
"Hallo, siapa ya?" ucap Dinda yang bisa kudengar.
"Kok malah tanya balik!" suara Dinda lagi yang bisa kudengar.
"Ada perlu apa dengan Adi? Biar saya sampaikan nanti." Dinda menyahuti Maya.
"Oh ya. Ada lagi?" tanya Dinda kemudian. Lalu ia mematikan sambungan teleponnya.
"Nih, katanya suruh hubungi dia." ujar Dinda sinis. Dengan memberikan ponselku.
"Abang juga pernah nyebutin nama Maya, waktu aku tanya nama mantan-mantan Abang." lanjutnya kemudian. Tajam betul ingatannya.
"Iya, Dek." sahutku kemudian.
"Ini Maya mantan Abang, dia yang hubungi Abang? Abang masih ada hubungan sama dia? Masih sering kontekan?" tanya Dinda berulang kali.
"Iya itu... Maya mantan Abang. Tapi memang lama tak pernah kontekan lagi." jawabku yang terpaksa lagi harus berbohong.
"Awas aja kalau Abang coba-coba main perempuan lagi. Aku tebas jakun Abang!" ancamnya dengan menunjukku dengan jari telunjuknya.
Aku langsung mengangguk cepat. Tak main-main ancaman istriku. Jakunku mau ditebas katanya.
Lalu ia berjalan menuju kamarnya meninggalkanku. Cepat-cepat aku meraih ponselku, dan berniat mengganti nama kontak Maya. Menjadi sebuah nama laki-laki.
Semoga aku bisa menyimpan rahasia ini sampai Dinda melahirkan nanti.
'Maaf ya Dek, bukan Abang mau bohongin Adek terus. Tapi Abang tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Adek dan kandungan Adek. Lebih-lebih Abang takut ditinggalin Adek. Meski tak mungkin, karena kondisi Adek tengah hamil anak Abang.' gumamku lirih.
Aku mengganti nama Maya dengan nama Furqon. Entahlah, hanya nama itu yang ada di benakku.
Lalu saat aku ingin mencharge ponselku. Ada panggilan masuk dari umi.
__ADS_1
"Ya, Umi. Assalamualaikum." ucapku mengangkat panggilan telepon dari umi.
"Wa'alaikum salam. Bang, ada masalah kah sama Maya? Ibu Rokhayah ada ngomong, katanya Abang sebelum pergi sempat marah-marah dan tendang barang-barang?" sahut umi kemudian.
Oh, jadi Maya dan ibunya bercerita pada umi. Ibu dan anak ini benar-benar! Apa mereka tak bisa menjaga mulutnya itu.
"Hallo, Bang." panggil umi menyadarkanku.
"Ya, Umi." sahutku kemudian.
"Kenapa diam aja?" tanya umi yang ternyata masih menunggu jawabanku.
"Umi kan tau, biar pun Abang hitam macam ini. Tapi Abang tak jorok. Pasti mandi setiap hari juga. Itu Maya baju kotor, keranjangnya sampai di masukin ke kamar. Mana banyak kali. Udah gitu bau betul lagi. Mayanya juga belum mandi, mana dia bau badan. Siapa orangnya yang tak kesal. Nyuci tinggal giling di mesin aja tuh, kayaknya berat betul dilakuin." ungkapku yang mengingat kejadian kemarin.
"Kan bisa diomongin baik-baik. Katanya Abang ngomongnya sampai kuat-kuat betul. Mana tendang-tendang barang lagi." sahut umi yang membela Maya sepertinya.
"Orang kalau marah pasti ngomongnya kuat-kuat. Kalau ngomongnya pelan-pelan, namanya bisik-bisik." balasku ketus.
"Tahun depan mungkin. Lebaran juga Abang di sini." jawabku sambil memikirkan sesuatu. Tapi enaknya macam mana ini? Istriku ada dua, satu di provinsi A. Satu lagi di kota C. Tak mungkin aku tiap minggu bolak-balik hanya demi gilir. Aku juga masih berat menerima kenyataan ini.
Belum lagi apa alasanku jika ditanya oleh Dinda. Mungkin nanti, jika Dinda sudah melahirkan. Aku sekalian akan mengajak anakku juga, untuk dikenalkan pada mereka semua. Tapi apa Dinda mau menerima kenyataan bahwa dirinya dimadu? Kenapa selalu saja serunyam ini?
"Maya mau dibawa ke sana kah?" ucap umi yang membuatku semakin pusing.
