
Namun, Adinda yakin akan satu hal. Ia meyakini Adi benar-benar mencintainya. Adinda sendiri pun tau, maksud dari pemerk*saan yang dulu suaminya lakukan padanya.
Bukan karena nafsu semata, Adinda paham bahwa Adi dulu sangat menginginkannya hamil. Untuk dijadikan sebagai alasan pada orang tuanya.
Namun ia menyadari satu fakta, janji Adi untuk membicarakan perihal kehamilannya pada orang tuanya tak pernah Adi tunaikan. Bahkan sampai dirinya akan siap melahirkan pun, Adi masih enggan mengatakan pada orang tuanya.
Adinda begitu dilema, ia bingung dengan semua ini. Ia menyadari bahwa memang Adi berulah di luar sana.
Ia ingin egois, jika tak melihat perutnya yang besar. Ia pun sudah lelah dengan semuanya, ia ingin segera diresmikan, ia ingin disambut baik oleh orang tua Adi. Namun, Adi tak pernah memberinya kejelasan.
Adinda teringat akan satu hal, yaitu sifat suaminya yang tidak tegas dalam mengambil keputusan dan selalu mengundur waktu.
Ia masih mengingat jelas, saat dulu dirinya meminta kejelasan tentang hubungan mereka pada Adi. Tapi Adi malah bungkam dan memilih untuk pergi. Saat Adinda memahami, bahwa Adi memang hanya bermain-main dengannya saja. Adi malah bersikap selayaknya kekasih, membuat Adinda dilema setengah mati.
Saat kejelasan sudah ia dapatkan dari Adi, tapi sayangnya Adinda sudah memilih untuk pergi dari kehidupan Adi. Karena waktu yang terus bergulir, membuatnya paham akan orang tuanya tak merestuinya dengan Adi. Orang tua Adinda hanya menginginkan orang pribumi asli, agar jika Adinda dibawa oleh suaminya. Orang tuanya sanggup untuk menengok keadaan anaknya. Kekhawatiran orang tua Adinda malah menjadi kenyataan, saat Adinda membutuhkan peran orang tua. Malah orang tuanya tak sanggup untuk menempuh jarak yang sangat jauh tersebut. Adinda merasa menjadi anak yang pembangkang, karena tak menuruti ucapan orang tuanya.
Ia merasa dirinya begitu malang, dengan nasibnya yang selalu mendapatkan ujian tersebut.
"Jangan melamun." tegur Supriyatna dengan menyentuh tangan Adinda.
Adinda melepaskan kembali tangan Supriyatna yang bertengger di atas punggung tangannya.
"Kau yang dengar tentang aku aja kasian kan sama aku? Tapi kenapa kau tambah-tambah beban aku? Dengan penjarakan suami aku? Benar kau ingin gantiin posisi dia di rumah? Kau berharap pengen jadi suami aku?" tuduh Adinda dengan memicingkan matanya pada Supriyatna.
__ADS_1
"Kalau kau mau, aku tak nolak." jawab Supriyatna dengan terkekeh kecil.
"Kau dengarkan aku… dengan Adi dipenjara, kau bisa pulang ke rumah orang tua kau. Lambat laun juga Adi menyerah, dan jatuhin talaknya saat kau udah stay di sana. Maaf kalau aku berdosa betul, minta kau buat cerai sama Adi. Tapi betul aku kasian sama kau. Adi ini macam membelenggu kau sehidup semati. Dia nikahin kau cuma buat kau tak bisa pulang ke orang tua aja. Laki-laki yang baik, tak akan halangi istri untuk berbakti pada orang tuanya. Silaturahmi kau dengan orang tua kau aja terhalangi, apa lagi untuk kau berbakti sama orang tua kau." lanjut Supriyatna dengan memperhatikan wajah Adinda lekat.
"Hanya karena jadi istrinya dia, bahkan karir kau pun redup. Aku paham bahwa pasti Adi gak izinkan dan tak support sama karir kau. Dia ingin menguasai kau, dia ingin kau bergantung sama dia. Jangan bilang kau bukan siapa-siapa. Aku tau orang-orang sukses asal kota C dan kau salah satunya. Jangan jadikan status kau mantan napi dengan kasus percobaan pembunuhan, untuk nakut-nakutin aku." lanjut Supriyatna, karena Adinda hanya terdiam membisu.
