Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP157. Ayam boiler


__ADS_3

"Kau sama Abang disebut anak orang katanya, Dek." jelas Ken dengan memperhatikan Givan yang tengah kebingungan.


"Lah, memang macam mana? Memang kita anak orang lah, bukan anak binatang." sahut Givan dengan menoleh bergantian pada Ken dan keluargaku.


Terlihat Ayah, Bena dan Edi menahan tawanya. Pastilah karena ucapan Givan barusan, memang anak ini begitu berisik. Bisa saja jawabnya, selalu bisa mengomentari juga.


"Bukan macam itu, dasar pendek akal!!" maki Ken pada Givan. Aku merasa geli, mendengar makian dari Ken. Pasti besar nanti, mereka akan berkawan akrab seperti keluarga. Karena terlihat interaksi mereka yang seperti ini.


"Terus macam mana?" tanya Givan sedikit mencondongkan tubuhnya pada Ken.


"Udah ayo main di luar katanya, kenapa malah jadi berantem?" ujarku menengahi mereka.


Givan mengisyaratkan tangannya, seperti tanda stop.


"Aku mau Bang Ken jelasin dulu. Nanti aku tak bisa tidur nyenyak, kalau belum jelas. Yang ada nanti kepikiran terus, terus jadinya aku sakit." ungkap anak sulungku. Gemas betul aku padanya, kenapa Givan selalu mengingatkan aku pada sifat ibunya?


"Jadi macam ini.. Abang, sama kau dibilang anak orang. Berarti bukan anak Papah Adi asli, macam itu Givan jebret-jebret. Makanya kau sekolah, biar pandai. Puas nanti orang bodoh-bodohin kau, kalau tak ada Abang di sini." jelas Ken dengan urat wajah kesalnya. Aku baru tau ternyata anak Haris dan Sukma seperti ini, dia cuek dan mulutnya kasar ternyata.


"Memang Papah Adi bukan Papah asli aku, bukan Papah asli Abang juga kan?" ujar Givan dengan memperhatikan wajahku, kemudian ia menoleh pada Ken.


Aduh, aku dag-dig-dug dalam hati. Jangan-jangan Givan mau melanjutkan, bahwa aku adalah papah sambungnya lagi. Bisa habis Adindaku dimaki umi nanti.

__ADS_1


"Aku, sama Abang Ken memang manggil Papah ke Papah Adi. Ke ayah Jefri, manggilnya ayah. Ke abi Haris, manggilnya abi. Soalnya biar uang jajannya banyak, karena punya 3 bapak. Macam itu, Tante Gemoy! Lagian Tante kenapa sih? Macam anak Tante, anak Papah Adi aja." lanjut Givan. Alhamdulillah ternyata Givan tak berkata bahwa aku adalah papah sambungnya. Tapi malah ia melayangkan ucapan tentang anak yang Maya gendong. Bisa-bisanya ia menyebutkan Maya dengan sebutan Tante Gemoy, ada-ada saja dengan sulungku ini.


"Memang anak Tante, anaknya Papah Adi. Makanya gak usah manggilnya papah Adi lagi, karena papah Adi udah punya anak." ucap Maya yang membuatku ingin memakinya sekarang juga.


"Ngaku-ngaku ya dia, Pah? Ibaratnya Papah Adi ayam kampung jago, Tante ayam kampung betina. Terus punya telor kan macam itu. Tak mungkin telornya menetas jadi ayam boiler. Pasti ayam kampung lagi anak ayam itu. Macam ayam warna-warni aku di rumah, udah besar, terus mereka menikah. Anak ayamnya jadi ayam boiler, karena ayah sama ibunya ayam boiler juga. Meskipun mereka diwarnai jadi pink dan kuning. Ini Ilmuwan Givan loh yang ngomong, realita kehidupan ayam-ayam yang aku punya macam itu Tante." ungkap Givan dengan wajah seriusnya, seperti Dinda ketika tengah menjelaskan sesuatu.


Siapa orangnya yang tak tertawa geli mendengar ucapannya? Tapi apa yang ia ucapkan tadi? Hmm… aku paham maksudnya, hanya saja ucapan Givan dibuat dengan subjek binatang. Tapi benar juga apa yang ia ucapkan itu, aku harus memahami ini semua.


"Iya udah Ilmuwan jelasinnya! Jadi kapan kita keluar?" tutur Ken yang mengalihkan pembicaraan ini.


