Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP50. Kekacauan pikiran Adi


__ADS_3

ADI POV


Alhamdulillah, aku begitu bersyukur. Bisa memberikan hunian yang nyaman untuk anak dan istriku.


Givan berjanji akan tidur sendiri di ranjang barunya. Tapi aku yakin jika awal-awal, ia mesti ditemani juga.


Acara sore ini berjalan dengan lancar. Aku khawatir terjadi sesuatu lagi dengan anakku, Givan. Jika segala sesuatunya, aku handle juga. Jadi aku menyerahkan konsumsi pada pihak catering saja. Dengan demikian, aku bisa menjaga anakku. Bahkan untuk membagikan makanan di dalam rumahku, aku sengaja menyuruh beberapa orang untuk mengaturnya.


Aku tau, anak-anak tak akan pernah lepas dengan yang namanya lari-lari dan kejar-kejaran. Kemarin hari Givan sampai celaka, penyebabnya bukan karena piring itu. Tapi karena kelalaian aku menjaganya. Aku berjanji pada diriku sendiri, lain kali aku tak akan seceroboh itu dalam menjaganya.


Syukuran empat bulan sudah, syukuran rumah pun sudah. Harusnya aku hidup tenang sekarang. Tapi pikiranku begitu kacau akhir-akhir ini, sejak umi mengatakan dalam telepon bahwa Maya akan…


Flashback On


Aku begitu sibuk dengan pekerjaanku di ladang, namun Givan selalu meminta ikut denganku. Alhasil, aku membawanya berladang.


ia tengah anteng bermain game dalam ponselku. Lalu ia memberitahuku, dengan menyerahkan ponselku yang ia mainkan. Ia mengatakan bahwa umi menelponku. Tentu dia bisa tau, karena ia membaca nama yang tertera di layar ponsel. Dia tak berani mengangkat panggilan telepon, jika ponsel berbunyi. Dia langsung mengatakan dan memberikannya.


"Abang mainnya jangan jauh-jauh. Papah mau angkat telepon ini dulu, ok?" ucapku sebelum menyentuh ikon hijau, pada layar ponselku.


"Ok Papah." sahutnya, sambil membentuk huruf O dengan jempol dan telunjuk yang ia putar berlawanan.


Aku langsung menyentuh ikon hijau tersebut, "Ya Umi, assalamualaikum." ucapku dengan menempelkan ponselku pada telingaku.


"Wa'alaikum salam. Gimana punya kabar? Kenapa tak pernah telepon Umi?" tanya umi kemudian.


"Alhamdulillah baik, Umi. Kabar Umi macam mana?" jawabku, sambil memperhatikan anakku yang tengah berlari mengejar Safar. Entahlah apa yang tengah mereka mainkan.


"Sehat alhamdulillah, cuma makanan Umi dan ayah tetap harus dipantang." sahut umiku.


"Ya tak apa. Dipantang sampai benar-benar sehat." balasku yang memang tidak begitu mengerti tentang kesehatan.


"Renggang lagi ya sama Maya? Maya mau tujuh bulan, Abang tau tak?" ujar umi. Aku tau, pasti Maya melaporkan semuanya pada umi. Inilah yang tak aku sukai darinya. Apa-apa ia laporkan pada orang tuaku.


"Tau kok, Umi." jawabku ngasal. Karena memang aku tak tau pasti.


"Segala nomor istri sendiri diblokir. Masalahnya apa sih, Bang? Rumah tangga kok macam itu! Tak baik Bang nganggap istri sendiri macam musuhnya." ujar umi, yang sepertinya akan mulai menasehatiku kembali.

__ADS_1


"Tak macam itu kok, Umi. Rencananya memang sore ini mau dibuka blokirannya. Abang macam itu, cuma mau ngasih pelajaran aja buat Maya." sahutku kemudian.


"Bang, dibawa ya?" ucap Safar padaku, ia meminta izin untuk membawa Givan.


"Ke mana?" tanyaku padanya. Aku mengesampingkan sebentar sambungan teleponku pada umi. Kalau aku langsung mengiyakan, yang ada malah aku tak tau ke mana Safar membawa anakku.


"Ke warung, beli rokok sama dia minta jajan." jawabnya, lalu aku mengangguk mengizinkan.


"Siapa itu, Bang?" tanya umiku, saat aku mendekatkan lagi ponselku pada telingaku.


"Safar, Umi. Gimana tadi?" jawabku, dengan berjalan menuju gubug untuk berteduh.


"Ohh, iya nanti Abang balik ya pas tujuh bulanan Maya. Nanti juga Umi sama ayah datang kok ke sana." tutur umi. Aku terdiam memikirkan. Aku harus beralasan apa lagi untuk meminta izin pada Dinda. Masa aku harus berbohong lagi? Rasanya tak mungkin juga aku berbohong bahwa umi dan ayah sakit lagi. Aku malah takut umi dan ayah kembali sakit, jika aku mengatakan hal demikian pada Dinda.


"Liat nanti aja, Umi. Abang tak janji. Tapi kalau lahiran, Abang usahain balik deh." tukasku langsung memberi keputusan. Karena aku tak mungkin tak ada di samping Maya, saat dirinya berjuang melahirkan anak kami. Yahhh, anakku dengannya.


