Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP145. Surprise


__ADS_3

CRAZY UP 🤩


CURIGA TAK AUTHOR CRAZY UP KALI INI? 🤭


Pagi ini, aku diteriaki oleh umi. Ia menyerukan agar aku ikut mencari pakaian couple, untuk menghadiri pesta pernikahan Haris nanti.


"Cari sendiri aja lah, Abang masih ada couplean yang dipakek ke nikahan Edi dulu." sahutku dengan membuka pintu kamarku.


Namun, aku malah melihat Maya yang tengah tersenyum padaku.


Kamarku bersebelahan dengan ruang tamu, jadi saat aku membuka pintu kamar. Aku bisa melihat seseorang yang duduk di sofa ruang tamu.


"Udah jam 10, kok masih tidur aja Bang? Gak kaya biasanya." ujar Maya saat aku duduk di sebelahnya.


"Semalam tak bisa tidur, baru bisa tidur pas abis olahraga pagi tadi." jujurku dengan mengucek mataku.


"Sana mandi, terus ayo ke mall atau butik. Cari pakaian samaan." pinta umiku kembali. Dasar perempuan! Mesti aja harus samaan, jika mau ke pesta pernikahan. Apa jika tak samaan, maka orang berpikir bahwa kami bukan keluarga kah?


"Maya juga ikut?" tanyaku kemudian. Umi langsung mengangguk mengiyakan dengan tersenyum samar.


Pasti di pesta Haris banyak kawan-kawanku, aku tak mungkin mengenalkan Maya sebagai istriku. Karena beberapa dari mereka, hanya mengetahui bahwa Dinda adalah istriku.


"Ya udah, tunggu." putusku, lalu aku mengambil handuk dan berlalu memasuki kamar mandi.


~


Aku merasa ragu untuk pergi, kenapa aku begitu cemas tak jelas. Bahkan tanganku sampai berkeringat dan sedikit gemetar, padahal aku baru selesai makan tadi.


Tak mungkin alasannya karena aku telat makan, karena pagi tadi sebelum tidur. Aku sempat menyantap nasi kuning dan setelah bangun tidur, aku memakan masakan umi.


"Abang tak ikut lah, Umi. Abang tak enak badan rasanya." ucapku sebelum melajukan mobil milik keluarga Maya.


Ya, kakak kedua Maya tengah berkunjung. Lalu umi meminjam mobilnya, untuk kami keluar mencari baju seragaman.


"Begadang terus sih. Waktu di rumah sakit juga Abang tidurnya dini hari terus tuh, Umi." sahut Zulfa dengan menyentuh keningku secara tiba-tiba. Membuatku cukup terkejut dengan tindakannya.


"Udah ayo berangkat, tuh udah jam berapa ini? Nungguin Abang mandi, makan aja udah sampek tengah hari. Kasian Naya nanti waktu tidurnya terganggu." balas umi yang langsung masuk ke dalam mobil.


Aku melangkah malas menuju tempat kemudi. Tak lama Maya masuk dengan menggendong Naya, dia duduk di sebelahku. Sedangkan umi dan Zulfa duduk di bangku belakang.

__ADS_1


Tak lama, aku sudah sampai di parkiran butik yang Maya tunjukkan jalannya. Kalau tak salah, ini adalah butik yang waktu itu dikunjungi Dinda bersama dengan Givan. Saat mencari baju seragaman untuk ke pernikahannya Edi.


Mereka turun dari mobil, lalu aku yang terakhir turun dari mobil. Rasa cemas dan dingin di tanganku, semakin aku rasakan. Ada apa ya? Kenapa perasaanku bercampur aduk seperti ini.


"Bang, tolong dong gendong Naya. Tangan aku pegel banget, soalnya dia maunya kek disangga gitu pahanya." ucap Maya dengan memberikan Naya padaku.


Aku menerima Naya, lalu menggendongnya dengan tangan kiriku yang menyangga pahanya dan tangan kananku menyangga dadanya. Membuat Naya seperti dalam posisi duduk, dengan menghadap ke depan.


Kami semua melangkah menuju pintu masuk butik tersebut. Namun, Zulfa menyebutkan nama seseorang yang tengah membuka pintu masuk butik dari dalam. Juga Jefri membawa kantong belanjaan yang lumayan banyak.


"Bang Jefri…" panggil Zulfa lirih, tapi mampu membuat Jefri menoleh ke arah kami.


Ia membulatkan matanya, lalu ia seperti menahan seseorang agar tak keluar dari dalam butik tersebut.


Sontak tindakannya membuat Zulfa reflek melangkah cepat, lalu masuk menyusul Jefri yang masih berada di pintu masuk tersebut. Sepertinya Jefri ketahuan tengah membawa selingkuhannya, lalu kepergok dengan kehadiran Zulfa yang tiba-tiba.


Namun, sepertinya seseorang yang Jefri tahan tetap memaksa untuk keluar dari dalam butik. Lalu seorang wanita muncul dari dalam butik itu dan detik juga leherku terasa tercekik kuat, membuat aku lupa caranya untuk bernafas dengan baik.


"Dinda…" suara umi yang berada di belakangku.


