Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP202. Kondisi Naya


__ADS_3

Teriak Dinda yang membuat kami semua terhenyak kaget.


"Nitip anak-anak, Mi. Abang pergi dulu." ucapku dengan bergegas menuju ke tempat mobil diparkirkan.


"ABANG TUNGGU DI MOBIL, DEK…" seruku dari luar rumah.


Tak lama Dinda masuk ke dalam mobil, dengan tas bayi yang menggantung di bahunya. Aku langsung mengambil tas yang mengganggunya duduk tersebut, kemudian langsung memindahkan tas itu ke bangku belakang.


"Tengok, dia punya beberapa bintik merah. Kelenjar yang di bawah leher, belakang telinga, sama di ketek juga jendol betul. Cepet, Bang. Takut tak tertolong." ungkapnya yang membuatku panik seketika.


Beberapa menit kemudian, kami telah sampai di rumah sakit terdekat. Naya langsung diberi tindakan, dengan harus menjalani serangkaian tes. Untuk mengetahui benar atau tidaknya, dengan gajala yang Naya miliki. Dengan Naya yang langsung dipindahkan ke ruang inap balita.


"Dek… pulang aja gih, Naya biar sama Abang." ucapku dengan mencium pucuk kepalanya sekilas.


"Nanti kalau Abang urus ini itu, Naya sama siapa?" tanya Dinda dengan bergantian memperhatikan aku dan Naya.


"Nanti biar Zulfa atau ayah temani Abang di sini. Kasian anak ayam nyariin induknya nanti. Mana kembar bulat lonjong itu, masih nyon-nyon lagi." jawabku dengan duduk di tepian tempat tidur. Naya terlihat tengah tertidur, karena ia kelelahan menangis terus. Ia terlihat begitu kesakitan, saat perawat memasang infus di tangan mungilnya.


"Hmm, ya udah deh." sahutnya dengan berdiri di hadapanku. Ia terlalu mepet denganku, tak tahunya… ia malah menyosorku dengan cepat.


"Aku pakek taksi aja, biar mobil di sini aja. Mana tau Abang pakek untuk keperluan lain." lanjutnya yang langsung kuangguki.


Dinda pamit pulang padaku, dengan ia hanya melihat sekilas pada Naya. Sepertinya, Dinda masih berat untuk menerima anakku dengan perempuan lain ini. Padahal, dengan lapang dada aku menerima Givan. Tanpa aku bedakan dengan putra-putraku yang lain. Jangankan kasih sayang, untuk hal kecil lainnya pun aku paham betul dengan anak itu.

__ADS_1


~


Malam harinya, Naya BAB dengan disertai darah. Dengan di beberapa tempat di tubuhnya, terdapat memar yang bertambah banyak.


"Macam mana, Di? Ini makanan dari orang rumah." tanya ayah, yang baru sampai di rumah sakit ini.


Entahlah apa yang Zulfa lakukan di rumah, ia menolak menemaniku untuk menjaga Naya di rumah sakit. Padahal ia selalu ada di rumah, tak seperti Zuhra yang sering keluyuran siang malam. Meski tetap, Ghifar selalu diajaknya ke mana-mana.


Zuhra sudah terlihat seperti mamah muda, yang tengah mengajak anaknya berjalan-jalan. Karena dari foto yang diuploadnya di sosial media, Zuhra tengah berfoto bersama Ghifar dan teman-temannya yang kebanyakan adalah laki-laki semua. Meski ada juga, teman wanita yang berada di fotonya tersebut. Namun, ia sudah berjanji untuk tak menyentuh barang haram lagi. Ia pun tau waktu, juga selalu bercerita kepada Dinda setelah ia pergi ke luar. Ia juga selalu tepat waktu, untuk menyuapi Ghifar makan. Dengan makanan yang sudah disiapkan dari rumah.


"Keadaannya bertambah buruk, ini habis dicek sama dokter lagi. Katanya ingusnya ada darahnya juga." jawabku dengan menyugar rambutku ke samping kiri.


"Sakit apa memang?" sahut ayah dengan duduk di sofa yang tersedia.


Terdengar helaan nafas ayah, "Maya tuh macam mana sih? Tega betul sama anaknya." ujarnya seperti menggerutu.


"Karena anaknya memang untuk peralat Abang aja, Yah. Dia butuh uang, biar hidupnya enak." timpalku mencoba menyuarakan apa yang ada di pikiranku.


