
"Enak aja!!!" elaknya kemudian.
"Terus apa? Masa karena angle fotonya tak bagus? Kan tak mungkin!" balasku sambil mengambil posisi bersandar di kepala ranjang, sama seperti posisi duduk Dinda.
"Memang sempet menyusut, karena aku sempat kurus betul. Dan aku lepas menyusui juga. Logikanya macam ini aja, Bang. Balon ditiup, diisi air. Terus dibuka lagi, airnya dibuang. Jadi kan balon itu jelek, melar dan kendor." jelas Dinda. Sembari mendengarkan Dinda menjelaskan, aku membayangkan balon yang Dinda jadikan contoh tersebut.
"Aku juga tak pernah perawatan, karena memang tak mampu. Jangankan untuk perawatan, untuk urusan perut pun aku kekurangan. Aku tak senam, buat balikin otot dada aku dan untuk mengencangkan bagian inti aku. Aku tak senam, karena repot urusin anak dan juga tak mampu untuk bayar ke sanggar senamnya. Jadinya aku betul-betul turun mesin. Aku kendor, tak enak dipakek, aku becek, aku tak gigit lagi macam sedia kala. Makanya aku bilang, letak kesalahan atas berpalingnya Mahendra ya karena keadaan aku yang memang udah rusak kali. Apa lagi jalan lahir dilalui bayi Givan seberat 3,5kg dengan penjang 50cm. Jadinya Mahendra lari, cari daging yang lebih enak dimakan. Setelah aku hamil anak kedua. Dia sadar dia salah, dia ngaku sama aku. Tapi semuanya udah telat, peliharaannya udah hamil empat bulan. Aku tau itu, dan sengaja aku ikut pembuatan film di provinsi A. Biar aku susah diceraikan. Aku ingin kasih pelajaran buat peliharaannya, dengan cara aku sendiri. Terbukti, dengan semua keluarganya kalang kabut nyariin aku. Karena Mahendranya juga pengen cerai baik-baik. Dia pengen cerai dengan aku yang menyetujui sendiri perceraian aku dan dia. Alhasil, Malgi hamil dengan suami orang dan keluarganya malu. Karena udah Malgi maen kotor, dan ternyata dia tak bisa maen rapih juga. Sampai-sampai aku resmi cerai, lepas Malgi hamil delapan bulan. Terus pas minggu-minggu berikutnya, denger kabar katanya Mahendra nikah sama Malgi. Terus lahiran, tapi anaknya udah meninggal di kandungan. Katanya gara-gara ibunya banyak pikiran. Seseram itu loh, Bang. Kalau ibu hamil banyak pikiran. Menyangkut dua nyawa sekaligus." ucap Dinda mengungkapkan semuanya. Dan aku menelan ludahku kasar, saat ia menyelesaikan kalimatnya. Aku jadi semakin takut badai pernikahan aku dan Maya, muncul ke tepian rumah tangga aku dan Dinda. Aku sekarang mengetahui kisah tragis rumah tangganya dulu. Namun, aku juga mengetahui efek berbahaya jika perempuan hamil banyak pikiran.
Dan terungkap sudah. Ternyata maksud Dinda mengatakan bahwa ia bercerai, karena letak kesalahannya ada padanya. Ternyata ini, karena ia tak mampu merawat tubuhnya. Tapi menurutku itu bukan salahnya, itu salah Mahendra yang tak mampu memberikan uang untuk kebutuhan pribadi Dinda.
"Oh, jadi lepas itu Adek keguguran? Bencana itu yang Adek maksud?" tanyaku mencoba menutupi rasa gugupku. Entahlah kenapa, tiba-tiba aku merasa gugup macam ini.
"Ya berbarengan dengan fakta itu. Masalahnya, dulu Mahendra tak mau cerai. Dia pengen duain aku. Dia bilang, nunggu sebentar aja karena tak lama Malgi pun mau lahiran. Dimadu juga tak lama, terus biar nanti anak dia hidup sama aku sama dia. Lepas anaknya lahir nanti, nungguin Malgi selesai nifas terus mau dia ceraikan. Aku tak mau ngurus anak orang. Anak hasil pengkhianatannya di belakang aku. Bisa-bisa aku malah tega bunuh anak itu." jawab Dinda yang membuatku terkejut. Sudah pasti anak aku dan Maya akan dicaca habis olehnya, kalau seperti itu kasusnya. Padahal aku belum mengungkapkan. Aku jadi semakin kasihan pada Dinda, kenapa dua laki-laki yang berstatus sebagai suaminya ini. Malah mengecewakannya, dan memiliki anak dengan wanita lain.
