
"Ya ampun Maya! Masih tidur aja?" seru Adi begitu menggelegar.
Maya langsung terbangun dari tidurnya. Ia terkejut bukan main, karena seruan dari suaminya.
Ibu Rokhayah mematikan kompornya cepat. Lalu ia berjalan menuju sumber suara. Ia hanya melihat dari kejauhan. Ia merasa tak berhak mencampuri urusan anak dan menantunya. Namun ia sedikit khawatir pada anaknya, karena mendapat suami yang seperti Adi.
Karena ia tahu, bahwa menantunya gampang tersinggung. Dan mudah sekali marah. Ia berharap, anaknya tak mencari masalah terus dengan menantunya.
"Ada apa, Bang?" tanya Maya seperti orang linglung.
"Ada apa lagi! Kau waras tak? Kau mandi kek, dandan kek, bikin sarapan kek. Tidur aja yang kau besarin!" jawab Adi, dengan intonasi suara yang meninggi.
"Kau ini udah bersuami. Layanin suaminya. Dandan yang wangi, yang bersih. Biar suaminya anteng mantengin kau aja! Beresin kamar, nyuci. Ganti juga itu seprai. Nyapu-nyapu, elap-elap atau ngapain kek. Bikin sarapan! Masak yang bener! Ngandelin orang tua aja kau. Mau kapan mandirinya?" sewot Adi dengan berkacak pinggang.
"Kenapa sih, Abang gak bisa ngertiin perempuan yang lagi hamil muda kaya aku? Abang gak paham tentang apa yang aku rasain." jawab Maya yang membuat emosi Adi semakin memuncak.
"Hamil kau jadikan alasan! Bangun, cepat mandi!" balas Adi, dengan berjalan keluar dari kamar. Lalu ia membanting pintu kamar sekeras mungkin. Dan pergi keluar dari rumah itu. Ia merasa emosinya tak akan habis-habis, sebelum semua yang ia pinta terlaksana semuanya.
'Dinda juga hamil, tapi tak macam itu. Jelas-jelas Dinda lebih parah, karena muntah-muntah terus. Tapi dia tetap bisa ngerjain semuanya. Tetap bisa bikin suami betah. Tetap bisa tampil menarik di depan suaminya. Heran betul aku sama Maya!' gerutu Adi, sembari berjalan menuju rumahnya.
Adi masuk ke dalam rumahnya yang Zulfa tempati. Lalu ia berjalan ke arah dapur.
Adi menemukan Zulfa tengah memakan sarapannya.
"Bikinin Abang teh manis. Terus buatin Abang telor mata sapi." ucap Adi dengan duduk di kursi makan.
Aktifitas makan Zulfa terhenti, lalu Zulfa memperhatikan wajah kakaknya itu.
"Sama kak Maya tuh, Bang. Aku buru-buru ini." tolak Zulfa harus.
"Jadi kau pun tak nurut sama Abang? Ketimbang disuruh bikin teh sama telor mata sapi aja kau banyak cakap betul." seru Adi dengan memelototi adiknya.
Zulfa langsung bangkit dari tempat duduknya. Dan mulai beraktifitas, untuk membuatkan yang kakaknya inginkan. Ia sangat takut, jika melihat kakaknya dengan wajah marahnya. Ditambah suara Adi yang tiada halus-halusnya itu.
'Heran sama perempuan yang tergila-gila sama bang Adi. Apa bagusnya coba? Kalau aja perempuan diluar sana tau gimana bang Adi kalau lagi marah. Uhh, pasti mereka pada kabur.' gumam Zulfa sangat pelan, dengan membubuhkan gula ke dalam gelas.
"Ngomong apa kau?" seru Adi ketus. Membuat Zulfa terhenyak kaget mendengarnya.
__ADS_1
"Gak, Bang." sahut Zulfa takut.
~
Siang harinya, Adi menemui Maya kembali. Ia dibuat dongkol setengah mati, saat melihat Maya yang masih melilitkan handuk di tubuhnya.
"Jadi kau masih belum mandi?" tanya Adi mulai sewot kembali.
"Katanya aku disuruh nyuci, beres-beres, ganti seprai. Ya aku baru sempet mandi sekarang." jawab Maya kemudian.
"Terus kau udah makan belum?" sahut Adi, dengan memperhatikan aktifitas Maya.
"Udah. Tadi aku makan dulu, terus beres-beres." balas Maya menoleh sejenak pada Adi.
Adi terdiam. Ia memikirkan kembali Adindanya. Kenapa dua wanita yang memiliki status yang sama dalam hidupnya ini, memiliki sifat dan kebiasaan yang bertolak belakang.
Adi menghela nafasnya. Ia harus memahami, bahwa setiap orang memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda.
"Kau udah masak buat Abang?" tanya Adi dengan suara yang mulai stabil.
"Belum sih. Tapi ibu udah masak sambal goreng. Abang mau makan tah? Tuh ambil aja di atas meja makan. Dibuka aja tudung sajinya." ungkap Maya, dengan berjalan menuju kamarnya.
"Kau mau ke mana lagi?" lanjut Adi memperhatikan langkah kaki Maya.
"Aku mau mandi, di kamar mandi kamar aku. Apa-apa Abang mintan disiapin. Istrinya udah kaya pembantunya. Berisik aku suruh mandiri, tapi Abang gak bisa ngurus segalanya sendiri. Cuma bisa nyuruh-nyuruh aja!" jawab Maya begitu berani.
Adi langsung membanting kursi makan. Otot-otot rahangnya mengencang.
