
Pagi harinya, aku sudah mendapatkan hasil dari tes darah Naya. Bayi 10 bulan itu memang terkena DBD, kemungkinan dari empat hari atau dua minggu yang lalu. Makanya gejala yang ia rasakan baru sekarang.
Naya pendarahan terus menerus, dari diare dan hidungnya. Dengan dokter menjelaskan panjang lebar, yang intinya menyarankan Naya untuk transfusi darah. Karena trombosit Naya terus menurun, seperti itulah penjelasan yang bisa aku tangkap.
Aku sudah mengatakan bahwa golongan darahku adalah AB, tapi pihak rumah sakit tetap memaksaku untuk mengambil sampel darahku.
"Naya apa golongan darahnya?" tanya ayah, setelah aku kembali ke kamar Naya. Selepas cek darah di ruangan lain.
"Golongan darah Naya, O. Sedangkan Abang udah kata, golongan darah Adi ini AB. Tapi tetap suruh tes. Telepon Maya aja kah, Yah? Keknya golongan darah Naya sama kek Maya." usulku yang langsung diangguki oleh ayah.
Aku langsung mencari nama Maya, kemudian langsung melakukan panggilan telepon padanya.
"Ya, Bang. Ada apa?" tanya Maya terdengar tanpa basa-basi lagi.
"Naya kena DBD, butuh transfusi darah. Sedangkan golongan darah Abang tak sama macam Naya." ungkapku yang langsung mendapat seruan kaget darinya.
"Kenapa kau, May? Mungkin golongan darah Naya sama macam kau, cepet kau datang ke sini." pintaku kemudian.
"Memang golongan darah Naya apa?" tanya Maya kemudian. Mungkin ini pertama kalinya Naya cek darah, makanya Maya pun tak mengetahui golongan darah Naya. Pikirku seperti itu, karena Naya tergolong anak yang jarang sakit. Setahuku dari cerita umi itu juga. Karena selain aku tak pernah menanyakan kondisi Maya dan Naya, pikiranku dan hatiku pun tak pernah terlintas memikirkan mereka. Tidak seperti pada Ghifar atau di kembar, maupun si sulung. Yang setiap tak terlihat saat memandang sekitar, lalu tak menemukan keberadaan mereka. Aku langsung merasa khawatir dan panik berlebih.
"Katanya O, May. Cepet ya ke sini." jawabku kemudian.
"Coba cari di bank darah aja, aku lagi di kota B sama ibu. Aku lagi gak di rumah, Bang." sahut Maya yang membuat aku merasa iba pada putriku ini. Kasihan betul kau, Nak. Kau punya ibu, macam tak punya ibu.
"Ya udah." putusku langsung, dengan mematikan sambungan teleponnya.
"Macam mana, Di?" tanya ayah yang sedari tadi memperhatikan aku.
"Maya tak ada di rumah. Biar Adi tanya orang rumah aja dulu, soalnya tadi pihak rumah sakit ada bilang lagi kosong stok darah golongan O di rumah sakit ini tuh." jelasku yang membuat ayah terdiam, tapi wajahnya terlihat begitu bingung.
__ADS_1
Aku langsung menghubungi Dinda, dengan berjalan menuju luar ruangan ini. Aku takut Naya terbangun, karena anak itu baru tertidur saat aku hendak dicek darah tadi.
"Hallo, Dek." ucapku setelah panggilan tersambung, juga terdengar suara berisik dari sambungan telepon ini.
"Ya, Bang. Beli aja makanannya, aku sama orang rumah lagi repot ini. Anak-anak lagi pada ngamuk, Givan minta sekolah. Ghifar minta papah bang Adi katanya." ungkap Dinda yang membuatku geleng-geleng kepala. Bisanya anakku memanggilku dengan sebutan bang Adi?
"Mana Ghifarnya, Dek. Sini Abang mau ngomong." ujarku yang langsung mendapat suara tangis yang terdengar begitu kencang.
"Hei, anak Papah. Jangan ngamuk dong, nanti ya Papah bentar lagi pulang. Bang Ghifar jangan nakal. Mending temenin bang Givan cari sekolah gih, temenin bang Givannya sekolah ya." ucapku kemudian. Terdengar tangis khas dari Ghifar berhenti, dengan terdengar celotehannya yang baru bisa papah-papah, bang Di dan mam saja.
