Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP94. Psikiater atau psikolog?


__ADS_3

"Ati-ati dong, Vi." ucapku sembari membantunya menempatkan kembali susu yang berjatuhan tersebut.


"He'em, buru-buru soalnya." sahutnya dengan menyusun susu dalam rak kembali.


"Kau belum nikah, kan? Ngapain beli susu ini?" tanyaku padanya.


Dia tersenyum samar dengan menoleh padaku, sebelum menjawab pertanyaanku.


"Biar cepet jadi. Setidaknya, biar Haris berat ninggalin aku." jawabnya setelah menyelesaikan masalah yang ia buat sendiri, dengan susu-susu yang berjatuhan tadi.


"Tenang aja kali, Vi. Dua apa tiga bulanan lagi, Haris kata dia mau nikahin kau." balasku dengan memasukan susu yang aku butuhkan dalam keranjang merah, milik minimarket ini.


"Hah? Yang bener?" tuturnya dengan ekspresi terkejut. Lalu aku menganggukan kepalaku merespon ucapannya.


Tanpa sepatah katapun, ia langsung pergi dengan terburu-buru. Sambil membawa susu pilihannya ke kasir minimarket. Setelahnya ia langsung pergi ke luar.


Ada yang berusaha hamil, agar dinikahi pacarnya. Ada yang penuh dengan air mata, seperti Zulfa. Entah seperti apa masalah Jefri dan Zulfa, tapi aku sering menemukan Zulfa tengah menangis tertahan di setiap malam-malamnya. Ada pula yang seperti aku dan Dinda, tanpa pacaran langsung menikah. Namun penuh dengan ujian rumah tangga. Entah dari Maya, dari Seila, dari Nurul, dari janji-janjiku yang belum terpenuhi dan yang paling tersering adalah dari mood Dinda yang tak tentu.


Setelah selesai dari minimarket, aku langsung menuju ke tempat penjual kerang hijau itu. Untuk cemilan malam kami, saat begadang nanti.


Aku membeli kerang hijau secukupnya dan langsung menuju ke tempat cemilan kue kering. Aku ingin membeli kacang sangrai di sana, untuk tambahan cemilan lain.


~


Pukul sembilan malam, Haris, Jefri, beserta tiga teman yang mereka bawa. Telah sampai di depan rumah ibu Rokhayah. Aku langsung menyuruh mereka untuk masuk, namun mereka menolak. Salah satu teman Haris berkata, biasanya melekan bayi seperti ini hanya duduk di teras rumah saja. Karena banyak makhluk halus yang sengaja mengincar bayi di sekitaran luar rumah.


Mereka juga bercerita, ibu hamil di daerah sini biasanya sedia gunting kecil yang digantungkan di pakainya. Agar bayi dalam kandungannya, tak diambil oleh makhluk halus.


Dinda di sana tak pernah memakai apa pun, untuk penangkal makhluk halus. Ia selalu berucap hanya mitos saja. Padahal Dinda berasal dari kota C ini.


"Mau bikin kopi dulu, ya." ucapku dengan bangkit dari posisi dudukku, dan hendak masuk ke dalam rumah.


"Termosnya aja bawa keluar, sama gelasnya juga. Biar nanti bikin di sini aja." sahut Jefri kemudian. Aku mengangguk mengerti, dan mengambilkan segala sesuatu yang kami butuhkan.


Setelah aku menaruh barang-barang tersebut, aku duduk di sebelah Haris.

__ADS_1


"Maya minta ganti perban." ungkapku pada Haris.


Ia mengangguk, "Udah beli kasa dan lain-lainnya?" tanya Haris.


"Udah ada, pas balik dari rumah sakit sekalian beli." jawabku. Lalu aku mengajak Haris untuk masuk ke dalam kamar Maya.


Aku mengambilkan barang yang Haris butuhkan, dengan Haris yang meminta izin untuk cuci tangan terlebih dahulu. Padahal aku sudah membeli sarung tangan yang berbahan seperti kon*om.


Lalu ia kembali, dan langsung menggunakan sarung tangan yang tersedia.