Mataku langsung memanas, rasanya aku ingin menangis dan meminta ampun padanya sekarang. Ya Allah, apa yang harus aku katakan pada Dinda?


Lenganku ditabrak dari belakang, lalu muncul umi tepat di depanku.


Zulfa mundur satu langkah, ia menyetarakan barisannya bersamaku dan Maya.


"Hai Dinda, lama tak jumpa." sapa umi dengan mengulurkan tangannya, lalu Dinda menyambut uluran tangan umi dan menciumnya.


"Gimana kabarnya, Umi? Bareng siapa ke sini?" ujar Dinda setelah menegakkan punggungnya kembali.


Pantas saja dari kemarin Dinda sulit sekali dihubungi, tak taunya ia sudah berada di sini saja. Dari semalam pun perasaanku bercampur aduk, aku tak menyangka jika sesuatu yang aku sembunyikan malah menjadi kejutan untukku sendiri.


"Alhamdulillah, sehat. Oh iya, kenalin. Ini Maya, istrinya Adi. Terus ini anaknya, namanya Naya. Kalau Zulfa udah kenal sendiri kan?" ungkap umi dengan membawa Maya, untuk dikenalkan pada Dinda.


Dinda menghisap bibir bawahnya, menjadikan ia terlihat tengah menahan sesuatu. Aku tak tau pasti apa yang ia rasakan, tapi yang jelas matanya sudah terlihat berkaca-kaca.


Ia tersenyum manis saat berkenalan dengan Maya, lalu ia menyebutkan namanya sendiri setelah Maya menyebutkan namanya.


"Mana suaminya, Dek? Kok sama Jefri dan Haris aja." tanya umi kemudian, setelah Maya dan Dinda berkenalan.

__ADS_1


"Suami aku… udah mati, Umi." jawabnya dengan melirikku tajam.


Ujung mataku basah seketika, saat dirinya mengatakan bahwa suaminya telah meninggal. Abang masih hidup, Adindaku. Sampai hati kau mengatakan hal itu.


Terlihat Jefri dan Haris saling melemparkan pandangan, mereka juga terlihat sama tegangnya dengan situasi sekarang.


Aku tak tau apa yang mereka rencanakan, yang jelas aku tak menyangka jika mereka merencanakan untuk mempertemukan Maya dan Dinda di sini. Sungguh rumah tanggaku dan Dinda sekarang, mungkin akan menuju ke ujung tanduk. Apa lagi saat Dinda mengatakan bahwa suaminya telah meninggal.


"Ini anaknya, Dek? Sama suami barunya?" tanya umi yang mendapat dua anggukan dari Dinda.


Lalu ia memasang senyum manisnya kembali, ia terlihat begitu tegar meski aku yakin dirinya tengah hancur sekarang.


"Boleh liat anaknya, Dek?" ujar umi kembali, dengan memegang gendongan Dinda yang menutupi wajah Ghifar. Yah, aku yakin yang tengah digendongnya adalah Ghifar. Eh, tapi ke mana anak sulungku? Kenapa dia tak berada di sini?


Dinda mencekal tangan umi, "Maaf Umi, anakku jelek. Lebih baik tak dilihat." tukasnya yang membuat jantungku serasa ditancapkan benda tajam kembali.


Ia mengatakan bahwa anakku jelek? Anak yang jelas mirip denganku, ia sebut jelek? Mulut kau, Dek!


"Duluan ya semuanya, udah jamnya anak-anak tidur soalnya." sela Haris dengan merangkul Dinda dan membawanya pergi tanpa pamit. Jefri menggandeng tangan Ken, lalu berlalu begitu saja.


Hanya terlihat kantong belanjaan yang semakin menjauh, saat aku menoleh ke arah mereka pergi.


Rasanya tanganku sudah tak memiliki kekuatan, dengan cepat aku memberikan Naya pada umi. Lalu aku langsung pamit pulang, aku berniat mengejar mereka semua. Aku ingin menjelaskan semuanya pada istriku, Adinda.


"Di, Adi…."


"Bang… mau ke mana?"


"Nanti kita pulangnya gimana?"


Seruan yang bisa kudengar, tapi aku tetap mengayunkan langkah kakiku dan masuk menuju mobil yang tadi aku kendarai.


Aku melihat mobil yang mereka naiki baru keluar dari parkiran butik ini, dengan cepat aku memutar setir mobil dan mengejar mobil mereka.


Aku merogoh ponselku dan menelpon Dinda, tapi tak ada jawaban dari panggilan teleponku. Tak habis pikir, aku langsung mencari nama Haris dan meneleponnya. Namun, tetap tak mendapat jawaban dari panggilan telepon ini.


Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang, sepertinya mobil itu bertujuan untuk ke arah kabupaten. Apa Dinda akan diantar pulang ke orang tuanya? Pikiranku jadi bertambah kacau, memahami bahwa memang mobil itu akan ke rumah mertuaku.


......................

__ADS_1


Ketahuilah wahai Adi Riyana, bahwa yang merencanakan ini semua itu aku. Bukan Jefri, maupun Haris. šŸ˜


__ADS_2