"Jadi turutin aja kah Givan sekolahnya?" tanya Dinda yang masih terdengar celotehan anakku.
"Ya, Dek. Minta Zuhra ajak Givan tengok sekolahnya dulu, suka tak dia sekolah di TK itu. Soalnya TK itu liburnya jum'at, banyak agamanya juga. Memang sih bagus, tapi karena liburnya jum'at ini Givan mau tak?" jawabku dengan memperhatikan keluarga pasien lain yang berlalu lalang di depanku.
"Ya, Bang. Udah dulu ya." sahut Dinda dengan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Aku menepuk jidatku sendiri, kenapa aku malah lupa dengan tujuan awalku? Dengan segera, aku mengulangi panggilan teleponku lagi.
"Maaf, Sayang. Abang tuh mau nanya golongan darah Adek, soalnya Naya butuh transfusi darah." ungkapku langsung.
"APA???" seruan Dinda yang membuatku menjauhkan ponselku seketika.
"UMI… Naya butuh darah, golongan darah Umi apa? ZUHRA, darah kau bersih belum terakhir cek kemarin? BENA…. sini dulu." teriak istriku, dengan aku menjauhkan ponselku saja aku masih bisa mendengar seruannya. Apa lagi jika didekatkan ke telinga, bisa terdorong masuk ke otak gendang telingaku nanti.
"Golongan darah Adek apa, Dek? Kalau keluarga Abang, Abang udah tau semua." tanyaku cepat.
"Kan Abang udah tau, dari hasil tes yang waktu itu. Waktu dokter nyaranin aku untuk sesar itu." jawab Dinda yang membuatku kesal.
Aku bertanya, karena aku tak tahu. Bisanya dia malah mengajakku bermain tanya jawab, juga kuat-kuatan ingatan seperti itu?
__ADS_1
"Abang lupa, Dek. Makanya Abang tanya." balasku dengan menekan suaraku.
"Aku A lah, Bang. Givan juga A, karena Mahendra A juga." ujarnya kemudian.
"Naya O, Dek. Ya udah, nanti Abang telepon lagi. Abang mau cari ke bank darah dulu." ucapku lalu langsung mematikan sambungan teleponku.
Aku bergegas menuju tempat suster, yang menjaga ruang inap anak-anak ini. Lalu aku langsung mengatakannya, bahwa ibunya anakku tengah berada di luar kota. Dengan anggota keluargaku yang lain, memiliki golongan darah yang berbeda dari Naya.
Aku berlari kecil menuju ke ruangan Naya kembali, untuk menitipkan Naya pada ayah. Sementara aku pergi ke luar, untuk mencari golongan darah yang sama dengan Naya.
~
Aku harus mencari darah O ke mana lagi? Di bank darah kota ini, tengah kehabisan stok darah golongan O. Jika meminta bantuan pada Haris atau Jefri, tentu akan memakan waktu yang lama. Aku langsung mencari nama Seila, mana tau golongan darahnya sama dengan Naya.
Namun, nomornya tengah berada di luar jangkauan. Sepertinya ponselnya tengah dalam kondisi mati, atau ia tengah dalam penerbangan ke luar kota.
Aku berjalan menuju ke warung, yang berada di depan tempat bank darah ini.
"Air mineral, Bu. Satu aja." ucapku pada pemilik warung. Ia mengangguk dan langsung memberiku sebotol air mineral.
Aku langsung duduk di bangku panjang yang tersedia, dengan memperhatikan mobil yang berlalu lalang di jalan raya ini.
"Ini, Bu." ucapku kembali, dengan menyodorkan uang merah dari dalam dompetku.
"Aduh, ada gak ya kembaliannya. Bentar ya, Mas. Ditukerin dulu" ujarnya dengan menerima uang tersebut.
"Tisu satu, Bu. Sama P*lpy orange, satu." tutur seorang wanita yang barusan lewat di depanku begitu saja. Ia mencegah ibu warung tersebut pergi untuk menukarkan uangku.
Rasa-rasanya, aku mengenal suara tersebut. Aku tak mengetahui siapa dia, karena saat ia lewat tadi. Aku hanya sekilas melihat kaki dan sepatunya saja.
__ADS_1
Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Kenapa ia berada di sini?
......................