
"Kak, macam mana semalam? Aku dengernya aja, tapi tak berani keluar. Apa lagi ada suara plok-plok itu, aku takut kali." tanya Zuhra yang membuat Adi dan Adinda merasa malu.
"Kau denger juga ada orang ketuk pintu depan?" ucap Adi dengan melirik gambaran Zuhra, dari kaca spion tengah.
"Denger, Bang. Tapi aku tak berani keluar, nanti aku berdosa pulak. Karena liat kemesuman kalian, yang tak tau tempat itu. Aku juga udah feeling nih, wah keknya Abang dan Kak Dinda di ruang keluarga. Terus pasti bentar lagi ke-gap, karena denger suara umi yang ngomel sama bang Edi. Aku sih yakinnya bang Edi, karena aku kenal dari suaranya. Apa lagi suara umi, yang pasti aku langsung tau. Bang Edi juga ada ngomong, katanya tak sopan lah umi. Mending ke rumah kak Ayu atau ke cek aja, macam itu bang Edi bilang. Suaranya jelas betul, soalnya pas umi lagi ngoceh sama bang Edi itu. Mereka lagi lewat di samping kamar aku, mana jendela aku kebuka lagi kan." ungkap Zuhra bercerita.
"Nah, kau tak cegah umi dari jendela kenapa?" tanya Adi setelah menyimak cerita dari adiknya tersebut.
"Aku lagi ngobor, sambil upgrade software." jawab Zuhra yang menyebutkan merokok dengan istilah obor, agar Givan tak mengerti ucapan tantenya tersebut. Mau bagaimana pun juga, Zuhra tak mau terlihat buruk di depan mata keponakannya.
"Kau belum tidur memang?" tanya Adinda yang langsung digelengi Zuhra, tapi tentu Adinda tak melihat pergerakan leher dari Zuhra. Sehingga ia sampai mengulangi pertanyaannya kembali.
"Belum, Akak. Kan itu baru abis isya, aku belum tidur lah jam segitu." jawab Zuhra dengan nada suara yang ia perjelas.
Lalu mereka berlanjut membahas tentang perkembangan usaha Zuhra, juga sesekali mengecek keadaan anak-anak. Tentu Adinda merasa khawatir pada keadaan anak kembarnya. Karena mereka dilahirkan prematur, membuat Adinda harus ekstra dalam mengetahui kondisi kedua bayinya tersebut.
~
~
~
Taksi yang ditumpangi mereka semua, telah sampai di halaman kediaman orang tua Adi. Ibu Meutia menyadari kehadiran taksi tersebut, dengan ia langsung memanggil anggota keluarganya dan Maya untuk berkumpul.
"Siapa, Mi? Kok gak keluar-keluar?" tanya Maya yang memenuhi panggilan dari ibu mertuanya, yang tengah berada di teras rumah tersebut.
Pak Dodi memperhatikan mobil itu, dengan mengesampingkan dokumen yang tengah ia baca tersebut. Ia tengah duduk di teras rumahnya, dengan ditemani secangkir kopi dan juga istrinya.
Bukan cuma Maya yang keluar, karena mendengar panggilan dari ibu Meutia. Edi, Bena dengan anaknya, Edo beserta istrinya dan juga Zulfa keluar dari dalam rumah.
Satu persatu manusia yang berada di dalam taksi itu keluar, dengan Adi yang repot menggendong keturunannya tersebut.
"Sudah kuduga." ucap Edi yang langsung mendapat perhatian dari seluruh anggota keluarganya. Edi memahami situasi sekarang, ia mengerti siapa yang Adi bawa tersebut.
"Papah gendong…" rengek Givan, setelah ia keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Sedangkan Ghifar yang berada di dekapan Adi langsung melengkingkan suaranya, karena kakaknya meminta gendong pada ayahnya tersebut.
Sedangkan Adinda dan Zuhra, menggendong masing-masing satu bayi kembar tersebut. Adinda langsung merapatkan tubuhnya pada Adi, saat mobil taksi yang menutupinya berlalu pergi.
Detik itu juga, ibu Meutia dan pak Dodi paham akan situasi sekarang. Tanpa Adi dan Adinda mengatakannya, mereka paham dengan anak-anak yang mereka bawa.
"Bang Givan gendong kanan, bang Ghifar gendong kiri ya. Oke, deal? Jangan berantem! Jangan pada rewel ah!" ujar Adi pada kedua anak tertuanya tersebut.
Ghifar memukuli Givan yang berada di hadapannya tersebut, "Heh? Dengoe Papah tak? Kalau nakal, Papah suruh bang Ghifar jalan sendiri nih!" tegas Adi membuat Ghifar seketika menciut dan bersandar pada dada ayahnya. Ghifar juga cukup tahu diri, ia paham bahwa dirinya belum bisa berjalan.
Givan menjulurkan lidahnya, bermaksud untuk meledek adiknya tersebut. Namun, tendangan ringan dari Ghifar yang malah ia dapatkan.
"Diem tak! Jangan nakal!" tegas Adi kembali, pada anak keduanya tersebut. Bayi sembilan bulan itu langsung mengangguk cepat, sembari ia masih bersandar pada dada ayahnya.
