Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP58. Melobi Adinda


__ADS_3

"Tak, Pak cek. Adi udah tanam modal untuk Maya dan anaknya." jawab Adi cepat.


"Oh, namanya Maya?" tanya pak Akbar. Adi hanya mengangguk menanggapinya.


"Jangan bilang siapa-siapa dulu, Pak cek. Adi belum bisa jelasin ke Dinda." ujar Adi, dan pak Akbar pun hanya mengangguk.


Lalu mereka melanjutkan obrolan seputar ladang dan usaha lainnya.


~


Malam harinya, Adi mencoba merayu wanita yang sangat ia cintai itu.


"Ayolah, Dek. Nanti Abang belikan berlian lagi. Buat anting-anting Adek." rayu Adi dengan menyentuh daun telinga Adinda.


"Ayo ke mana?" sahut Adinda, matanya masih fokus pada televisi yang menayangkan sinetron tentang cinta itu.


"Abang enakin." balas Adi penuh harap. Ia masih memberikan sentuhan kecil, berharap istrinya terang*ang akan sentuhannya.


"Ng W?" tanya Adinda dengan menoleh ke suaminya. Adi mengangguk mantap, dengan senyum lebarnya.


"Ngajakin Ng W tak ada kreatifnya sama sekali. Colek-colek, foreplay, penetrasi, kl*maks terus tidur." lanjut Adinda. Adi mengerutkan keningnya, ia tak mengerti harus bagaimana lagi? Karena menurutnya seperti itulah prosesnya.


Adi pun sedikit terkejut mendengar pertanyaan istrinya, ia mengira istrinya telah bosan padanya.


"Mau liburan lagi kah?" tanya Adi, ia mencoba tenang. Agar tak semakin terhasut dengan pikiran buruk yang terlintas di benaknya.


"Tak, cuma memang agak bosan aja. Pengen sesuatu yang baru, yang belum pernah dicoba." jawab Adinda. Adi menghela nafasnya, istrinya kembali menggila. Memang istrinya normal, orientasi se*sualnya pun tak bermasalah. Cuma jika istrinya berfantasi selalu melebihi kapasitas kemampuannya.


"Apa? Mau dari hole belakang?" sahut Adi.


Mata Adinda terbuka lebar, "Astagfirullah. Kotor, dosa, penyakitan pulak nanti." balas Adinda cepat.


"Abang pun tak selera kali." tutur Adi santai. Ia malah menyandarkan kepalanya pada bahu Adinda.


"Tapi Abang pernah liat video yang dari hole belakang kan? Sampek mukanya serius menuju tegang " tukas Adinda, dengan tangan yang meraih dagu suaminya. Lalu ia membelai lembut rambut dagu yang sengaja Adi pelihara itu. Hanya untuk mengingatkan bahwa dirinya sudah beranak, begitulah ucapan Adi saat ditanya oleh istrinya kenapa jenggotnya tak ia cukur. Tapi memang hanya bulu halus yang tumbuh di sana, tak lebat dan tak sebanyak laki-laki pada umumnya.


"Pernah memang. Abang bayangin aja keknya itu perempuan kesakitan, bukan keenakkan. Bukan apa-apa, Abang rasain sendiri macam mana sakitnya itu hole kalau sembelit. Apa lagi itu sengaja di masukin dari luar ke dalam. Pasti perih bukan main." ujar Adi dengan menikmati belaian lembut tangan istrinya.


Mereka bisa bersantai seperti ini, karena anak laki-laki tersebut sudah tertidur pulas di ranjang barunya.


"Jadi Abang tak pernah cobain itu?" ucap Adinda bertanya.

__ADS_1


"Jangan bikin Abang mual coba, Dek." sahut Adi dengan menegakkan tubuhnya. Adi termasuk seseorang yang jijikan akan sesuatu. Namun ia sanggup membersihkan kotoran Givan. Dan ia pun tak jijik, saat mencuci darah Adinda dulu. Saat Adindanya mengalami pendarahan.


"Aku tak bikin Abang mual. Aku cuma tanya, Abang memang tak pernah coba?" balas Adinda, mengulangi pertanyaannya kembali.


"Tak pernah, dan tak mau coba. Jangan bilang Adek pernah dari hole belakang?" tuduh Adi dengan menunjuk istrinya.


"Hampir, tapi keburu aku nangis." balas Adinda, membuat Adi melongo tak percaya.


"Siapa yang berani-berani ngerusak Adek? Bilang ke Abang. Abang tonjok dia habis-habisan." tutur Adi penuh emosi.


Adinda meraup wajah suaminya, lalu ia tertawa renyah.


"Udah coba, jangan lebay. Yang penting kan tak jadi." tukas Adinda kemudian.


Lalu Adinda memeluk erat suaminya. Sebetulnya ia pun menyiksa dirinya sendiri, dengan sengaja membuat jarak di antara dirinya dan suaminya. Karena amarahnya yang menguasainya kemarin.


"Ayolah, Dek." rengek Adi. Membuat suasana romantis menurut Adinda itu lenyap sudah.


"Asal aku yang di atas." ucap Adinda memutuskan.


"Mana bisa macam itu. Adek lama sekali keluar, kalau di atas. Abang udah kelojotan macam cacing kepanasan. Adek masih iha-iha aja, macam pawang banteng." ujar Adi tidak menyukai keputusan yang istrinya berikan.