Adinda tak menyangka kasusnya dulu sampai didengar orang luar. Padahal ia sudah meminta Haris untuk menutup berita itu. Pantas saja dulu karirnya meredup, dan penerbit memikirkan ulang. Saat ia mengajukan naskah untuk diterbitkan.
"Aku tau kau sekejam itu, bahkan aku tak menyangka bahwa orang kejam macam kau bisa hamil macam ini. Ternyata orang kejam itu bodoh ya, kok mau-maunya dia dihamili laki-laki yang hanya nikahin di bawah tangan aja." ujar Supriyatna dengan menggelengkan kepalanya.
Entah apa maksudnya. Tapi Adinda paham, bahwa laki-laki, tersebut begitu menginginkan dirinya bangkit dan melawan suaminya.
"Udah cukup?" tanya Adinda dengan melirik sekilas pada Supriyatna.
"Aku ke sini, untuk minta kau cabut tuntutan atas suami aku. Bukan untuk mancing-mancing iblis dalam diri aku ini keluar. Aku akui aku bukan orang baik. Tapi kesalahanku dulu, bukan karena benar-benar ingin membunuh orang. Kecuali orang tersebut memang ingin dipisahkan antara badan dan kepalanya." ucap Adinda begitu dingin. Dengan menatap tajam pada Supriyatna.
Supriyatna merasa ngeri mendengar ucapan Adinda, Adinda seperti psikopat yang begitu kejam. Ia mengakui saat ini, bahwa memang Adinda adalah wanita yang tak bisa dipermainkan.
"Ok, biar aku pikirkan hal itu." putus Supriyatna cepat, "Tapi kau tak takut dimutilasi Adi kah? Gara-gara kau samperin aku ke sini." lanjutnya kemudian.
"Kalau masalah itu… liat aja nanti, aku atau pelakunya yang mati nanti." jawab Adinda dengan bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah pintu.
"Aku kasih kau waktu satu minggu, untuk cabut tuntutan itu. Aku tak mengancam, aku hanya ingin kau paham bahwa istri yang baik adalah istri yang mengabdi pada suaminya. Bukan maksud dia memutuskan tali silaturahmi antara aku dan orang tuaku. Tapi karena jarak menghalanginya. Aku akui suamiku bukan laki-laki yang baik. Tapi kau tak patut menyarankan aku untuk pergi darinya. Terima kasih atas saran dan masukan yang kau berikan, Kawan." ucap Adinda dengan tersenyum tipis pada Supriyatna, dan menyentuh bahu laki-laki yang berada di sampingnya tersebut.
__ADS_1
Lalu Adinda membuka pintu ruangan tersebut, dan keluar begitu saja.
Supriyatna bergidik ngeri, saat Adinda sudah tak ada lagi di hadapannya.
'Betina kah itu? Ngeri betul bisa bikin pelakunya mati. Siap-siap bonyok aja kau, Di! Saat kau berani main-main sama dia.' gumam Supriyatna yang malah merasa kasihan pada Adi.
Yang niat awalnya ia ingin membuat Adinda meninggalkan Adi dengan hasutannya. Malah membuat dirinya takut, karena sudah bermain-main dengan Adinda.
'Tau macam ini, waktu itu Adi biar kubikin bonyok aja sekalian.' gumamnya lagi, saat membersihkan tisu bekas air mata Adinda.
~
~
~
Lima belas hari berlalu, dengan Adinda yang terus bolak-balik ke kantor polisi. Ia tak merasa tenang, sampai kasus suaminya dicabut kembali.
Hari ini, Adinda menjenguk suaminya. Ia duduk berhadapan dengan saling mengunci pandangan pasangannya.
"Aku begini karena cinta aku, Bang." ucap Adinda tiba-tiba, dengan menunduk lesu sambil memainkan tangannya.
Adi merasa bingung dengan ucapan tiba-tiba dari istrinya. Apakah terjadi sesuatu di luar sana? Pertanyaan yang muncul di benak Adi.
__ADS_1
TBC.