
"Aku kurang tau, Pak. Aku cuma tau jalan lewat situ." jawab Adi kemudian.
"Ya udah, lewat yang Bapak tau aja. Dari pada nanti nyasar." sahut sopir taksi tersebut. Lalu mobil itu melaju kembali, menuju di mana ibu dari Ghifar itu berada.
~
Saat Adi berjalan menyusuri gang menuju rumah mertuanya tersebut, tak sedikit orang yang memperhatikannya secara terang-terangan. Karena dirinya yang tengah menggendong bayi, dengan mencangklek tas bayi yang berisikan beberapa keperluan untuk Ghifar. Ditambah lagi, perban kecil yang menutupi luka jahitannya. Menarik atensi mereka yang berpapasan dengan Adi.
"Assalamualaikum…" ucap Adi, setelah dirinya sampai di depan rumah tersebut.
Tok, tok, tok….
"Assalamualaikum…" ulang Adi kembali.
"Wa'alaikum salam." sahut ibu Risa, dengan membuka pintu rumahnya.
"Aduh, cucu Nenek. Sini, Di. Masuk aja, Di." ujar ibu Risa, dengan langsung mengambil alih Ghifar. Kemudian mempersilahkan Adi untuk masuk.
Ibu Risa menciumi cucunya tersebut, ia begitu terlihat senang saat bisa kembali melihat cucunya.
"Adi mau jemput Dinda sama Givan, Bu. Boleh tak?" ungkap Adi perihal kedatangannya. Ia duduk di sofa ruang tamu, tepat di seberang tempat ibu Risa duduk sembari menggendong Ghifar.
"Ada, ada. Sana jemput, bawa pergi sekalian. Terus bahagia ya di sana, gak apa lama gak pulang juga. Yang penting sehat dan bahagia terus. Kalau udah begini, pusing banget Ibu. Dinda drop, magh-nya kambuh, badannya panas juga karena ASI-nya penuh. Givan ngamuk terus, susah dikendalikannya. Suruh mandi emong, suruh makan emong, maunya gendong aja. Dia gak mau adiknya dipisahkan tuh, ibunya aja yang agak-agak. Anak-anaknya sendiri dipisah-pisahkan, tau gak sanggup pisah tapi maksain keadaan." tutur ibu Risa dengan tempo cepat. Dirinya merasa kesal bercampur aduk, karena keputusan Dinda yang tanpa pemikiran itu.
Menurut ibu Risa, harusnya Dinda meminta Adi untuk meninggalkan wanita lain dan tetap melanjutkan kehidupannya dengan anak-anaknya. Bukan malah sebaliknya, karena jelas ini bukan hanya berpengaruh pada dirinya sendiri. Tapi anak juga ikut terlibat, karena keputusannya tersebut.
"Dindanya di mana, Bu? Adi mau ngomong baik-baik sama dia." tanya Adi dengan wajah serius.
"Di kamarnya, tadi pagi abis periksa ke dokter. Karena dadanya bengkak, terus panas tinggi juga. Padahal ASI-nya udah dipompa, tapi malah terus-terusan produksi." jawab ibu Risa dengan menunjukan kamar Dinda.
__ADS_1
"Waktu di sana, Ghifar nyon-nyon tak ada berhentinya. Sekali dia hisap itu ada 2 jam lebih, siang malam kelakuannya kek gitu. Makanya tak heran ASI Dinda berlimpah, karena nyeimbangin sama kebutuhan Ghifar. Macam itu kata bidan setempat, saat Dinda periksa ujung dadanya lecet karena terus-terusan disusuin." jelas Adi tentang apa yang ia tahu, dengan masalah produksi ASI istrinya.
Ibu Risa manggut-manggut mengerti, "Ya udah, Dindanya dibujuk ya. Tapi kamu juga harus tegas, kamu pilih Dinda dan tinggalin perempuan itu. Kalau magh-nya udah kambuh begini, udah pasti lama sembuhnya. Sebelum masalahnya selesai." balas ibu Risa dengan bangkit dari duduknya.
"Mana cooler bag-nya? Ghifar Ibu ajak main ke rumah Arif, Givan juga tidur di sana semalam. Karena Ibu pusing ngurus Dinda di sini, jadi Givan sama pakdenya." lanjut ibu Risa dengan mencari tas yang Adi bawa.
"Oh, ini Bu. Nanti ASIP-nya tinggal direndam di air hangat aja. Ada diapers, minyak telon, tisu basah dan beberapa pakaiannya juga, mana tau dia buang air besar nanti." tukas Adi dengan memberikan tas yang masih berada di sebelahnya.
Ibu Risa menerima tas tersebut, "Jangan berantem, jangan pukul-pukulan lagi. Ibu gak mau kaya kemarin lagi, ngeri tau." tegas ibu Risa dengan menatap wajah menantunya tersebut.
Adi tersenyum samar dan menganggukkan kepalanya. Kemudian ibu Risa berlalu pergi, dengan memekarkan payung untuk menaungi bayi itu dari teriknya matahari.
Adi menutup tralis besi pintu utama, lalu ia menuju ke kamar istrinya.