"Ayo, Dek." ajak Adi dengan menoleh pada istrinya
Adinda mengangguk, lalu ia melangkahkan kakinya secara perlahan sembari menarik baju suaminya. Adi menghela nafasnya, melihat tingkah Adinda yang seperti anak-anak tersebut.
Tanpa diduga, ibu Meutia langsung menghampiri Adinda. Kemudian memeluk wanita yang tengah menggendong bayi tersebut.
Adinda melirikkan matanya pada suaminya, dengan Adi langsung memberikan anak-anaknya pada kedua laki-laki yang berstatus sebagai adiknya tersebut.
Edi yang mengambil alih si kecil Ghifar, langsung mendapatkan pekikan nyaring yang membuat tuli telinganya. Dengan Edo dan Givan tertawa puas, sembari menunjuk pada Edi yang tengah membulatkan matanya pada Ghifar tersebut.
Adi menghampiri Adinda dan ibunya, kemudian ia mendekap ibunya dan Adinda secara bersamaan.
"Adi dan Dinda juga minta maaf, Mi." ucap Adi dengan suara bergetar. Ia tak menangis, tapi ia tak mampu menahan rasa harunya.
Owa….
Tangis bayi yang digendong oleh Adinda, bukan lain adalah Ghava.
"Awas, Umi. Anak Adi penyek nanti." ucap Adi dengan menarik tubuh ibunya, yang masih memeluk tubuh istrinya tersebut. Suasana di halaman rumah tersebut menjadi haru bercampur geli. Berbeda dengan seorang wanita yang menggendong anak berumur sepuluh bulan tersebut, bukan lain adalah Maya.
Maya baru memahami situasi sekarang, saat ayah mertuanya mengambil alih Ghifar dari gendongan Edi. Dengan menyebutkan Ghifar sebagai cucuku.
__ADS_1
Kemudian Adi, Adinda, Zuhra dipersilahkan masuk. Dengan mereka langsung menuju ke ruang tamu, untuk duduk sembari mengobrol.
"Anaknya udah berapa, Din?" tanya ibu Meutia, setelah menyodorkan minuman untuk Adinda.
"Empat, Mi. Anak dari Bang Adi tiga." jawab Adinda seperlunya. Sejujurnya, Adinda masih canggung dengan situasi sekarang. Apa lagi dengan Maya, yang sedari tadi menatapnya dengan penuh marah.
"Ini kembar ya?" tanya pak Dodi dengan memperhatikan anak yang Zuhra dekap, dengan anak bayi dari gendongan Dinda yang diambil alih oleh Adi.
"Iya, kembar. Baru empat puluh hari kemarin, langsung diajak terbang naik pesawat mereka." jawab Adi dengan terkekeh kecil.
"Hmm, pantes di ruang keluarga juga jadi. Tak taunya abis puasa lama." timpal ibu Meutia yang langsung membuat suasana di ruang tamu ini mencair.
"Bang, kenapa anaknya jelek-jelek semua? Kenapa gak kaya Givan wajahnya, kan ganteng padahal." ucap Zulfa dengan pandangan yang beralih pada Ghifar, yang tengah mengepel lantai dengan alas duduknya tersebut.
Anak itu lebih suka bermain dengan lantai rumah, dari pada harus digendong dan didekap. Karena Ghifar pasti langsung memberikan pekikan nyaringnya, pada orang yang baru ia kenal.
Namun, ucapan Zulfa barusan membuat beberapa orang menoleh ke arah Naya yang tengah bermain ponsel ibunya.
Maya yang merasa diperhatikan, langsung menyuarakan ucapannya.
"Kenapa pada noleh ke sini semua? Mau bandingin Naya dengan anak dari pelakor itu?" tanya Maya dengan suara tinggi.
Membuat Ghifar yang tengah meremahkan kue kering di lantai ruang tamu tersebut, langsung menyuarakan tangis kencangnya. Anak itu terkejut dengan suara orang asing, yang meninggi tersebut. Anak sensitif dan perasa itu, malah mencuri atensi mereka semua.
Adi langsung memberikan Ghava pada ibu Meutia, dengan dirinya yang langsung mengangkat tubuh Ghifar yang tengah menangis sesenggukan tersebut.
"Tenang, Nak. Tak marahin Abang Ghifar, boleh kok mainan kue. Apa lagi kalau kuenya dimakan, nanti malah dikasih banyak." ucap Adi dengan mengambil kue kering lagi, untuk diberikan pada anaknya yang berada di gendongnya tersebut. Berharap tangis Ghifar terhenti, kemudian teralihkan dengan kue kering tersebut.
"Nanti lagi kita bahasnya, kasian mereka baru pada sampai. Biarin mereka untuk istirahat dulu, May. Kita bicarakan baik-baik, tak perlu kau maki-maki Dinda." ungkap pak Dodi pada Maya.
Adi langsung menoleh pada ayahnya, ia tak menyangka ayahnya bisa mengatakan hal demikian. Karena ia berpikir, bahwa ayahnya berada di pihak Maya. Karena almarhum ayah dari Maya, adalah kerabat dekat ayahnya tersebut.
......................
Kapan nih kita baca penjelasannya?
__ADS_1