
Crazy up dong 😍
Penuh kejutan loh 🤭
"Tak usah, Sayang. Adek seksi kali pakek baju macam ini." jawab Adi dengan menyibakkan baju tersebut sebatas dada istrinya, kemudian memainkan sumber ASI untuk anak-anaknya tersebut.
Tangan Adinda tak tinggal diam, ia tengah berusaha melepaskan lipatan sarung suaminya. Saat lipatan yang berada di perut suaminya sudah terlepas, Adinda langsung menundukkan kepalanya untuk melihat tengah-tengah tubuh suaminya tersebut.
"Langsung ya, Bang?" tanya Adinda dengan menaik turunkan tangannya, pada sesuatu yang ia genggam tersebut.
"Terserah Adek." jawab Adi dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Ia memberikan ruang lebih untuk istrinya, yang tengah memasangkan pengaman pada intinya tersebut.
Kemudian, Adinda mengatur posisinya. Setelah pengaman sudah dipasangkan dengan benar.
Dengan perlahan, ia menikmati rasa yang ia rindukan. Ia terdiam dengan merasakan penuhnya di bawah sana.
"Aduh, lupa pulak ambil pelumas. Nanti aku lecet lagi." ucap Adinda dengan menepuk jidatnya sendiri.
"Ya udah gampang, sok gerak." sahut Adi dengan bersiap membantu istrinya, dengan tangannya yang sudah memegang pinggul istrinya.
Adi menegakkan punggungnya, saat Adinda sudah mulai bergerak lincah dia atasnya. Tangannya masih setia membantu istrinya, dengan tangan Adinda yang tengah mengagumi dada bidang suaminya.
"Cium, Sayang." pinta Adi dengan nafas memburu.
Adinda langsung menyatukan bibirnya, sesaat ia melepaskan kembali bibirnya yang tengah bertaut dengan bibir suaminya.
"Pakek lidah, Abang tak puas." lanjut Adi dengan satu tangannya menekan tengkuk istrinya.
Adinda menahan dada suaminya, bermaksud ia menolak ajakan suaminya untuk berciuman. Namun, Adi terlanjur meraup bibir istrinya. Dengan cepat juga Adi memegang dan menekan rahang Adinda, sehingga mulut istrinya bisa terbuka dengan paksa. Saat itu juga, lidah Adi langsung menerobos masuk menjelajahi rongga mulut istriku.
Brakkk…
"Kau lagi ngapain, Bang? Pintu diketuk dari tadi……"
"ASTAGHFIRULLAH…. ADI!!!"
__ADS_1
Seruan dari arah pintu samping rumah Adi, yang langsung menembus ke ruang keluarga yang tengah digunakan untuk berc*nta oleh sepasang suami istri tersebut.
Sontak membuat Adi dan Adinda melepaskan pagutannya, dengan Adinda yang langsung manarik sarung suaminya. Untuk menutupi part belakangnya yang terekspos tersebut.
Adi reflek mengambil bantal sofa yang bisa ia raih, untuk menutupi paha mulus istrinya dan menutupi penyatuan mereka. Karena di belakang seorang wanita paruh baya tersebut, ada seorang laki-laki yang berstatus sebagai adik dari Adi.
"Umi… Abang, Abang…" ucap Adi gelagapan.
"Jadi macam ini kelakuan kau di sini? Umi panik, umi buru-buru ke sini pas denger anak kepatuk ular. Rupanya ular betina yang bikin kau tak pulang-pulang ini?"
"Besok Umi tunggu di rumah, kau harus jelasin ini sama Umi dan istri kau juga!" seru ibu Meutia, kemudian ia langsung menutup kembali pintu tersebut. Dengan ia bergegas pergi, untuk kembali ke kotanya.
Adi dan Adinda saling melempar pandangan, "Jangan bilang Abang punya barang mengkerut lagi? Aku bentar lagi loh, Bang." ucap Adinda yang mendapat gelengan kepala dari suaminya.
"Hmm, bentar. Abang mesti fokus dulu. Makanya kalau diajak ciuman itu nurut coba, biar Adi's bird tak mengkerut lagi." sahut Adi dengan meraba kembali tubuh istrinya.
"Mengkerut karena ke-gap, bukan karena ciuman. Dasar, dodol!" balas Adinda yang membuat Adi terkekeh di cetuk leher istrinya.
"Udah macam ini, tanggung kali loh Dek. Abang pun udah di batang rasanya." tutur Adi kemudian.
Adi mengangguk, "Udah tanggung, ya lanjut lah. Udah ketahuan ini, mau macam mana lagi coba. Umi juga udah pulang, masa ia mau ngejer-ngejer umi dengan keadaan k*n*ol ng*ce*g macam ini." jawab Adi yang membuat Adinda tertawa terbahak-bahak.
