunya sendiri yang sungkan-sungkanan, padahal apa-apa kau tinggal bilang aja sama dia. Biar masalah bayar atau yang lain, itu urusan Abang sama dia. Kalau udah gini, macam mana coba? Mana tengah malam lagi." ucap Adi begitu ketus.
Karena bukan sekali dua kali saja, Adi meminta Zuhra untuk menghubungi Safar. Jika dirinya tak bisa, tapi Zuhra malah tak menghiraukan perkataan Adi. Terjadilah hal seperti ini, ia sakau di waktu yang tidak tepat.
"Dek, tolong telponin Safar." seru Adi dengan menoleh ke belakang. Karena Adinda masih berada di dalam kamar mereka, dengan Adi dan Zuhra berada di ambang pintu.
"Ya, Bang." sahut Adinda dengan membawa ponselnya, "Suruh selimutan aja dulu, Bang." lanjut Adinda setelah sampai di depan mereka.
Adi mengangguk, kemudian membawa Zuhra masuk kamar.
"Nih, Bang. Udah tersambung." ujar Adinda, dengan menyerahkan ponselnya pada suaminya.
Adi menerima ponsel tersebut, dengan langsung menempelkannya pada telinganya.
"Far… bawain satu linting ke rumah." ucap Adi langsung.
Safar pun mengerti untuk siapa barang tersebut, hanya saja ia takut salah untuk membelikan barang itu.
"Detailnya, Bang?" tanya Safar kemudian.
__ADS_1
"Detail apa? Kau kira Abang suruh kau beli keramik, yang ukuran dan motifnya harus Abang jelaskan juga. Tinggal bilang aja ke Lukman, bang Adi ambil yang biasa." jelas Adi sedikit meninggi. Terkadang Safar begitu menyebalkan menurut Adi.
"Ok, Bang." putus Safar cepat. Lalu tak ada suara yang terdengar lagi.
"Ke psikiater tuh tujuannya biar tak makek lagi, Bang." ucap Adinda dengan menyentuh lengan Adi.
Adi menoleh ke arah Adinda, lalu ia membenahi selimut Zuhra. Tapi Zuhra malah mencekal tangan kakaknya, ia tak mau Adi beranjak dari jangkauannya. Ia ingin ditemani, saat dirinya berada titik terendahnya.
"Tenang, Abang tak jauh." ujar Adi dengan mengelus kepala Zuhra.
"Sini, Dek." lanjutnya dengan menepuk tempat tidurnya. Lalu Adinda berjalan menghampiri suaminya, lalu duduk di tempat yang paling dekat dengan suaminya.
"Abang paham ke psikiater itu biar tak makek lagi. Tapi… masalahnya kalau udah macam ini ya susah, Dek. Zuhra tak bakal bisa tidur berhari-hari, menggigilnya lebih buruk. Ditambah lagi badannya nanti lecet, karena garukan kukunya. Rasanya pasti gatal betul dia, Dek. Abang mohon pengertiannya, ya. Abang pun sadar, tak akan berkah kalau terus-terusan kasih Zuhra gele. Tapi ini mendesak, untuk kebaikannya juga." ungkap Adi dengan lembut. Karena Adinda terang sekali tak menyukai Adi memberikan Zuhra barang tersebut, dengan alasan membuat Zuhra lebih ketergantungan. Ia tak paham, dengan efek yang diberikan saat pecandu membutuhkan barang.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu berulang kali. Lalu Adi berjalan menuju pintu utama.
Ia tak setega itu, membiarkan istrinya untuk membukakan pintu di tengah malam seperti ini. Ia khawatir yang datang adalah pencuri, bukannya Safar. Karena rumah mewah seperti milik Adi, rawan terjadi perampokan.
Ceklek…
"Berisik kau! Mana barangnya?" ujar Adi dengan membuka telapak tangannya. Ia ingin Zuhra segera mendapatkan yang dirinya butuhkan.
"Nih, nanti bayar loh Bang." sahut Safar dengan memberikan barang tersebut. Lalu setelah Adi mengiyakan, Safar langsung berlalu pergi.
Dengan Adi yang langsung bergegas menemui adiknya, kemudian meminta adiknya kembali ke kamar dengan ditemani olehnya.
"Adek tidur aja, ok?" ucap Adi dengan mengecup pipi istrinya sekilas.
Adinda mengerucutkan bibirnya, ia kecewa malam ini harus berakhir dengan tidur. Ia berharap suaminya bersedia menuntaskan kegiatan mereka yang tadi.
Zuhra mendahului kakaknya, ia merasa tidak enak pada kakak iparnya. Apa lagi, harus menyaksikan romansa mereka yang terganggu dengan kehadirannya.
Adinda mencekal tangan suaminya. Ia ingin suaminya tetap menemaninya di kamar, meski malam ini mereka tak bisa menyatukan rasa rindu mereka.
__ADS_1
"Dek, Abang harus tetap kontrol Zuhra." ucap Adi, saat memahami bahwa istrinya menginginkannya tetap bersamanya.
Terlihat pandangan Adinda begitu kecewa. Dengan segera ia melepaskan tangan suaminya, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Brughhhhh….
Dengan sengaja, Adinda mencurahkan kekecewaannya pada pintu yang tak bersalah tersebut.
Adi hanya bisa geleng-geleng kepala saja, lalu ia berjalan menuju kamar adiknya.
Ia hanya memperhatikan Zuhra yang tengah menikmati barang tersebut, dengan duduk di lantai dan bersandar pada ranjangnya.
Adi hanya memperhatikan Zuhra dari pintu saja. Ia tak bermaksud mengecewakan istrinya, hanya saja ia tak tega dengan kondisi adiknya. Ia tak mengerti, kenapa Adinda tak mengerti situasi sekarang. Bukannya Adinda adalah orang yang lebih pengertian sebelumnya.
Zuhra memejamkan matanya, dengan mendongakan kepalanya menghadap pada plafon kamarnya.
Adi berpikiran bahwa Zuhra sudah mulai tenang, ia sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Jangan terlalu malam. Lepas enakan terus tidur." ucap Adi menarik atensi Zuhra.
Zuhra menoleh ke arah pintu kamarnya, lalu ia menganggukkan kepalanya samar.
Saat Adi akan menutup pintu kamar Zuhra, tiba-tiba Zuhra bersuara.
"Maaf keberadaan aku malah ganggu kalian. Makasih Bang untuk semuanya. Aku pastikan, aku tak akan mengecewakan kak Dinda dan Abang. Maaf malam ini bikin Abang dan kak Dinda renggang." ungkap Zuhra dengan lirih. Namun, Adi bisa mendengar ucapan adiknya.
"Yang penting kau sembuh. Terus ingat susahnya untuk berhenti dari rasa candu itu. Kalau besok kondisi kau memungkinkan, kau ikut kak Dinda klinik kecantikannya Nurul. Dia bisa mudarin tato kau, memang agak sakit dan tak langsung hilang nanti. Butuh waktu beberapa kali kunjungan, baru bisa hilang." jawab Adi yang mengurungkan niatnya untuk menutup pintu.
Lalu, Adi meninggalkan kamar tersebut. Ia beralih mengecek anaknya. Adi tersenyum geli, saat mendengar anaknya yang ternyata tidur dengan mendengkur.
Setelah memberikan kecupan pada pucuk kepala anaknya, ia langsung berlalu keluar dari kamar.
Lalu ia berjalan ke arah kamarnya, 'Loh kok…' gumam Adi heran.
__ADS_1
TBC.