"Kok macam itu? Nanti pas Maya mandi kan, kau pun dimandikan di sana. Masa Maya mesti mandi sendiri?" ucap umi.


"Mandi sendiri ajalah, Umi. Abang tak bisa keknya. Ini aja Abang lagi sibuk betul di ladang. Kadang malam aja masih ngobrol sama orang-orangnya." ujarku yang intinya mengatakan bahwa aku tak bisa datang.


"Ya Umi, Abang usahakan. Tapi Abang tak janji bisa datang." balasku, dengan bersandar pada kayu pembatasan gubug untuk berteduh ini.


"Ya udah kalau macam itu. Yang inget Bang, Abang ini udah punya istri. Jangan main perempuan di sana." tutur umi mengatakan hal itu. Ini membuatku mengingat kembali pada wanita yang memasakkan makanan untukku di rumah. Aku tak bermain wanita, dia juga istriku. Istri sah menurut agamaku.


"Ya Umi, jaga kesehatan. Assalamualaikum." tukasku. Lalu aku mematikan sambungan telepon, setelah umi menjawab salamku.


Flashback off


Kandungan Maya dan Dinda berjarak dua bulan. Jika nanti Maya melahirkan, kandungan Adinda menginjak bulan ketujuh. Dan jika Maya selesai nifas, sekitar dua minggu lagi. Dinda akan melahirkan. Bagaimana aku bisa mengatur ini semua?


Rasanya aku ingin memilih salah satu di antara mereka saja. Tapi siapa yang harus kupilih?


Bersama Maya aku memiliki anak. Bersama Dinda, aku pun memiliki keturunan. Apa lagi jelas, hati, pikiran, dan jiwaku hanya untuk Adindaku.


Kalau aku diminta untuk memilih, tentu aku akan memilih Adindaku. Tapi aku berat pada anakku bersama Maya. Aku ingin anakku ikut denganku, jika sampai aku berpisah dengan Maya.


Tapi aku sadar, masalahku bukan sampai di situ saja. Aku tak yakin Dinda mau menerima anakku. Karena pasti ia berpikir ada pengkhianatan terhadapnya, atas benih yang menjadi keturunanku dengan perempuan lain tersebut.

__ADS_1


Jika aku, pasti bisa menganggap Givan sebagai anakku sendiri. Karena sebelum aku memutuskan untuk menikahi ibunya. Aku jauh lebih dulu menyayangi anaknya. Anak yang pandai, yang selalu membuatku merasa bahagia dan ceria hanya dengan menemaninya bermain.


"Bang…."


"ABANG…."


Teriak istriku berulang. Apa rumah ini terlalu besar. Sampai-sampai Dinda selalu meneriakiku, bila memanggilku.


"Dengar, Sayang…." seruku menyahutinya.


"Belikan ini, aku lagi malas keluar. Aku pengen lurusin pinggang aku bentar, capek kali soalnya." ucapnya setelah berada di depanku. Kalau memang ia ingin menemuiku. Harusnya tadi ia tak usah berteriak. Hadeh, kadang ada saja yang membuat gemas.


"Givan suruh masuk gih." pintaku. Karena posisiku sekarang di halaman rumah. Dengan pagar yang menjulang tinggi.


"Diajak aja dong. Biar Abang tak lirik sana-sini. Betina pun bakal sungkan godain Abang, karena jelas Abang bawa anak." ujarnya, membuatku geleng-geleng kepala.


"Ya udah sana Adek masuk." sahutku kemudian.


Ternyata aku melupakan stok bahan makanan untuk kami. Dan sepertinya memang sudah tak tersisa lagi. Sampai-sampai Dinda menyuruhku malam-malam seperti ini. Memang masih sore juga, baru juga lepas masa maghrib.


Lalu aku mengajak Givan dengan mobilku. Aku akan berbelanja di minimarket terdekat saja. Karena banyak barang yang mungkin tak ada di toko sekitar sini.


Setelah sampai di minimarket, aku membaca satu per satu catatan yang Dinda berikan. Biasanya aku hanya membawakan belanjaannya saja, kini aku pun harus turun tangan sendiri. Kenapa aku tak seperti Dinda saat berbelanja, yang hanya mengambil dan menaruh dalam keranjang belanjaan. Aku pusing mencari nama-nama produk yang tertera di sini. Perasaan kenapa produk itu sulit sekali dicari di susunan rak-rak ini.


"Maaf, bisa minta tolong ambilkan itu." ucap seorang wanita yang berada di dekatku. Ia meminta bantuan padaku.


Aku mengambilkan apa yang ia tunjuk, namun saat aku memberikan barang tersebut. Aku terkejut bukan main, saat melihat siapa yang meminta tolong padaku tadi.


"Heh, kau di sini?" ucapku kaget.


TBC.


Pasti Adi lagi kacau setengah mati. istrinya sama-sama lagi hamil.


Ho ah ho eh 😆


Ketemu siapa lagi itu, Woy?

__ADS_1


__ADS_2