Adinda tertawa geli, saat suaminya menyebut dirinya seperti pawang banteng.


Bukannya tawa Adinda mereda, tapi tawa Adinda semakin pecah. Saat suaminya menyerangnya habis-habisan. Sampai posisinya saat ini sudah telentang di atas sofa.


"Aduh, aduh. Ampun, Abang…." ucap Adinda dengan tawanya.


Adi menegakkan tubuhnya, dari posisi dirinya yang mengungkung istrinya yang berada di bawah tubuhnya.


"Ayolah, Sayang. Abang udah tegangan tinggi ini. Udah on fire." ungkap Adi begitu memelas.


Adinda membingkai wajah suaminya. Lalu ia mencium bibir suaminya sekilas.


"Aku masih belum selera. Kenapa ya, Bang? Perasaan malas terus. Pengen nempel sama Abang, tapi tak pengen di masuki. Tak nyaman keknya tuh, Bang." ucap Adinda mengutarakan apa yang ia rasakan.


"Kenapa sih, Dek? Betul-betul bosan sama Abang kah?" tanya Adi serius.


"Tak bosan juga, memang lagi tak ingin aja." jawab Adinda kemudian. Lalu ia menolehkan kepalanya menghadap pada televisi kembali.


"Sakit betul kepala Abang. Nyeri kali Adi's bird terkurung dalam c*l*na d*lam terus." ungkap Adi begitu memelas.

__ADS_1


"Keluarin sendiri aja lah, Bang." ucap Adinda.


"Mana enak. Adek tak nurut lagi sama Abang. Padahal semua yang Adek minta, Abang selalu coba untuk penuhi. Tapi giliran diajak Ng W enggan macam itu." gerutu Adi terdengar jelas di telinga Adinda.


"Ngebatin! Cuma macam itu aja langsung ngebatin terooosss." ujar Adinda meresponnya.


"Pengen kali loh, Dek. Harus macam mana lagi Abang harus bujuk Adek? Adek mau apa? Sok bilang aja. Asal malam ini, sama besok lepas subuh'an Abang dapat ya?" sahut Adi kemudian. Ia masih saja mencoba menego istrinya. Agar ia mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Satu ronde aja belum. Udah lobi buat habis subuh. Macam mana lah Abang ini?" tutur Adinda dengan menggelengkan kepalanya.


"Tak apalah. Sok bilang pengen apa?" tukas Adi yang mulai meraba tubuh istrinya lagi.


"Risih betul loh, Bang. Hadeh!" seru Adinda dengan menghempaskan tangan suaminya, yang coba menyelinap masuk ke dalam bajunya. Seperti semuanya berbalik pada Adi. Dulu saat Adinda mendekatinya, Adi sering berucap. Bahwa dirinya amat merasa risih. Sekarang gilirannya yang mendapat kalimat itu dari istrinya.


Rasa sabar yang Adi miliki semakin mengikis. Ia duduk kembali dengan mengatur nafasnya. Lalu ia melirik sekilas pada istrinya.


Di benaknya terlintas untuk memperk*sa istrinya, tapi Adi khawatir istrinya malah memberontak kuat. Dan terjadi sesuatu pada anaknya.


"Dek, mau tak Abang perk*sa?" tanya Adi tiba-tiba. Bukannya menjawab, Adinda malah cekikikan tidak jelas.


"Mau merk*sa tapi nawarin dulu. Jangan bikin aku ketawa terus macam ini lah, Bang." sahut Adinda setelah selesai dengan tawa ringannya.


"Tapi kalau Abang perk*sa, jangan berontak terlalu kuat ya. Biar Abang tak kebawa suasana. Nanti takut-takut, Abang yang cekal kuat-kuat Adek." jelas Adi kemudian. Adinda menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan ucapan suaminya.


Setelah selesai dengan ucapannya, Adi langsung membawa istrinya dalam kungkungannya.


"Heh, heh, heh…" seru Adinda kaget dengan tindakan Adi.


"Sttttttt…" suara Adi mengisyaratkan agar Adinda tak berisik.


"Bang, Bang.. Abang serius? Aku tak mau lah, Bang! Aku lagi tak pengen loh, Bang. Nanti perih, nanti.. Aduuuhhhhh…." ucap Adinda yang mulai mencoba melepaskan diri dari kuncian tangan Adi.


TBC.


Naik turun konflik tuh sengaja, biar tak monoton ceritanya.. macam itu sebenarnya..


Coba aja bayangin kalau kenalan, nikah, jadi suami yang baik, bahagia selalu everywhere everyday, terus tamat. Keknya tak bikin author pusing gitu kan, soalnya lurus aja. 😆


Ini mah, mana author ikut pusing ngerangkai kebohongan Adi. Ditambah mikir nyelesaiin masalahnya. Belum lagi mikir masak apa hari ini, cepet nyuci takut gak kering karena hujan, cepet beres-beres terus rebahan 😂


Ish, udah ah... Jangan diambil hati ye, apa lagi dikomen dengan komentar jahat. Author cuma mau ngasih tau itu aja 😅

__ADS_1


Sehat selalu Mak, jangan lupa sarapan sebelum tugas negara 🤭


__ADS_2