"Tak, Umi. Biarkan Maya di situ sama ibunya. Biar ada yang ngurus, biar anaknya juga nanti bisa keurus sama neneknya sendiri. Kalau sama Abang di sini, nanti malahan dia ngerasa asing sama neneknya sendiri." ujarku menoleh kiri kanan, takut-takut Dinda tengah berdiri di sekitar sini. Dan mendengar ucapanku.
"Terus peran Abang sebagai apa? Kalau apa-apa biar neneknya aja yang ngurus. Yang ingat, status Abang sekarang udah jadi suami. Udah jadi kepala keluarga." sahut umi mengingatkanku. Masalahnya, aku di sini pun tengah mengemban tugas sebagai kepala keluarga. Menjadi seorang suami, dan menjadi seorang ayah juga. Eh, aku lupa. Kemana perginya anakku tadi?
Aku langsung menuju ke luar rumah. Dan mencari keberadaan Givan. Dengan telepon yang masih menempel di telingaku.
"Bang, Adi. Hei, Bang." panggil umiku di sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Ya umi. Biar Abang pikirin nanti. Bilang Maya juga nanti jatah bulanan biar Abang transfer." balasku sambil menoleh kiri kanan. Dan aku melihat anakku dari jauh. Ia tengah bermain pasir, yang digunakan untuk membangun rumahku. Aku berjalan menuju ke sana. Tidak jauh juga, karena masih bisa terlihat dengan jangkauan mata. Tapi tidak dekat juga, karena rumahku berada di paling ujung jalan ini.
"Abang sibuk apa? Pagi-pagi macam ini kayaknya repot sekali." tanya umi yang sepertinya masih ingin mengobrol denganku.
"Sibuk ngeladang aja, Umi. Ini lagi jalan mau ke ladang." bohongku. Tak mungkin juga aku ke ladang dengan keadaan belum sarapan. Bisa-bisa aku pingsan di tengah teriknya matahari.
"Jadi masalah uang bisa dikirim kan, Bang? Terus nafkah batin yang harus Abang berikan macam mana? Apa dikirim juga? Malah dengar-dengar katanya Abang belum sempat tidur sama Maya." ungkap umiku. Sebegitu perhatiannya kah umiku? Atau memang ia hanya penasaran saja?
Sepertinya umi tahu ini dari Edi, atau dari Maya sendiri. Rasanya tak mungkin jika Jefri atau Haris mengatakan hal ini.
"Bisanya Maya sampai hamil itu kan karena Abang tidurin. Bisanya umi bahas-bahas masalah ini?" tuturku yang dibalas dengan kekehan kecil.
Givan melihatku yang berjalan ke arahnya.
"Boleh ya Pah main pasir?" serunya dengan tersenyum manis. Sudah pasti senyumnya mengembang agar aku memberinya izin. Aku hanya mengangguk menanggapinya. Dan Givan bermain pasir kembali bersama kawan sebayanya.
"Anak siapa itu, Bang? Mirip suara…" tukas umi yang langsung kupangkas.
"Tak tau anak siapa. Banyak anak-anak main pasir yang buat bangun rumah Abang." potongku langsung, sebelum umi menyelesaikan kalimatnya.
"Abang, dengerin Umi." tutur umi yang mengembalikan atensiku pada telepon yang masih tersambung.
"Ya Umi." sahutku agar umi melanjutkan kalimatnya
"Yang ikhlas nerima ini semua. Terima kenyataan bahwa Maya sekarang udah jadi istri Abang. Ingat anak yang Maya kandung. Kalau memang belum bisa untuk mencintai mereka. Coba beri rasa kasihan sedikit pada mereka, pada Maya dan anak yang dikandungnya. Coba pikirkan masa depan anak itu, jika tanpa peran ayahnya. Abang aja yang jelas orang tuanya lengkap, meski memiliki ayah sambung. Sempat tak terarah kan? Bagaimana nasib anak Abang nanti, kalau Abang masih macam ini aja. Tak mau kan nanti anaknya ngikutin jejak ayahnya yang masuk penjara dan sempat terjerumus ke pergaulan yang buruk?" Umi menasehatiku untuk pertama kalinya, setelah aku menikah. Coba jika umi menasehatiku untuk Dinda, bukan untuk Maya macam ini.
"Apa Abang masih berusaha pengen dapetin Dinda? Mana Dinda sekarang ada di provinsi A kan? Apa Abang pernah ketemu lagi sama dia." lanjut umi yang membuatku bingung ingin menjawab apa.
TBC.
Jadi mumet sendiri sama masalah Adi. Sebetulnya ia maunya gimana sih?
__ADS_1
Gemes juga sama umi. Kepo betul jadi orang 🙈