
Zuhra yang mendapat amukan dadakan dari Adi, membuatnya semakin merasa tidak nyaman tinggal di rumah kakaknya.
Ia pun tak menghendaki noda merah itu menempel pada sprei putih milik kakaknya. Hal itu membuatnya merasa malu bercampur takut pada kakaknya.
Tok, tok, tok…
Suara ketukan pintu di kamar Zuhra.
"Masuk aja." seru Zuhra dari dalam kamar.
"Lagi ngapain, Dek?" tanya Adinda setelah membuka pintu kamar Zuhra.
"Eh, Kak Dinda." jawab Zuhra dengan mematikan rokoknya, lalu berlari ke jendela. Agar asap rokoknya bertukar dengan udara yang bersih.
"Givan udah tidur, jadi aku baru bisa cuci mulut Kak." ucap Zuhra dengan tersenyum pada Adinda. Adinda pun sudah mengetahui, bahwa Zuhra aktif merokok.
Adinda mengangguk, kemudian duduk di tepian tempat tidur milik Zuhra.
"Katanya haidnya sakit, Dek. Udah mendingan belum?" tanya Adinda kemudian. Dengan memperhatikan kamar yang Zuhra tempati.
"Iya, Kak. Lagi sakit malah disuruh cuci sprei, kesel aku sama bang Adi." ungkap Zuhra dengan duduk di tengah tempat tidur, dengan jaraknya cukup dekat dengan Adinda.
"Kasih minyak kayu putih aja nih." sahut Adinda dengan memberikan Zuhra minyak dalam botol kecil tersebut.
Zuhra menerima barang tersebut dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, "Akak memang gak pernah tembus di sprei? Aku tembus sedikit aja, harus langsung dicuci sama bang Adi. Bang Adi itu bawel banget, sebenarnya aku mau nolak pas disuruh tinggal sama bang Adi. Tapi umi sampai nangis, aku jadi gak tega. Dari rumah aku udah bayangin, pasti aku hidup diatur-atur terus. Eh pas sampai sini malah beneran, jadi kenyataan ternyata." ungkap Zuhra bercerita.
"Abang memang bawel. Ya sama, Akak juga kalau tembus haid di sprei pasti disuruh cuci. Itu sprei kamar juga ganti setiap hari, padahal cuma dipakek tidur aja. Susah kalau udah sifat dan kebiasaan, intinya dia mau segalanya itu bersih. Tapi kan dengan macam itu juga, menandakan bahwa abang itu sayang sama kita, dia perhatian sama kita. Karena sesuatu yang kotor itu pasti tak baik." ujar Adinda memberitahu Zuhra, tentang suaminya yang memang begitu banyak aturan.
__ADS_1
Mereka terdiam sejenak, lalu Adinda menyuarakan suaranya lagi. Namun, malah membuat Zuhra kebingungan untuk menjawabnya.
"Ada cerita apa di sana? Umi udah tau kah tentang Akak yang ngandung anak abang kau." tanya Adinda dengan memperhatikan wajah Zuhra. Zuhra pun mencurigai sesuatu, saat mengetahui bahwa kakak iparnya menemuinya di dalam kamar. Saat suaminya sudah terlelap. Karena hal itu sering terjadi di sinetron Indonesia.
"Aku kurang tau juga kak, soalnya aku stay di kota J aja. Kadang kan Abang cuma singgah aja di kota J. Umi kayanya belum tau deh, Kak. Soalnya aku pun baru tau sekarang, ternyata Akak dan abang udah nikah, mana Akak lagi hamil sekarang." sahut Zuhra perlahan, dengan tersenyum meyakinkan pada kakaknya.
"Yakin tak ada apa-apa di sana? Atau memang, karena bang Adi kakak kau. Jadi kau gak mungkin bocorin rahasia bang Adi?" balas Adinda, karena menyadari bahwa Zuhra pun membohonginya.
"Hmm….. gimana ya kak? Aku kurang tau pasti, karena memang aku pun sibuk dengan urusanku sendiri. Cuma pas abang balik kemarin. Di meja makan sempat ribut, gara-gara di leher abang banyak kismarknya." ungkap Zuhra bercerita. Dengan menarik bantal, lalu merebahkan tubuhnya di dekat kakak iparnya.
"Terus?" tanya Adinda yang semakin penasaran dengan cerita adik iparnya.
"Terus Abang ngamuk, langsung buru-buru pergi ke kota C." jawab Zuhra dengan menarik tangan kakak iparnya, untuk meminta diusap bagian rambutnya.
Zuhra sudah semakin akrab dengan Adinda, ia pun ingin dimanja juga pada Adinda. Seperti halnya ia dimanja oleh orang tuanya di rumah. Karena Adinda berpesan, agar Zuhra menganggapnya dan Adi sebagai orang tuanya juga.
"Tapi percaya sama aku deh, Kak. Bang Adi itu cuma cintanya sama Akak. Dia selalu semangat kalau mau balik ke provinsi A." balas Zuhra menyimak keluh kesah kakak iparnya.
Adinda mengambil bantal, kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Zuhra.
"Aku jadi ingat pas bang Edi nikahan itu. Bang Adi selalu masuk ke kamar tidur yang Akak tempati. Pagi hajatannya, malah Akak mesra-mesraan di dapur. Padahal ada Givan di situ. Gemes aku sama tingkah kalian, masa mesum di depan anak kecil." ujar Zuhra mengutarakan apa yang ia lihat dulu.
