
Ya sudahlah, hanya Rp.700.000 ini. Tapi rasanya aku tak ikhlas. Huh, coba Dinda yang minta. Jangankan cuma 700 ribu, 700 juta pun akan kuberi.
Lalu setelah aku membayarnya, kami pun langsung pulang ke rumah kembali. Maya begitu manja, dari nada suaranya. Sampai saat aku mengemudi pun, tak hentinya ia menyentuh lenganku. Sebetulnya tak masalah, kalau aku tak beristri. Masalahnya sekarang aku beristri, jelas berlipat ganda dosa yang aku terima sekarang.
"Abang sampai kapan di sini? Ajak aku jalan-jalan lagi ya? Aku pengen refreshing." ucap Maya saat mobilku telah sampai di halaman rumahku. Ternyata mobil Jefri sudah terparkir di sini. Bisa ngadu dia ke Dinda, jika ia melihatku turun dari mobil dengan seorang wanita.
"Kalau masalah anak kita cepat teratasi. Aku juga harus nengok puyuh juga. Sekalian mau nambahin kandang." sahutku kemudian. Apa tadi aku kata? Anak kita? Ya ampun Adi, kenapa aku merasa semakin menyakiti Adindaku.
"Masalah akan teratasi kalau Abang nikahin aku." balas Maya yang kemudian langsung turun dari mobilku. Lalu ia berjalan menuju rumahnya sendiri.
Aku menunggu beberapa saat, sampai aku rasa aman untuk keluar dari mobil. Dan tak membuat beberapa orang di sini curiga padaku. Tentunya untuk mengelabui Jefri juga.
Karena aku paham, Jefri dan Haris masih cs dengan Dinda. Pasti satu sama lain akan saling melaporkan apa yang mereka tahu. Terlihat dari Jefri dan Haris yang masih menchat Dinda, dan saling bercerita tentang kehidupan mereka.
Aku berjalan memasuki rumahku dengan mengucapkan salam. Namun tak terdengar sahutan dari dalam rumah. Aku berjalan menuju kamar mandi, untuk buang air kecil.
Dan… apa lagi ini? Ya ampun, rasanya aku ingin menikahkan dua sejoli ini sekarang juga. Tanpa terganggu dengan kedatanganku, mereka asik beradu lidah di area dapur ini.
Begini kah rasanya Jefri, jika melihatku dan Dinda tengah berciuman dulu? Tapi sungguh ini cukup menyakitiku, pasalnya betina dari Jefri ialah adikku sendiri.
Aku mengambil tutup panci yang berada di susunan rak, dan aku membantingnya tepat di dekat mereka.
Klontang!
Bunyinya begitu nyaring terdengar ke segala penjuru ruangan.
Terlihat mereka terkejut dan langsung melepaskan pagutan bibir mereka.
"Sialan kau!" seru Jefri yang menemukanku tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Tuman!" balasku dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Kesal betul aku padanya. Apa Jefri ini sejenis pedofil kah? Pasalnya ia menyukai Zulfa yang baru berumur 20 tahun. Jarak mereka sampai sembilan tahun kurang lebih. Aku malah memikirkan Givan, dia kan dulu sering diajak Jefri. Aku khawatir Givan sudah menjadi korban dari Jefri. Aduh, amit-amit. Pokoknya jangan sampai.
__ADS_1
Kalau aku dan Dinda hanya berjarak lima tahun. Itu pun Dinda jelas sudah dewasa, dan berpengalaman. Tentu sudah siap petik.
Aku mencuci tanganku, setelah selesai menuntaskan buang air kecilku. Dan aku melihat Zulfa masih berkutat dengan perabotan kotornya.
"Ke mana Jefri? Udah lama dia di sini?" tanyaku pada Zulfa.
"Ke depan, Bang. Baru sampai, terus tak lama Abang datang." jawab Zulfa yang enggan menatapku. Tentu saja ia malu padaku, sudah dua kali ini aku melihatnya mesum dengan teman bang*atku itu.
Aku meneguk air putih yang barusan kutuang, dan langsung menuju ke ruang depan kembali.
"Eh, Di. Kapan datang kau? Dinda sama Givan gimana kabarnya?" tanya Jefri yang sambil menikmati rokoknya.
Alhamdulillah, tepat di bulan ini aku dan Dinda bisa melepaskan kebiasaan merokok kami. Ternyata usahaku tak sia-sia.
"Basa-basi kau?" sahutku sengit. Aku mengeluarkan ponselku dari saku celanaku. Dan menchat Adindaku sayang. Aku khawatir dia masih menangis sekarang.