Lalu Givan mengangguk, "Tak apa kok, kalau ngaku-ngaku aja. Mana tau kan dapat uang jajan juga dari Papah. Tapi menurut aku lebih baik minta langsung aja ke mamah uangnya, karena uang Papah tuh mamah yang pegang." tukas Givan pada Maya, kemudian dengan santainya ia menarik aku keluar dari lingkaran yang mulai memanas ini.


Secara tak langsung, Givan mengungkap kebenaran ini. Namun, aku tak bisa memastikan semuanya bisa memahami ucapan Givan.


~


Esok harinya, aku tengah duduk di teras rumahku dengan ayahku. Kami hanya membicarakan seputar kasus ayah dan juga keadaan ladangnya.


Tak lama kemudian, umi dan Maya keluar dari rumah. Ya, memang Maya yang diminta oleh umi untuk tidur di kamarku. Karena aku yang tak pernah mau untuk tidur di kamar Maya, aku sengaja menghindar agar dirinya paham tentang hubungan rumah tangga kami. Agar Maya tak berpikiran, bahwa aku masih ingin memperjuangkan hubungan kami.


Umi tengah menggendong Naya, sesekali ia mengajak Naya berbicara. Namun, deru mesin mobil yang dimodifikasi yang terhenti di sebrang jalan rumahku. Membuat kami memusatkan perhatian kami, pada mobil yang aku kenal siapa pemiliknya.

__ADS_1


Aku merasa tegang, tanganku serasa dingin dan gemetaran. Dinda keluar dari mobil, lalu ia menoleh ke arah rumah kami. Tapi tunggu dulu, Dinda tengah menelepon seseorang. Ia menaikan kacamata ke kepalanya, lalu ia menoleh ke arah kiri dan kanan. Ia terlihat seolah sedang mencari keberadaan seseorang.


"Ada janji kah sama Dinda?" tanya ayah dengan menyenggol lenganku dengan siku tangannya.


Aku menggeleng cepat, karena aku merasa tak memiliki janji dengannya. Bahkan terakhir bertemu dengan Dinda, hanya di pesta pernikahan Haris. Aku berencana siang nanti akan menengoknya dan anak-anaknya di rumah mertuaku, karena malam tadi aku membantu Haris berbenah. Membuatku tidur dini hari dan merasakan malas di pagi ini.


Seorang laki-laki muncul dari gang kecil, sebesar seukuran becak yang berada di sebelah rumah ibu Rokhayah. Laki-laki itu bertubuh tegap, tak terlalu kurus, namun tak gemuk juga. Ia berkulit hitam manis sepertiku, tapi sepertinya lebih hitam aku ketimbang dirinya. Ia berpakaian seperti security, dengan kaos berlengan pendek yang cukup ketat. Menampilkan tubuhnya yang berotot, tapi tak terlalu besar. Bisa dikatakan ideal lah.


Aku melihat Dinda langsung menurunkan ponselnya dari telinganya, lalu berjalan menghampiri laki-laki tersebut. Tanpa diduga, Dinda meraih tangganya dan menciumnya. Ia terlihat begitu senang, terlihat dari senyumnya yang begitu lebar dengan memperlihatkan gigi putihnya.


Siapa sebenarnya laki-laki itu? Kenapa Dinda terlihat begitu akrab dengannya? Apa itu kerabat dekat keluarganya? Tapi mengapa aku tak mengetahuinya? Apa lagi dengan senyuman istriku, menandakan bahwa laki-laki tersebut sudah pasti menjadi bagian dari diri Dinda.


Terlihat Dinda tengah bertanya pada laki-laki tersebut, lalu laki-laki tersebut menunjuk jalan gang yang tadi ia lewati. Kemudian Dinda dibawanya masuk ke bang tersebut.


Aku harus bagaimana? Pikiranku kalang kalut? Apa Dinda selingkuh? Atau mereka ingin melakukan hubungan terlarang di depan mataku?


"May, laki-laki itu siapa?" tanyaku pada Maya, dengan menoleh ke arahnya. Yang ternyata tengah memperhatikan gerak-gerik Dinda yang semakin tak terlihat lagi.


"Dia…..


......................

__ADS_1


Untung up-nya dua kali, jadi tak tanggung-tanggung betul 😌


__ADS_2