"Terus betul tuh, Bang. Malgi lepas nifas langsung dicerai sama Mahendra. Padahal jelas-jelas waktu itu aku baru siap masa idha. Terus si Mahendra ajak aku balikan lagi. Sebetulnya waktu itu aku mau, cuma aku ingat disia-siakannya. Aku ingat rasa sakit yang ia kasih di hati aku, terus aku langsung ambil keputusan buat nolak dia. Biar Givan dapat ayah yang lebih baik darinya, ayah yang jadi sosok acuan dalam hidupnya." lanjut Dinda, membuatku merasa semakin bersalah. Apa aku sudah menjadi ayah yang baik untuk Givan? Yang sesuai seperti yang Dinda harapkan?
"Berbulan-bulan hidup dengan Givan jadi sengketa. Kadang Givan sama aku, kadang sama Mahendra. Sampai pada akhirnya, Mahendra nikah sama perempuan lain. Terus adem hidup aku. Bebas lepas, tanpa beban. Aku bahagia. Kujalani, apa adanya…." ungkap Dinda, lalu ia malah bernyanyi.
__ADS_1
Aku menarik tangannya, dan membawanya dalam dekapanku. Aku mendekapnya erat, rasa bercampur aduk menjadi satu. Aku tak tahan dengan rasa panas yang semakin memuncak di mataku. Aku terguncang dalam pelukannya. Aku menangisi sesuatu yang ia tak tau pasti masalahnya.
Dua puluh sembilan tahun aku hidup. Hanya wanita tangguh ini, yang bisa meluluh lantakkan hatiku. Hanya wanita tangguh ini, yang membuatku tak berkutik dan bertekuk lutut padanya. Hanya pada wanita tangguh ini, air mataku lolos dengan tanpa kuhendaki. Aku begitu cengeng, dan lemah di depannya. Aku ingin mengadu padanya, aku ingin jujur padanya. Tapi aku tak bisa, aku takut nyawanya melayang sia-sia karena laki-laki bajingan sepertiku. Aku tak mau mencelakakannya dengan beban pikiran yang berat.
Adakah seseorang yang bisa membantuku untuk bisa keluar dari masalah pelik ini?
Adakah yang mampu membuatku bertahan hidup, tanpa lari dari dunia ini?
Ada… Aku yakin ada… Aku masih memiliki Sang Pencipta, aku masih memiliki Sang Kuasa… Ya Allah, aku melupakan kebesaranMu.
Shalat hanya shalat saja, tapi aku tak mengerti maksud di dalamnya.
Semoga wanita yang kupeluk ini bisa menjadi pembimbingku dalam beragama, dan juga makmumku dalam di setiap waktu shalatku.
"Abang minta maaf, Sayang." ucapku dengan suara yang bergetar.
"Abang minta maaf. Janji sama Abang jangan pernah tinggalkan Abang, bertahanlah sama Abang. Jangan dengarkan orang. Jangan pikirkan ucapan semua orang. Ingat Abang selalu cinta sama Dinda. Selalu sayang sama Dinda. Jangan lupa perjuangan kita. Jangan lupakan pengorbanan kita." lanjutku dengan menangis sesenggukan.
__ADS_1
Aku betul-betul cengeng, aku tak peduli setelah ini aku diledekinnya habis-habisan. Aku hanya takut ia tinggalkan. Aku hanya takut ia kecewa atas apa yang sudah aku lakukan. Aku hanya takut ia tersakiti dengan ulahku yang sengaja menyembunyikan ini semua. Aku kacau, aku terpuruk, aku benar-benar merasa sangat frustasi.
"Abang kenapa?" tanyanya dengan tangis. Dasar, jantannya pun cengeng, pantas saja betinanya secengeng dirinya. Melihatku menangis sesenggukan, malah ia ikutan menangis. Aku jadi merasa ingin tertawa.
Aku membingkai wajahnya, dan menciuminya wajahnya berulang-ulang.
"Abang gemes, pengen gigit Adek tapi malah Adek udah nangis duluan." sahutku. Mungkin sekarang aku terlihat begitu buruk. Pasti mataku memerah, hidungku merah dan berair juga. Persis seperti wanita yang ada di hadapanku juga. Ia terlihat begitu buruk, menangis tak jelas. Hanya karena melihatku menangis.
Dinda memukuli dadaku, "Dodol!!! Aku takut lah, Abang kenapa pulak nangis macam itu? Tau bikin Abang nangis, aku tak usah cerita lagi tadi. Abang bikin aku takut aja!!" serunya dengan mencubiti tubuhku berkali-kali.
"Aduh, aduh…" suaraku terdengar masih belum stabil. Aku menahan tangannya, agar ia tak mencubitiku lagi.
Dan aku mengunci pandangan matanya, dan membawanya dalam kungkunganku.
"Heh!!! Ngapain pulak ini?" ujarnya kemudian. Sepertinya ia sudah menyadari apa yang akan terjadi, dengan posisi seperti ini.
TBC.
__ADS_1
Memang mau terjadi apa setelah ini? 😆