"Kamar kau memang sebelah mana? Kok bisa tau?" tukas Adinda dengan wajah herannya.
"Kamar aku di bawah. Tapi kalau dongak ke atas, aku bisa langsung bisa liat pintu kamar yang Akak tempati itu. Terus gak sengaja pas keluar kamar, liat bang Adi keluar dari kamar itu juga. Terus yang waktu paginya, aku diminta buat manggilin bang Adi. Malah liat tangan bang Adi yang selalu nemplok di pinggang Akak, pas mau balik lagi malahan aku liat bang Adi kis pipi Akak." jujur Zuhra membuat mereka cekikikan bersama.
"Akak juga gak nyangka, bakal dinikahin sama abang kau. Soalnya kan sempat lost kontak juga, eh tau-tau bang Adi udah ada di rumah ini aja." tutur Adinda dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Itulah abang aku. Kalau udah cinta, pasti bakal diperjuangin setengah mati. Terus gak bakalan ninggalin juga, Kak. Kecuali memang perempuannya bikin masalah dulu. Soalnya aku pernah dengar cerita cinta bang Adi sama model itu, sampai masuk media loh Kak. Umi sampai turun tangan buat bersihin nama bang Adi." ucap Zuhra kemudian. Membuat Adinda mengernyitkan keningnya heran, benarkah seheboh itu cerita cinta suaminya dengan Nurul?
"Memang heboh kali kah, Dek?" tanya Adinda dengan memiringkan tubuhnya untuk menghadap pada Zuhra.
"Iya, Kak. Siapa tuh namanya yang model itu?" jawab Zuhra dengan menoleh pada Adinda sekilas.
"Nurul." sahut Adinda ringkas.
"Nah itu, soalnya kak Nurul itu punya satu single lagu yang booming saat itu. Padahal itu cuma lipsing gitu kak. Yang nyanyi orang, tapi dibeli sama kak Nurul suaranya. Jadi orang-orang pada ngiranya itu bener suara kak Nurul, soalnya yang model yang main di video klipnya itu kak Nurul. Terus katanya bang Adi sama kak Nurul itu lagi berantem di depan hotel yang ada di kota J. Gak sengaja, ada yang rekam. Terus masuk media, karena publik figur keluar dari hotel dengan laki-laki. Mana lagi berantem juga. Jadi langsung viral, Kak." jelas Zuhra bercerita. Adinda menyimak dengan seksama, pasalnya ia hanya menerima cerita singkat saja dari suaminya. Apa lagi ia menyadari bahwa dokter kecantikannya tersebut, memiliki minat setiap kali memandang suaminya.
"Kapan sih kejadiannya? Pas abang kau masih SMA? Atau pas abang kau kuliah?" balas Adinda dengan mengapit bantal guling di antara kakinya.
"Kayanya pas abang kuliah, Kak. Kejadian ini selalu dibahas kalau lagi kumpul keluarga. Jadi aku tau banget tuh." ucap Zuhra dengan melihat ponselnya sekilas, karena ada notifikasi masuk.
"Macam mana ceritanya?" tanya Adinda begitu penasaran. Zuhra memandang wajah kakak iparnya sesaat.
"Jangan cemburu Akaknya." jawab Zuhra sebelum memulai ceritanya. Adinda langsung mengangguk mengerti. Ia paham, kejadian itu sudah terlewati. Hanya saja ia sedikit penasaran pada masa lalu suaminya.
"Jadi waktu itu… kak Nurul itu artis yang tiba-tiba muncul dan langsung dikenal. Bukan artis juga sih, kaya model-model gitu kak. Tapi dia saat itu langsung punya nama. Terus, bang Adi ini main ke kota J. Katanya kuliahnya lagi longgar, jadi dia pengen ngunjungin umi. Pagi datang, siangnya abang langsung ngelayap. Terus ya mungkin abang ke hotel itu, nemuin kak Nurul. Beberapa hari kemudian, Bang Adi sama kak Nurul itu viral. Terus abang disidang kan sama umi, sama ayah. Ditanyain tuh kan, awalnya bang Adi ngelak terus. Terus mungkin bang Adi kedesak sama ayah, terus dia jujur. Bahwa memang dia mau ngamer sama kak Nurul itu, cuma memang tak jadi dan malah putus saat itu juga. Tapi abang gak pernah bilang putus karena apa gitu, terus umi juga gak pernah nanya. Dari situ kan umi marah, kecewa sama abang. Karena dari situ abang ketahuan, bahwa memang sering ngamer sama perempuan. Malah pas umi telepon ke cek Akbar, katanya abang sering liburan ke kota ini sambil bawa temen-temennya. Kan waktu sekolah sama kuliah Abang di kota L, Kak. Terus balik ke sini pas udah selesai kuliah." ungkap Zuhra bercerita tentang Adi dan Nurul. Adinda menyimak dengan seksama, sesekali ia menganggukkan kepalanya. Saat Zuhra dengan perlahan memberitahu kilas masa lalu Adi tersebut.
"Terus macam mana lagi, Dek?" ucap seseorang yang berada di ambang pintu. Dengan menatap tajam ke arah mereka berdua, yang tengah berghibah di atas tempat tidur tersebut.
"HAH…" kaget Zuhra dengan menoleh pada sumber suara. Dengan Adinda yang meringis kuda, karena ia tahu ia akan dimarahi setelah ini.
......................
Lagi ghibah, malah ketahuan 🤭
__ADS_1