
Setelah kami masuk ke dalam rumah. Givan mengulangi kalimatnya pada ibunya, dan Dinda terlihat tengah berpikir keras. Aku tahu pasti ia juga tak ingin menghubungi kembali mantan suaminya itu.
"Nanti aja, ok? Nanti kita sekalian ketemu sama papah Hendra." jawab Dinda yang membuatku terkejut. Hah, yang betul mereka mau ketemuan sama si Mahendra itu.
"Kapan, Mah?" sahut Givan, dengan menggoyangkan lengan ibunya.
"Nanti, kalau adek bayi udah lahir. Nanti kita temuin papah Hendra." balas Dinda dengan tersenyum manis.
Jangan-jangan mereka mau rujuk lagi. Tapi itu tak mungkin, karena jelas Dinda adalah istriku.
"Dek, jangan main-main sama Abang!!" tegasku penuh peringatan.
"Mau ambil akte lahir, sama beresin kartu keluarga aku. Soalnya aku belum pindah kartu keluarga." jelas Dinda, "Kan mana tau, setelah aku lahiran, Abang ada gerakannya buat resmiin aku." lanjutnya kemudian.
Perkataannya tak bisa membuatku bersuara. Aku diam tanpa kata. Aku tak bisa menjawabnya. Tapi akan kuusahakan itu.
"Nanti, kalau anak aku udah kuat untuk dibawa naik pesawat. Aku pulang ke kota C. Mau beresin kartu keluarga aku." lanjutnya menjelaskan.
"Biar nanti Abang yang urus sekalian. Minta nomor kontaknya Mahendra aja." ucapku dengan merebahkan tubuhku di atas karpet, dengan kepala berbantal paha istriku.
"Aku tak punya kontaknya. Biar nanti aja langsung ke rumah orang tuanya." sahut Dinda. Kalau begitu caranya, sudah pasti Dinda akan pulang sendiri ke kota C.
Aku berkata demikian, bermaksud agar Dinda stay di provinsi A saja. Aku takut semua orang yang mengetahui fakta itu, akan membeberkannya pada Dinda.
~
~
Tiga hari kemudian. Akhirnya aku bisa mendapatkan izin dari Dinda, untuk bertolak ke kota C. Aku pun sudah mengabari umi dan ayah, agar mereka juga stay di kota C.
__ADS_1
"Jangan tinggal shalat. Olahraga yang rutin, biar tak cepat loyo. Jaga hati, jaga mata, jaga diri, jaga kesehatan juga. Jangan macam-macam, dan ingat Abang udah punya aku. Ingat aku lagi ngandung anak Abang, dan bilang ke ibu jangan lupa. Minta ibu sampaikan ke Mahendra, untuk ninggalin nomor kontaknya. Dan minta ibu nemenin aku di sini, sampek aku lahiran." ucap Dinda. Ia mengantarkan aku ke bandara, dengan memberiku pesan dan larangan yang harus kuingat selalu.
"Ok, Sayang. Nyetirnya kalem aja. Kalau mau pergi izin ke Abang. Abang udah minta Liana, buat tidur di rumah. Nemenin Adek, biar tak sendirian di rumah." ujarku kemudian. Lalu Dinda mencium tanganku, bergantian dengan Givan. Dan aku mencium keningnya sekilas.
"Abang janji tak akan lama. Paling lama dua minggu, ok? Kabarin Abang, kalau Abang belum kabarin Adek. Doain Abang selamat sampai tujuan, ya?" ujarku sebelum berlalu pergi. Lalu Dinda mengangguk mengerti.
Ia dan Givan menemaniku, sampai pesawat yang aku tumpangi akan landing. Ia sepertinya baru pulang, setelah pesawat ini membawaku terbang menjauh.
Dinda begitu keras kepala. Aku sudah berkata, agar Safar saja yang mengantar. Namun ia ingin mengantarku sendiri, dan ia bilang akan sekalian belanja bulanan.
Sebetulnya, Dinda pun sudah sering mencurigaiku. Apa lagi sekarang aku memakai kode sidik jari, untuk membuka kunci ponselku. Bukan apa-apa, karena memang aku takut ketahuan.
Sejak hari itu, saat Maya menghubungiku dengan nomor baru. Ia jarang sekali menelponku, atau mengirimiku pesan. Entah kenapa, aku malah mencurigainya. Jangan-jangan ia begitu senang, karena ia tak mendengar amarahku lagi.
Namun aku tetap menghubunginya, di kala aku memiliki waktu senggang. Aku ingin mengetahui bagaimana perkembangan anakku di dalam perutnya.