"Maaf ya." ucap Haris sebelum menyentuh permukaan perut Maya. Sebetulnya aku malu sekali pada Haris, ia harus menyaksikan perut istriku yang penuh dengan stretchmark.


Lalu ia dengan cekatan melepaskan dan membersihkan luka Maya, "Ini kan plesternya anti air, dibawa mandi juga tak apa. Nanti cek up juga jangan telat loh, Mbak. Keknya ini masih bengkak betul." ucap Haris sembari membersihkan luka Maya.


Setelahnya ia menutup lukanya kembali, kemudian ia mencuci tangannya. Lalu mengajakku untuk keluar kembali.


"Perawatan, suruh senam juga. Bukan berarti tak lahiran normal, p**sy tak kendor. Yang bikin pu*s* kendor itu karena otot panggul nyangga beban bayi, bukan karena dari melahirkan normal juga." ucap Haris dengan menepuk pundakku.


"Bawel kau! Ngurus segitu aja susahnya setengah mati." sahutku, yang hanya dibalas dengan kekehan kecil darinya.


"Udah balik, Zulfa OD. Masuk rumah sakit." jawabku jujur. Kawan-kawan Haris mulai bermain kartu, dengan mengemil kacang sangrai yang tadi aku beli.


"OD apa?" sahut Haris dengan mulai menyalakan rokoknya.


"Gele keknya. Aku udah pusing betul dihadapkan sama masalah yang bertubi-tubi. Belum selesai sama masalahku, Jefri udah berulah sama Zulfa. Lebih-lebih, sekarang Zulfa sering dibuatnya nangis. Pas aku balik ke kota J kemarin, aku diajak keluar sama kawan-kawan lama aku. Tak sengaja, aku ketemu Zuhra. Yang tak aku sangka, dia maen balap liar juga." ungkapku bercerita dengan suara pelan, sampai diakhir kalimat aku menggelengkan kepalaku.


Haris menyimak ceritaku dan menoleh padaku, "Terus?" responnya singkat.


"Terus aku marahin habis-habisan, aku semprot dia pakek air keran, aku sita hp dan mobilnya malam itu juga. Yang bikin aku tambah geram, penampilannya di rumah sama di luar rumah itu beda. Dia juga ada tato di bagian tengah dadanya. Di media sosial dia kek j*lang sengaja jualan diri, pakek pakaian yang seksi, tato dia ekpose, ekpresi sengaja dibuat sesensual mungkin. Malu kali aku punya adek macam dia." jelasku mengambil nafas sejenak, "Yang tambah-tambah aku bikin kecewa setengah mati, dia pesan gele sama seseorang. Aku tau, karena malam itu aku sengaja ketemu sama seseorang yang udah dia janjikan." lanjutku kemudian.


"Dia macam kau, Di." sahut Haris menimpali.


"Ya… makanya rencananya aku mau bawa dia ke provinsi A. Aku suruh dia cari uang sendiri di sana, coba bisa tak dia hidupin dirinya sendiri sekaligus menuhin keinginan sama gele itu." balasku dengan menyajikan kerang hijau ke dalam piring.


"Bisalah, dia jual diri nanti di sana." tukas Haris cepat. Aku menoleh dengan tatapan tajam, namun ia terkekeh geli saat melihat ekspresi wajahku.

__ADS_1


"Bawa aja ke psikiater. Dari pada ke rumah rehab, nanti panjang urusannya." saran Haris kemudian.


"Ehh, tapi tadi kau kata dia dibawa ke rumah sakit?" tanyanya yang langsung kuangguki.


"Coba minta rumah sakit buat tak usut kasus adik kau. Apa lagi kalau rumah sakit pemerintah, macam tempat aku tugas. Udah itu, mereka langsung maen lanjut ke polisi aja. Karena itu ada hubungannya sama narkotika, mana tau bisa keciduk itu bandar atau kurir yang ngirim ke adik kau dan kawan-kawannya." ungkap Haris serius. Benar juga ucapannya, kenapa aku tak berpikir sejauh itu?


