Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP156. Foto bersama


__ADS_3

ADI POV


Aku tengah duduk bersama Zulfa, aku merasa bosan berada di pesta ini. Karena Dinda yang ke sana ke mari sendiri dan selalu mengabaikan aku. Belum lagi debat yang selalu menghiasi hubungan kami, setiap kali aku berbicara dengannya.


Jefri mengambil mikrofon, lalu ia membawa mikrofon itu pergi. Aku bisa mengetahuinya, karena aku duduk di dekat panggung kecil. Tempat beberapa alat musik dimainkan, dengan orang-orang yang silih berganti menyumbangkan lagu untuk memeriahkan acara ini.


Lalu musik dimainkan, dengan Jefri yang berjalan ke arah pelaminan. Oh, ternyata istriku berada di sana. Dengan Shilla dan seorang wanita lagi ya yang tak aku kenali.


Terdengar dari mode musiknya, seperti aliran dangdut bercampur reggae. Kemudian, Jefri mendekatkan mikrofon pada bibirnya. Apa? Jefri menyanyi? Aku tersenyum geli sendiri melihat Jefri yang akan menyuarakan suaranya itu.


Sunyi sepi malam tanpa sinar bulan


Sesepi diriku sendiri dalam penantian


Bait lagu yang dialunkan oleh Jefri, kemudian dengan cepat Jefri menempelkan mikrofon itu pada bibir istriku.


Sesaat Dinda tampak terkejut dan membulatkan matanya, dengan tersenyum canggung.


Tak tahan rasanya gelora di jiwa


Ingin segera bertemu


Lanjut Dinda melanjutkan syair lagu itu. Memang suara Jefri tadi tak seburuk yang aku kira, tapi suara Dinda luar biasa menarik perhatian semua orang yang berada di aula gedung ini.


Duhai kekasihku


Duhai pujaanku


Aku rindu kepadamu


Sekian lamanya 'ku memendam rasa


Tak tertahan lagi rasa gundah di dalam dada


Teringat dirimu, terbayang kau selalu


Setiap malam-malamku

__ADS_1


Datanglah sayangku


Hadirlah kasihku


Wulan ini merindumu


Lalu Dinda memberikan mikrofon itu pada Alvi. Tanpa terduga, mempelai wanita itu melanjutkan lagu yang tengah dinyanyikan tersebut. Hatiku tersentuh saat Dinda mengalunkan bait, Aku rindu kepadamu.


Dinda tak mau lagi menyanyi, ia selalu menggeleng setiap kali Alvi menyodorkan mikrofon itu padanya.


Sampai selesai lagu, Dinda masih berada di sana. Lalu fotografer mengatakan sesuatu pada Jefri. Aku tak bisa mendengar ucapan mereka, karena aku berada cukup jauh dari jangkauan mereka. Aku hanya bisa melihat dan memperhatikan aktivitas mereka.


Tak lama, tiga orang anak berjalan ke arah pelaminan dengan menggunakan baju adat daerah Alvi.


Aku tau anak itu adalah Givan, Ken dan seorang anak perempuan. Aku pun pernah melihat anak perempuan itu, tapi di mana ya? Karena jelas itu bukan Kin.


Anak perempuan itu langsung memeluk kaki Shila. Oh iya, aku pernah melihatnya saat aku baru bangun dari tidurku. Saat aku berada di rumah Haris, karena aku mabuk di bar waktu itu. Saat aku baru mengenal Adinda. Aku jadi tersenyum geli, karena teringat kembali kejadian itu. Hm, Adindaku memang unik dan tidak bisa ditebak. Karena malamnya ia di bar bersamaku, Jefri dan Haris. Namun, esok harinya. Shila mengatakan, bahwa anaknya baru selesai setor hafalan surat pendek pada Dinda. Dalam jangka waktu yang tak lama, Dinda melakukan kegiatan maksiat sekaligus mengerjakan kebaikan. Apa saat ia mengajar ngaji waktu itu, kadar alkohol dalam dirinya sudah hilang? Kenapa pula aku memikirkan sampai sejauh itu?


Dua orang pengasuh berjalan ke arah pelaminan, dengan menggendong Kin dan… anakku si Ghifar dari gua hantu. Entahlah, itu sebutan dari tantenya sendiri. Zuhra selalu meledek Ghifar seperti itu, Ghifar juga selalu meneriaki Zuhra setiap kali ia melihat Zuhra tengah berada di jangkauannya. Ghifar sedikit berisik, jika bersama Zuhra. Tapi aku suka melihat mereka berinteraksi seperti itu, karena Zuhra terlihat begitu akrab dengan anak-anakku.


Oh, ternyata mereka semua akan foto bareng. Ghifar diberikan pada ibunya, lalu Kin diberikan pada Alvi. Kin juga memakai pakaian adat daerah Alvi juga. Mereka memasang senyum bahagianya, lalu fotografer mengambil beberapa jepretan.


"Dua orang, Bang. Abang sama Adek tadi." seru fotografer yang mungkin tengah mengamati pergerakan aku dan Zulfa.


