Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP194. Naya sakit


__ADS_3

"Ya kali masa iya betulan kita lanjut ke kamar, sedangkan anak-anak dipegang ayah sama umi. Tak enak lah, Bang." balas Adinda dengan melirik sekilas pada suaminya.


Adi menghela nafas beratnya, "Ya udah deh, Abang usahain anak-anak tidur dulu. Terus kita bisa Ng W, kan mantap tuh." ujar Adi dengan mengelus celananya yang masih menggembung itu.


Adinda hanya bisa geleng-geleng kepala saja, mendengar penuturan suaminya tersebut.


"Abang ke depan ya, Dek." pamit Adi dengan mencuri satu kecupan di bibir istrinya, lalu ia berlalu pergi untuk menjaga anak-anaknya.


Adi berpapasan dengan Maya yang akan masuk ke dalam kamarnya, "Bang, ini gimana Naya panas terus?" ujar Maya dengan mengurungkan niatnya.


Adi langsung menyentuh kening Naya, "Udah makan belum dia?" tanya Adi pada Maya.


"Udah makan C*****c, Bang. Kenapa memang?" jawab Maya dengan memperhatikan wajah Adi.


Adi langsung mengambil alih Naya dalam gendongan Maya, "Dia belum minum obat apapun?" sahut Adi kemudian.


"Belum." balas Maya dengan memperhatikan wajah anaknya yang begitu lesu.


Adi langsung menuju ke kamarnya, yang ia tempati semalam. Kamar tamu yang berada di sebelah kamar Zuhra, dengan tambahan beberapa kasur angin di dalamnya.


Setelah menemukan apa yang ia cari, Adi langsung berjalan menuju ke arah tempat cuci kembali.


"Dek… dia panas tinggi, belum minum obat juga. Tolong kasihin obat dulu, Dek. Udah lesu macam ini." ucap Adi dengan memperhatikan reaksi wajah istrinya. Ia masih mengingat Adinda yang begitu menolak Naya. Ia pun sebenarnya ragu, untuk meminta bantuan pada istrinya. Tapi ia hanya mempercayai istrinya, untuk masalah obat anak-anak.


Adinda menggendong Naya, dengan tangannya memeriksa beberapa bagian tubuh Naya. Naya yang tengah lemas dan lesu, tak mampu menolak dengan siapa saja ia digendong.

__ADS_1


"Ini udah tak panas, Bang. Anget ini namanya. Tapi tak apa, dikasih Paracetamol aja. Buat ngeredahin nyerinya, mungkin dia sakit gigi atau dia suka gigit-gigit mainan. Jadi kan tubuhnya ngelawan virus yang masuk, dari mainan yang digigit-gigit itu." jelas Adinda, dengan membukakan tepak berwarna putih transparan itu. Yang biasa Dinda bawa, untuk keperluan obat yang mungkin diperlukan saat mereka bepergian.


"Coba tanya ke emaknya, berat bada Naya berapa?" pinta Adinda yang langsung diangguki oleh Adi.


Kemudian Adi berlalu pergi, untuk menemui Maya. Setelah mendapat jawaban dari Maya, Adi langsung bergegas untuk menemui Adinda kembali.


"8,5 kg katanya, Dek." ucap Adi dengan muncul secara tiba-tiba.


"Ish… kaget aku! Terus berapa umurnya?" tanya Adinda kemudian. Dengan ia memilah obat yang cocok untuk Naya..


"Hmm… beda sebulan sama Ghifar. Lebih awal Naya, dari pada Ghifar." jawab Adi setelah mengingat waktu kelahiran Naya. Karena ia tak tau pasti, berapa umur anak pertamanya dengan perempuan lain tersebut.


Adinda mengangguk, kemudian langsung memberikan Naya obat. Dengan segera pun, Adi mengambilkan air untuk Naya.


Adi langsung menyambut Naya dalam dekapannya, "Makasih, Sayang." ucap Adi dengan tersenyum lebar pada istrinya.


