
"Ibu mau balik katanya, Dek." jawab Adi dengan memperhatikan wajah istrinya.
Adinda sudah mulai bersenam kembali, sejak 10 hari yang lalu. Saat bidan mengatakan bahwa jahitan lukanya, sudah sembuh.
Apa lagi, Adi membelikan korset pembentuk tubuh dengan model iklan artis Olla Ramlan. Adi membelikan dua buah korset untuk Adinda, bermaksud agar Adinda bisa berganti-ganti saat memakainya. PT Adi pun, memesan satu buah lagi untuk istri resminya. Karena satu minggu yang lalu, Maya merengek meminta untuk dibelikan barang tersebut. Setelah luka operasinya telah sembuh.
Adinda tidak tahu, bahwa suaminya rutin mengirimkan uang pada Maya. Karena, saat dirinya tengah hamil besar. Adinda menyerahkan semua kartu ATM-nya pada Adi. Tentu karena alasan, yang dimengerti oleh Adinda sendiri.
Jelas itu adalah hal yang memudahkan Adi, agar bisa adil pada Maya dan Adinda. Meskipun Adi paham, bahwa uang itu adalah milik Adinda. Karena sumber dari keuangan itu dari ladang yang diberikan untuk mahar pernikahannya dengan Adinda.
"Betul, Bu? Nanti ajalah, kalau aku udah selesai nifas." tanya Adinda pada ibunya.
Ibu Risa langsung mengangguk mengiyakan, "Kasian bapak di sana, Din. Lagian juga kamu di sini ada Zuhra, ada cek, ada Adi juga." jawab ibu Risa dengan tersenyum samar.
Owaaaaa……..
Suara nyaring yang membuyarkan fokus ketiga orang dewasa itu. Ibu Risa langsung membalikkan tubuh Ghifar, kemudian berjalan membawa Givan masuk ke dalam rumah.
"Dek, Abang ke ladang dulu ya. Mau tengok pemupukan bibit." ucap Adi, dengan mencekal tangan istrinya. Karena Adinda hendak berlalu pergi, untuk menyusul anaknya yang menangis.
Adinda mengangguk, "Siang makan di rumah kan?" tanya Adinda kemudian.
"Iya, Dek. Abang berangkat dulu ya." jawab Adi, saat Adinda mencium tangannya. Lalu Adi menahan pinggang Adinda, karena ia langsung mengambil beberapa kecupan manis di wajah istrinya.
"Malu lah, di luar. Takut ada yang liat." sahut Adinda, dengan menjauhkan diri dari suaminya.
"Halal, Coy. Tak perlu malu-malu." balas Adi dengan mengedipkan sebelah matanya.
Lalu ia berjalan ke arah sepeda ontel modern dan menaikinya langsung.
"Pergi dulu, Dek. Assalamualaikum." ujar Adi pamit pada istrinya.
"Wa'alaikum salam…" sahut Adinda dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"TUNGGU!" seru seorang anak laki-laki, yang muncul dari halaman samping rumahnya yang menghubungkan dengan halaman belakang.
Givan dengan begitu semangat mengayuh sepeda lipatnya, "AKU IKUT PAPAH." serunya kembali.
"Anak Adek suaranya nyaring-nyaring kali, Dek." ucap Adi dengan tawa gelinya. Ia berkata sambil menoleh ke istrinya.
"Abang kata, kalau maen lepasin aja suaranya. Jadinya begitu lah." sahut Adinda membuat Adi semakin terkekeh.
Givan telah sampai di hadapan mereka, "Dadah Mamah, aku berladang dulu ya." ucapnya dengan membenarkan topi berwarna abu-abunya.
"Iya, sana berladang semua. Ajak Ghifar sekalian, biar nambah hitam dia." balas Adinda dengan memperhatikan orang-orang yang ia sayangi tersebut.
"DEKKK, AYO KE LADANG. NYANGKUL-NYANGKUL KITA DI SANA." teriak Givan membuat Adi dan Adinda geleng-geleng kepala.
Terdengar suara tangis kejar yang berasal dari dalam rumah tersebut, "DIN… GHIFAR MINTA NYON-NYON." seru ibu Risa dari dalam rumah.
"Ya udah gih masuk, Dek." tutur Adi dengan bersiap mengayuh sepedanya.
Adinda mengangguk, kemudian langsung berjalan masuk. Sedangkan Adi dan Givan, mulai beranjak pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Esok harinya, pukul 7 pagi. Ibu Risa berpamitan pada anak, menantu beserta cucunya. Ia akan pulang ke kota C, dengan di antar oleh Jefri kembali.
