Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP26. Malam yang panjang


__ADS_3

AUTHOR POV


Adi keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Namun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kekesalannya.


"Papah, cepat salin. Terus makan di luar." seru Givan, dengan senyum yang merekah. Ia sudah berpakaian, dengan tatanan rambut yang sudah rapih juga.


"Bajunya udah aku siapin di atas kasur, Bang." ucap Adinda yang tengah memasukkan pakaian kotor ke dalam plastik.


Adi mengangguk mengerti, dan langsung mengenakan kaos berwarna hijau tua tersebut. Lalu ia mengenakan celana dalam, dengan masih memakai handuk.


Saat Adi akan memakai celana jeans hitam panjangnya. Ia terusik dengan pertanyaan dari Adinda.


"Abis c*li ya?" tanya Adinda dengan wajah yang menyebalkan.


Adi langsung menghentikan aktifitasnya, lalu mendelik tajam pada istrinya itu.


"Awas aja nanti malam!" ancam Adi tegas namun terdengar pelan.


Adinda tersenyum mengejek, kemudian ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Dengan Adi yang melanjutkan memakai celananya.


~


Mereka bertiga tengah bersenda gurau, di atas tempat tidur. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun sepertinya Givan belum merasakan tanda-tanda ingin tidur. Ini membuat Adi yang akan membalas dendam pada istrinya, harus lebih bersabar.


"Dek, tidurin dulu itu Givan!" seru Adi dengan wajah merengut.


"Orang dianya yang belum ngantuk." sahut Dinda kemudian.


"Abang mau balas dendam malah keburu ngantuk, Dek." balas Adi, kemudian ia mendapat pukulan bantal dari anaknya.


"Aduh...." seru Adi pura-pura kesakitan.


"Ayo kita berantem." ajak Givan dengan semangat. Ini bukan hal yang aneh lagi untuk mereka. Karena mereka sering melakukan permainan gulat-gulatan bohongan.


"No, no, no. Ayo emban aja. Papah ayun-ayun." tukas Adi yang langsung turun dari tempat tidur.


"Papah kenapa sih nyuruh aku tidur terus?" tanya Givan tak suka. Namun ia malah mendekati Adi, dan menuruti ayah sambungnya yang akan menimangnya itu.


"Soalnya udah malam. Udah jam sepuluh. Udah waktunya Abang bobo." jawab Adi agar Givan paham, dan tak bertanya yang lebih-lebih lagi.

__ADS_1


"Papah sambil nyanyi indal fajri, ya?" pinta Givan dengan tersenyum penuh harap.


"Masa bobo nyanyinya indal fajri. Sholawatan aja, ya?" sahut Adi kemudian.


"Ok, Pah. Yang bunyinya, sholli wa sallim daa-iman ‘alaahmadaa, wal aaali wal ash-haabi man qod wahhadaa." balas Givan, sambil bersenandung.


"Yang ada ngantuk Abang hilang." ujar Adi, membuat Givan terkekeh kecil.


Setengah jam berlalu, akhirnya Givan sudah terlelap di dalam dekapan Adi.


"Dek, Dinda. Jangan dulu tidur dong." ucap Adi, setelah memindahkan anaknya di atas tempat tidur.


"Tak, Bang." sahut Dinda dengan meladeni suaminya, yang langsung naik ke atas tubuhnya.


"Abang udah sabar betul dari tadi. Eh, Adeknya udah ngantuk macam ini. Jadi gimana ini? Mau main, apa tidur aja?" tanya Adi dengan memperhatikan wajah istrinya. Adi terlihat tak tega, karena istrinya sudah terpejam tadi.


"Terserah Abang. Kita kan sengaja liburan buat cari suasana baru. Kalau tidur sih, di rumah juga bisa." jawab Adinda dengan tersenyum samar. Sebenarnya ia mengantuk, namun ia teringat tujuannya untuk berlibur.


"Ok, main ya kita. Abang yang pegang kendali, ya? Jangan berisik minta laju aja, ok?" jelas Adi sebelum memulai permainannya.


Adinda merengut manja, "Bisa serak aku Bang." ungkap Dinda, lalu meladeni pagutan bibir suaminya.


"Ahhh…. Bang." suara Adinda keluar begitu saja.


"Pue lom? Belum apa-apa udah abang-abangan aja." sahut Adi mengejek. Pue lom, berarti apa lagi.


Terlihat Adinda sudah bermandikan keringat. Lalu ia berkata sambil membingkai wajah suaminya, "Cepet hajar aku, tuntasin nafsu Abang. Terus kita istirahat. Aku gatal betul macam ini, udah tak tahan aku Bang." ucapnya dengan suara yang tidak stabil.


