Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP197. Siapa yang mengurus Naya?


__ADS_3

"Akak tak mau urus Naya sepenuhnya. Akak belum bisa nerima dia, entah kenapa pikiran Akak jelek terus kalau tengok Naya." sahut Adinda dengan nada suara menurun.


"Terus macam mana, Kak? Aku paham, pasti ini tak mudah untuk Akak. Anggap aja ini anak titipan, Kak. Bukan anak bang Adi, biar tak bikin sakit di hati Akak." balas Zuhra dengan duduk di sebelah kakak iparnya.


"Minta tolong umi, untuk bantu urus dulu. Akak masih nyusuin kembar. Kalau Ghifar, udah tidur dari setengah jam yang lalu." putus Adinda dengan fokus kembali, pada kedua bayi yang tengah menghisap ujung dadanya.


"Ya udah, Kak. Nanti Akak ke atas aja, kalau udah nyusuin. Biar kembar, sama Ghifar tidur sama aku aja. Maaf ya, Kak. Kemarin malam aku tak bantuin Akak." ungkap Zuhra dengan menundukkan kepalanya.


"Nanti malam mereka nyusunya macam mana? Lagian kau ke mana? Kau balik lagi macam kemarin?" ujar Adinda dengan memperhatikan Zuhra yang masih menundukkan kepalanya saja.


"Ada ASIP pump kan, di kulkas kecil itu? Aku ketiduran di rumah temen, Kak. Beneran, aku tak bohong. Jadi… temen aku itu, sepupunya si Awan itu. Tadi aku ada bilang sama dia, biar Awan mau hubungi aku. Putus ya putus, biar aku juga tenang kalau mau jalanin sama yang lain." tutur Zuhra dengan sesekali memandang wajah kakak iparnya tersebut.


"Kau sebetulnya macam mana sih? Sama Nahar apa siapa?" tukas Adinda dengan mengerutkan keningnya.


"Sama bang Nahar, aku cuma temenan. Dia ada bilang sih, Kak. Tapi dia mintanya langsung nikah, bukan pacaran. Aku pun ada bilang, bahwa aku masih ada status sama orang. Aku pun jujur, Kak. Kalau aku ini sempat jadi pecandu, terus… ya, aku bilang juga kalau aku udah tak virgin lagi." ungkap Zuhra yang menarik atensi penuh dari Adinda.


"Terus macam mana?" tanya Adinda kemudian, setelah dirinya menyimak cerita dari adik iparnya tersebut.


"Awalnya bang Nahar tak hubungi aku sampek beberapa hari, tak nyamper buat subuhan juga. Tak ajak aku ngaji abis ashar juga tuh, Kak. Terus tiba-tiba, dia main ke rumah. Duduk kan kita di bangku bawah pohon itu, ngobrol-ngobrol sambil diganggu Givan. Katanya tak apa, yang penting aku udah ada jujur sama dia. Dia nerima, asal nikah tak pacaran. Aku tak tau harus seneng atau sedih, masalah aku digantung sama Awan itu." jawab Zuhra dengan sesekali memperhatikan Naya yang gelisah dalam dekapannya.


"Apa nama sosmednya Awan, coba Akak DM. Mana tau ada respon, kalau yang DM-nya Akak ini. Kan jelas tuh, Akak punya nama." ucap Adinda dengan tersenyum kuda. Membuat mereka berdua tertawa tertahan, karena khawatir anak-anak akan terusik dalam tidurnya.


"Aktif sih sosmednya, cuma aku tak pernah diresponnya itu." sahut Zuhra kemudian.


Lalu Adinda langsung memperhatikan, layar ponsel Zuhra yang tengah memberitahunya tentang kekasih dari adik iparnya tersebut.


"Ya udah, nanti malam Akak DM. Nitip kembar dulu, sini Akak mau kasih Naya beberapa suapan makanan dulu. Dia harus minum obat soalnya, mana dari tadi Akak tak tengok anak itu dikasih makan lagi." ujar Adinda dengan memposisikan bantal, sebagai pembatas tempat tidur anak kembarnya.

__ADS_1


Zuhra melongo tak percaya, melihat kakak iparnya mengambil alih Naya dari dekapannya. Karena ia mendengar sendiri, bahwa Adinda menolak untuk mengurus Naya. Namun, akhirnya Adinda sendiri yang mengurus anak itu.


Zuhra geleng-geleng kepala, 'Tak paham aku, begitu kah konsep ibu tiri yang hanya cinta kepada ayahku saja? Ternyata peduli juga dia sama anak tirinya, meski lain di mulut sama yang dilakukannya.' gumam Zuhra dalam hatinya.