"Is, kenapa mereka tak kau ajak juga?" ucap Jefri mengganggu pikiranku, yang tengah merangkai kalimat penenang untuk Dinda.
"Nih rokok. Mintalah adik kau jangan terlalu sering minta aku untuk nemenin dia di sini." tutur Jefri yang membuatku mengerutkan keningku. Apa maksudnya? Zulfa yang minta dia untuk sering-sering bermain macam itu?
Aku menoleh bingung padanya, "Jangan aneh-aneh! Zulfa kata kau mau bawa orang tua kau. Mana mereka?" tanyaku kemudian. Sungguh aku tak ingin membahas sejauh mana Jefri dan Zulfa. Karena jelas, aku malu untuk membahas keburukan adikku sendiri.
"Masih di rumah. Baru sampai jam empat pagi, jadi masih pada istirahat." jawab Jefri santai.
Aku tak menghiraukan perkataan Jefri. Aku fokus pada ponselku saja. Mengetikkan bait demi bait kalimat yang sekiranya menyentuh hati istriku.
Namun terdengar Jefri tertawa pecah. Rupanya dia tengah membaca tulisan yang aku ketikan. Dengan ia berdiri di belakangku.
"Dek, Dinda sayang. Balas pesan Abang dong." ledek Jefri dengan puas mentertawakanku.
"Kasian betul kau, Di. Bucin kau sama dia?" ucap Jefri dengan tawa yang mulai mereda.
"Marah dia sama aku. Aku lupa ngabarin kemarin. Terus pas lagi nelpon, aku mau ada urusan. Jadi tambah marah dia. Udah mana dia akhir-akhir ini sensitif kali, gampang ngamuk." ungkapku kemudian. Sungguh aku merasa frustasi sekali, jika istriku marah seperti ini. Aku tak bisa berkutik.
__ADS_1
"Butuh liburan kali dia. Biasanya macam itu kalau dia lagi jenuh." sahut Jefri yang memang lebih mengenal jauh tentang Dinda. Aku kurang lebih tiga bulan mengenal dia. Terus terjadi pernikahan siri itu.
"Tapi Jef, aku sering ajak dia jalan-jalan. Ya memang masih di kotaku aja. Seminggu kadang sampai tiga kali." sahutku memberitahunya.
"Kenapa ya? Biasanya betina bermasalah kalau dia kurang uang dan kurang di… ranjang." tutur Jefri dengan tatapan lurus ke depan.
Sontak membuatku langsung menoleh padanya, "Jadi maksud kau aku tak bisa muasin dia?" seruku dengan menatapnya tajam.
Dia malah terkekeh kecil, "Bukan macam itu juga. Kan tadi aku cuma kata macam itu. Kalau kau memang bisa muasin, berarti bukan itu kan masalahnya?" ucapnya yang langsung mendapat anggukan dariku.
"Berarti kau kurang banyak ngasih dia uang." jelas Jefri mengambil opsi yang pertama.
"Dan itu tak mungkin juga. Masalah keuangan, ATM, rekening, tabungan, dan jenis-jenis uang yang lain. Dia semua yang pegang, dia yang ngelola. Aku butuh uang, aku yang malah minta ke dia." sahutku menyangkal perkiraan bodohnya itu.
"Terus kenapa dia macam itu?" ungkap Jefri yang malah bertanya padaku.
"Balik lah kau sana! Kesal betul aku setiap nampak kau! Aku nanya ke kau! Aku minta solusi, malah tanya balik pulak kau sama aku. Macam mana lah kau ini?" seruku dengan mendelik malas padanya.
Dia malah terkekeh geli, "Aku ke sini, karena adik kau minta bantuan untuk masakannya. Bukan untuk nemuin kau juga!" balasnya menyahutiku. Kemudian dia masuk ke dalam rumahku kembali.
Entahlah aku tak perduli juga. Aku frustasi kali karena pesanku tak kunjung Dinda balas. Telponku pun enggan dia angkat. Sebetulnya tengah apa dia di sana? Jam-jam segini, biasanya dia sudah bersantai.
Aku terdiam termenung, menatap layar ponselku. Aku memperhatikan wallpaper ponselku, yang kupasang dengan wajah oriental istriku, yang tengah tersenyum manis ke arah kamera. Berbeda dengan Givan yang malah memanyunkan bibirnya ke arah kamera.
Aku cepat-cepat membuka aplikasi pesan chatku. Begitu ponselku bergetar dan muncul notifikasi pesan masuk.
Haduh, aku kira Dinda. Ternyata malah…
TBC.
Bang Jef masih eksis di season 2 ya 😅
Siapa nih yang ngechat bang Adi? 🤔
__ADS_1