"Sekali lagi kau macam ini. Tak segan-segan aku bakal langsung talak kau! Kau dengar ya, Maya….." seru Adi disela oleh ibu mertuanya.
"Ada temen kamu nungguin di depan." ucap ibu Rokhayah.
Tanpa melanjutkan kalimatnya, Adi langsung berlalu pergi ke luar rumah.
"Maya gak boleh gitu sama suami. Diturutin aja coba. Wajarnya suami minta dilayani semuanya." ujar ibu Rokhayah, menasehati anaknya itu.
"Aku udah kaya pembantunya. Disuruh-suruh terus." jawab Maya membela dirinya.
__ADS_1
Lalu ibu Rokhayah lanjut menasehati anaknya itu. Ibu Rokhayah tak habis pikir dengan Adi. Ia tak segan-segan membentak anaknya, meskipun berada di rumah orang tuanya. Ia Rokhayah berpikir, jika Maya sampai di boyong Adi. Sudah pasti akan sering terjadi KDRT. Karena Adi yang temperamental. Dan Maya yang malas, dan selalu menjawab jika diberi pengertian.
Di luar rumah, Adi melihat Haris tengah memperhatikan jalanan. Dengan rokok yang terselip di antara jarinya.
"Udah lama kau, Ris?" tanya Adi berbasa-basi.
"Lumayan lama. Sampai dengar suara bantingan barang." jawab Haris dengan melirik Adi sekilas.
Lalu Adi mengajak Haris, untuk mengobrol di rumahnya saja. Agar lebih leluasa.
"Di, jangan macam itu sama istri. Apa lagi kau tinggal bareng sama mertua kau juga. Jangan sampai, mertua kau merasa sial punya menantu macam kau." ucap Haris sambil menduduki sofa yang tersedia.
"Dia malas betul. Jawab aja. Dinda mana pernah macam itu." sahut Adi dengan membuka pintu rumahnya lebih lebar. Dan membuka beberapa jendela.
"Kau kan terbiasa hidup diatur sama Dinda. Kau terbiasa, hidup kau diurus sama dia. Terus kau harus hidup juga dengan perempuan lain. Pastilah dia tak sama dengan cara Dinda melayani kau, mengurus kau." balas Haris kemudian. Haris hanya bermaksud, agar Adi tak mengamuk seperti tadi. Karena jarak rumah yang berdekatan. Membuat tetangga merasa ingin tahu, karena bentakan, dan amukan Adi yang cukup keras.
Adi mencerna ucapan temannya itu. Ada benarnya juga, apa yang Haris katakan.
"Aku tau, kau cinta sama Dinda. Rasanya tak mungkin kan, kalau kau bentak-bentak dan ngamuk ke dia. Tapi yang paham, Di. Perempuan itu juga istri kau. Kalau memang dia ada salah, tinggal kau nasehatin dia pelan-pelan. Tak langsung mengamuk macam itu. Nanti kau yang nyesel sendiri loh." lanjut Haris kemudian.
"Bukan aku langsung ngamuk tak jelas. Mayanya yang memang keterlaluan. Tak jarang Dinda bangun kesiangan. Tak jarang Dinda bermalas-malasan. Tapi ada alasan di balik kesiangannya Dinda, di balik malasnya Dinda. Malah seingatku, cuma satu kali itu Dinda bermalas-malasan. Kata siapa aku tak pernah bentak-bentak dia? Dia susah diatur, ya aku marahin juga." ungkap Adi bercerita sedikit tentang kehidupannya.
"Kau bayangin aja. Maya jam tujuh masih tidur. Dibangun untuk subuh'an, dia tak ada pergerakan. Padahal malamnya Maya tak melakukan aktifitas fisik. Dia juga tak kecapean. Jadi apa tuh, kalau bukan ia sengaja pengen malas-malasan? Dinda kesiangan, kalau malamnya abis ngeladenin aku. Aku maklumi itu, dia capek. Malah tak jarang, aku yang bikinin sarapan buat dia, buat Givan. Terus juga Dinda tak pernah malas nyuci, beres-beres, masak juga dia lakuin setiap hari. Atas permintaan aku, sejak dia pulih dari sakit tifusnya itu. Dinda paham tugasnya tanpa aku suruh. Dia tak pernah jadikan kehamilannya untuk alasan. Dia tetap aktifitas seperti biasa." lanjut Adi bercerita.
"Jangan membedakan antara matahari dan bulan. Mereka bersinar saat waktunya tiba." sahut Haris menimpali.
Adi langsung menolehkan kepalanya, "Aku tak pernah berniat untuk bandingin. Cuma pengen segala sesuatu berjalan sesuai kehendak aku. Udah Maya tak tau tugasnya. Dibagi tau dia ngeyel terus." balas Adi terdengar begitu pusing.
"Kau bagi taunya pelan-pelan. Aku pernah dengar kau nyuruh Dinda, pas aku lagi telponan sama dia. Perasaan, kau cakap lembut betul. Tak ngotot, tak ngurat macam sama perempuan itu." tutur Haris, dengan menyalakan rokoknya lagi. Karena yang tadi ia nikmati, sudah tinggal puntungnya saja.
Adi menghela nafasnya, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Ia berpikir sejenak. Benarkah ia terlalu kasar dengan Maya?
TBC.
Galak betul sih Bang Adi 😕
__ADS_1
Aku jadi pikir-pikir dulu lah mau naksir sama Abang 🤭
Wah apa nih? jangan-jangan setelah ini Adi jadi baik ke Maya terus waheho rutin lagi 😫