~


Pagi harinya, Adi sudah keluar rumah untuk mengurus surat perceraiannya dengan Maya. Karena Ilham menghubunginya lepas subuh tadi, ia memberitahukan bahwa dokumen yang diperlukan sudah berada di tangannya. Dengan langsung dilanjutkan untuk proses lanjutan saja.


"Pas semalam aku keluar dari rumah ibu Rokhayah itu, istri kau baru datang. Sekalian aku nyalin tanda tangannya aja, terus lagi proses lanjutan ini. Tinggal tunggu akte cerai aja." jelas ilham, setelah dirinya duduk bersantai di kedai kopi milik pak Dodi cabang kota J.


"Papah… aku mau kupi khop." ucap Givan, yang duduk di sebelah Adi.


Ya, memang Adi membawa Givan. Karena ia berjanji, untuk sekalian mencari sekolah baru untuk Givan. Adi sedikit lega meninggalkan Adinda di rumah, karena bukan hanya Zuhra yang membantu Adinda untuk mengurus anaknya. Tapi ibu Meutia dan juga Benazir ikut serta, meski hanya untuk menjaga dan menemani anak-anaknya. Kecuali Zulfa, anak itu lebih suka mengurung diri di kamar. Karena ia tak begitu menyukai anak kecil.


"Ini anak kau sama yang kau ceraikan itu?" tanya Ilham, setelah Adi memesankan minuman yang Givan inginkan.


"Mantap, ternyata doyan kawin juga kau!" sahut Ilham dengan terkekeh.


"Doyan lah, kalau kawin. Nikah ini yang berat, mending nikahin satu perempuan aja." balas Adi dengan memperhatikan anaknya yang tengah bermain ponselnya.


"Ehh, Pah. Ini ada yang telepon." ucap Givan dengan memberikan ponsel ayahnya.


Adi langsung mengambil alih ponsel tersebut, kemudian mendekatkan ke telinganya setelah ia menyentuh ikon terima.


"Ya, Pak cek." ucap Adi kemudian.


"Pencairannya macam mana?" tanya pak Akbar dengan cepat. Adi selalu bercerita tentang keadaan rumah tangganya, ia pun memberitahukan tentang Maya yang menuntut materi. Dengan pak Akbar yang mengurus segala sesuatu, tentang materi yang Maya inginkan.

__ADS_1


"Oh, itu. Biar nanti Adi kasih cek tunai aja, Pak cek. Soalnya Maya minta uang, sama rumah Adi yang di kota C." jelas Adi bertepatan dengan seorang pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.


"Makasih, Bang. Boleh minta sendok juga." ujar Givan pada pelayan tersebut. Pelayan tersebut langsung mengangguk, kemudian berlalu pergi untuk mengambilkan sendok.


"Cucu Pak cek itu? Kangen betul sama Givan, lama dia tak ke rumah sejak dia sekolah." sahut pak Akbar.


"Iya, ini juga Adi nanti mau sekalian nikah sama Dinda. Baru nanti pulang lagi ke sana. Mau urus surat cerai dulu, terus masalah balik nama juga belum diurus." balas Adi dengan memperhatikan Givan yang tengah menikmati kupi khop kesukaannya.


"Ya udah, cepet diurus. Mumpung Dinda lagi jinak. Kalau dia udah mulai ngebantah aja, malah nanti susah lagi untuk nikahannya." tutur pak Akbar, membuat Adi tersenyum geli. Karena ia mendengar kata jinak, untuk istrinya tersebut.


"Ya, Pak cek. Udah dulu, ya. Assalamualaikum." tukas Adi, dengan langsung disahuti salam tersebut.


"Jadi berapa juta?" tanya Adi secara tiba-tiba, setelah ia memberikan ponsel miliknya pada Givan kembali.


Ilham langsung menatap temannya tersebut, "Ini sih ayah aku yang proses, makanya bisa cepet. Kalau aku, cuma bolak-balik ambil dokumen dari Maya itu aja. Sama urus perlengkapan lain, yang dibutuhkan." jawab Ilham kemudian.


"Iya, berapa? Sama upah untuk ayah kau juga." ulang Adi dengan kalimat yang lebih diperjelas.


"200, itu udah sama akte cerai sama surat hak asuh anak. Pokoknya udah tau beres semua itu, Di." sahut Ilham dengan menyalakan rokoknya.


"200 ribu?" tanya Adi dengan santai.


"200 juta lah, masa iya 200 ribu. Ini pun udah yang keberapa kalinya untuk proses, karena Maya…." jawab Ilham yang membuat Adi tersedak.


"Uhuk, uhuk…"


......................

__ADS_1


__ADS_2