Adi terkekeh geli mendengarnya, "Nikmatin, Sayang. Rileks aja, nyantai. Jangan terburu-buru, ok?" sahut Adi, dengan suara serak memberat.


"Memang bakal enak kalau aku ngikutin ucapan Abang?" tanya Adinda, dengan mengunci pergerakan Adi.


"Memang nyatanya enak tak? Intinya nikmatin aja perlakuan Abang. Dijamin Abang pasti puasin Dinda." jawab Adi begitu yakin dengan dirinya. Karena permainan yang seperti ini, sebelumnya sudah pernah dilakukan bersama Adinda. Dan berhasil membuat Adinda sangat merasa puas.


"Gini deh. Kalau tak puas, bisa diulangi lagi." lanjut Adi membuat mereka berdua tertawa renyah.


"Itu sih memang maunya Abang." balas Adinda kemudian.


"Abang mulai lagi, ya?" ujar Adi meminta persetujuan istrinya. Lalu Adinda langsung menganggukan kepalanya, tanda ia setuju.

__ADS_1


Adi memperlakukan Adinda seperti ratunya. Sampai tak segan-segan, ia menurunkan kepalanya sampai ujung jari kaki istrinya. Berharap istrinya merasa, bahwa dirinya begitu berharga di mata suaminya.


"Abang sering betul macam ini. Aku ngerasa tak sopan kali sama Abang." ujar Adinda disela d*sahannya.


Adi mengangkat kepalanya, dan memperhatikan netra istrinya.


"Adek tak paham maksud dari ini semua?" tanya Adi dengan ekspresi datar.


"Abang nafsu, gemes kan?" jawab Adinda ragu.


Adi membuka kedua kaki istrinya. Lalu ia menempatkan tubuhnya, di antara kedua kaki Adinda.


"Adek begitu berharga buat Abang. Sampai harga diri Abang, Abang turunkan tepat di kaki Adek. Pahamilah, Abang macam ini cuma sama Adek. Cuma Adek yang Abang perlakukan seistimewa ini." ungkap Adi jujur. Karena memang seperti itulah kebenarannya.


"Tak lagi ngerayu aku kah, Bang?" tutur Adinda memastikan.


"Tak, kalau ngerayu pasti kentara betul Abang lagi bohong. Ini Abang jujur sama Adek." tukas Adi cepat.


Adinda tersenyum, dan menarik bahu suaminya. Agar bisa lebih dekat dengan wajah serius suaminya. Lalu ia menikmati sesapan lembut, yang Adi jejakan pada bibirnya. Dan perlahan semakin turun ke bawah. Melewati ceruk lehernya, dan berakhir di puncak gunung milik Adinda.


"Akhhhhh……"


Suara lengguhan Adinda, yang lolos begitu saja. Karena tepat saat Adi tengah menggigit puncak gunung milik Adinda, Adi memasukkan perlahan senjata kebanggaannya.


Adi memberikan jeda, agar istrinya bisa beradaptasi dengan miliknya. Lalu perlahan ia menggerakkan pinggulnya, dengan cara bergoyang memutar.


"Ughh….." lengguhan Adi yang lolos, saat ia mencoba menahannya. Karena ia tak terbiasa bersuara. Ia tak mau terlihat lebih menikmati permainan ini daripada istrinya. Karena menurutnya ini adalah nafkah pemberiannya yang harus Adinda lebih nikmati, dibandingkan dirinya. Namun tetap saja, reflek naluri lebih membuktikan rasa yang sebenarnya.


Dan malam itu menjadi malam yang panjang, yang kesekian kalinya untuk mereka.


Berbeda dengan wanita lain yang menjadi istrinya. Ia harus tidur tanpa pelukan dari Adi. Ia harus terlelap, seperti yang dokter sarankan. Agar kandungannya tetap baik-baik saja. Karena sebenarnya, ia tengah merasakan begitu banyak pikiran. Dari hari di mana Adinda mengangkat teleponnya, sampai sekarang. Begitu banyak pertanyaan yang ia ingin lontarkan pada suaminya, Adi Riyana.


Adinda tak tahu, bahwa yang menelepon suaminya waktu itu adalah istri lain dari suaminya. Entah sampai kapan, kebenaran ini akan terungkap oleh masing-masing pihak. Karena Adi sendiri, memilih untuk merahasiakan hal ini sampai keduanya sudah melahirkan anaknya.


TBC.


Bawalah diriku oh sayang. kuingin selalu bersamamu 🤭


Sayangnya Adi maboknya Dinda. Coba kalau Adi mabok author. 🤣

__ADS_1


__ADS_2