"Laki-laki tak masalah masuk penjara, buktinya kau tetap laku juga. Perempuan kalau udah kesandung kasus dan mantan napi macam itu, udah minus betul. Apa lagi adik kau bertato juga, udah pasti laki-lakinya pun sebangsa adik kau juga. Logikanya, laki-laki jahat dan b*j*ngan sekalipun pasti cari perempuan baik-baik untuk ia persunting. Karena, dia pun berharap memiliki keturunan baik-baik juga. Dalam rumah tangga, laki-laki jahat tak menjamin anaknya pasti penjahat juga. Tapi kalau udah ibunya penjahat, pastilah anaknya penjahat juga. Kau pasti pernah dengar kan tentang seorang ibu yang baik akan melahirkan keturunan yang baik juga, meskipun bapaknya penjahat, penjudi, pemabuk sekalianpun?" lanjut Haris berbicara. Kenapa ucapan dari Haris selalu benar semua?


"Jadi aku harus macam mana?" tanyaku dengan memperhatikan gerakan Haris yang begitu santai memberiku saran.


"Bawa ke psikiater." jawabnya seperlunya.


"Aku ada kawan psikolog. Nanti aku hubungi dia." sahutku kemudian.


"Jangan salah loh, psikiater sama psikolog itu beda Di." balas Haris dengan mulai memasukkan isi kerang hijau ke dalam mulutnya. Jefri dan ketiga kawan Haris tengah asik bermain kartu, dengan aku dan Haris yang asik membahas tentang Zuhra.


"Masa? Apa bedanya?" tanyaku padanya. Karena setahuku psikiater dan psikolog itu sama.


"Psikiater, orang yang menggeluti ilmu psikiatri. Sedangkan psikolog, orang yang menggeluti ilmu psikologi. Perbedaan dilatar belakang pendidikan dan ruang lingkup kerjanya. Secara garis besar, psikiater adalah dokter, sedangkan psikolog bukan dokter. Psikiatri adalah ilmu kedokteran yang berfokus pada kesehatan jiwa, sedangkan psikologi adalah ilmu non-kedokteran yang mempelajari perilaku dan perasaan seseorang. Meski berbeda latar belakang, keduanya saling melengkapi." jelasnya yang membuatku pusing.


"Nah, terus? Aku harus ke mana?" sahutku kebingungan.


"Psikiater dong, Di. Mereka menangani tentang, fobia, depresi dan demensia, gangguan kepribadian, gangguan kecemasan, gangguan tidur dan makan, gangguan obsesif kompulsif atau OCD, gangguan stres pasca trauma atau PTSD, skizofrenia, kecanduan obat-obatan atau minuman beralkohol. Selain menangani kondisi itu, psikiater juga sering dilibatkan untuk penanganan penyakit yang dapat berkaitan dengan kondisi psikologis pasien, seperti gangguan pada otak, penyakit kronis, kanker, atau penyakit HIV/AIDS. Soalnya psikiatri ini suatu cabang ilmu medis, maka psikiater diperbolehkan untuk meresepkan obat-obatan untuk membantu mengatasi gangguan mental yang dialami pasien. Berbeda halnya dengan psikolog, mereka tidak memiliki wewenang untuk meresepkan obat." jelas Haris memberitahuku. Kapasitas otakku tak bisa mencakup semua ucapannya. Kenapa ia segala menjelaskan semuanya, yang ada aku tambah bingung di sini.


"Paham?" tanya Haris kemudian.


"Pusing aku, kau banyak kali cakap. Tak ke intinya langsung." jawabku kemudian. Sampai tadi aku hanya melongo saja mendengarkannya.


"Biar kau paham, biar kau nanti tak malu. Biar wawasan kau luas, bukan tau tentang selang*angan aja." sahut Haris sinis, membuatku terkekeh geli mendengarnya.


"Jadi aku harus bawa Zuhra ke psikiater?" tuturku memastikan.


TBC.


Episode terpanjang, tapi bukan milik Adi ya 😆

__ADS_1


__ADS_2