"Ayah pun baru paham pas dia ributin materi terus itu. Dia syok betul, pas tau sekarang Dinda yang berkuasa. Tapi keknya Dinda ngebet betul pengen dapetin kau, Bang. Sampek berapa banyak Maya minta, langsung dikasihnya tanpa pikir panjang." ucap Adi dengan membuka wadah makanan satu persatu.


"Dinda memang orangnya gampang kalau masalah uang. Mungkin dia mikirnya, biar cepat selesai. Terus Maya tak ganggu-ganggu kebahagiaannya lagi. Awalnya itu Dinda maksa minta cerai, Abang juga udah nyerah. Terus entah ngobrol apa sama Zuhra, sering betul mereka ngerumpi berdua. Siang malam ngobrol dengan suara pelan aja. Eh tak taunya, Dinda malah bilang mau ambil alih materi Abang terus apa tuh? Intinya Dinda jadi seolah pengen Maya mundur teratur, tapi oke juga caranya." ungkapku yang membuat ayah geleng-geleng kepala.


"Dinda pandai cakap, segala omongan Maya diputar balikkan ke Maya lagi. Dihina Maya, Dinda balik ngehina dengan ucapannya yang halus tapi maksudnya kasar. Ayah aja tak nyangka Dinda macam itu, pantas aja sebelum namanya padam dulu. Dinda jadi rebutan para supplier bahan kebutuhan kedai. Ternyata pandai dia cakap, dibolak-balik diputar-putarkannya." sahut ayah yang membuatku tersenyum sesaat. Aku malah teringat, jika aku beradu argumen dengan Dinda. Aku pasti kalah telak dibuatnya.

__ADS_1


"Ayah tau Dinda jadi rebutan supplier dulu?" tanyaku dengan memperhatikan wajah ayahku.


"Tau, kan pas itu ayah baru buka cabang di kota C. Kawan ayah ramai ngomongin Dinda, katanya ada janda cantik tapi galak. Kan kalau laki-laki lumayanan, Bang. Dikiranya Dinda itu gampangan, ternyata sekali nolak bikin orang sungkan. Tapi waktu itu dia setia megang supplier kopi dari B*njarmasin, biji aranio itu Bang. Sampek sekarang, supplier kopi aranio itu stabil di titiknya. Jadi Dinda itu tak cuma bikin vendor tertarik dengan produknya, tapi bisa bikin mereka setia masok ke dia juga. Yaaa… memang sih, kebanyakan juga coffe shop modern yang owner-nya anak muda. Yang jadi vendor dari produk yang Dinda pegang dulu." jelas ayah, dengan aku yang hanya manggut-manggut mengerti.


"Yang punya biji aranio itu Haris, Yah. Ayahnya Haris yang punya ladangnya, Haris ngambil dari ayahnya. Katanya ayahnya juga udah ada pasar sendiri, makanya Haris cuma bisa ngeluarin produk segitu-segitu aja." timpalku yang diperhatikan ayah dengan seksama.


"Pantas kau mabok, ke sana ke mari dikejarnya." sahutnya kemudian, yang membuatku tertawa malu.


"Orangnya pandai tarik ulur perasaan, Yah. Udah tau Abang orangnya baperan, dipepetnya tak dikasih kendor. Udah ngena betul di hati Abang, dia kabur tanpa alasan jelas. Diajak nikah tak mau, katanya udah aja jangan dilanjut. Terus segala alasannya keluar semua. Abang mana bisa ikhlas, udah aja bismillah nekat sekalian. Belum juga nyelub, udah digerebek warga." ungkapku bercerita tentang kilas cintaku dengan Dinda.


Ayah terlihat menahan tawanya, "Ohh, jadi nikah karena digerebek karena kau mau p*rk*sa dia? Licik juga kau!" ujar ayah kemudian.


"Ya… niat Abang hamilin dulu macam itu, biar dapat restu gampang. Biar Dinda juga minta tanggung jawab ke Abang, karena dia tak mau nikah sama Abang. Eh, pas udah punya istri. Malah ada perempuan lain yang minta tanggung jawab." tuturku dengan ayah yang menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Saat ayah akan menyahuti ucapanku, terdengar suara batuk dari Naya. Dengan sampai anak itu langsung duduk dari posisinya, mungkin ia merasa begitu tak nyaman dengan tenggorokannya.


Detik berikutnya, ia memuntahkan isi perutnya. Membuatku gemetar tak terkira, karena warna muntahannya seperti warna darah.


Aku langsung menekan tombol bel, yang berfungsi untuk memanggil dokter. Kemudian, setelah dokter datang aku dan ayah diminta untuk keluar sejenak dari ruang kamar ini.


TBC.


Kok aku kasian sama Naya 🥺

__ADS_1


__ADS_2