Tok, tok, tok…
Adi tak mendapatkan jawaban, ia memutuskan untuk masuk saja ke dalam kamar istrinya. Karena dirinya pikir, ia masih suami dari istrinya. Tak mungkin berdosa, jika ia memasuki kamar istrinya tanpa izin.
Adi tersenyum haru, akhirnya ia bisa melihat wajah istrinya kembali. Terlihat Adinda tengah tertidur pulas, dengan mulut sedikit terbuka. Adi memahami karakter istrinya, yang sulit terbangun ketika sedang pulas.
Adi mendekati istrinya dan duduk di tepian tempat tidur tanpa ranjang tersebut. Ia merapikan anak rambut, yang menutupi wajah mulus istrinya.
'Kapan dia ganti warna rambut? Nampak lebih muda aja kau, Dek. Ada hitam, ada putih macam ini. Tapi pantas-pantas aja nampaknya, lebih terlihat fresh.' gumam Adi dalam hatinya, dengan tersenyum samar dan memainkan rambut istrinya.
Adinda merasa terganggu dalam tidurnya, karena seseorang yang tengah memainkan rambutnya tersebut.
Adinda menepis tangan yang berada di kepalanya tersebut, lalu ia berganti posisi menjadi memunggungi orang tersebut.
Adi tersenyum geli dengan menggelengkan kepalanya, "Bikin gemes aja." ucap Adi yang langsung membuat mata Adinda terbuka.
__ADS_1
Di alam bawah sadarnya ia masih mengingat, bahwa suaminya dan anak bungsunya sedang tak berada di jangkauannya.
Adinda memutar tubuhnya kembali dan menemukan Adi yang tengah menatapnya sembari tersenyum.
"HAH….!" pekik Adinda karena terkejut, dengan dirinya memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Ini Abang, Dek. Hah, hah, hah macam ketemu setan aja." ucap Adi dengan menegakkan punggungnya dan menggapai tangan istrinya.
Adinda langsung melepaskan cekakan tangan suaminya, sesaat setelah Adi bisa menggapai tangan dirinya.
"Sana jauh-jauh. Jijik kali aku! Ngapain pulak kau ke sini? Macam tak paham bahasa manusia aja kau!" ketus Adinda setelah dirinya berada pada posisi duduk.
Adi terhenyak mendengar ucapan frontal dari istrinya, ia tak menyangka Adinda mengatakan hal itu. Kata jijik yang begitu menikam hati Adi, terungkap langsung dari mulut istrinya.
"Dek, ngomong pelan-pelan. Kita selesaikan masalah kita. Jangan teriak-teriak macam itu, tak enak sama tetangga Dek. Kanan-kiri, depan-belakang rumah nempel sama rumah tetangga semua." ujar Adi lembut, dengan menatap wajah istrinya yang begitu terlihat murka padanya.
"Asal Adek tau aja, Abang tak pernah bers*tubuh dengan itu perempuan. Sampai hati kau ucap jijik ke suami kau sendiri!" lanjut Adi dengan membuang mukanya ke arah lain.
"Logikanya, dia bisa beranak karena diset*buhi Bang. Memang dia amoeba, yang bisa membelah diri? Memang dia sejenis cacing, hewan bersel satu yang bisa bereproduksi sendiri? Abang pikir aku sebodoh itu? Pantas aja kau rajin pulang ke kota C, tak taunya kau punya istri lain!" sahut Adinda dengan menarik sebuah bantal, lalu ia dekap dalam pelukannya.
Adi menoleh pada istrinya, ia mengamati perubahan wajah istrinya. Karena di akhir kalimat, ia mendengar suara Adinda yang sedikit menurun dan bergetar.
Adinda menghapus air matanya kasar, lalu ia memalingkan pandangannya. Saat mengetahui bahwa suaminya tengah memperhatikan dirinya.
"Sekarang gini aja. Talak aku, lepas itu masalah kita selesai. Kau bahagia sama dia dan anak kau. Jangan nambah bikin aku sakit, dengan hubungan yang cuma nguntungin kau aja Bang! Lebih baik kau cepat ceraikan aku. Berpikir dewasa, jangan cuma mikirin diri kau aja! Pikirin nasib anak-anak kau, pikiran perasaan aku, pikirin perasaan perempuan itu dan yang terpenting pikirin tuh perasaan umi. Ibu dari anak yang egois macam Abang! Yang tak punya hati dan pikiran yang sehat! Yang di mana nikahin anaknya lagi, padahal anaknya udah beristri. Atau memang anaknya yang tak punya keberanian untuk mengakui? Nampaknya aku ini aib ya, Bang? Kau semalu itu untuk jujur ke orang tua kau? Rasa-rasanya, orang tua pun punya otak. Meski memang moncongnya hanya bisa cari kejelekan manusia aja. Tapi aku yakin mereka punya pemahaman, di mana mereka tak akan menikahkan kembali anaknya setelah tau anaknya beristri. Aku tau, Bang. Aku paham sampek di sini, letak kesalahan ada sama kau!" ungkap Adinda dengan menunjuk wajah suaminya.
TBC.
Nanggung tuh 😲 Lagi seru juga berantemnya 🤭
__ADS_1