Ya maklum aku tak paham, karena hanya menggunakan isyarat saja. Kemudian aku langsung berjalan menuju pelaminan dan langsung diarahkan untuk berdiri di samping Adinda. Sedangkan Zulfa, berdiri di samping Jefri.


Setelah selesai berfoto, aku tetap berada di situ. Karena Givan memegang tanganku.


Dinda mendekati fotografer tersebut, lalu ia membisikkan sesuatu padanya.


Tak lama anak Shila, Ken, Kin dan Givan diposisikan di depanku. Lalu Dinda kembali ke sebelahku, dengan masih menggendong Ghifar. Oh, ternyata Dinda ingin foto bersama anak-anak dan juga aku? Tapi apa maksudnya?


Aku melihat ke arah keluargaku berada, terlihat mereka semua tengah memperhatikan aku. Maya juga, dengan memasang muka masamnya. Ia begitu terlihat cemburu pada Dinda, malah tadi ia sempat bertanya padaku. Ia bertanya dengan membandingkan dirinya sendiri, cantikan aku atau Dinda itu. Tanyanya yang membuatku tak berani menjawab. Karena menurutku memang cantik Maya, hanya secara wajah saja. Tapi jika keseluruhan, menurutku lebih cantik Dinda. Apa lagi ia terlihat mudah bergaul, dengan beberapa kali berjabat tangan dengan para undangan. Tentu Dinda pasti mendapat pujian atas penampilannya hari ini.


Ia berpenampilan tak terlalu menor, tapi juga memang ia memoles wajahnya. Berbeda dengan Maya yang seolah ingin menandingi make up pengantin, ia tak tahu kira memberikan warna pada wajahnya. Malah saat kejadian aku dan keluargaku akan ke butik, lalu bertemu dengan Dinda itu. Riasan wajah Maya seperti orang demam, dengan warna merah di bawah mata. Mungkin memang style masa kini, tapi menurutku setiap orang berbeda kecocokannya. Tergantung bentuk wajah, juga pakaian yang dipakainya. Seingatku, Dinda memoles wajahnya hanya saat ke pernikahan Edi waktu itu. Lalu sekarang juga, tapi tetap hanya polesan pias saja.


"Jangan dulu pulang, makan aja dulu. Ngapain kek, foto atau atraksi gitu. Temenin aku di sini, pulangnya bareng aku." ucap Haris padaku dan Dinda yang baru selesai berfoto.

__ADS_1


Yang benar saja, masa iya mau atraksi. Live show kemesraan kami berdua begitu? Hmm, kan nanti aku jadi enak.


"Ya, Bang." sahut Adinda lalu menggiring anak-anak untuk turun dari panggung pelaminan. Karena masih banyak orang yang ingin berfoto-foto dengan pengantin.


"Aku mau istirahat. Kalau mau, Abang boleh sama anak-anak. Aku pengen selonjoran, kaki aku capek kali pakek hills dari tadi." ucap Adinda saat kami baru turun dari pelaminan.


Shila datang, lalu mengajak anaknya makan. Aku pun ingin beralasan pada keluargaku, agar aku tak pulang bersama mereka. Biar aku di sini, sampai acara selesai. Aku ingin menjaga istriku, dari para laki-laki yang berseliweran ini.


Aku menganggukkan kepalaku, "Ya udah, Ghifar sama Abang aja kah? Biar Adek enak istirahatnya?" tanyaku dengan menggandeng kedua tangan anak laki-laki ini, Givan dan Ken.


Dinda menggeleng, mungkin ia menolak saranku tadi.


"Ken mau sama Papah kah?" tanya Dinda pada Ken, lalu Ken hanya mengangguk menanggapi.


"Ya udah, ati-ati. Maen di luar sana, sama Papah tuh ya. Jangan nakal, jangan jauh-jauh dari Papah." ucap Dinda pada dua orang anak laki-laki ini.


"Ya Mamah." sahut Givan, dengan Ken yang hanya mengangguk kembali.


Lalu dia berbalik badan, kemudian melanjutkan langkah kakinya ke ruangan lain. Ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh keluarga saja.


Saat aku akan melewati keluargaku, aku mendengar mamaku diserukan oleh Maya.


Aku membawa dua orang anak ini, untuk menghampiri keluargaku.


Givan dan Ken mencium tangan anggota keluarga yang aku bawa, lalu setelahnya ia memasang senyum manisnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kenapa dengan anak ini? Kenapa berubah seperti Ken? Biasanya Givan amat cerewet, apa lagi dengan orang yang dikenalnya.


"Papah ayo main di luar." bukan ajakan dari Givan, tapi Ken yang bersuara barusan.


"Bentar ya, Bang." sahutku dengan menoleh pada anak itu.


"Abang kenapa sih ngajakin anak orang terus? Tadi bayinya, sekarang anak yang besarnya. Terus siapa lagi ini? Antar balik itu anak-anak, terus ayo kita pulang." ucap Maya kemudian.


"Siapa anak orang?" tanya Givan kemudian, dengan ia menoleh bergantian padaku juga Maya.


Aduh, apa lagi ini?


TBC.

__ADS_1


Jangan-jangan Givan mau bilang, bahwa..... 😱


__ADS_2