Kemudian, Adinda langsung mengerjakan tugasnya kembali. Dengan Adi yang membawa Naya, untuk diberikan kembali pada Maya.


"Nih, May." ujar Adi, setelah dirinya berada di kamar Maya.


"Ya udah pegang, itu juga anak Abang. Heran aku momongnya anaknya Dinda aja, sama Givan yang bukan anak kandungnya aja juga sayang banget. Heran deh aku." sahut Maya dengan fokus pada ponselnya.


"Dinda suruh anak kau untuk istirahat. Kau yakin mau campur Naya sama Ghifar? Abang sih tak yakin anak kau masih utuh, kalau dia maen sama Ghifar. Anak itu lebih anteng sendiri, dari pada ada temennya. Givan aja lebih suka main sendiri, dari pada nemenin adiknya main. Karena Ghifar suka rese, May. Dia maen getok-getok kepala orang aja, nanti Naya bisa drama lagi karena berantem sama Ghifar." ungkap Adi panjang lebar.


Bukan Adi tak mau untuk menjaga Naya, karena Dinda menyarankan Naya untuk beristirahat. Juga ia paham, bagaimana dengan Ghifar tersebut. Ia tak mau Maya memaki Ghifar, hanya karena masalah anak-anak saja.

__ADS_1


"Lagian kau sibuk apa? Mau masak kah? Atau mau nyuci?" tanya Adi kemudian.


Maya menggeleng cepat, "Aku capek, gak ada yang gantiin aku jaga Naya. Coba kalau Abang kasih aku baby sitter." jawab Maya saat Adi merebahkan anaknya di atas tempat tidur.


"Dinda yang anaknya empat aja, Abang tak kasih baby sitter. Apa lagi kau yang cuma satu anak! Lagian kau makan, tinggal makan. Cucian kau tinggal taruh di tempat cuci, karena di sini ada asisten rumah tangga. Di sana Dinda wajib masak, plus ngurus anak juga. Tak pernah tuh dia minta baby sitter, atau asisten rumah tangga. Abang juga cuma kasih kau ladang mentah, tak beserta orang atau fasilitas lainnya." sahut Adi yang menarik perhatian Maya.


"Kok begitu? Untuk apa aku dapat ladang, kalau gak diolah?" balas Maya dengan menggendong anaknya yang merengek.


"Ya terserah kau. Mau kau jual, mau kau bangun rumah. Itu terserah kau, May. Kan kau minta bagian, sedangkan Dinda cuma ngasih ladang. Masalahnya Abang pun bergantung dari hasil ladang milik Dinda, ladang Abang masih butuh waktu dan biaya untuk bisa sampek ke masa panen." ujar Adi, detik itu juga Maya melengos ke arah lain. Dengan helaan nafas yang begitu berat.


"Nyesel aku dinikahin Abang." tuturnya begitu lirih terdengar.


Adi tersenyum miring, "Kan dari awal udah kata, biar kau dinikahin orang aja. Kalau anak pasti kecukupannya, kau jangan khawatirin itu. Tapi kau tak mau, maksa tetap minta nikah. Kan begini akhirnya, karena sifat ambisius kau itu. Abang udah tak punya apa-apa, Abang cuma megangin aja. Ini segala yang ada di dompet Abang, yang Abang gunakan untuk ini itu. Ya uangnya Dinda, bukan uang Abang." tukas Adi kemudian.


"Ya harusnya bilang dari awal, kalau udah gak punya apa-apa. Fungsi Abang ini apa? Cuma nyakitin aku aja begitu? Menuhin kebutuhan biologis, enggak. Menuhin kebutuhan dapur dan anak pun, enggak. Cuma bikin rumit hidup aku, cuma bikin aku jadi punya anak aja!" ucap Maya begitu berani.


Adi membulatkan matanya, dengan menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Udah mending Naya sama Abang aja. Sama aku nanti malah gak kecukupan dia, aku juga mesti kerja." lanjut Maya kemudian.


Adi menghela nafasnya, "Bukannya…..


TBC.


Yang suka nanyain scene Maya nih..

__ADS_1


__ADS_2