~
Pukul sembilan malam, aku baru terbangun dari tidurku. Waduh, aku melewatkan shalat maghribku. Biar nanti aku qodo' saja lah.
Aku membersihkan diri, dan langsung menunaikan shalat. Setelahnya, aku turun ke lantai bawah. Dengan mencari nama Adindaku, di aplikasi chatku.
Sambil mengetikkan pesan untuk istriku, aku duduk di sofa ruang keluarga. Dengan Edi yang tengah duduk tak jauh dariku, dengan menggendong anaknya yang begitu menggemaskan. Padahal Bena begitu cantik, tapi anaknya kenapa mirip dengan Edi? Kan malah anak itu terlihat jelek. Bukan jelek juga sih, entahlah apa namanya. Seperti tak sedap dipandang. Karena anak perempuan, namun wajahnya seperti laki-laki.
Entahlah, anakku dan Dinda berjenis kelamin apa. Beberapa kali melakukan USG, anak kami selalu menutupi alat kelaminnya. Dokter sempat mengatakan bahwa anak kami berjenis kelamin perempuan, namun ia sendiri pun ragu. Karena dalam waktu bersamaan, ia pun melihat batang kelamin anakku. Jadi, belum bisa dipastikan anak kami laki-laki atau perempuan. Semoga saja anak kami sehat-sehat, dan tak memiliki kelainan.
Kalau anakku dengan Maya berjenis kelamin perempuan. Maya pun mengirimiku foto hasil USGnya. Alhamdulillahnya, ia sehat-sehat saja. Namun, yang membuatku sedikit khawatir adalah berat badan bayi itu di bawah berat badan bayi normal.
Entahlah kenapa bisa Maya saja yang bertambah gemuk, sedangkan bayi kami hanya sekitar 2 kilogram saja. Berat badan bayi normal adalah 2,5 kilogram. Maya sampai bertambah 25 kilogram, dari berat badannya sebelum hamil. Namun anaknya tak bisa menyerap berat badan ibunya dengan baik.
__ADS_1
Sedangkan Dinda biasa saja. Dalam usia kandungannya menjelang tujuh bulan, Dinda hanya bertambah 8kg dari berat badan sebelum hamil. Perutnya begitu maju ke depan, dengan berat bayinya yang sudah mencapai 1.9 kilogram.
Tak ada perubahan berarti dalam tubuh Dinda. Hanya dada, perut, dan p*n*at yang semakin terlihat besar. Hebatnya lagi, ia tak memiliki stretchmark. Karena yah… itulah. Perawatan mahalnya yang rutin ia lakukan.
Ia tak mau turun mesin hanya karena mengandung dan melahirkan anakku. Ia tak mau aku berpaling ke lain hati, saat aku merasakannya lagi setelah lepas nifas. Ia berangan-angan, m*kinya tetap nikmat setelah melahirkan anakku. Makanya tak heran, ia rajin bersenam sedari sekarang. Agar otot kewanitaannya elastis, seperti itu yang ia katakan.
Tiba-tiba Edi duduk di sebelahku, dan terkekeh geli. Lalu ia sedikit menarik celah leherku ke bawah. Dan ia semakin terbahak-bahak. Namun tawanya terhenti, karena anaknya menangis kejar. Mungkin sikecil kaget, mendengar suara tawa ayahnya.
"Yank…. Novi nangis ini." seru Edi memanggil ibu dari anaknya. Dengan terburu-buru, Bena berjalan cepat ke arah Edi. Lalu mengambil alih anaknya.
"Gih susuin dulu." lanjut Edi. Bena hanya mengangguk, lalu ia berlalu pergi. Dengan tangis anaknya yang belum mereda.
Edi duduk kembali di sebelahku, lalu ia menoleh sekilas padaku.
"Kenapa kau?" tanyaku padanya, "Oh iya, ini hadiah dari Abang. Untuk anak kau." lanjutku dengan memberikan gelang kerincing dari dalam saku celanaku.
"Abang baru balik dari provinsi A kan?" ucapnya bertanya balik. Aku menganggukkan kepalaku mengiyakan.
"Kak Maya di kota C kan?" ujarnya kemudian.
"Iya, kenapa? Besok Abang mau ke sana!" jawabku dengan berseru. Geram betul aku padanya. Ia sudah tahu, tapi malah bertanya.
"Terus itu?" tukasnya dengan menunjuk pada bagian lehernya sendiri.
"Hah?" apa maksudnya? Aku jadi bingung sendiri dibuatnya.
TBC.
Sabar ya, harap tenang 🤭
__ADS_1