"Nanti kau langsung balik lagi, Jef. Aku bakal sibuk di rumah, jadi aku tak bisa lama handle kerjaan kau." ucap Adi dengan menepuk pundak Jefri.
"Ya rebahan dulu, minum dulu. Nanti baru balik lagi, Di." sahut Jefri dengan kesal. Sebetulnya ia tak ingin menjadi suruhan Adi. Tapi ia tak bisa berkutik dengan keadaan sekarang, mau tidak mau ia harus ikut pada Adi.
"Ok sip, ati-ati ya." balas Adi kemudian.
Lalu Jefri masuk ke dalam mobil yang sudah dipesankan, untuk mengantar ibu Risa dan Jefri ke bandara.
"Bang, jadi kan?" ucap Adinda memusatkan perhatian Adi.
"Ke mana, Dek?" tanya Adi dengan menoleh ke arah istrinya yang tengah menggendong si kecil.
__ADS_1
"Katanya mau ke tempat kak Nurul." jawab Adinda manja. Membuat Adi langsung menatap pasrah pada istrinya.
"Abang cuma minta Adek buat keramas aja, tak minta buat perawatan. Kan Adek bilang sendiri juga, katanya tak boleh keramas sebelum 40 hari." sahut Adi kemudian, dengan mengayunkan langkahnya. Mengikuti langkah kaki istrinya, yang memasuki rumah.
"Kan ibu udah pulang juga, aku bersih-bersih diri sama perawatan juga tak ada yang marahin." balas Adinda dengan menoleh ke belakang.
"Bukan itu masalahnya…" ujar Adi pelan.
Lalu mereka duduk di sofa ruang tamu, dengan Ghifar yang dibawa oleh Zuhra. Kemudian Givan mengikuti tantenya, yang masuk ke dalam kamar milik Adinda dan Adi dengan membawa Ghifar.
Setelah Adinda merasa situasi sekarang aman, ia beranjak pindah ke pangkuan suaminya. Adi begitu pasrah, ia tahu ia tak akan bisa melarang istrinya yang akan merayunya sekarang.
"Ya Bang ya. Aku mau cuci rambut sekalian pijat-pijat kepala gitu, terus aku mau…" tutur Adinda disela langsung oleh Adi.
"Udah Dek, jangan aneh-aneh. Tunggu sampek selesai nifas. Resikonya besar loh, Dek. Kalau Adek bersih-bersih diri dari sekarang." sela Adi, membuat Adinda memanyunkan bibirnya.
"Memang kenapa sih? Ada apa memangnya kalau aku bersih-bersih diri dari sekarang?" tanya Adinda bingung. Karena menurutnya, sekarang atau nanti tetap sama saja. Kemarin hari ia tak berani mencuci rambutnya, karena ada ibunya di sini.
"Adek memang tak malu masih diganjal pembalut macam itu, terus Adek telanjang luluran?" tukas Adi kemudian. Ia merasa, kali ini ia akan mendapat dosa besar. Jika membiarkan istrinya untuk membersihkan dirinya ke salon kecantikan.
"Darahnya udah sedikit kok, udah tinggal garis aja. Kadang tak ada sama sekali, udah dua hari ini juga tak ngeluarin darah." ungkap Adinda dengan tersenyum manis pada suaminya. Ia sengaja memasang senyum manisnya, agar suaminya memberinya izin untuk perawatan.
"Ghifar macam mana nanti? Satu jam sekali dia nyon-nyon loh, Dek. Adek kan tau juga, kalau dia nangis susah kali ditolong. Mana nangisnya langsung kejer lagi, bikin Abang kalap aja." ujar Adi dengan cemberut, namun ia malah mendapat kecupan mesra di bibirnya.
Membuat Adi langsung menatap tajam istrinya, ia sadar dirinya tak bisa jika Adinda sudah merayu sejauh ini.
"Ayolah, Bang. Aku takut kutuan ini, lama tak cuci rambut. Terus aku mau luluran, maskeran juga. Terus apa lagi yang mesti aku permak?" tutur Adinda dengan senyum yang tiada pudarnya.
Adi memperhatikan wajah istrinya dari jarak dekat. Ia memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi nanti, jika Adinda sampai pergi untuk perawatan.
"Ya Bang, ya? Boleh ya, Bang?" lanjut Adinda dengan rengekan manjanya.
TBC.
__ADS_1
Nyon-nyon itu menyu*ui ya, takut kena sensor.