"Mana aku turn off lagi. Panasin lagi lah!" pinta Adinda dengan langsung disanggupi oleh Adi.
Kemudian, malam itu Adi menuntaskan kebutuhan istrinya. Hingga berakhir, sampai keduanya terkapar lemas di atas karpet ruang keluarga tersebut. Tentu mereka berakhir di atas karpet, karena Adi tak sabar melihat pergerakan istrinya. Sampai Adi melupakan luka yang berada di jari kelingking kakinya.
~
~
"Sayang, udah siap belum? Cepat lah, nanti ketinggalan pesawat." seru Adi dengan menggendong Givan. Karena anak itu menolak untuk diajak pergi, ia amat mencintai sekolahnya. Ia tak mau hanya untuk libur beberapa hari saja. Ia mengatakan takut bodoh, jika ia alfa satu hari saja.
Zuhra, Ghifar, Ghava dan Ghavi sudah berada di dalam mobil milik Adi. Ya, pagi ini Adi memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya dan juga Maya. Zuhra dengan senang hati ikut dalam perjalanan kali ini, karena tentu ia punya misi tersendiri dan juga untuk menjaga anak-anak dari kakaknya tersebut.
Adi sudah pasrah dengan hubungan rumah tangganya dengan Dinda, yang harus kandas setelah ini. Ia pun hanya bisa berharap, semoga orang tuanya tak jatuh sakit setelah mendengar kebenaran ini.
__ADS_1
"Aku tak mau ikut lah, biar aku sama Givan di sini aja." ungkap Adinda dengan wajah bimbangnya.
"Aku pun di sini aja, aku mau sekolah. Aku tak mau pulang ke nenek, biar nenek suruh ke sini aja." timpal Givan yang tengah merengek dalam gendongan ayahnya.
"Tak ke nenek, kita ke oma." sahut Adi dengan melirik sekilas pada anak yang tengah berada di dekapannya itu.
"Apa lagi ke oma, aku tak mau lah." balas Givan dengan memukuli ayah sambungnya tersebut.
"Ayo sih, Dek. Malah ngelamun lagi!" ujar Adi dengan menarik tangan istrinya.
"Aku tak mau aku ditunjuk-tunjuk dan di maki-maki. Biar aja aku dimaki di sana, kalau ada di sini kan aku tak tau. Jadi aku tak sakit hati." tukas Adinda dengan mengikuti langkah kaki suaminya.
"Tenang, Abang dipihak Adek." ucap Adi dengan melanjutkan langkah kakinya menuju ke mobilnya.
"Kak, nanti kunci rumah kasih ke kak Ayu atau ke mak cek aja ya." seru Adi pada seorang wanita paruh baya, yang tengah menyapu halaman rumahnya tersebut.
Yusniar mengangguk mengerti, "Ya Bang, nanti kuncinya Akak kasih ke cek atau ke Ayu." jawabnya dengan berhenti sejenak dari aktivitasnya.
"Aku pulang ke orang tua aku aja ya, Bang?" ucap Adinda, setelah mereka semua berada di dalam mobil.
Ghava dan Ghavi berada di kursi khususnya, dengan Zuhra yang memangku Ghifar. Sedangkan Adinda di bangku depan bersama suaminya, juga Givan yang dipangku oleh Adi sembari dirinya mengemudikan kendaraannya.
"Mobilnya tuh udah tak cukup, besok beli bus lah Pah." protes Givan yang merasa tak nyaman dengan posisinya.
"Ya Bang, ya?" lanjut Adinda dengan menggoyangkan lengan suaminya.
"Apa, Dek? Beli bus? Tak beli pick up aja kah? Kan enak sepoi-sepoi." tanya Adi dengan mulai melajukan mobilnya.
"Bukan lah… aku balik ke rumah ibu aja, biar Abang sendiri yang ke umi. Aku tak mau dihujat lah, Bang. Nanti aku sakit hati, terus main santet macam mana hayo?" jelas Adinda yang membuat Adi terkekeh geli.
"Tak apa, Kak. Nanti aku belain Akak juga. Kapan lagi coba, Kak? Mumpung semuanya udah terlanjur macam ini kan? Jadi enak Abang jelasin ke umi dan kak Mayanya." timpal Zuhra, membuat Adinda menoleh sekilas ke arah belakang.
Adinda terdiam dengan pandangan murung, ia sudah membayangkan makian menyakitkan yang harus ia dapatkan setelah ini.
......................
__ADS_1
Jadi kah Adi beliin mobil bus-nya? 😆